
Jarum jam dinding menunjukan pukul sembilan pagi. Usai sarapan, Tsamara memilih duduk di ayunan terbuat dari rotan sambil memandangi hamparan langit berwarna biru dari atas gedung lantai sepuluh. Ia masih tinggal satu atap dengan suaminya yang sebentar lagi berubah status menjadi mantan suami tetapi berusaha menghindar agar mereka tak bertegur sapa.
"Mbak Tsamara, barusan Bu Sekar menelepon dan menanyakan Mbak Tsa. Bu Sekar meminta Mbak Tsa, untuk segera menghubungi sebab khawatir terjadi hal buruk menimpa Mbak." Salah seorang asisten rumah tangga menghampiri sang majikan yang sedang duduk di balkon apartemen.
Tsamara diam beberapa saat. Sejak kemarin siang telepon genggam miliknya memang sengaja dimatikan. Ia hanya ingin menenangkan diri seraya menikmati berbagai macam arena wahana yang ada di taman hiburan. Setidaknya dengan cara itu rasa sakit dalam hati sedikit terobati.
Menghela napas panjang, lalu berkata, "Baiklah. Nanti aku akan menghubungi ibukku. Terima kasih, Bik."
"Sama-sama, Mbak. Kalau begitu, saya permisi dulu." Asisten rumah tangga itu pamit undur diri, melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda.
Sesaat setelah kepergian sang asisten rumah tangga, secara perlahan Tsamara bangkit berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Sekian lama menyendiri membuat gadis itu mempunyai keberanian untuk bertemu papa dan mamanya di kediaman Gibran. Akan tetapi, langkah gadis itu terhenti tatkala berpapasan dengan seorang lelaki yang sangat dicintai olehnya.
Tubuh gagah dan bidang itu tampak begitu menggoda. Lengan kekar dan berotot menjadi pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Enam bagian perut dengan bulu-bulu halus di bawah pusar semakin membuat pria itu terlihat lebih macho.
Bimantara baru saja keluar dari ruang sasanan kebugaran yang ada di tempat tinggal mereka. Unit apartemen mewah dengan harga fantastik dilengkapi berbagai perabotan serta fasilitas lengkap hingga sang pemilik rumah tidak perlu keluar ruangan bila ingin berolahraga. Akan tetapi, pihak apartemen pun menyediakan berbagai alat fitnes yang bisa digunakan oleh seluruh penghuni apartemen secara gratis serta kolam renang yang selalu buka dari pukul enam pagi hingga delapan malam.
Jantung Tsamara seketika tidak aman karena berdenyut lebih kencang. Kelopak mata tidak berkedip, semburat rona merah muda muncul di wajah. Seluruh tubuh semakin memanas saat peluh yang membanjiri tubuh pria itu terkena pantulan sinar lampu.
Akan tetapi, ketika kesadaran menghantam ke permukaan, dada Tsamara terasa sesak dan nyeri. Kepingan kejadian Emma yang meliuk-liuk indah di atas tubuh Bimantara dan suara desahaan nakal meluncur di bibir sang suami membuat gadis itu buru-buru memalingkan wajah ke arah lain, tak ingin bersitatap dengan pemilik tatapan tajam setajam elang.
Apa-apaan kamu, Tsa! Bagaimana bisa otakmu ngeres seperti itu, hem? Sadar, Tsa, sampai kapan pun lelaki tampan di hadapanmu tidak akan pernah menjadi milikmu. Hati, cinta dan tubuhnya telah dimiliki Emma. Jadi, berhentilah mendambakan sentuhan lembut penuh cinta dari suami yang tak pernah mencintaimu! Tsamara mengatakan pada dirinya sendiri untuk berhenti mengharapkan sesuatu yang ia sendiri sadar itu semua tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
"Tsa, kamu sudah sarapan?" Sepasang iris coklat menatap wajah cantik dengan kulit seindah pualam. Baru beberapa jam tak bertemu, hidup pria itu terasa hampa seakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
"Sudah, Kak. Kalau Kakak mau sarapan, aku akan meminta Bibik menyiapkan makanan untukmu. Tapi maaf, aku tidak bisa menemanimu makan sebab aku harus siap-siap pergi ke rumah Papa dan Mama." Tsamara tersenyum kaku, kemudian kembali berkata, "Aku ke dalam duluan, Kak. Permisi." Gadis itu melangkah meninggalkan Bimantara yang masih mematung di tempat. Tatapan mata pria itu terus memandangi punggung sang istri hingga menghilang dari pandangan.
***
"Bik, apa Mama dan Papa ada di dalam?" Tsamara bertanya kepada salah satu asisten rumah tangga tatkala ia sudah tiba di rumah kedua orang tuanya.
Asisten rumah tangga berusia empat puluh tahun tampak terkejut saat melihat kehadiran Tsamara di rumah itu sebab tidak biasanya si cantik jelita datang tanpa memberi kabar terlebih dulu. Alis mengerut, otak wanita paruh baya itu sedang menebak sendiri apa ada hal penting hingga membuat Tsamara datang secara tiba-tiba. Terlebih saat ini si sulung datang seorang diri tanpa ditemani Bimantara.
"Bapak dan Ibu ada di dalam, Mbak. Mari, silakan masuk! Mereka pasti senang karena Mbak Tsa datang ke sini." ART itu berkata meski banyak pertanyaan yang terlintas dalam benaknya.
Apakah mungkin aku dapat merasakan kebahagian seperti yang dirasakan oleh Papa dan Mama? Akankah ada seseorang yang benar-bensr tulus mencintaiku? Menerima segala kekurangan yang ada pada diriku? tanya Tsamara dalam hati.
"Tsamara, Sayang?" Sekar menyambut kedatangan anak kesayangan dengan senyuman manis terlukis di wajah. Kedua tangan terbentang ke samping kanan dan kiri. Tanpa diperintah, si sulung berhambur dalam pelukan, saling mendekap erat satu sama lain.
"Ma ... aku kangen," ucap Tsamara lirih. Gadis itu menggigit bibir bawah kuat-kuat agar isak tangisnya tidak pecah. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan kedua orang tuanya.
Naluri seorang ibu lebih kuat dari apa pun di dunia ini. Itulah yang dirasakan oleh Sekar saat ini ketika Tsamara datang kemudian berhambur memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Akan tetapi, ia mencoba mengenyahkan perasaan itu dan berusaha berpikir positif mengangap perkataan Tsamara merupakan sebuah ungkapan perasaan karena telah lama tidak bertemu.
"Tumben sekali kamu datang ke sini tanpa memberitahu kami terlebih dulu. Memangnya ada apa, Tsa?" Fahmi membuka suara setelah istri dan anak tercinta mengurai pelukan.
__ADS_1
Tsamara tersenyum, kemudian menatap wajah Fahmi dan Sekar secara bergantian. "Ada yang ingin kusampaikan kepada Papa dan Mama. Bisakah kita duduk terlebih dulu?"
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Nak?" tanya Sekar dan Fahmi penasaran. Dua pasang mata memicing tajam, menatap ke arah gadis cantik berparas jelita.
"Nanti juga kalian akan tahu. Ayo, Papa dan Mama duduk dulu. Setelah itu baru aku katakan kepada kalian berdua." Tsamara merangkul lengan sang papa, sedangkan sebelah tangan menggenggam jemari tangan mama tercinta. Sikap gadis itu berubah menjadi kekanak-kanakan seakan ingin menutupi kesedihan yang tengah menyelimuti diri.
Saat mereka bertiga sudah duduk di sofa, Fahmi kembali berkata, "Tsamara, sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan kepada kami, Nak? Cepat katakan, jangan membuat kami penasaran!"
Tsamara menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Genggaman tangan semakin erat mencengkram tepian sofa, mencoba menguatkan diri untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Fahmi dan Sekar.
"Ma ... Pa ... aku dan Kak Bima sepakat untuk bercerai," ucap Tsamara dengan suara sedikit gemetar.
.
.
.
Halo semua, sambil nunggu karya ini update, yuk mampir dulu ke karya teman author.
__ADS_1