Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Setelah Tiga Bulan


__ADS_3

"Bagaimana, Bima, apa kamu sudah mendapat pekerjaan?" tanya Emma setelah lelaki yang menjadi suaminya duduk di sofa usang di ruang tamu.


Bimantara melepaskan satu kancing bagian atas kemeja yang membalut tubuhnya yang atletis. "Belum. Aku sudah mendatangi beberapa perusahaan yang dulu pernah bekerjasama dengan perusahaan Papa, tapi mereka mengatakan tidak ada lowongan," jawabnya lirih.


Emma yang saat itu baru saja mengangkat jemuran yang dijemur di samping rumah melemparkan pakaian tersebut ke sofa kosong di sebelah Bimantara. "Gagal lagi. Gagal lagi. Kalau begini terus, kapan kita hidup bahagia, Bim? Seharusnya kamu berusaha lebih keras mencari pekerjaan bukan malah leha-leha!" sembur wanita itu. Deru napas memburu, dada pun kembang kempis.


Selama tiga bulan terakhir, Bimantara memang kesulitan mencari pekerjaan. Banyak panggilan kerja, tetapi baru tahap interview ia telah dieliminasi karena katanya tidak sesuai dengan kriteria perusahaan padahal dari segi mana pun, ia lebih unggul dari pesaingnya.


Bimantara menghela napas panjang. "Jangan bicara sembarangan, Emma! Aku sudah berusaha semampuku, tapi memang belum rezeki, bagaimana?" kata pria itu sembari mengepalkan telapak tangan, berusaha memendam amarah dalam diri.


Emma berdecak kesal. "Alasan! Bilang saja kalau kamu memang tidak becus menjadi kepala keluarga!" Wanita itu menghunuskan tatapan tajam ke arah sang suami.


Sumpah demi apa pun, rasanya Bimantara ingin sekali menampar wajah Emma menggunakan telapak tanganya sendiri karena sudah tidak tahan lagi dengan ocehan yang meluncur dari bibir wanita itu.


Semenjak hamil, Emma memang sering marah-matah tidak jelas, membentak dan mengatakan hal-hal yang tak seharusnya dikatakan oleh seorang istri kepada suami. Namun, keinginan itu harus kandas tatkala teringat akan janin yang berusia tiga bulan dalam kandungan sang istri. Ia tak mau mengambil resiko dengan mengorbankan calon anaknya itu.


"Sudahlah, Emma, aku capek sekali seharian ini berkeliling mencari pekerjaan. Aku ingin istirahat jadi tolong jangan mengatakan apa pun di hadapanku," pinta Bimantara tulus. Ya, dia tidak mau memperpanjang masalah hanya karena belum mendapatkan pekerjaan baru.


Bimantara beranjak menuju dapur, kemudian ia membuka tudung saji. "Kamu enggak masak?" tanya pria itu saat melihat tidak ada makanan apa pun tersedia di meja makan. Hanya ada gelas dan juga teko terbuat dari plastik.


Dengan santai Emma menjawab, "Enggak ada duit!" Wanita itu tampak asyik memainkan telepon genggam miliknya.

__ADS_1


"Bukannya kemarin aku memberimu uang seratus ribu, lalu kamu gunakan apa uang itu hingga malam ini dirimu tidak menyediakan makanan untukku?" Bimantara menatap tajam akan sosok perempuan cantik di seberang sana.


Emma bangkit secara perlahan dari sofa, lalu berjalan mendekati Bimantara. Saat berada di samping suami, ia berkata, "Kamu pikir, uang segitu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kita, heh? Asal kamu tahu, Bim, uang seratus ribu itu enggak punya arti apa-apa di mataku."


"Buat beli bedak, skin care dan perawatan tubuhku aja enggak cukup dan kamu berharap uang itu bisa membeli semua kebutuhan rumah tangga. Jangan mimpi!" ujar Emma dengan menekankan kalimat terakhir.


"Kalau kamu mau makan, buat saja mie instan. Aku sudah membelinya di warung Bu Saodah. Ada aneka ragam rasa dan kamu bisa pilih sendiri." Usai mengucapkan kalimat terakhir, ia berlalu begitu saja meninggalkan Bimantara yang masih bergeming di ambang pintu.


Tangan kanan Bimantara terangkat ke atas, lalu ia mengusap dadanya dengan lembut. "Sabar, Bim. Mungkin saja istrimu sedang kelelahan karena seharian ini sibuk mengurus rumah. Belum lagi hormon ibu hamil, membuat dia sering mengalami mood swing."


Sementara itu, tampak Tsamara tengah duduk seorang diri di gazebo tepian kolam renang. Gadis itu memandangi keindahan langit di malam hari. Cahaya rembulan ditambah gemerlap bintang menjadikan malam itu teramat syahdu.


"Sedang melamunkan apa, Tsa?" tanya Sekar. Wanita itu mendudukan bokongnya di bangku sebelah sang anak.


Sekar tak langsung percaya begitu saja sebab ia tahu betul apa yang tengah dipikirkan oleh anak sulungnya itu. Sembilan bulan Tsamara ada di dalam kandungan hingga ikatan batin tercipta di antara mereka. Jadi saat Tsamara mengatakan 'tidak' maka ada suatu hal yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh anak tercinta.


Pemilik salon dan spa dengan cabang di mana-mana dapat menebak jika saat ini sebetulnya Tsamara tengah memikirkan masa lalunya. Bercerai dari suami yang dicintai akan memberikan luka mendalam di hati Tsamara, meski sudah tiga bulan berlalu tetap saja rasa sakit yang ditinggalkan membekas di dalam diri setiap kaum Hawa di muka bumi ini.


Wanita paruh baya membawa kepala Tsamara ke pundak. Ia usap puncak kepala anak tercinta dengan penuh cinta. "Mama tahu apa yang tengah kamu pikirkan. Walaupun kamu tidak berucap apa-apa, tapi Mama bisa merasakan kegundahan hatimu selama ini."


"Kamu masih belum bisa melupakan Bimantara, ya?" tanya Sekar tanpa berhenti mengusap puncak kepala Tsamara.

__ADS_1


Dokter cantik bermata hazel bergeming, lidah seakan kelu dan bibir pun tertutup rapat. Ia tak mampu berkata di hadapan mama tercinta.


Firasat Sekar semakin kuat saat tak mendapatkan respon apa pun dari Tsamara. Menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Mama tahu kalau Nak Bima itu adalah cinta pertamamu, lelaki yang pertama kali mengusap air matamu ketika kamu menangis saat masih kecil. Namun, apa kamu akan terus hidup dalam masa lalu sedangkan Bimantara saja sudah move on. Dia akhirnya menikahi kekasih gelapnya itu secara sah di mata agama dan juga negara, jadi untuk apa kamu memikirkan lelaki itu terus."


"Daripada memikirkan Bimantara terus, kenapa tidak sebaiknya kamu membuka hatimu untuk lelaki lain. Mama yakin, di luaran sana pasti ada seseorang yang tulus menyayangi dan mencintaimu." Sekar menyentuh pundak Tsamara. "Kamu itu cantik, berpendidikan tinggi dan juga pekerja keras. Jadi, jangan merasa inchescure bila berhadapan dengan masa lalu. Kamu itu gadis kuat dan hebat. Percaya deh, suatu hari nanti ada seseorang yang mencintai dan tulus menyayangimu."


Tsamara menatap iris coklat Sekar dengan lekat. "Tapi aku takut dikecewakan untuk kedua kali, Ma. Aku takut disakiti lagi di saat telah memberi kesempatan kepada lelaki lain."


Sekar tersenyum lebar mendengar jawaban Tsamara. "Bagaimana kamu bisa tahu kalau kejadian di masa lalu terulang lagi? Emangnya kamu punya indera keenam, hem?"


Tsamara menggelengkan kepala lemah. "Enggak sih, Ma, tapi--"


"Tapi apa?" sergah Sekar cepat. "Kamu tidak akan pernah tahu kalau tidak mencobanya, Nak." Wanita itu kembali membawa tubuh anaknya dalam dekapan. "Entah kenapa kali ini Mama seperti merasa akan ada kebahagiaan yang datang menghampirimu, tapi Mama tidak tahu siapa lelaki yang bisa meluluhkan hati Papamu dan memenangkan cintamu."


"Saran Mama, belajarlah untuk membuka hatimu untuk lelaki lain. Siapa tahu kali ini Tuhan memang memberikan kebahagiaan untukmu. Toh kita tidak pernah tahu jika tak mencobanya."


Tsamara hanya terdiam mendengar perkataan Sekar. Ia menikmati setiap detik yang dilalui bersama sang mama.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2