
Empat Bulan Kemudian ....
Bimantara hanya bisa tergeletak tak berdaya di indekost sempitnya. Ia tak punya pilihan lain selain mencoba mengobati dirinya sendiri karena tidak memiliki uang untuk berobat ke rumah sakit. Uang gaji menjadi pelayan di rumah makan Padang sudah ia bayarkan kepada pemilik indekost dan biaya servis motor karena kendaraannya itu sempat terendam banjir saat pergi ke Bekasi beberapa bulan lalu.
Mengingat semua yang telah terjadi, Bimantara tidak mau menghubungi Hasna dan Irawan untuk meminta bantuan mereka karena ia sadar sepenuhnya bahwa ia telah membuat orang tuanya kecewa dan terluka. Jadi, tidak ada pilihan lain selain bertahan dengan kondisinya yang sekarang. Pria itu hanya bisa berharap bahwa ia bisa sembuh hanya dengan membeli obat di apotek.
Di sisi lain, Irawan yang mengetahui kondisi sang anak hanya terdiam, dan pura-pura tidak tahu. Ia masih merasa sangat kesal mengingat kesalahan demi kesalahan yang telah anaknya itu lakukan.
“Mau sampai kapan kamu berdiam diri seperti itu? Masih sanggup bersikap keras meski tahu anakmu sedang menderita?” celetuk Hasna yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Irawan yang masih duduk di tepian kasur sambil memegang ponsel di tangannya, langsung menghela napas berat, dan melirik sekilas ke arah istrinya itu. “Kamu ingin aku berbuat apa? Menjemput anak kesayanganmu itu?” ketus Irawan.
Hasna menggeleng lemah, ia lalu duduk di samping Irawan, dan menatap dalam-dalam manik mata suaminya itu. “Mau bagaimana pun juga, dia itu tetap anak kita. Bimantara mungkin sudah sangat mengecewakan kita, tapi dia itu darah dagingmu, Mas. Saat ini anak kita itu sedang sangat menderita, dia pasti kesakitan dan menderita hidup seorang diri, turunkanlah egomu dan maafkan dia,” pinta Hasna dengan tatapan penuh harap.
Mendengar ucapan dari istrinya itu, Irawan hanya terdiam. Ia tahu apa yang dikatakan istrinya adalah benar. Tapi, tak bisa ia pungkiri bahwa ia masih sangat kecewa dengan Bimantara.
Hasna pun menggelengkan kepalanya lemah, ia lalu beranjak mengambil tasnya dan meninggalkan Irawan untuk membesuk Bimantara.
Hasna menggigit bibir bawahnya menahan air mata yang hendak lolos dari mata sayunya. Di tatapnya kost tempat Bimantara tinggal dengan seksama. Hati terasa sakit, jantung berdenyut nyeri melihat bagaimana keadaan di sekitar indekos sang anak. Jelas tempat tinggal Bimantara bukanlah kost elite yang memiliki fasilitas lengkap. Tempat itu sangat kecil dan kumuh. Hasna rasa, tempat itu tidaklah layak untuk ditinggali.
Hasna pun bergegas mengetuk pintu kamar Bimantara. Cukup lama wanita itu mengetuk pintu, namun tidak kunjung dibukakan oleh Bimantara. Seketika itu juga Hasna langsung panik, khawatir terjadi hal buruk menimpa anak semata wayangnya. Lantas, ia kembali mengetuk pintu lebih keras.
"Bima! Buka, Nak. Ini Mama."
Sementara itu di dalam sana, Bimantara sedang berusaha sekuat tenaga untuk bangun dari pembaringan. Tubuhnya yang sangat lemah membuat pria itu kesulitan untuk bangun. Namun, setelah berusaha, ia pun berhasil bangun dan melangkah tertatih-tatih menuju pintu.
Segera setelah Bimantara membuka pintu, Hasna langsung berhambur memeluknya erat. Wanita itu tak kuasa melihat kondisi anaknya yang begitu buruk. "Bima, anakku!"
__ADS_1
“Masuk dulu, Ma,” ucap Bimantara dengan begitu lemah. Tubuhnya sangat lemah hingga tak sanggup membalas pelukan sang mama.
Dengan air mata yang perlahan mengalir dari mata sayunya, Hasna membantu Bimantara untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Dengan penuh perhatian, ia membantu anak tercinta untuk duduk dengan bagian punggung diberi tumpukan bantal.
“Mama kok bisa ke sini? Ada perlu apa?” tanya Bimantara dengan sangat hati-hati.
“Ayo kita ke rumah sakit,” ujar Hasna tanpa basa-basi. Ia sudah tak tahan lagi melihat keadaan Bimantara yang seperti itu. Wajah Bimantara terlihat sangat pucat, kurus dan begitu lemah. Ibu mana yang tega dan sanggup melihat anaknya seperti itu?
“Enggak, Ma. Aku baik-baik aja,” ucap Bimantara cepat.
Hasna menggelengkan kepalanya cepat. Oh, mengapa suami dan anaknya memiliki sikap ego yang sama tingginya?
“Kamu bilang baik-baik saja? Sayang, lihat kondisi kamu sekarang. Kamu mau membodohi Mama? Wajah kamu pucat, tubuhmu kurus dan kondisi sekitar indekosmu yang tidak terurus, kamu masih mau bilang kalau baik-baik aja?” pekik Hasna tak tahan lagi.
Bimantara menggeleng lemah, ia lalu mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang mengalir di wajah Hasna.
“Aku hanya enggak ingin ngerepotin Mama,” ucap Bimantara dengan sangat pelan.
“Enggak ada yang direpotkan! Kamu anak Mama! Kalau kamu sayang sama Mama, jangan menolak untuk pergi ke rumah sakit. Kita bisa selesaikan semua masalah setelah kamu sembuh." Hasna masih mencoba untuk membujuk Bimantara.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Bimantara pun setuju untuk dibawa ke rumah sakit. Hasna meminta supir untuk membantunya membawa Bimantara ke dalam mobil dan mereka pun menuju rumah sakit terbaik yang ada di sana.
Hasna menghubungi Irawan dan meminta untuk datang ke rumah sakit. Dengan berat hati, Irawan pun datang dan melihat kondisi Bimantara. Hati Irawan menjerit sendu melihat kondisi Bimantara yang sangat buruk. Meski ia masih sangat kesal kepada Bimantara, ia tetap merasa sakit melihat kondisi sang anak saat ini. Bagaimanapun, dulu ia begitu dekat dengan Bimantara sebelum mendidik anak semata wayangnya itu hidup mandiri dan berdiri di atas kakinya sendiri.
“Kamu lihat, anak kita sedang sakit, turunkan egomu dan maafkan dia. Semua orang pernah melakukan kesalahan dan berhak mendapatkan kesempatan, ‘kan?” bisik Hasna pada suaminya yang masih berdiri di ambang pintu kamar rawat Bimantara.
Irawan hanya menghela napas panjang mendengar nasehat dari sang istri. Dengan langkah berat, Irawan melangkah masuk ke dalam kamar, dan mendekati Bimantara diikuti oleh Hasna di belakangnya.
__ADS_1
“Papa,” ucap Bimantara pelan ketika melihat papanya mendekat.
Bimantara berniat bangun dari tidurnya, akan tetapi ia kesulitan karena tubuhnya yang masih sangat lemah.
“Udah, kamu rebahan aja, tubuh kamu masih sangat lemah,” ucap Irawan sambil membantu Bimantara untuk merebahkan tubuhnya kembali di kasur.
“Pa,” panggil Bimantara pelan.
“Udah, enggak perlu dibahas sekarang, yang penting kamu sembuh dulu!” sergah Irawan.
“Enggak, aku harus ngomong ini sekarang. Pa, Ma, maafkan aku karena udah memilih Emma dan melepaskan Tsamara. Aku sangat menyesal, maafkan aku,” lirih Bimantara. Walaupun napasnya tersengal, tetapi ia mencoba menguatkan diri untuk meminta maaf pada kedua orang tuanya.
Hasna dan Irawan terdiam. Sungguh, kalimat yang Bimantara ucapkan adalah kalimat yang selama ini mereka tunggu. Akhirnya anak mereka menyadari apa kesalahannya dan mau meminta maaf.
“Iya, Sayang, kami pasti memaafkanmu,” ucap Hasna sambil menahan air matanya.
Bimantara tersenyum lemah, ia lalu beralih menatap papanya.
“Papa juga udah maafkan kamu, yang penting kamu sekarang sembuh dulu. Kamu juga bisa kembali ke rumah. Jangan hidup sendirian lagi,” ucap Irawan sambil menggenggam erat tangan Bimantara.
Hasna tersenyum bahagia melihat suaminya mau memaafkan Bimantara. Ia sempat takut jika ego Irawan yang begitu tinggi menutup rapat-rapat pintu maaf untuk sang anak. Tapi ternyata ia mau berbesar hati memaafkan Bimantara.
“Mama sudah meminta supir untuk pulang dan membawa keperluan kamu selama di sini. Jadi kamu sekarang hanya harus perbanyak istirahat dan jalani saja semua perawatan yang dokter berikan,” ucap Hasna cepat.
Bimantara tersenyum simpul, ia lalu mengangguk pelan mengiyakan semua ucapan mamanya itu. Ia lega karena orang tuanya mau berbesar hati memaafkan dirinya.
Terima kasih Tuhan telah memberi kesempatan kedua padaku. Aku berjanji enggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Mulai detik ini, aku akan menjadikan Papa dan Mama sebagai priotitas utamaku.
__ADS_1
...***...