
Kepala menggeleng lemah. "Papa bisa jelaskan semuanya kepadamu, Nak. Papa--"
Belum selesai Fengying berbicara telapak tangan Yudhistora terangkat ke udara.
"Stop! Saya tidak mau mendengar apa pun dari bibir Anda. Bagi saya semuanya sudah jelas. Anda tidak lebih dari lelaki berengsek yang tega menyakiti seorang wanita demi ego sendiri. Jadi, sebaiknya Anda pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi," tutur Yudhistira sinis seraya menghujam tatapan tak bersahabat.
"Yudhistira, anakku. Papa mohon berikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya, Nak." Fengying belum mau menyerah, ia masih ingin terus berjuang meski Yudhistira mengusirnya.
Yudhsitira tersenyum mengejek. "Anak? Sejak kapan Tuan Fengying menganggap saya anak? Bukankah di mata Tuan Fengying saya dan Mama Annchi tak mempunyai arti apa-apa jika dibandingkan dengan harta kekayaan milik kedua orang tua Anda."
Bungkam, pria bertubuh jangkung dan bermata sipit tak mampu menjawab perkataan Yudhistira sebab semua yang dikatakan sang anak ada benarnya. Ia rela menceraikan Annchi agar dapat hidup bahagia dengan harta kekayaan milik kedua orang tuanya. Namun, ternyata setelah semua berada dalam genggaman ia malah hidup menderita karena berpisah dari wanita yang begitu dicintai.
Yudhistira menarik napas, kemudian menahannya sebentar dan kembali berkata, "Jika tidak ada hal lain yang ingin disampaikan, lebih baik kalian tinggalkan rumah ini. Saya sedang tidak ingin menerima tamu." Kembali mengucap dengan teramat sinis dan wajah memerah menahan rasa kesal dalam diri. Sedari tadi kedua tangan Yudhistira mengepal sempurna di samping badannya.
Tak ingin menambah dosa karena bersikap kurang ajar terhadap papanya sendiri, ia melangkah pergi. Meninggalkan sang papa hanya berdua dengan Anming yang sedari tadi hanya menyaksikan ketegangan di antara dua lelaki tampan. Dokter muda dengan segala prestasi di dunia medis tak ingin mendengar penjelasan apa pun sebab baginya semua sudah jelas bahwa dia dan Annchi tak bernilai apa-apa di mata Fengying.
Baru saja kaki itu melangkah, tiba-tiba dering ponsel miliknya berbunyi. "Erina?" gumam Yudhsitira lirih saat melihat nama adik angkatnya tertera di layar ponsel.
Khawatir terjadi hal buruk menimpa Latifah, pria tampan dalam balutan kaos cream model V neck segera menggeser layar berwarna hijau. "Halo, Dek, ada apa?" Lelaki itu memulai percakapan sesaat setelah sambungan telepon terhubung.
"Mas ... Mama." Suara gadis di seberang sana bergetar. Sesekali terdengar isak tangis menyayat kalbu.
__ADS_1
Mendengar suara isak tangis berasal dari Erina membuat jantung Yudhistira berdegup tak beraturan. Rasanya jantung pria itu hampir meledak saking kencangnya. Wajah pucat bagaikan mayat.
"Ada apa dengan Mama? Kenapa kamu menangis?" tanya Yudhistira dengan meninggikan nada suara. Fengying dan Anming tampak begitu terkejut tatkala mendengar suara teriakan Yudhistira.
"Mama meminta kita semua berkumpul, Mas. Namun, entah kenapa firasatku mengatakan hal yang tidak-tidak. Aku ... takut Mama kenapa-kenapa," jawab Erina di sela isak tangisnya.
Tubuh Yudhistira lemas seketika. Tungkai pria itu seakan tak mampu menahan beban tubuhnya. Tangan kiri terulur ke depan, berpegangan pada tiang yang menjulang tinggi ke atas.
Mencoba menguatkan diri untuk terus berbicara walaupun sesak terasa menusuk segenap bagian di dalam dada. "Enyahkan pikiran negatifmu itu, Dek. Siapa tahu itu hanya perasaanmu saja," kata Yudhistira. "Ya udah, Mas ke sana sekarang. Kamu jaga Mama baik-baik, sebentar lagi Mas sampai."
Setelah mematikan sambungan telepon, Yudhistira memutuskan kembali ke rumah sakit. Niat hati membersihkan tubuh terlebih dulu agar lebih segar, tapi rupanya datang kejadian tak terduga hingga membuat waktunya terbuang sia-sia.
Melangkah dengan langkah panjang menuju halaman rumah. Namun, tatkala dokter tampan dalam balutan kaos warna cream melintas di depan sang papa, Yudhistira melirik tajam ke samping dan kembali berkata, "Aku harap ini bertemuan kita yang terakhir. Kembalilah ke Singapura dan jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi di hadapanku, Tuan Fengying. Selamat siang."
Tuhan, apakah ini karma yang harus kuterima karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik dan benar-benar tulus mencintaiku? tanya Fengying dalam hati. Ekor mata memandang sendu akan sosok lelaki yang tengah melajukan kendaraan roda dua di depan sana. Tanpa terasa buliran air mata meluncur begitu saja di sudut mata. Hati lelaki itu sakit bagai ditusuk oleh ribuan jarum tak kasat. Benar-benar sakit, tapi tak berdarah.
Sementara itu, tampak Bimantara tengah mengunjungi satu per satu perusahaan yang dulu pernah menjalin kerjasama dengan perusahaan milik sang papa. Ia kembali mendatangi perusahaan dengan membawa surat lamaran, berharap semoga salah satu dari mereka bersedia menerimanya bekerja. Akan tetapi, dari sekian banyak perusahaan tak ada satu pun yang mau mempekerjakannya.
"Sialan! Kenapa nasibku sial begini? Sudah tiga bulan berkeliling mencari pekerjaan, tapi tak ada satu perusahaan pun bersedia menerimaku!" umpat Bimantara kasar. Ia menendang ban motor menggunakan kaki kanan dengan kesal. Teriknya sinar matahari dan peluh yang membasahi kening serta tubuh semakin membuat kemarahan lelaki itu berlipat ganda.
Lelaki itu menghempaskan bokongnya di jok motor, kemudian menegak air mineral yang telah ia sediakan di dalam tas ransel. "Kenapa tiba-tiba aku jadi mencurigai Papa? Mungkinkah semua ini ada sangkut pautnya dengan dia? Jika menelisik dari pengalaman kerja serta skill yang kumiliki sangat mustahil sekali bagi orang-orang itu tak menerima aku gabung dengan perusahaan. Kalau boleh jujur, aku mempunyai kriteria dan lebih unggul dibandingkan dengan orang-orang itu, tapi entah kenapa pihak perusahaan malah menolakku mentah-mentah, 'kan ini enggak masuk akul."
__ADS_1
"Sudah jelas-jelas aku punya pengalaman lebih, pernah menempuh pendidikan S1 luar negeri tapi aku kalah dengan anak baru yang hanya kuliah di universitas di Indonesia. Ck, benar-benar enggak logis!" Masih menggerutu sambil mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan.
Bimantara menarik napas dalam, kemudian memgembuskan secara perlahan sambil memejamkan mata sejenak. Menggunakan kesempatan itu mencoba menenangkan pikiran dan menyingkirkan emosi dalam diri.
"Aku enggak bisa terus menerus begini, harus ada tindakan yang kulakukan demi kelangsungan hidupku dan Emma." Tangan Bimantara mengepal, lalu memukul stang motor. "Jika memang aku enggak bisa kerja di kantoran, dengan sangat terpaksa menggunakan sebagian tabungan untuk membuka usaha daripada harus terus menerus menunggu sesuatu yang tidak pasti."
"Ya, aku harus secepatnya menyampaikan ide ini kepada Emma. Harus!" Bimantara sudah membulatkan tekad menggunakan sebagian tabungannya yang digunakan untuk masa depan calon anaknya untuk memulai usaha guna mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Lantas, Bimantara memasukan botol air mineral ke dalam tas ransel kemudian mengenakan helm sebelum berkendara. Ia putuskan segera pulang ke rumah dan berniat menyampaikan idenya untuk membuka usaha kepada Emma.
Motor bebek milik Bimantara melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota. Sesekali terdengar bunyi klakson berasal dari kendaraan roda dua miliknya.
Di saat lelaki itu sedang asyik berkendara, tanpa sengaja ekor matanya menangkap sosok perempuan cantik berambut panjang tengah tersenyum lebar. Perempuan itu berjalan bersama teman-temannya menyusuri trotoar menuju salah satu café di dekat rumah sakit. Senyuman itu begitu lepas dan terasa tanpa beban.
Bimantara menghentikan laju kendaraan, lalu memandangi wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa penyesalan dalam dada dibalut kerinduan karena sudah lama tak berjumpa. "Tsamara?" panggilnya lirih sambil terus menatap lurus ke depan.
.
.
.
__ADS_1
Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Dijamin seru ceritanya.