Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Bimantara VS Yudhistira


__ADS_3

"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Irawan saat seorang pria jangkung keluar dari ruang IGD.


Pria berusia hampir tiga puluh tahun menatap Irawan dengan serius. "Alhamdulillah, Bu Hasna sudah melewati masa kritis. Beruntungnya beliau segera dibawa ke sini jadi kami bisa menanganinya dengan cepat. Jika tidak, mungkin nyawa beliau tidak akan tertolong. Untuk sementara waktu, jangan biarkan pasien mengalami tekanan. Biarkan beliau istirahat dengan tenang tanpa harus mendengar kabar buruk yang malah memperparah kesehatan jantung Bu Hasna."


Terdengar helaan napas panjang bersumber dari Irawan. Kini, ia dapat bernapas lega sebab sang istri telah ditangani dengan baik.


"Lalu, apakah saya boleh menemui istri saya sekarang, Dok?" Menatap pria ber-snelli putih dengan tatapan memelas.


"Tentu saja boleh. Namun, pasien masih membutuhkan waktu istirahat lebih banyak. Jadi, Pak Irawan tidak bisa terlalu lama berada di dalam ruangan." Yudhistira memberi sedikit wejangan kepada Irawan sebelum pendiri perusahaan Danendra Grup masuk ke dalam ruangan.


Tsamara berdiri di sebelah Irawan dan membisikan sesuatu. "Papa masuk saja duluan. Aku akan ke bagian administrasi terlebih dulu."


Tanpa menuggu waktu terlalu lama, Tsamara segera berjalan cepat ke arah meja administrasi. Dua bulan lamanya bekerja di rumah sakit milik salah satu dokter bedah terkenal di Persada International Hospital, membuat gadis itu tak memerlukan bantuan orang lain untuk memberikan petunjuk arah ke mana ia harus melangkah. Hanya mengayunkan kaki tidak kurang dari lima menit, sudah tiba di tempat tujuan.


"Dokter Yudhistira, terima kasih atas bantuan Anda dan tim. Kalau tidak ada kalian, entah apa yang akan terjadi kepada istri saya." Irawan bersungguh-sungguh saat mengucapkan kalimat tersebut. Perkataan itu berasal dari lubuk hati yang terdalam.


"Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami sebagai seorang dokter, Pak. Lagipula, apa yang saya lakukan barusan hanya meneruskan apa yang telah Dokter Tsamara lakukan. Dia memberikan tindakan pertolongan yang tepat bagi pasien sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit."


Yudhistira menepuk bahu Irawan pelan. "Pak Irawan sangat beruntung mempunyai menantu seperti Dokter Tsamara. Selain cantik, baik hati, dia juga berkompeten di bidang medis. Paket komplit." Melirik sekilas ke arah Bimantara yang tengah menatapnya sinis. "Dijaga baik-baik, Pak. Jangan sampai permata indah berharga milyaran rupiah jatuh ke tangan orang lain. Kalau sudah hilang sangat sulit diambil kembali."


Irawan dan Bimantara terdiam mendengar ucapan sang dokter. Kalimat itu seakan memberikan tamparan keras dan menusuk ke relung hati mereka. Kedua pria itu merasa tersindir atas semua kata yang diucapkan oleh Yudhistira.

__ADS_1


Jangan sampai hilang. Kalau sudah hilang akan sulit diambil kembali. Kalimat itu terus terngiang di telinga Bimantara. Kalimat yang terdengar seperti sebilah pisau tajam, menusuk tepat ke jantungnya.


Irawan tersenyum kaku. "B-baik, Dokter Yudistira. Kalau begitu, saya mau dulu." Sengaja menghindar karena tidak ingin percakapan mereka melebar ke mana-mana.


Yudhistira melangkah meninggalkan lorong IGD menuju café yang terletak di pintu masuk sebelah selatan. Jam sudah menunjukan pukul sebelas siang dan waktunya bagi pria itu untuk menyesap kopi kesukaannya. Melangkah dengan gagah berani sambil mengulum senyum ramah ke arah Bimantara. Namun, sebuah kejadian tak terduga terjadi menimpanya.


Dalam gerakan cepat, Bimantara mencengkeram kerah kemeja, menariknya hingga tubuh pria itu berjinjit sedikit. Kedua tubuh tinggi menjulang itu saling berhadapan, mata saling menatap satu sama lain.


"Apa maksud perkataanmu barusan? Ingin menyidirku secara halus?" kata Bimantara tanpa basa basi. Matanya memberikan tatapan membunuh pada Yudhistira.


"Menyindir apa?" Yudhistira menyahut santai, pura-pura tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa rumah tangga Bimantara dengan Tsamara. Meskipun dokter cantik tidak memberitahu secara detail namun insting Yudhistira mengatakan bahwa kemelut rumah tangga antara sepasang suami istri cukup rumit dan sulit untuk didamaikan kembali.


Sebuah pukulan keras melayang ke pipi Yudhistira hingga bagian sudut bibir pria itu mengeluarkan darah segar akibat terkena hantaman cincin kawin Bimantara.


Merasakan nyeri akibat terkena kepalan tangan Bimantara, Yudhistira meringis seraya mengusut sudut bibirnya yang terluka menggunakan ibu jari kanan.


Tersenyum sinis dengan memberikan tatapan mengejek. "Bukannya bodoh, tapi saya memang tidak mengerti maksud Pak Bima apa. Saya hanya dokter jaga di IGD, bukan seseorang yang dapat membaca pikiran orang lain. Jadi, kalau Bapak tidak berbicara maka saya tidak tahu maksud perkataan Bapak apa."


"Omong kosong!" Bimantara kembali berniat melayangkan tinjuan lagi, tetapi dengan gagah berani, Yudhistira menangkis serangan tersebut.


"Jangan pernah menghajar wajahku lagi, Pak Bima! Jika tidak, tanggung sendiri akibatnya!" Suara lantang Yudhistira memekikkan gendang telinga bagaikan gemuruh petir di siang hari, seisi rumah sakit ikut gemetar.

__ADS_1


"Berengsek! Beraninya kamu mengancamku! Rasakan ini!" Dua tangan yang lurus tergantung dinaikan sedikit demi sedikit. Siku melipat di sisi tubuh. Lengan ditarik ke belakang, kemudian kembali melesakkan kepalan tangan ke wajah Yudhistira.


Akan tetapi, Yudhistira telah lebih dulu menghajar wajah Bimantara. Tepat mengenai hidung sang CEO. Sontak, beberapa pengunjung rumah sakit tampak terkejut melihat adegan tak terduga terjadi di depan mata.


"Aakh!" teriak beberapa pengunjung hampir bersamaa. Mereka menjerit histeris seraya memejamkan mata dan menutup telinga menggunakan kedua telapak tangan.


"Sudah kukatakan, jangan pernah menghajar wajahku!" sembur Yudhistira. Kesabaran pria itu habis. Awalnya ia bisa bersikap biasa saja, tetapi sikap Bimantara tak bisa ditolerir. Ia terpaksa membalas perlakuan suami Tsamara meski setelah melakukan itu timbul rasa menyesal dalam diri.


"Memangnya kenapa tidak boleh? Bukankah lelaki berengsek sepertimu memang pantas mendapat pukulan itu!" Tanpa pikir panjang, Bimantara segera berhambur dan meninju kembali wajah Yudhistira.


"Dokter Yudhis!" jerit Tsamara takut karena melihat Yudhistira tersungkur dengan lebam di mana-mana.


.


.


.


Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇


__ADS_1


__ADS_2