
Hari sudah semakin larut saat sepasang kekasih baru saja menuntaskan hasrat terlarang yang dipendam selama ini. Bimantara berubah menjadi binatang buas yang terus menerus menerkam Emma tanpa memberikan kesempatan pada wanita itu untuk beristirahat walau hanya sedetik saja. Sang CEO menghentakan lambang keperkasaannya di inti tubuh kekasih tercinta, meracau, mengeram dan mengumpat hingga suara desahaan saling bersahutan memenuhi penjuru kamar. Pria itu seakan lupa bahwa saat ini ada seorang istri yang menunggunya di kamar lain.
"Sayang, aku harus kembali ke kamar sebelum matahari terbit. Aku takut Tsamara terbangun, lalu menyadari bahwa hanya ada dia seorang di sana," kata Bimantara setelah energi dalam diri pria itu terkumpul kembali.
Emma yang kehabisan tenaga akibat berkali-kali mengalami pelepasan hanya mengangguk lemah seraya menatap kekasih tercinta yang tengah mengenakan pakaian. Seluruh tubuh terasa remuk bagai diinjak seekor gajah besar terutama pada bagian inti tubuh. Entah sudah berapa kali suami Tsamara mengeluarkan lava panas miliknya di luar rahim wanita tersebut.
"Besok pagi, kita bertemu di lobi tepat pukul sembilan. Aku ingin sekali mengajakmu jalan-jalan tanpa diketahui oleh Tsamara," sambung Bimantara. "Aku pergi dulu. Terima kasih atas semua yang kamu berikan untukku. I love you." Sebuah kecupan penuh cinta dia berikan di kening kekasih tercinta.
Dinginnya udara malam tak menyurutkan niat Bimantara 'tuk kembali ke kamar. Terus melangkah menyusuri jalan setapak terbuat dari kayu hanya ditemani sinar rembulan dan kerlip bintang di atas langit. Langit malam ini terasa begitu cerah secerah hatinya yang baru saja kembali bertemu dengan tambatan hati.
Menempelkan kartu di alat pendeteksi, kemudian mengendap-endap masuk ke dalam kamar bagai seorang pencuri yang ingin menjarah sesuatu di rumah sang korban. "Untung saja Tsamara sudah terlelap hingga aku tak perlu menjawab semua pertanyaan darinya," ucap Bimantara lirih.
Bimantara bergerak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa pergulatan panas yang dia lakukan bersama kekasih tercinta. Berjalan berjinjit sebab tidak ingin membangunkan Tsamara yang tampak terlelap di bawah gelungan selimut berwarna putih.
Tepat pukul enam pagi waktu setempat, Tsamara terbangun dari tidurnya yang panjang. Menoleh ke sebelah tempat tidur, tetapi tak menemukan sosok suami tercinta terbaring di sana.
"Apakah Kak Bima memang tidak mau tidur satu ranjang denganku? Sejak malam pertama sampai hari ini dia lebih memilih tidur di sofa daripada harus berbagi kasur dan selimut denganku. Bagaimana mau memberikan cucu kepada Papa dan Mama kalau kami tidur secara terpisah." Menghela napas kasar kala mengingat ucapan mertua serta kedua orang tuanya. Berharap besar mereka mendapatkan kabar baik setelah dia dan Bimantara kembali ke Indonesia.
"Sebaiknya aku buatkan kopi dulu untuk Kak Bima. Siapa tahu hatinya luluh dan dia bersedia tidur satu ranjang denganku. Kemudian lama kelamaan kami bisa .... " Perkataan Tsamara terhenti karena tidak tahan membayangkan apa yang akan terjadi bisa mereka menyatu.
Lantas, Tsamara menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya mulai dari dada hingga ke ujung kaki. Dia bergegas bangkit lalu melangkah menuju kamar mandi.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kamar resort yang ditempati oleh Tsamara dan Bimantara. Akan tetapi, seorang pria gagah nan tampan masih bergelung di bawah selimut tebal yang sebelumnya dia minta dari pihak penginapan. Namun, saat mendengar suara dentingan sendok beradu dengan gelas membuat kelopak mata pria itu bergerak dan mengerjapkan mata secara perlahan.
Bimantara duduk di sofa lalu menatap ke arah Tsamara yang sedang sibuk membuatkan kopi untuknya. Tsa, meskipun kamu melayaniku dengan baik layaknya seorang istri di luaran sana namun hati dan cintaku hanya untuk Emma seorang. Pria itu bermonolog sambil terus memperhatikan gerak gerik istri pilihan kedua orang tuanya.
"Selamat pagi, Kak Bima. Bagaimana tidurmu semalam, nyenyak?" Suara merdu itu menyapa Bimantara sesaat sepasang mata almond menangkap sosok pria tengah duduk manis di sudut ruangan.
__ADS_1
"Tumben sekali jam segini kamu sudah bangun. Kesambet jin apa hingga dirimu mau menyiapkan minuman untukku!" ucap Bimantara dingin. Tak ada sedikit pun senyuman manis terlukis di wajah pria itu.
Meskipun perkataan Bimantara selalu melukai hati, sikap pria itu terkesan dingin dan tak pernah tersenyum kepadanya namun Tsamara tetap bersikap manis dan melayani sang suami dengan baik.
"Aku cuma mau membuatkan kopi untukmu, memangnya itu salah? Lagipula, statusku saat ini adalah istrimu. Jadi, aku berkewajiban untuk melayani Kakak dengan baik." Tsamara meletakkan secangkir kopi di atas meja kecil dan ikut duduk di sebelah Bimantara. "Ayo cicipi dulu. Kalau rasanya kurang nikmat, harap maklum sebab ini pertama kalinya aku membuatkan kopi untuk seseorang."
Tanpa banyak berkata, Bimantara meraih cangkir tersebut. Menyesapnya secara perlahan sambil menikmati setiap tegukan dari cairan kental berwarna hitam melewati tenggorokan.
Rasanya nikmat. Takaran kopi, gula, creamer serta air yang disedu begitu pas sesuai dengan seleraku. Bimantara termangu.
Kopi buatan Tsamara jauh lebih nikmat jika dibandingkan dengan buatan para asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya. Ini adalah kopi ternikmat yang pernah Bimantara minum seumur hidup.
Tanpa disadari oleh Bimantara, seulas senyuman tipis terlukis di wajah Tsamara. Ada rasa bangga tersendiri saat suami tercinta menyesap kopi buatannya tanpa berkomentar apa pun. Tsamara menyimpulkan bahwa, diamnya Bimantara menunju kalau pria itu merasa puas akan pelayanan yang diberikan.
Suasana pun hening kembali. Tsamara memandangi birunya langit dari jendela kamar. Deburan ombak disertai suara burung berterbangan membuat suasana semakin syahdu.
Bimantara meletakkan kembali cangkir kosong di atas meja. Dia menghunuskan tatapan tajam seraya berkata, "Aku ada urusan penting jadi tidak bisa menemanimu. Namun, kalau kamu tetap memaksa pergi, silakan. Aku akan meminta sopir mengantarkanmu membeli oleh-oleh untuk orang tua kita."
"Loh, memangnya Kakak mau pergi ke mana? Dengan siapa? Lalu, urusan penting apa hingga membuat Kakak harus meninggalkanku sendirian di sini," cecar Tsamara.
Bimantara langsung menghunuskan tatapan tajam seakan elang yang siap menerkam mangsanya hidup-hidup. "Apa aku harus memberitahumu ke mana dan dengan siapa aku pergi? Ingat, Tsa, pernikahan ini terjadi bukan atas keinginanku melainkan keinginanmu serta keinginan Papa dan juga Om Irawan. Jadi, jangan memaksaku untuk menuruti semua keinginanmu! Mengerti!"
Lantas, Bimantara bangkit dari sofa kemudian kembali menatap istrinya. "Statusmu memang sebagai istriku namun bukan berarti kamu dapat ikut campur dalam urusan pribadiku. Ini terakhir kalinya aku mendengar kamu memberondongku dengan berbagai pertanyaan yang seharusnya tidak perlu kujawab!"
Usai mengucapkan kalimat terakhir, Bimantara pergi meninggalkan Tsamara yang masih terpaku atas di tempat. Gadis itu tak menyangka jika sang suami akan membentaknya hanya karena dia menanyakan ke mana pria itu akan pergi. Tidak ada maksud ingin mencampuri urusan pribadi Bimantara, dia hanya ingin tahu hendak pergi ke mana pria itu. Kalau diperbolehkan, dia ingin ikut bersama Bimantara daripada harus menunggu sendirian di kamar.
Sabar, Tsa, mungkin saja suasana hati Kak Bima sedang tak tenang hingga dia kehilangan kendali dan membantakmu dengan kasar. Berdo'a saja, semoga sikap suamimu bisa berubah. Tsamara bermonolog.
__ADS_1
***
Sementara itu, di sebuah kamar berbeda, Emma baru saja terbangun kala mendengar dering ponsel miliknya berbunyi. Tulisan 'Sayangku' muncul di layar.
Kedua sudut bibir wanita itu tertarik ke atas kala teringat pemainan panasnya dengan Bimantara semalam. Tadi malam, mereka saling meluapkan kerinduan lewat percintaan yang tak kan pernah dilupakan seumur hidup. Saling mengungkapkan perasaan cinta tanpa mengucap sepatah kata. Kendati begitu, baik Emma maupun Bimantara tahu kalau rasa cinta itu masih bersemayan di lubuk hati yang terdalam.
"Ya, Sayang, ada apa?" jawab Emma setelah sambungan telepon terhubung. Suara serak khas bangun tidur terdengar seksi di telinga sang kekasih.
"Hanya sekadar mengingatkan, jangan lupa pukul sembilan aku tunggu kamu dilobi. Ingat, jangan sampai terlambat!" kata Bimantara dengan suara lirih. Saat ini, dia sedang berada di kamar mandi sebab hanya tempat itulah satu-satunya yang aman bagi pria itu melakukan panggilan telepon.
Emma terkekeh pelan mendengar perkataan Bimantara. "Iya, Sayang. Kamu tenang saja, pukul sembilan tepat aku sudah ada di lobi," tandas wanita itu.
"Ya sudah, aku cuma ingin mengatakan itu saja. Aku tutup dulu ya, Sayang. Sampai ketemu nanti. Love you."
"Love you too, Sayang." Lantas, sambungan telepon pun berakhir.
Emma bergegas bangkit dari pembaringan. Namun, saat hendak melangkah dia merasakan sakit di bagian inti tubuh. Ada rasa bahagia karena berhasil memberikan mahkotanya kepada lelaki yang dicintainya.
"Kuharap kali ini kamu menepati janjimu, Bim, untuk memperjuangkan cinta kita. Aku berharap banyak padamu," gumam Emma. "Tuhan, tolong menyatukan cinta kami kali ini."
.
.
.
__ADS_1