Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Kedatangan Fengying di Rumah Sakit


__ADS_3

Kedatangan salah satu pebisnis terkenal bidang kesehatan berasal dari negeri Singapura sukses membuat heboh seisi rumah sakit. Bagaimana tidak, lelaki yang terkenal selalu menutup diri dari sorot kamera kini berani tampil di khalayak umum. Terlebih lelaki itu menjadi donatur tetap di sebuah yayasan yang didirikan oleh Persada International Hospital jadi jangan heran jika kehadirannya mampu menarik perhatian semua orang tanpa terkecuali sebab selama ini mereka penasaran akan sosok pria misterius di balik kedermawanannya.


Seorang pria jangkung dan bermata sipit melangkah dengan langkah panjang menuju lobi rumah sakit. Ia didampingi anak perempuannya yang baru satu bulan tiba di Jepang.


"Ayah yakin jika orang yang dimaksud oleh Dokter Cindy adalah Tuan Fengying, salah satu rekan bisnis kita?" tanya Zahira berjalan cepat mengimbangi langkah Rayyan.


Rayyan menoleh sebentar ke samping, kemudian kembali menatap lurus ke depan. "Kita tidak akan pernah tahu jika tak mencoba menemuinya, Nak. Kalaupun memang bukan, anggap saja kita sedang berolahraga membakar lemak berlebih di dalam tubuh," terkekeh pelan setengah berkelakar. Entahlah kenapa ia jadi suka sekali menggoda anak ketiganya itu.


Zahira mengerucutkan bibir ke depan. "Iih, Ayah, malah menggodaku. Awas ya, nanti aku bilangin Bunda loh." Memalingkan wajah pura-pura kesal padahal dalam hati biasa saja.


Sementara itu, Fengying turun dari kendaraan dan melihat ke sekeliling. Anming berdiri tegap di samping sang bos.


"Anming, apa informasi yang kamu dapatkan akurat? Kenapa aku baru tahu jika selama ini anakku bekerja di rumah sakit ini?" tanya Fengying mencoba menanyakan apa yang ada dalam benaknya selama ini.


Sejak dua tahun terakhir, Star Group memang mulai bekerjasama dengan Persada International Hospital turut memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak tidak mampu, tapi mempunyai kepintaran dan hobi di bidang tertentu. Akibat terlalu fokus mencari keberadaan Annchi membuat Fengying tak begitu memperhatikan jika rumah sakit yang selama ini bekerjasama dengan perusahaan miliknya merupakan tempat bagi Yudhistira mengais rezeki selama ini.

__ADS_1


Anming menunduk kepala. "Maafkan keteledoran saya, Tuan. Lain kali, kejadian ini tidak akan terulang."


Fengying menghela napas kasar, sadar bahwa semua ini bukanlah kesalahannya. Toh dia sendiri pun tak menyadari jika anak yang dicari selama ini ternyata ada di depan mata. "Sudahlah, tidak perlu diperpanjang. Terpenting saat ini saya bisa bertemu lagi dengan anakku."


Rayyan berjalan menghampiri Fengying yang baru saja masuk ke lobi rumah sakit. "Selamat datang Tuan Fengying. Tumben sekali Anda datang ke sini. Biasanya Anda akan mengirimkan orang kepercayaan untuk bertemu dengan saya membahas urusan pekerjaan." Tangan lelaki itu terulur ke depan.


Melihat pemilik rumah sakit sekaligus rekan kerjanya, menyambut hangat kedatangannya secara langsung membuat Fengying semakin yakin jika keputusannya bekerjasama dengan Rayyan tidaklah salah sebab anak empat orang anak mampu memperlakukan orang lain dengan begitu baik.


Fengying menjabat tangan Rayyan. "Terima kasih sudah repot-repot menyambutku," jawabnya. "Kedatanganku ke sini sebenarnya bukan ingin membahas urusan pekerjaan melainkan membahas soal lain."


Fengying menahan napas, mengumpulkan keberanian dalam dada. Pria berambut keperakan menatap lekat pada iris coklat di depannya. "Aku ingin menemui Dokter Yudhistira, apakah kamu mengenalnya?"


Tampak Rayyan berpikir sejenak, mengingat nama karyawan yang bekerja di rumah sakit milik peninggalan Mei Ling--mama tercinta. "Ehm ... saya memang tidak terlalu mengingat seluruh nama pekerja di rumah sakit ini. Namun, kalau tidak salah memang ada salah satu dokter jaga di IGD bernama Yudhistira Airlangga."


Zahira yang sedari tadi terdiam terpaksa ikut menimpali. Bukan bermaksud lancang, menginterpusi percakapan antara kedua orang dewasa di hadapannya. Ia hanya ingin membenarkan jawaban yang diucapkan oleh sang ayah.

__ADS_1


"Maafkan saya jika mengganggu percakapan Dokter Rayyan dan Tuan Fengying." Wanita bermata sipit menyela percapakan mereka. Tetap menggunakan panggilan formal kepada Rayyan meski lelaki itu adalah ayah kandungnya sendiri sebab saat ini mereka berada di luar ruangan. "Saat saya masih bertugas di IGD, memang benar ada salah satu dokter jaga bernama Yudhistira. Beliau adalah orang kepercayaan Dokter Fatma."


Tampak Rayyan dan Fengying menganggukan kepala. Lantas, Fengying bertanya, "Lalu, di mana Dokter Yudhistira sekarang? Bisakah saya bertemu dengannya?"


"Dokter Yudhis baru saja mengajukan surat cuti kepada Dokter Fatma dan segera saya tanda tangani. Dia meminta izin pulang ke kampung halaman karena ibunya sedang sakit," jawab Rayyan.


"Apa? Jadi sekarang dia pulang ke Yogyakarta, begitu?" tanya Fengying dengan bola mata terbelalak sempurna.


Rayyan mengangguk kepala sebagai jawaban. "Benar, Tuan."


Tanpa membuang waktu, Fengying bergegas meninggalkan rumah sakit tersebut tanpa berpamitan terlebih dulu kepada Rayyan dan Zahira. "Anming, siapkan pesawat. Kita pergi ke Yogyakarta sekarang juga!" titahnya kepada anak buahnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2