
"Dokter Tsamara, ada pasien gawat yang membutuhkan pertolongan segera," ucap seorang wanita berseragam perawat.
"Baik, Suster." Tanpa pikir panjang, Tsamara melangkah cepat setengah berlari menuju IGD. Ia yang baru saja hendak menyuapkan makanan ke dalam mulut segera menghentikan kegiatannya. Meskipun perut belum terisi makanan sama sekali sejak tadi siang hingga sore menjelang, ia tetap siap siaga memberikan pelayanan terbaik bagi para pasien di rumah sakit tersebut.
"Bagaimana kronologinya hingga pasien bisa kecelakaan?" tanya Tsamara kepada saksi yang membawa pasien ke IGD. Sebelah tangan kanan mencatat semua informasi yang didapat pada sebuah buku catatan pasien. Sekecil apa pun data yang disampaikan akan sangat berarti bagi seorang tenaga medis.
Saksi kecelakaan berambut keperakan mulai menceritakan kronologi kejadian kepada Tsamara. Anak sulung dari pasangan Fahmi dan Sekar tampak begitu fokus mendengarkan penuturan saksi. Jemari tangan gadis itu tak tinggal diam, dia mencatat semua informasi yang disampaikan pria paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun.
"Suster Nadia, tolong pasangkan EKG. Kemudian Suster Khansa, tolong periksa tanda-tanda vital pada pasien," titah Tsamara.
"Baik, Dokter," sahut kedua perawat itu hampir bersamaan. Mereka bergegas melaksanakan titah yang diberikan oleh Tsamara.
Sore itu, di ruang IGD hanya ada dia dan dua orang perawat jaga. Dokter Fatma yang merupakan dokter penanggung jawab di ruang IGD sedang menghadiri rapat bersama para petinggi rumah sakit sehingga mau tidak mau gadis itu harus menangani sendirian korban kecelakaan.
"Suster, coba periksa adakah pasien mengalami injury pada area sekitar leher." Tsamara kembali memberikan titah kepada Nadia.
Tanpa diperintah untuk kedua kali, Nadia langsung memeriksa area sekitar leher pasien dan menemukan pergeseran pada area trakea. Gadis itu langsung memasangkan neck collar atau dalam istilah bahasa asing disebut juga dengan nama penyangga leher setelah mendapatkan perintah memasangkan benda tersebut pada area leher pasien.
"Suster Khansa, apakah kamu mendengar ada suara gurgling bersumber dari pasien?" kata Tsamara.
Merasa namanya dipanggil, gadis berkerudung putih mendekatkan telinganya kemudian mendengarkan adakah suara asing yang menyerupai bunyi kumur-kumur, bunyi mengorok ataupun bunyi stidor karena adanya penyempitan yang mengakibatkan bersihan jalan napas pasien tidak efektif.
__ADS_1
"Ada gurgling, Dokter," sahut Khansa.
"Tolong ambilkan alat suction. Kita harus segera membersihkannya segera," ucap Tsamara. Jemari tangan gadis itu meraih sebuah selang kecil yang biasa digunakan kepada pasien dengan tujuan menghilangkan sekret yang menyumbat jalan napas. Cukup lama gadis itu berkutat dengan alat tersebut hingga akhirnya usaha yang dilakukan membuahkan hasil.
Dari hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV) serta EKG, pasien dinyatakan mengalami sinus takikardi dengan saturasi 90, tekanan darah 110/60 mmHg dan nadi 110. Maka dokter memberikan penanganan berupa pemberian oksigen menggunakan non rebreathing mask untuk pasien yang mengalami kondisi medis akut yang masih sadar penuh dan mampu bernapas spontan dengan flow rate 10L/menit. Apabila saturasi masih berada di 90 maka flow rate akan dinaikan menjadi 12L/menit sampai 15L/menit hingga mencapai batas normal minimal 94.
Ketika Tsamara tengah sibuk menangani pasien, rupanya Yudistira baru saja kembali dari pertemuan para petinggi rumah sakit. Menjabat sebagai wakil dari penanggung jawab ruang IGD, pria berwajah oriental itu diminta Fatma mendampinginya setiap kali ada pertemuan penting.
Melihat Tsamara kewalahan, tentu saja hati Yudistira tidak tega. Selain memang dia mempunyai tanggung jawab menyelamatkan nyawa pasien, pria itu tak mau kalau wanita yang telah memporakporandakan hatinya kelelahan dan jatuh pingsan karena terlalu lelah bekerja tanpa mendapatkan tambahan energi. Diam-diam, dia mengawasi Tsamara selama mereka berada dalam gedung dan ruangan yang sama hingga tidak heran jika pria itu tahu kalau istri Bimantara belum makan sama sekali sejak tadi siang.
Melangkah maju ke depan menghampiri Tsamara. "Ada apa dengan pasien?" tanya Yudhistira segera bergabung dengan tim medis lainnya yang terdiri dari Tsamara, Nadia dan Khansa.
Dengan cekatan Yudhistira membantu Tsamara menangani pasien. Pria itu melakukan pembidaian pada kaki pasien sedangkan nyonya muda Danendra menghentikan pendarahan. Kedua dokter muda dibantu dua orang perawat wanita bahu membahu menangani pasien korban kecelakaan lalu lintas.
Setelah tugasnya selesai dan pasien dibawa ke bangsal, Tsamara duduk di kursi sambil membuat laporan. Yudhistira yang baru saja dari kantin duduk di sebelah kursi sang dokter cantik. Menyodorkan bungkusan plastik yang dapat didaur ulang ke hadapan Tsamara. "Di dalam sini ada roti dan satu buah susu kotak rasa cokelat. Kebetulan tadi aku mampir ke minimarket dan teringat kalau dirimu belum makan sama sekali sejak tadi siang. Oleh karena itu, aku membawakan makanan dan minuman ini untukmu. Makanlah, selagi rotinya masih hangat!"
Tsamara mendongakan kepala, kemudian mengerutkan kedua alis. Gadis itu sedang berpikir keras bagaimana Yudhistira bisa tahu kalau dirinya belum makan sama sekali. Mungkinkah pria itu mempunyai keistimewaan dapat mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain. Itulah yang ada dalam benak gadis itu saat ini.
Sementara Yudhistira, pria itu masih berada di posisinya semula memandangi kecantikan Tsamara dengan tatapan kagum dan penuh cinta. Mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, tanpa rasa canggung sedikit pun, pria itu menjentikan tangan ke kening Tsamara hingga gadis itu mengaduh.
"Aaw, sakit!" seru Tsamara seraya mengusap keningnya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Itu sebagai hukuman karena kamu telah berpikir yang tidak-tidak tentangku." Yudhistira kembali memundurkan tubuhnya hingga menempel di sandaran kursi. "Aku bukanlah ahli nujum ataupun seseorang yang mempunyai kemampuan bisa melihat masa depan seseorang. Aku cuma manusia biasa sama sepertimu."
"Jika kamu bertanya kenapa aku bisa tahu bahwa dirimu belum makan sama sekali sejak tadi siang, itu semua karena tanpa sengaja aku melihatmu mengusap bagian perut sambil sedikit meringis kesakitan. Dari situ aku yakin bahwa kamu belum mengisi perutmu dengan makanan apa pun. Maka dari itu, aku putuskan pergi ke minimarket sekalian membeli sesuatu di sana. Sampai sini, apakah kamu mengerti kenapa aku bisa tahu apa yang dibutuhkan olehmu saat ini?"
Tsamara terdiam saat mendengar penjelasan Yudhistira. Seketika dia merasakan desiran aneh menelusup ke dalam relung hati. Sebuah perasaan yang dia sendiri tidak tahu mengapa bisa hadir secara tiba-tiba.
"Tsamara, apa kamu dapat mendengar perkataanku?" tanya Yudhistira saat menyadari kalau Tsamara masih belum menyentuh makanan yang dibelikan olehnya. "Tsa? Hei, kamu bisa dengar suaraku tidak?" Melambaikan tangan ke hadapan wajah gadis itu.
Tsamara mengerjap beberapa kali, kemudian berdehem sejenak sebelum mulai berbicara. "Ya ... aku mendengar perkataanmu, Dokter Yudhis." Jemari tangan gadis itu meraih kantong plastik kemudian mulai menggigit roti yang dibelikan untuknya.
Keju? Kenapa bisa kebetulan sekali sih? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku pecinta keju sejati? Ehm ... sedikit mencurigakan. Namun, ... sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi sebaiknya aku habiskan makanan ini dan kembali mengerjakan laporan untuk diberikan kepada Dokter Fatma.
.
.
.
Halo semua, author mau mempromosikan karya milik temen author nih yang nggak kalah seru dari cerita ini. Yuk langsung dikepoin di aplikasi kesayangan kalian semua.
__ADS_1