
Emma melangkah di antara kerumunan pengunjung serta pegawai rumah sakit yang sedang lalu lalang. Pagi itu ia berencana membesuk Hasna yang sedang dirawat di rumah sakit.
"Mbak, ruang rawat inap atas nama Hasna Danendra di mana?" tanya Emma kepada seorang wanita berseragam batik yang berdiri di balik meja resepsionis.
Wanita berseragam batik mengetikan nama kemudian menatap serius layar monitor. "Pasien atas nama Nyonya Hasna Danendra dirawat di ruang VVIP, Bu. Ibu naik lift dari sebelah sana, kemudian menuju lantai lima. Keluar lift, melangkah lurus ke depan lalu belok ke kanan. Kamarnya ada di sebelah kiri."
Emma tersenyum ramah. "Baik, Mbak. Terima kasih." Setelah mengucapkan kalimat terakhir, wanita itu kembali mengayunkan kaki menuju pintu lift yang akan membawa tubuhnya ke lantai lima. Satu buah parsel ia dekap dengan erat berharap kelak Hasna bisa menerima dirinya sebagai calon istri Bimantara.
"Kamu sudah keterlaluan Bima! Mengambil keputusan tanpa meminta pendapat Mama dan Papa," tutur Hasna. Perdebatan antara ibu dan anak masih berlangsung meski Tsamara telah meninggalkan ruang rawat inap.
"Aku memang salah, Ma. Namun, aku melakukan itu semua karena tidak ingin kehilangan Emma untuk kedua kali. Dengan cara itu aku bisa memaksanya untuk tetap berada di sisiku." Bimantara kembali mengutarakan alasannya kenapa sampai menjanjikan sebuah pernikahan sementara dirinya baru saja menikahi Tsamara.
"Pokoknya Mama tidak mau tahu, kamu harus secepatnya putuskan wanita itu. Kalau tidak, jangan pernah anggap Mama sebagai orang tuamu lagi!" ancam Hasna.
"Tapi aku cinta sama Emma, Ma. Aku tidak bisa hidup tanpa dia," jawab Bimantara lirih.
Hasna menatap lekat iris coklat milik Bimantara. "Kamu pikir dulu Mama dan Papa saling mencintai saat kami menikah?" Menggelengkan kepala lemah. "Jawabannya tidak, Nak. Rasa itu belum tumbuh di hati kami. Namun, lambat laut cinta itu tumbuh dan bersemi di hati Mama dan Papa. Terpenting adalah bagaimana caranya kamu menumbuhkan rasa itu di hatimu. Bukan malah selingkuh dan mengucapkan janji manis kepada wanita lain."
Bimantara bangkit dari kursi, lalu menatap nanar kepada Hasna. "Aku mengakui kesalahanku karena telah selingkuh di belakang Tsamara. Namun, maaf untuk memutuskan Emma dan kembali kepada Tsamara, aku tidak bisa." Lantas, ia melangkah maju meninggalkan ruangan tersebut. Keputusan Bimantara sudah bulat, ia tidak akan pernah meninggalkan Emma lagi meski Hasna dan Irawan mengancamnya.
***
Hari berlalu dengan begitu cepat. Tanpa terasa sudah hampir satu bulan berlalu dari kejadian di mana Tsamara memergoki Bimantara tengah memadu kasih dengan wanita lain. Jadwal persidangan perceraian antara Bimantara dan Tsamara pun telah ditentukan. Berkat kekuasaan yang dimiliki, Fahmi berhasil mempercepat proses perceraian anak pertamanya dengan anak dari mantan sahabatnya. Ya ... hubungan persahabatan yang dibina selama puluhan tahun hancur akibat sebuah pengkhianatan.
__ADS_1
Berita perceraian antara kedua anak pengusaha sukses di tanah air menjadi tranding topic dan menduduki urutan pertama kolom pencarian. Semua awak media berbondong-bondong mencari tahu penyebab keretakan rumah tangga Tsamara dan Bimantara. Akan tetapi, baik Tsamara maupun Bimantara enggan memberikan konfirmasi terkait berita yang beredar.
Duduk menyendiri di kursi rotan balkon apartemen sambil menatap indahnya senja di sore hari. Semburat warna jingga membuat siapa saja yang melihat akan terpesona.
"Dek Bima, permisi." Suara asisten rumah tangga mengalihkan perhatian Bimantara dari pemandangan indah di lantai delapan.
Bimantara memutar tubuh hingga ia dapat melihat seorang wanita setengah baya berdiri di ambang pintu. "Ada apa?"
"Den, di depan ada Mbak Emma. Katanya ingin bertemu dengan Aden," jawab sang asisten rumah tangga.
Bimantara menghela napas panjang. Selama beberapa hari ini ia memang tak pernah bertemu dan juga menghubungi Emma. Pikiran pria itu sedang kacau dan enggan bertatap muka dengan sang kekasih.
"Minta Emma menunggu di ruang tamu. Setelah itu, Bibik ke dapur buatkan jus mangga untuk dia. Gula dan esnya sedikit saja," titah Bimantara yang diikuti anggukan kepala sebagai jawaban.
Bimantara melirik sekilas kepada Emma, kemudian kembali menatap lurus ke depan. "Ada apa kamu kemari, Em? Bukankah aku pernah bilang jangan pernah sekalipun datang ke apartemenku! Kalau tidak, kamu akan menjadi sasaran empuk awak media. Lalu, pemberitaan di luaran sana semakin memanas dan bisa saja berimbas kepada perusahaan milik Papaku."
Mendengar perkataan Bimantara yang tak bersahabat, membuat hati Emma bagai disayat sebilah pisau tajam. Hanya beberapa hari tak bertemu, sikap pria itu berubah 180°, terkesan dingin dan acuh.
Mengerjapkan mata beberapa kali, menghalau agar butiran kristal tak membasahi wajah. Sungguh, Emma tidak sanggup melihat perubahan sikap Bimantara. "Aku datang ke sini hanya karena mengkhawatirkanmu, Bima. Sudah beberapa hari kamu tidak masuk kantor, kupikir kamu sakit makanya aku datang ke sini."
"Terima kasih sudah mencemaskanku. Namun, lain kali tidak perlu datang ke sini sebelum aku resmi bercerai dari Tsamara," kata Bimantara mencoba mengingatkan Emma.
Bagai ditusuk ribuan jarum oleh tangan tak kasat mata, hati Emma kembali terasa sakit mendengar perkataan Bimantara. Muncul perasaan sakit dan kecewa dalam waktu bersamaan. "Kamu benar, memang tidak seharusnya aku datang ke sini di saat terpaan gosip yang berembus di luaran sana semakin santer beredar. Maaf kalau aku datang di saat waktu yang tidak tepat."
__ADS_1
Emma sadar betul bahwa kehadirannya tidak diharapkan oleh sang kekasih memilih pergi meninggalkan apartemen yang ditinggali oleh Bimantara dan Tsamara dulu. Membalikkan badan hendak melangkah menuju daun pintu, tapi baru saja berbalik kepala wanita itu terasa begitu berat. Pandangan mata pun buram, mata terasa berkunang-kunang. Lempengan baja itu semakin lama semakin menghimpit tubuhnya yang rapuh.
Kunang-kunang itu semakin memenuhi pandangan Emma. Tubuh wanita itu lemas dan akhirnya tak lagi mampu berdiri.
"Emma!" Bimantara dengan sigap menangkap tubuh Emma yang nyaris terjatuh ke lantai. "Emma, bangunlah! Apa kamu bisa mendengarku?" Pria itu berusaha membangunkan Emma tetapi hasilnya nihil. Wanita itu tetap tak sadarkan diri.
"Shiit! Kenapa bisa seperti ini!" umpat Bimantara kasar. Lantas, dia menggendong Emma ala bridal style menuju kamarnya.
"Bik ... Bibik. Panggilkan dokter ke sini. Cepat!" seru Bimantara seraya membawa tubuh sintal sang kekasih.
Asisten rumah tangga bergegas menghubungi dokter kepercayaan keluarga Danendra menggunakan pesawat telepon dan meminta pria di seberang sana segera datang ke apartemen.
Di dalam kamar, Bimantara memandangi wajah Emma yang terlihat begitu pucat bagaikan mayat. Terselip rasa penyesalan karena ia sempat mengacuhkan kekasihnya. Andai saja ia lebih peka terhadap kesehatan wanita itu mungkin saat ini Emma masih sadarkan diri dan mereka dapat berbincang hangat sambil melepas rindu akibat lama tak bertemu.
.
.
.
Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya.
__ADS_1