
Beberapa hari yang lalu sebelum Tsamara pergi liburan ke Bali.
Saat ini Tsamara berada di depan pintu ruangan dokter penanggung jawab di IGD Persada International Hospital. Sebelum masuk, ia menarik napas panjang memberanikan diri menemui dokter senior yang bertanggung jawab terhadap seluruh tenaga medis di IGD rumah sakit tersebut.
"Ayo, Tsa, kamu pasti bisa!" ucap Tsamara menyemangati dirinya sendiri.
Setelah dirasa cukup tenang, barulah Tsamara mengulurkan tangan ke depan, kemudian mulai mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Permisi, Dokter."
Mendengar ada seseorang di balik pintu, dokter Fatma menghentikan sejenak kegiatannya. "Masuk!" titahnya dengan suara lantang.
"Dokter Fatma, apa Anda punya waktu luang? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Anda," ucap Tsamara.
Pandangan mata yang sedang menatap layar monitor dokter Fatma alihkan kepada sosok perempuan di hadapannya. Jarak di antara mereka tak begitu jauh hanya terpisah meja kerja.
"Duduk dulu, Dokter Tsamara!" ucap dokter Fatma ramah. "Ada apa nih tumben sekali menemui saya secara pribadi. Apa ada urusan pekerjaan?"
Tsamara yang sudah duduk di kursi berhadapan dengan dokter Fatma menggelengkan kepala lemah. Kedua tangan saling tertaut satu sama lain. Kepala menunduk sambil menahan debaran jantung yang terus berdenyut kencang dari biasanya.
"Dokter Tsamara, ada apa?" Dokter Fatma kembali berucap setelah melihat rekan sejawatnya bergeming di tempat. "Kalau ada hal penting, katakan saja. Saya siap mendengarkan."
Perlahan, Tsamara mendongakan kepala memandangi wajah teduh dari sosok wanita tegas di hadapannya. Ia meremas telapak tangannya, mencoba menguatkan diri untuk mengatakan alasan kenapa ingin bertemu dengan dokter Fatma.
"Dokter Fatma, saya sudah memikirkan secara matang tentang perkataan Anda beberapa hari lalu terkait tips menyembuhkan rasa sakit hati akibat dikhianati oleh seseorang yang kita cintai. Semalaman saya berpikir hingga akhirnya sebuah keputusan telah didapat. Ehm ... saya berniat mengambil cuti selama empat hari untuk liburan, Dok," ucap Tsamara.
Dokter Fatma tersenyum. "Jadi, kamu sudah pikirkan matang-matang perkataan saya beberapa hari lalu?" tandasnya. Ingin memastikan bahwa saran yang diberikannya kepada Tsamara, benar-benar dilakukan oleh gadis itu.
__ADS_1
Tsamara mengangguk. "Benar, Dok. Saya rasa semua yang dikatakan oleh Dokter benar adanya. Oleh karena itu, saya ingin mengurus surat cuti selama empat hari."
Dokter senior berkacamata meraik kursi kebanggannya hingga maju ke depan. "Kalau boleh tahu, memangnya Dokter Tsamara mau pergi liburan ke mana?" tanyanya penuh selidik. Sudut bibir tertarik sebelah, seakan ia tengah menyusun rencana besar.
"Bali, Dok. Sudah lama sekali saya tidak berlibur ke kawasan Seminyak. Kebetulan di sana ada salah satu penginapan dengan view yang cukup bagus. Resort itu menjadi salah satu tempat menginap saya dan keluarga jika sedang berlibur di Bali."
Tampak Dokter Fatma manggut-manggut. "Baiklah, saya pasti menyetujui surat cutimu. Urus saja secepatnya dan segera saya tanda tangani hari itu juga."
***
Semilir angin pantai di malam hari menerbangkan sebagian rambut hitam panjang tergerai milik Tsamara. Usai menikmati sunset, ia dan Yudhistira memutuskan berjalan-jalan di sepanjang pantai Seminyak sambil menikmati pemandangan indah di sekitar.
"Jadi, Dokter Yudhis menginap di mana selama berada di Bali?" Tsamara membuka percakapan setelah sekian lama mereka terdiam. Gadis itu menenteng high heels, membiarkan telapak kaki yang tidak terbungkus apa pun merasakan pasir dan jilatan ombak. Ia dan Yudhistira sedang berjalan bersisian di sepanjang Pantai Seminyak.
"Di sebuah hostel dekat The Seminyak Beach Resort and Spa," sahut Yudhistira. Pria itu turut melepaskan sepatunya dan menggulung celana jeans hingga sebatas bawah lutut. Tatapan mata memandang ke depan, kepada hamparan pasir putih terbentang luas di depan sana.
Aah ... mana mungkin dia segila itu. Palingan juga memang cuma kebetulan saja, batin Tsamara, mencoba mengenyahkan pikiran negatif tentang rekan sejawatnya.
"Oh ya? Kebetulan sekali," pekik histeris Yudhistira. Kedua alis pria itu sampai tertarik ke atas saking terkejutnya.
Tsamara membuang napasnya sekali lagi. "Yeah, sebuah kebetulan yang tidak sengaja mempertemukan kita di Pulau ini."
Yudhsitira terkekeh pelan setengah berkelakar. "Bukankah malah bagus kalau kita bertemu di sini? Aku bisa menemanimu berlibur, pergi ke mana pun tanpa takut dihadang orang jahat."
Bibir ranum nan mungil mengerucut ke depan. "Ini bukan Jakarta, tingkat kriminalitas tidak terlalu tinggi di sini. Sangat berbanding sekali dengan ibu kota negara Indonesia. Di sana lengah sedikit aja bisa jadi sasaran empuk para pencopet."
"Walaupun tidak terlalu tinggi, tapi tidak menutup kemungkinan akan ada orang jahat mengintaimu. Jadi, kalau kamu jalan sama aku kemungkinan dihadang orang jahat sangat minim sekali."
__ADS_1
Tsamara mencibir sembari memutar bola mata malas. Sikap Yudhistira masih sama seperti dulu terkesan terlalu percaya diri. "Jangan sombong! Kalau betulan dicegat orang jahat, emangnya Dokter Yudhis bisa menghajar mereka semua?"
Seulas senyuman terbit di sudut bibir Yudhistira melihat bibir mungil itu semakin mengerucut ke depan. Melihat gadis itu membuat lelaki itu gemas sendiri. Ingin rasanya ia tarik hidung mancung itu agar semakin mancung dari sebelumnya.
"Kalau aku bilang bisa menghajar mereka, apa kamu percaya?"
Pecah sudah gelak tawa Tsamara detik itu juga. "Mustahil! Setahuku Dokter Yudhis enggak bisa ilmu bela diri jadi enggak mungkin mengalahkan orang jahat itu." Gadis itu menyangsikan perkataan Yudhistira. Dalam benak gadis itu mana mungkin orang yang mempunyai sifat lemah lembut akan terlihat garang di arena tempur.
Yudhistira hanya tersenyum samar. Sangat memaklumi kenapa tak ada satu orang pun percaya kalau dia sedikit menguasai ilmu bela diri meski tidak terlalu jago.
"Ya udah, kalau kamu enggak percaya. Aku enggak akan memaksamu untuk mempercayai ucapanku," jawab Yudhistira.
Yudhistira melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. "Sudah semakin malam, kita harus lekas pulang. Enggak enak kalau malam-malam jalan bareng anak perawan, nanti yang ada digebukin massa."
Tsamara berdecih. "Garing!" jawabnya singkat. "Oke deh, kita pulang sekarang. Kebetulan aku sudah lelah sekali seharian keliling mall mencari pakaian dan kebutuhan lainnya."
Tanpa membuang waktu terlalu lama, Yudhistira dan Tsamara melangkah bersama menuju parkiran.
"Kamu masuklah dulu, aku akan mengikutimu dari belakang," tutur Yushistira sembari mengenakan helm.
"Enggak perlu, aku bisa sendiri," tolak Tsamara. Ia tidak mau merepotkan orang lain.
"Enggak ada bantahan! Cepat naik dan kita pulang sekarang!" tandas Yudhistira. Entah kenapa Tsamara seperti terintimidasi hingga membuatnya menuruti perintah pria itu.
.
.
__ADS_1
.