Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Obat Penawar Rasa Sakit Hati


__ADS_3

"B-bukan begitu maksud saya. Hanya saja kok kebetulan sekali bisa bertemu dengan Dokter Yudhis di sini," ucap Tsamara lirih sembari menundukan wajah tatkala pria tampan di sebelahnya merubah posisi duduk hingga mereka saling berhadapan.


Dokter cantik itu tidak mau kalau sampai rekan sejawatnya mengetahui bahwa dia baru saja menangis.


Yudhistira menyunggingkan sudut bibirnya, kemudian berkata, "Aku hanya kebetulan saja sedang singgah di taman ini. Lalu, tanpa sengaja melihat seorang gadis dengan postur tubuh mirip denganmu. Setelah memastikan itu benar-benar kamu, barulah aku memberanikan diri mendekatimu," jawab pria itu berdusta.


Ketika Yudhistira mengetahui Tsamara akan pulang menggunakan taxi online, perasaan pria itu gelisah dan hati pun tak tenang membuat ia mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah dan lebih memilih membututi Tsamara meski sedikit kesal karena wanita idamannya hendak bertemu dengan sang suami. Namun, demi memastikan Tsamara selamat sampai tujuan, ia rela mengorbankan perasaannya.


Dokter tampan berwajah oriental mendongakan kepala, menatap gedung pencakar langit dengan tatapan kagum. "Pantas saja pernikahan Dokter Tsamara dengan suaminya digelar begitu meriah, rupanya pria itu memang keturunan orang kaya. Sangat serasi dengan Dokter Tsamara." Menjeda sejenak kalimatnya, lalu kembali berkata, "Apalah dayaku jika dibandingkan dengan Tuan Bima. Perbedaan kami kentara sekali, bagaikan langit dan bumi."


Tiba-tiba saja terbesit rasa minder bila mengingat dirinya dilahirkan bukan dari keluarga kaya raya. Bagai pungguk merindukan bulan, itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi Yudhistira saat ini. Namun, perasaan pria itu terhadap Tsamara benar-benar tulus. Ia mencintai gadis itu sejak pandangan pertama.


"Aargh, sudahlah! Lebih baik aku meninggalkan gedung ini sebelum penyakit hati dalam diriku berkembang biak. Penyakit iri hati yang malah membuatku tidak mensyukuri atas kenikmatan yang Tuhan berikan," kata Yudhistira. Lantas, ia memarkirkan kendaraan roda empat miliknya yang baru dua bulan lunas setelah perjuangan selama empat tahun mencicil dari hasil jerih payahnya sebagai seorang dokter.


Akan tetapi, saat Yudhistira hendak menginjak pedal gas, tiba-tiba saja ia melihat Tsamara keluar dari bangunan megah itu dengan mata sembab dan hidung memerah. Merasa curiga telah terjadi suatu hal buruk menimpa gadis itu, sang dokter memutuskan mengikuti taxi di depannya hingga berhenti di sebuah taman.


Tampak Tsamara manggut-manggut mendengar penjelasan Yudhistira. Walaupun sedikit heran kenapa bisa kebetulan sekali, tetapi ia tak mau ambil pusing cukup menganggukan kepala sebagai jawaban. Kepala terasa pening ditambah perut kosong membuat gadis itu tak dapat berpikir dengan jernih.

__ADS_1


"Dokter Tsamara sendiri, sedang apa di sini?" tanya Yudhistira heran dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Bukannya tadi Dokter Tsamara bila mau pergi ke kantor, menemui Pak Bima. Lalu, kenapa bisa nyasar di sini?"


"Tadi aku menemui Kak Bima di kantor, tapi kata asisten suamiku, dia sedang rapat dengan klien di luar kantor. Karena cuaca cerah, sinar mentari terus bersinar menyinari bumi membuatku memutuskan mampir sebentar ke sini untuk menghirup udara segar. Setelah itu baru pulang ke apartemen," jawab Tsamara tersenyum lirih.


Menguatkan diri untuk terus berbicara walaupun terasa sesak menusuk segenap bagian di dalam dada. Berusaha tegar untuk menutupi rasa sakit yang dirasakan akibat dikhianati oleh suami tercinta. Ia tak menyangka kalau pengkhianatan yang dilakukan Bimantara lebih menyakitkan daripada dibentak dan dimarahi di depan umum oleh sang suami.


Yudhistira tahu kalau perasaan Tsamara saat ini sedang terluka. Walaupun tidak tahu pasti apa yang terjadi antara gadis itu dan suaminya tapi hati kecil pria itu mengatakan bahwa sang dokter cantik membutuhkan seseorang untuk menghiburnya.


"Jangan pernah mencoba bersikap tegar bila ternyata dirimu tidak bisa tegar seperti layaknya sebuah karang yang terus menerus diterpa ombak. Ada kalanya menangis merupakan alternatif terakhir bagi seseorang untuk meluapkan kesedihan yang tengah dirasakan. Menangis bukan berarti kita lemah melainkan satu-satunya cara untuk menyingkirkan beban hidup." Yudhistira berkata sambil menatap ke depan, memandangi ikan koi itu terus berenang ke sana kemari. "Dengan menangis siapa tahu beban hidup terangkat dan suasana hati kembali bahagia."


"Apakah aku memang tidak pantas untuk dicintai oleh siapa pun? Bahkan suamiku sendiri tidak pernah sekalipun menyimpan rasa cinta di dalam hatinya," kata Tsamara di sela isak tangis menyayat kalbu. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan buliran air mata untuk tidak membasahi pipi.


"Aku sudah memberikan hati dan cintaku hanya untuknya. Namun, ternyata hati dan cinta lelaki itu tidak akan pernah menjadi milikku. Tidak akan pernah!"


"Setiap manusia di bumi ini pantas untuk mencintai dan dicintai. Hanya saja seseorang yang kamu cintai bukanlah lelaki yang tepat untuk mendapatkan cinta suci dari gadis cantik sepertimu. Pak Bima adalah pria terbodoh yang pernah kutemui di dunia ini karena tidak pernah mencoba membuka sedikit hatinya untuk kamu singgahi."


Yudhistira membalikan badan Tsamara hingga kini mereka berhadapan. Seketika, rahang pria itu mengeras dengan dada yang mulai bergerak kembang kempis kala menyaksikan sendiri betapa rapuhnya gadis itu. Senyuman indah yang biasa menghiasi wajah telah tertutup oleh awan kelabu. Bola mata indah nan jernih berubah merah disertai lelehan air mata yang terus berjatuhan. Hati pria itu sakit bagai ditusuk ribuan jarum oleh tangan tak kasat mata.

__ADS_1


Sebelah tangan terulur ke depan, sedangkan tangan yang satu lagi menyentuh pundak Tsamara. Yudhistira mengusut air mata gadis itu mengunakan sapu tangan yang digenggam oleh sang dokter dengan sangat hati-hati seolah ia sedang membersihkan suatu benda yang begitu berharga.


"Air matamu terlalu berharga untuk menangisi pria seperti suamimu itu, Tsa. Dia tidak pantas untuk kamu tangisi. Lebih baik, hapuslah air matamu dan cobalah untuk tersenyum di hadapan dia. Kuyakin, akan ada masanya di mana dia akan menyesali kejahatan yang pernah diperbuatnya selama ini kepadamu. Namun, bila kamu tetap ingin menangis, menangislah. Aku bersedia memberikan pundakku sebagai sandaranmu."


Tsamara tersenyum kecil mendengar perkataan Yudhistira. Tanpa rasa malu, ia melingkarkan kedua tangan di pinggang pria itu. Wajahnya yang cantik disandarkan pada dada bidang rekan kerjanya. Ia bisa dengan jelas mendengar detak jantung sang lelaki, kemudian memejamkan mata sambil menikmati kehangatan dari pelukan seseorang.


"Terima kasih, Dokter Yudhis, karena kamu selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang. Aku beruntung bisa dipertemukan lelaki sepertimu," ucap Tsamara lirih.


.


.


.


Halo semua, author kembali update lagi nih. Oh ya, sambil nunggu karya ini update, author ingin merekomendasikan karya punya temen author yang ngak kalah dan dijamin seru.


__ADS_1


__ADS_2