Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Dipecat?


__ADS_3

Saat ini Bimantara sudah berada di depan pintu masuk ruang rapat. Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan guna mengumpulkan keberanian dalam dada. Walaupun dia tahu kalau hari ini jabatannya sebagai seorang CEO akan dicabut kembali oleh Irawan, tetap saja dia merasa gugup sebab sebentar lagi harga dirinya akan terinjak kala Irawan mengumumkan bahwa status pria itu bukan lagi CEO perusahaan Danendra Grup.


Mengulurkan tangan ke depan, kemudian mendorong daun pintu menggunakan sedikit tenaga. Saat pintu itu terbuka lebar, seluruh pemegang saham sudah duduk di tempat masing-masing. Namun, ada satu kursi kosong yang masih belum terisi. Siapa lagi kalau bukan kursi milik ... Irawan Danendra, sang pemilik perusahaan.


"Selamat pagi, Pak Bima," ucap seluruh anggota rapat hampir bersamaan. Kendati mereka mempunyai saham di perusahaan tersebut, tetapi posisi Bimantara yang tak lain merupakan anak pemilik perusahaan serta CEO di sana membuat semua orang tunduk dan memberi hormat kepada mantan suami Tsamara.


Bimantara terpaku sejenak saat melihat pemandangan di depan sana. Selama ini saat menghadiri sebuah pertemuan, dia bersikap acuh dan merasa biasa saja ketika para pemegang saham menundukan sedikit kepala sebagai tanda hormat kepadanya. Akan tetapi, pemandangan kali ini terasa begitu berbeda hingga membuat pria itu sedih sebab sebentar lagi semua yang dimilikinya akan sirna.


"S-selamat pagi semuanya," jawab Bimantara dengan terbata. Beberapa saat kemudian, Irawan memasuki ruangan. Mereka kembali bangkit dan menyambut kedatangan sang penguasa.


"Terima kasih saya ucapkan kepada kalian semua karena bersedia hadir dalam rapat pagi kali ini. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa saya meminta diadakan rapat secara mendadak padahal baru beberapa hari lalu kita adakan rapat membahas tentang saham perusahaan yang menurun pasca berita miring menimpa rumah tangga Bimantara," kata Irawan memulai rapat pagi hari itu.


"Kedatangan saya kali ini bukan ingin membahas soal saham perusahaan, melainkan tentang ... pelengseran jabatan BImantara sebagai CEO perusahaan," imbuh Irawan dengan suara lantang dan tegas.


Sontak, semua anggota yang hadir membulatkan mata sempurna mendengar penuturan Irawan. Jadi maksud Bapak, mulai detik ini Pak Bima sudah bukan lagi CEO Danendra Grup, begitu?" ucap salah satu pemegang saham, mengulang kembali apa yang dikatakan sang pemilik perusahaan.


Dengan mantap Irawan menjawab, "Betul. Mulai hari ini, putera saya yang bernama Bimantara Danendra sudah bukan lagi CEO dari perusahaan Danendra Grup. Dia dibebas tugaskan dari semua tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan."


Suasana yang awalnya tenang seketika berubah ricuh. Semua orang saling berbisik, mengungkapkan opini masing-masing kepada teman sebelahnya. Sementara Bimantara hanya tertunduk lesu di kursi tanpa berani mengangkatkan kepala di hadapan sang papa.

__ADS_1


Ini tidak sebanding dengan aib yang telah kamu lemparkan ke hadapanku, Bima. Meskipun kamu adalah darah dagingku sendiri, buah cintaku bersama Hasna, tapi jika dirimu salah maka aku berhak memberimu pelajaran. Terlebih kamu telah melukai perasaan dari putri sahabatku. Karena kamu, aku harus kehilangan sahabat sekaligus menantu baik seperti Tsamara, batin Irawan sambil menatap tajam akan sosok lelaki di sebelahnya.


"Jadi, ke depannya semua tugas dan tanggung jawab Bima akan saya ambil alih sambil menunggu kandidat CEO baru. Terima kasih atas kehadiran kalian semua. Rapat pagi ini kita tutup." Tanpa basa basi, Irawan segera menutup rapat dan mempersilakan semua orang meninggalkan ruang rapat.


Setelah semua orang pergi, Bimantara bangkit dari kursinya kemudian mendekati Irawan dengan langkah gontai. "Papa?" ucap pria itu lirih bagai desau angin di musim gugur. Kendati begitu, sang empunya nama dapat mendengar panggilang sang putera.


"Ada apa? Kamu ingin protes karena saya tidak memberimu kesempatan untuk mengucap sepatah kata di hadapan semua orang, begitu?" tebak Irawan. Pandangan mata menatap sinis ke sebelah.


Menggelengkan kepala cepat. Bimantara sama sekali tidak ingin mempersoalkan hal itu. "Bukan, Pa." Wajah pria itu memelas, seperti akan kucing yang ingin meminta susu kepada majikannya.


"Lalu, apa yang mau kamu bicarakan? Bukankah semua yang saya katakan kemarin sudah jelas kalau statusmu bukan lagi CEO perusahaan ini. Jadi, lebih baik kamu kemasi semua barang-barangmu dan tinggalkan ruangan itu sekarang juga. Saya ingin menyingkirkan barang-barang di ruangan itu dengan barang baru. Kalau perlu merenovasinya agar tidak ada lagi jejak kemaksiatan di ruangan itu," sindir Irawan yang mana membuat Bimantara menunduk seketika.


Pria paruh baya dengan rambut mulai keperakan berdecih, "Kamu memang lelaki tidak tahu malu, Bima! Mengajak perempuan yang bukan istrimu ke atas ranjang, kemudian kalian melakukan hubungan terlarang di belakang Tsamara. Benar-benar sinting!" semburnya dengan kilatan emosi terpancar jelas di sorot mata papa kandung Bimantara. "Andai saja wanita yang kamu ajak ke atas ranjang Tsamara, tentu saja saya tidak keberatan malah saya bahagia seban sebentar lagi cucuku akan hadir ke dunia. Namun, kamu malah membawa wanita lain. Tentu saja saya marah karena kamu telah melemparkan dosa kepada kami."


"Dalam agama manapun, kita tidak diperbolehkan melakukan zina. Tapi ... kamu malah dengan santainya berhubungan intim di kantor milik kakek moyangku. Dasar anak tidak tahu diri!" sembur Irawan. Napas memburu serta dada kembang kempis. Ada rasa kesal, kecewa dan sedih menelusup ke dalam relung hati yang terdalam.


Dulu, Irawan berharap Bimantara tumbuh menjadi anak baik, setia dan bertanggung jawab. Semua kebaikan melekat pada anak semata wayangnya itu. Akan tetapi, saat sang putera tumbuh dewasa, sikap Bimantara berubah dan malah mengecewakan dia dan istri tercinta.


Irawan mencoba mengatur napas. Dada pria itu terasa sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu semakin menipis. "Percakapan kita kali ini cukup sampai di sini. Saya masih harus bertemu dengan kekasihmu. Permisi!" Pria paruh baya berlalu begitu saja tanpa ada niatan mendengar perkataan Bimantara yang belum sempat disampaikan kepadanya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Pa. Sungguh, aku menyesal telah melakukan itu semua," kata Bimantara seraya memandangi punggung Irawan yang semakin menghilang dari pandangan


Selepas rapat, Irawan ke ruang kerja Bimantara dengan ekspresi wajah yang menunjukan betapa jijiknya dia berada di ruangan itu. Pikiran pria itu traveling ke mana-mana, membayangkan apa yang dilakukan sang putera bersama Emma di ruangan itu.


Terduduk lemas di kursi kebesaran yang dulu pernah Irawan tempati. "Tuhan, apa salahku sampai anak yang kubanggakan selama ini malah melemparkan kotoran di hadapanku? Apa selama ini aku dan Hasna salah mendidiknya?" gumam Irawan lirih.


Saat Irawan tengah bermonolong, terdengar suara ketukan pintu sebanyak tiga kali. Lantas, Irawan mengalihkan pandangan dari sebuah foto yang diletakkan di atas meja kerja.


Dengan suara lantang, Irawan berkata, "Masuk!" Tak lama kemudian, seorang wanita bertubuh bagai gitar Spanyol berdiri di hadapan pria itu.


.


.


.


Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya. 👇


__ADS_1


__ADS_2