Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Kebenaran yang Terungkap


__ADS_3

Hari sudah semakin sore, seorang wanita paruh baya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Secara perlahan kelopak mata mulai bergerak, bulu-bulu matanya yang lentik pun ikut bergerak pula. Tatkala kornea mata terbuka sempurna, ia memindai seisi ruangan.


"Eugh!" erang Latifah saat merasakan punggung tangannya terasa sakit akibat ditusuk jarum infus. Selang oksigen dipasang dokter guna membantu wanita paruh baya itu agar dapat bernapas dengan leluasa.


Mendengar suara erangan seseorang, Yudhistira yang baru saja keluar dari kamar mandi berhambur mendekati pembaringan. Wajah sumringah kala mendapati sang mama tercinta telah siuman. "Alhamdulillah, syukurlah Mama udah siuman!" ujar pria itu dengan mengulum senyum di bibir.


Latifah memandangi paras rupawan Yudhistira dengan lekat. Otak wanita itu sedang berusaha keras mengingat kembali apa yang terjadi dan bagaimana Yudhistira bisa ada dalam ruangan sama dengannya.


Tangan Yudhistira bergerak perlahan, mengusap puncak kepala Latifah. Seakan mengerti apa yang ada dalam benak wanita paruh baya itu, dokter tampan berwajah oriental berkata, "Tadi Mama pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit. Karena Erina mencemaskan keadaan Mama dan tidak tahu harus berbuat apa, dia meneleponku dan memintaku datang ke sini."


Latifah menghela napas kasar. Meskipun Yudhistira tak memberitahu yang sebenarnya, tapi ia yakin telah terjadi hal buruk menimpa dirinya. "Nak, katakan pada Mama, dokter memprediksi berapa lama lagi Mama hidup di dunia ini?"


Yudhistira terdiam saat mendengar pertanyaan Latifah. Ingin menutupi kebenaran yang ada, rasanya percuma sebab bangkai yang terus ditutupi akan tercium juga.


"Dokter memprediksi usia Mama tidak kurang dari tiga bulan. Namun, Mama enggak usah khawatir, aku sudah meminta Dokter Ilham memberikan pengobatan terbaik untukmu." Yudhistira menjawab dengan menahan napas.


Sesak di dada tatkala membayangkan sosok perempuan yang selama ini memberi kasih sayang tanpa pamrih meninggalkan dunia fana ini untuk selamanya. Apa yang akan terjadi pada dirinya dan Erina apabila Latifah meninggal dunia? Akankah ia mampu menghadapi dunia kejam ini tanpa adanya Latifah di sisinya?


Latifah memandangi langit-langit kamar berwarna putih, kemudian tersenyum getir. Kematian memang tak dapat dihindari oleh siapa pun, tapi apakah ia sanggup menemui malaikat maut bila sewaktu-waktu datang menghadang? Sudah cukupkah amalan hidup selama ini untuk bekal di akhirat? Lalu, apakah ia dapat meninggal dalam keadaan tenang sementara ada sebuah rahasia besar yang tersimpan selama ini?


Tidak, Latifah tidak menginginkan dirinya meninggal dalam keadaan tak tenang. Ia ingin saat malaikat maut nanti mencabut segala urusan keduniawian terselesaikan hingga tak menghambatnya menemui Sang Pencipta.

__ADS_1


"Yudhistira, kemarilah, Nak!" pinta Latifah. Suaranya masih terdengar lemah. Ia tak bisa menunda terlalu lama untuk menyampaikan suatu hal penting kepada Yudhistira.


Tanpa banyak bertanya, Yudhistira menarik kursi yang diduduki hingga tak ada jarak antara mereka. "Mama butuh sesuatu? Atau ... mau aku panggilkan Dokter untuk memeriksa Mama segera?"


Latifah menggelengkan kepala. "Nak, apa kamu ingat akan foto seorang wanita yang pernah Mama tunjukan kepadamu saat kamu baru saja duduk di bangku kelas 1 SMP? Saat itu kamu penasaran, kenapa setiap tahun kita selalu berziarah ke sebuah makam sambil membawa satu buket bunga marigold dan meletakkan di dekat nisan seseorang."


Yudhistira tampak berusaha keras mengingat kejadian di masa lalu. Bayangan wajah seorang wanita cantik berparas jelita tengah tersenyum manis hingga memperlihatkan lesung pipinya. Kecantikan wanita itu bertambah dua kali lipat kala kain penutup bernama jilbab menutupi rambutnya serta tak ada satu celah pun anggota tubuh terlihat sebab ia menutupinya dengan pakaian tertutup.


Mengangguk kepala meski sedikit ragu, apakah bayangan wajah wanita itu yang dimaksud Latifah. "Memangnya ada hubungan apa antara foto wanita itu dengan makam yang selalu kita kunjungi setiap setahun sekali. Apa wanita itu adalah saudara Mama yang telah meninggal dunia?"


Latifah memandang sendu. Berpikir, bagaimana ia menjelaskan sebuah kebenaran yang disimpan selama hampir tiga puluh tahun? Bagaimana ia mengatakan bahwa hubungan wanita itu dengan Yudhistira sangat dekat bahkan di antara mereka terjalin ikatan kuat yang tak dapat dipisahkan seumur hidup? Akankah Yudhistira menerima kenyataan itu dan memaafkannya karena telah menyembunyikan kebenaran itu selama ini?


Latifah terdiam. Mencoba berpikir harus memulai dari mana untuk mengatakan yang sebenarnya. "Wanita itu bernama Annchi. Dia adalah tetangga dekat Mama dan Papa. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, ia memilih Yogyakarta sebagai tempat tinggalnya. Di sini ia hidup seorang diri tanpa ada sanak saudara yang menemani."


"Rupanya dia tengah hamil muda. Mama dan Papa selaku tetangga terdekat tentu saja tidak tega membiarkan seorang wanita hamil tinggal sendirian maka kami memutuskan membantu wanita itu melewati masa kehamilannya hingga waktu persalinan tiba," sambung Latifah.


"Annchi sangat menanti moment di mana ia akan melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki yang pasti akan terlahir dengan paras rupawan. Namun, ketika bayi laki-laki itu lahir ke dunia ini, ia tak bisa merawat dan membesarkannya sebab saat melahirkan bayi itu, terjadi pendarahan dan komplikasi hingga menyebabkan nyawanya tidak tertolong."


Jantung Yudhistira rasanya berhenti berdekat sesaat setelah mendengar penjelasan Latifah. Pikiran negatif mulai menari indah di benaknya. Akan tetapi, ia tak mau berasumsi dulu sebelum sang mama menceritakan semuanya.


"Berhubung Annchi tak mempunyai siapa-siapa, mau tidak mau dia menitipkan bayi itu kepada Mama dan Papa. Tentu saja Mama dan Papa menerima bayi itu dengan suka cita sebab pernikahan kami telah berjalan selama tiga tahun belum juga diberikan momongan."

__ADS_1


Latifah memandangi wajah Yudhistira yang kalau diperhatikan dengan seksama bagian mata dan bibir pemuda itu mirip sekali dengan Annchi. "Kamu tahu, siapa bayi yang Mama maksud?" tanyanya dengan lirih.


Suara gemuruh mulai terdengar di dalam dada. Degup jantung Yudhistira tak beraturan disertai napas tersengal seolah ia baru saja lari maraton.


Dengan suara gemetar, Yudhistira menjawab, "Apakah bayi itu adalah ... aku?"


"Benar, bayi itu adalah kamu, Nak. Itulah kenapa sejak kecil kami selalu mengajakmu mengunjungi makam Annchi untuk berziarah karena Mama enggak mau kamu sampai lupa siapa ibu kandungmu yang sebenarnya."


Lemas sudah tubuh Yudhistira saat mendapati sebuah kenyataan yang disimpan selama ini oleh Latifah serta Erlan. Seandainya saja ia tidak dalam posisi duduk sudah pasti saat ini tubuhnya terjerembab ke lantai saking terkejutnya.


Bola mata mulai berkaca-kaca, hati terasa sesak bagai dihimpit bongkahan batu besar. Dada sang dokter tampan kembang kempis menahan gejolak yang tengah ia rasakan. "Kalau memang wanita itu adalah ibu kandungku, lalu di mana ayahku? Apakah ayahku telah meninggal dunia juga?"


Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Latifah. "Mama tidak tahu di mana keberadaan ayahmu sebenarnya. Namun, sebelum meninggal dunia, Annchi sempat menitipkan buku diary dan kalung emas kepada Mama. Mungkin di buku itu kamu bisa menemukan sebuah petunjuk di mana ayahmu berada."


"Buku itu Mama simpan di laci meja rias. Mama satukan buku diary tersebut dan kalung emas kepunyaan Annchi dalam satu wadah yang sama," sambung Latifah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2