Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Pertemuan Dua Lelaki


__ADS_3

"Tsa, apa tidak sebaiknya kamu izin untuk tidak berangkat kerja dulu, Nak. Hari ini kamu lebih baik istirahat di rumah sambil menenangkan pikiranmu," tutur Sekar saat dia mendapati Tsamara tengah duduk manis di kursi makan.


Tsamara menggelengkan kepala lemah, kemudian menjawab, "Enggak, Mama. Aku akan tetap berangkat ke rumah sakit." Tangan gadis itu meraih satu tangkup roti dan satu botol selai strawberi. "Lagi pula, kalau ambil cuti akan ada berita tidak sedap beredar di rumah sakit. Mereka pasti mengatakan sesuatu hal yang enggak enak didengar."


"Walaupun sikap rekan sejawatku baik saat di depanku tetapi kita enggak pernah tahu isi hati seseorang. Bisa saja 'kan baik di mulut tapi beda di hati. Oleh karena itu, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, lebih baik aku berangkat saja," imbuh Tsamara memberitahu alasannya kenapa bersikeras untuk bekerja meski baru dua hari lalu hakim membacakan putusan sidang perceraiannya dengan Bimantara.


"Iya, Mama ngerti. Namun, Mama khawatir kamu malah enggak fokus saat memberikan pertolongan kepada pasien. Bagaimana kalau kamu melakukan kesalahan dan berimbas pada karirmu sebagai dokter?"


Tsamara terkekeh pelan. Gadis itu bangkit dari kursi, kemudian mengusap pundak Sekar dengan lembut. "Insha Allah aku akan fokus saat bekerja. Mama do'akan saja semoga tidak ada hal buruk menimpaku saat sedang menjalankan tugas."


Sekar mengembuskan napas kasar. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain memberikan izin kepada Tsamara pergi bekerja. Walaupun terasa berat, tapi untuk terus berdebat di depan Tsamara rasanya akan sulit sebab dokter cantik itu mempunyai seribu jalan agar bisa menggapai apa yang diinginkan.


"Ya sudah, kalau itu sudah jadi keputusanmu. Tapi kamu harus janji misalkan dirimu enggak fokus kerja langsung minta izin pulang. Nanti Mama akan minta sopir menjemputmu di rumah sakit."


Tsamara tersenyum. Meskipun luka di hati belum terobati tetapi dia mencoba tegar di hadapan sang mama. "Iya. Apa pun mata Mama, aku akan patuh."


***

__ADS_1


Sementara itu, di tempat yang berbeda tampak Bimantara tengah duduk termenung seorang diri di balkon apartemen. Pandangan mata pria itu memandangi langit biru berselimut awan putih.


Dua hari pasca hakim mengabulkan gugatan cerai Tsamara, Bimantara memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Urusan pekerjaan dia limpahkan kepada asisten dan sekretaris. Pikiran pria itu jadi tidak fokus, terus gelisah dan suasana hati berubah-ubah seperti seorang wanita yang sedang hamil saat mengalami mood swing.


"Den Bima, di depan ada Pak Irawan. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan secara empat mata." Salah seorang asisten rumah tangga berdiri di ambang pintu yang menuju ke balkon apartemen.


Bimantara mengatur napasnya, meredakan emosi yang terbendung dalam diri. Entah kenapa dia seakan mendapat sebuah firasat buruk akan menimpa dirinya saat ini. Setiap kali mereka bertemu akan ada saat di mana mereka bertengkar hebat dan membuat hubungan antara ayah-anak semakin renggang.


"Minta Papa menunggu di ruang tamu. Sebentar lagi aku menyusul," kata Bimantara.


Mantan suami Tsamara mengayunkan kaki menuju ruang tamu, di mana sang papa berada. Aura dingin mulai terasa saat kaki Bimantara memasuki ruangan tersebut. Dari jarak tidak terlalu jauh dapat melihat jelas raut wajah tidak bersahabat serta tatapan mata tajam seakan ingin menerkam mangsa saat itu juga.


"Ada apa Papa mencariku?" tanya Bimantara tanpa basa basi.


"Anak kurang ajar! Memangnya selama ini aku dan istriku tidak pernah mengajarkanmu sopan santun heh, sampai sikapmu begitu songong terhadap orang yang lebih tua?" sembur Irawan dengan kilatan emosi terpancar di kedua mata. Wajah merah padam memendam emosi yang terus membara.


Menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. Tersadar atas apa yang dilakukan olehnya barusan telah menyinggung perasaan Irawan. Lantas, Bimantara mulai bersikap lembut di hadapan sang papa. Meskipun sebenarnya sangat bertolak belakang sekali dengan sikapnya saat bertemu dengan Irawan.

__ADS_1


"Ada apa Papa mencariku? Apa ada hal penting hingga memaksa Papa datang ke apartemenku?"


Irawan menyenderkan punggung di sandaran sofa. Kedua kaki menyilang sembari memandangi penampilan Bimantara yang terlihat berantakan dengan wajah kusut bagaikan pakaian yang belum disetrika.


"Tebakanmu tepat sekali. Kedatangan Papa ke sini memang ingin mengatakan suatu hal kepadamu. Papa mau ... mengambil kembali tongkat kepemipinanmu sebagai CEO perusahaan," ucap Irawan mantap.


Bola mata Bimantara terbelalak sempurna. Rahangnya pun terbuka lebar saat mendengar perkataan Irawan. "Apa?"


.


.


.


Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya. 👇


__ADS_1


__ADS_2