Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Jurus Gombal Gembel ala Yudhistira


__ADS_3

Mengangkat kedua tangan ke udara dengan sangat tinggi sambil menggerakan kepala ke kanan dan kiri seakan tengah melakukan peregangan otot. "Akhirnya, setelah enam jam bekerja kita bisa menghirup kembali udara kebebasan," kata Yudhistira. Pria keturunan Tionghoa menghirup udara sebanyak-banyaknya guna memenuhi pasokan oksigen di dalam paru.


Tsamara yang berdiri di sebelah pria itu tersenyum kala menyaksikan kekonyolan rekan kerjanya itu. "Please deh, jangan lebay!" celetuk gadis itu tanpa menghentikan senyumannya. "Memangnya selama ini Dokter Yudhis berada di penjara kok bicara begitu."


Yudhistira terkekeh mendengar perkataan Tsamara. "Aku memang selama ini tinggal di penjara ... tapi penjara cintamu." Saat mengucapkan kalimat terakhir, ia sengaja menoleh ke samping sambil memberikan tatapan hangat.


Ditatap dengan tatapan hangat nan memuja membuat kedua pipi Tsamara merah merona. Wanita mana yang tidak tersipu malu saat ada lelaki menggombal di hadapan pasangannya. Meskipun hanya bergurau tetapi perkataan itu sukses membuat irama jantung dokter cantik berdegup tak beraturan.


Ish, kenapa jantungku jadi tidak karuan begini! Padahal 'kan Dokter Yudhistira sedang bergurau tapi aku kok malah baperan sih! rutuk Tsamara dalam hati. Entah kenapa perasaan gadis itu jadi tak karuan setelah mendengar ucapan Yudhistira.


"Kenapa diam saja? Apa perkataanku barusan terlalu lancang?" tanya Yudhistira saat tidak ada balasan dan Tsamara masih bergeming di tempat.


Menggelengkan kepala lemah. "Aku hanya sedang berpikir sudah berapa banyak wanita yang menjadi korban kegombalanmu, Dok. Bibirmu itu begitu fasih mengucapkan kalimat-kalimat manis itu."


Lagi dan lagi Yudhistira terkekeh pelan. Perlahan, ia membalikkan badan hingga posisi mereka saling berhadapan. "Kalau aku bilang cuma kamu doang yang mendengar gombalanku, bagaimana? Apa kamu percaya?"


Lemas sudah tubuh Tsamara saat itu juga. Laksana es batu yang meleleh jika didiamkan di suhu ruangan. Sumpah demi apa pun, rasanya tungkai gadis itu tak lagi mampu menopang tubuh kala mendengar ucapan Yudhistira. Andai saja tak berpegangan pada tiang penyangga gedung mungkin saat ini ia sudah tersungkur di lantai.


Wajah semakin memerah bagaikan buah tomat segar yang baru saja dipetik dari perkebunan. Bola mata almond mengerjap beberapa kali. Bibir terbuka kemudian mengatup kembali tanpa mampu berkata.


Bagi Yudhistira, sikap gadis itu begitu menggemaskan hingga membuat pria itu semakin ingin menggodanya. Namun, ia sadar kalau ini bukanlah waktu yang tepat baginya melancarkan jurus gombal gembel demi meluluhkan sang dokter cantik.


"Sudahlah, lupakan saja! Sebaiknya kita pulang sekarang sebelum malam semakin larut," imbuh Yudhistira. Pria itu meraih jemari tangan lentik milik Tsamara dan kembali berkata, "Aku antarkan kamu pulang daripada menunggu sopirmu yang kemungkinan akan datang satu jam kemudian."


"Tapi ... aku--"

__ADS_1


Belum selesai Tsamara berbicara, tangan Yudhistira sudah merengkuh dan menarik jemari tangan gadis itu menjauh dari ruang khusus bagi para dokter untuk istirahat.


"Tidak ada penolakan sama sekali!" ujar Yudhistira tanpa melepaskan genggaman tangannya dari sosok gadis di sebelahnya itu.


Terus mendebat Yudhistira, rasanya mustahil ia akan memenangkan perdebatan malam ini sebab pria bermata sipit itu selalu mendapat celah untuk terus mendebatnya. Pasrah, hanya itulah cara satu-satunya bagi Tsamara untuk menghindari forum debad dadakan antara mereka berdua.


***


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian kota Jakarta. Walaupun jam sudah menunjukan pukul delapan malam tapi suasana ibu kota tetap ramai. Masih banyak pengendara motor dan kendaraan roda empat melajukan kendaraannya


"Tsamara?" Yudhistira membuka suara, memecah kesunyian. Pandangan mata fokus ke jalanan di luar jendela.


Ekor mata Tsamara melirik ke samping. "Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" Gadis itu sudah mulai menggunakan bahasa non formal saat mereka bersama.


"Tidak ada. Aku cuma mau menanyakan sesuatu hal kepadamu. Boleh?" Yudhsitira meminta izin terlebih dulu kepada Tsamara sebab pertanyaan yang akan diajukan bersifat sangat privasi dan mungkin saja kembali mengingatkan gadis itu akan kemelut rumah tangganya dengan Bimantara.


Menarik napas panjang, menahannya sebentar, baru kemudian berucap, "Kamu ada rencana apa setelah bercerai dari suamimu?" Yeah, pertanyaan itu terus berputar di kepala saat mengetahui kalau Bimantara selingkuh di belakang Tsamara.


Tsamara terdiam, ia menghela napas berat. "Tidak ada rencana apa-apa, Dok. Aku akan tetap bekerja seperti biasa. Menjalankan rutinitas sebagai seorang dokter, menolong dan menyembuhkan pasien yang membutuhkan. Itu saja."


Yudhistira tampak menganggukan kepala. "Ehm ... begitu rupanya." Lalu, sebuah kejadian tanpa sengaja terjadi saat bibir pria itu keceplosan menanyakan suatu hal yang tak seharusnya di tanyakan. "Kamu ... tidak ada rencana menikah lagi setelah pisah dari suamimu?"


Refleks, Tsamara menoleh ke samping kanan menatap wajah lelaki yang tampak begitu fokus mengendarai mobil. "Entahlah, Dok, saya tidak tahu. Masih terlalu dini untuk memikirkan itu semua. Saat ini, aku cuma mau bekerja, mengaplikasikan ilmu yang kudapat semasa kuliah dulu."


"Tapi jangan terlalu fokus juga, Tsa! Bagaimanapun, kamu itu perempuan ada kodrat yang harus kamu jalani sebagai kaum Hawa." Pria berwajah oriental mencoba mengingatkan Tsamara sebab takut gadis itu terlalu asyik bekerja hingga lupa bahwa usianya sudah tak lagi muda untuk berumah tangga.

__ADS_1


"Dokter Yudhistira tidak perlu mencemaskanku. Sebaiknya Dokter memikirkan diri sendiri daripada memikirkan orang lain," imbuh Tsamara. "Dokter sendiri kenapa sampai sekarang belum menikah? Melihat penampilan, pekerjaan dan jabatan Dokter di rumah sakit, pasti tidak akan sulit mendekati seseorang. Terlebih Dokter pun mempunyai nilai plus bagi seorang lelaki."


Yudhistira mengerutkan kening hingga terlihat guratan halus di sana. "Nilai plus apa maksudmu?" tanya penasaran.


Tsamara memutar posisi duduknya ke samping kanan. Walaupun dalam pencahayaan minim yang bersumber dari lampu jalan di sepanjang jalanan kota Jakarta, ketampanan pria itu tetap terpancar. Jadi, tidak salah 'kan jika gadis itu mengatakan bahwa sang dokter mempunyai paras rupawan.


"Nilai plus-nya adalah ... kalau Dokter Yudhis itu pintar gombal." Terdengar suara kekehan ringan bersumber Tsamara. Ia mencoba menutupi luka dengan sebuah senyuman. Siapa tahu dengan begitu ia sedikit bisa melupakan problematika yang menghampiri rumah tangganya.


Yudhistira berdecak kesal tetapi dalam hati merasa bahagia karena dapat kembali melihat senyuman manis dari sudut bibir Tsamara. "Kupikir nilai apa," jawab pria itu singkat.


Suasana kembali hening, tak ada lagi percakapan antara kedua manusia itu. Tsamara sibuk dengan pikirannya sedangkan Yudhistira menatap fokus pada jalanan di depan sana.


"Tsa, kalau aku ajak kamu makan nasi goreng di pinggir jalan, bagaimana? Perutku lapar sekali sejak tadi cacing dalam perut terus berjoged membuat aku kehilangan sedikit konsentrasi."


Awalnya Tsamara cukup ragu akan tawaran Yudhistira. Namun, saat ia merasakan suara aneh berasal dari perutnya membuat gadis itu menyetujui usulan pria di sebelahnya. "Boleh. Tapi makannya di dalam mobil saja ya. Aku takut ada paparazi dadakan dan memotret diriku sedang makan dengan pria lain di saat rumah tanggaku berada di ujung tanduk."


Senyuman merekah di sudut bibir Yudhistira. "Apa pun akan kulakukan selama kamu merasa nyaman."


.


.


.


Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya. 👇

__ADS_1



__ADS_2