Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Buku Diary Annchi


__ADS_3

Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit lamanya, Yudhistira sudah memasuki kawasan perumahan sederhana dan mendekati sebuah rumah satu lantai yang selama ini menjadi tempat berlindung dari teriknya sinar matahari dan guyuran air hujan.


Tatkala lelaki itu tiba di depan pintu, ia bergegas mengeluarkan kunci rumah kemudian memutar handle pintu hingga daun pintu berwarna putih terbuka lebar. "Assalamu 'alainaa wa 'alaa 'ibadillahish sholiin," ucap dokter tampan sebelum masuk ke dalam rumah. Meskipun rumah dalam keadaan kosong, tak berpenghuni tetapi lelaki itu tetap mengucapkan salam yang biasa diajarkan oleh Latifah.


Yudhistira berdiam diri di ambang pintu, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Tak ada yang berbeda masih sama seperti terakhir kali ia mengunjungi Latifah empat bulan yang lalu.


Saat ekor mata menatap sebuah bingkai foto berukuran besar, lelaki itu tersenyum getir. "Jadi selama ini aku hanya anak angkat Mama dan Papa? Tapi kenapa mereka tak memberitahuku sebelumnya? Apa karena mereka takut aku kecewa?" bertanya pada dirinya sendiri, kenapa selama ini Latifah dan Erlan menyembunyikan rahasia tentang jati dirinya yang sebenarnya.


Menghela napas kasar seraya memejamkan mata, kemudian membuka kelopak mata secara perlahan. "Sebaiknya aku segera mencari buku diary yang dimaksud Mama agar bisa tahu semua kisah hidup tentang ... Mama Annchi." Tatkala mengucapkan kalimat terakhir, muncul debaran halus dalam dada. Ada perasaan aneh yang sulit diartikan.


Tak ingin terus berada dalam situasi yang sama, Yudhistira memutuskan berjalan menuju kamar Latifah.

__ADS_1


Sebuah kotak persegi warna hitam berada di atas pangkuan. Tangan gemetar hebat saat Yudhistira mulai membuka kotak tersebut. Mata terbelalak dan wajah memerah. Pundak bergerak turun naik berbarengan dengan dada kembang kempis.


Lalu, Yudhsitira membaca betapa sedihnya hati Annchi saat hendak memberi kabar baik tentang kehamilannya, wanita berwajah oriental malah diceraikan dalam keadaan tengah mengandung dan lebih menyakitkan lagi pria yang telah menanamkan benih di rahimnya memilih menikahi wanita lain dan hidup dalam kemewahan. Sementara Annchi harus pergi dari Singapura, memulai hidup baru tanpa ada satu orang pun yang menemani.


Air mata meleleh begitu saja ketika membaca perjuangan keras Annchi demi menghidupi dirinya sendiri. Wanita itu bahkan rela menjadi pelayan toko di toko klontong milik Latifah. Di situlah cerita dimulai hingga akhirnya Yudhsitira diangkat menjadi anak di keluarga Erlan.


Pada lembaran terakhir, Annchi menyelipkan sebuah foto pernikahan di mana pasangan suami istri itu tampak berbahagia. Lalu, di bawah foto tersebut dituliskan keterangan : Annchi dan Fengying.


***


Sekian jam perjalanan, rombongan Fengying akhirnya tiba di halaman rumah sakit bertaraf internasional dan merupakan terbaik di ibu kota. Jantung lelaki paruh baya itu semakin lama semakin berdebar saat kendaraan roda empat yang telah disiapkan khusus menemani ke mana pun ia ingin pergi. Telapak tangan mulai dingin, keringan pun mulai muncul ke permukaan kala bangunan mewah nan megah layaknya hotel bintang lima tertangkap ekor matanya.

__ADS_1


"Tuan, sebentar lagi kita sampai," ujar Anming, asisten pribadi Fengying.


Irama jantung yang sejak tadi tak henti berdetak kini semakin berdenyut kencang usai mendengar perkataan Anming. Setelah bertahun-tahun mencari kini Fengying dapat menemukan di mana keberadaan buah cintanya bersama mantan terindah maka tak heran jika saat ini ia begitu antusias ingin bertemu dengan anak tercinta. Saking antusiasnya hingga membuat jantung pria itu berdetak tak beraturan.


Annchi, sebentar lagi aku bertemu dengan anak kita dan aku berjanji akan memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu, ucap Fengying dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2