Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Wanita itu Bernama ... Emma


__ADS_3

Matahari sudah semakin menampilkan pesonanya ketika Tsamara masuk ke dalam ruang perawatan. Tadi malam ia tidak pulang ke rumah orang tuanya meski Hasna telah siuman. Akan terkesan tidak sopan jika ia pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dulu kepada kedua orang tua Bimantara yang tak lain merupakan mertuanya sendiri.


Tepat pukul delapan pagi, setelah dokter memeriksa keadaan Hasna, Tsamara memutuskan mengunjungi ibu mertuanya yang masih dirawat di ruang VVIP tempatnya bekerja. Membawakan parsel berisi buah-buahan segar sambil melangkah anggun memasuki ruangan.


"Selamat pagi, Papa dan Mama," sapa Tsamara setelah ia mengetuk pintu dan dipersilakan masuk oleh Irawan dan Hasna.


"Tsamara, kamu masih di sini, Nak?" tanya Hasna lirih. Wanita itu tampak terlihat begitu bahagia saat melihat menantu kesayangan berdiri di ambang pintu.


Mengulum senyum lebar di wajah. Walaupun hati Tsamara terluka atas pengkhianatan yang dilakukan oleh Bimantara, tetapi ia tetap bersikap ramah dan sopan kepada Hasna dan Irawan sebab mereka adalah orang sepuh yang patut dihormati.


Jemari tangan meletakkan parsel buah-buahan di atas nakas, kemudian membungkukan sedikit badan lalu memeluk tubuh Hasna. "Tentu saja, Ma. Mana mungkin aku pergi dari rumah sakit tanpa pamitan terlebih dulu."


Tsamara mengurai pelukan, lalu duduk di kursi sebelah ranjang rumah sakit. "Bagaimana keadaan Mama, sudah mendingan?"


"Alhamdulillah, sudah, Sayang. Beruntung sekali sebelum dibawa ke sini, kamu sudah lebih dulu menolong Mama. Kalau tidak, mungkin saat ini Mama tidak dapat melihat sinar matahari terbit lagi. Terima kasih, Tsa." Hasna mengucapkan kalimat terakhir dengan bersungguh-sungguh. Perkataan itu bersumber dari lubuk hati yang terdalam.


"Kami berhutang budi banyak kepadamu, Tsa," sambung Irawan. Pria itu menarik kursi yang terdapat di sebelah tempat tidur istrinya. Sengaja menyiapkan kursi tersebut sang menantu.


"Hanya pertolongan biasa, Pa, Ma. Lagipula, orang yang begitu berjasa adalah Dokter Yudhis, aku hanya membantu sekadarnya saja." Tsamara merendah di hadapan mertuanya.


Netra Tsamara tak sengaja melihat semangkok bubur di atas nakas yang belum tersentuh sama sekali. "Loh, Mama belum sarapan?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Mama tidak lapar. Biarkan saja makanan itu di sana," jawab Hasna. Entah kenapa dia jadi tidak berselera makan ketika mengingat kejadian kemarin pagi.


Tsamara meraih mangkok di atas nakas, kemudian mengaduk-aduk isi makanan tersebut hingga tercampur semua. "Kalau Mama tidak makan mau mendapat asupan energi dari mana? Selain itu, Mama juga 'kan harus minum obat biar cepat sembuh." Gadis itu menyodorkan satu sendok makanan ke depan mulut Hasna. "Buka dulu mulutnya!"


Detik itu juga Hasna membuka mulutnya. Suara Tsamara layaknya memiliki mantra khusus untuk meluluhkan hati ibunda tercinta Bimantara.


Irawan yang duduk di sofa memperhatikan interaksi kedua wanita itu. Senyuman tipis mengembang di wajah pria itu. Bima ... Bima ... kamu benar-benar bodoh telah melepaskan wanita sebaik dan sepintar Tsamara. Anak dari sahabatku ini mempunyai semua kriteria sebagai menantu idaman. Namun, kamu tidak bersyukur dan malah menyakitinya. Menghela napas kasar. Aku cuma berharap semoga anakku yang bodoh itu tidak menyesali perbuatannya karena sudah menduakan menantu kesayanganku.


Di saat Tsamara sedang sibuk menyuapi Hasna sedangkan Irawan memutuskan pulang ke rumah sebentar, mengambil pakaian serta kebutuhan pribadi sang istri, tiba-tiba pintu ruang perawatan terbuka dan memperlihatkan sosok Bimantara berdiri dengan sorot mata penuh penyesalan.


"Mama!" ucap Bimantara lirih. Sontak, kedua wanita di depan sana menoleh ke sumber suara.


"Tsa, usir dia dari sini! Mama tidak sudi melihatnya lagi." Hasna memalingkan wajah ke samping. Wanita itu masih kecewa akan kelakuan anak semata wayangnya yang tega selingkuh di saat status sang anak sudah menjadi suami Tsamara.


Dengan lemah lembut Tsamara berucap, "Mama jangan begitu, kasihan Kak Bima. Kak Bima sejak semalam menunggu di depan pintu ruangan hanya untuk menemani Mama loh. Setelah sadar kenapa Mama malah mengusirnya." Mengusap lembut pundak sang mertua dan kembali berkata, "Beri Kak Bima kesempatan untuk berbicara. Pasti banyak yang ingin disampaikan olehnya."


Bimantara melangkah secara perlahan, masuk ke dalam ruang perawatan. Penampilan pria itu berantakan dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang belum diganti sejak kemarin pagi.


"Ma ... aku mau minta maaf sama Mama karena sudah membuatmu masuk rumah sakit. Sungguh, aku tidak bermaksud ingin mencelakaimu, Ma." Menundukan kepala, merasa tidak sanggup melihat sorot mata penuh kekecewaan terpancar di sana. Jemari tangan saling meremas satu sama lain. Entahlah, ia tidak tahu harus berkata apa untuk meminta maaf kepada Hasna karena sudah mengecewakan wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Hasna memandangi wajah Bimantara. Dengan mata masih memancarkan kekecewaan, wanita itu berkata, "Mama masih tidak mengerti kenapa kamu tega mengkhianati istrimu sendiri, Bima. Coba kamu pandangi dengan seksama wajah serta tubuh Tsamara, katakan padaku bagian mana yang menurutmu tidak sesuai dengan keinginanmu. Katakan kepada Mama, Nak!" Buliran kristal membasahi pipi wanita itu. "Mama dan Papa tidak sembarangan memilihkan pendamping hidup untukmu. Kami mempertimbangkan dari sudut manapun. Bibit, bebet dan bobotnya pun kami perhatikan. Namun, kamu malah memilih wanita tidak jelas untuk kamu jadikan pilihan. Benar-benar aneh!"

__ADS_1


"Tsamara tidak mempunyai kekurangan apa pun. Dia nyaris mendekati sempurna. Hanya saja, hatiku tidak bisa mencintai istri pilihan Mama dan Papa," ucap Bimantara lirih. Meskipun begitu, perkataan Bimantara berhasil mengoyak kembali luka yang ditorehkan pria itu di hati Tsamara.


Kelopak mata mulai berkaca-kaca saat mendengar perkataan Bimantara. Mengerjapkan mata berkali-kali menahan agar buliran kristal tak jatuh membasahi pipi.


"Cinta itu bisa tumbuh dengan sendirinya. Asalkan kamu mau membuka hatimu sedikit saja untuk Tsamara."


Bimantara menggelengkan kepala cepat. "Tidak, Ma. Sampai kapan pun, aku tidak mungkin merubah perasaan sayangku kepada Tsamara dari seorang adik menjadi istri."


Hasna menyentuh dadanya yang terasa sakit. Perkataan Bimantara benar-benar telah melukai perasaannya. "Katakan pada Mama, siapa wanita itu. Siapa wanita yang mau menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tanggamu."


Terjadi keheningan beberapa saat. Bimantara sedang berpikir bagaimana caranya memberitahu kepada Hasna bahwa wanita yang dicintainya adalah Emma, sosok wanita yang dulu pernah ditolak sang mama secara mentah-mentah tanpa memberikan kesempatan untuk membuktikan bahwa ia pantas menjadi bagian dari keluarga Danendra.


Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Bimantara memberanikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya. "Wanita itu adalah Emma, kekasihku sewaktu aku masih kuliah dulu."


.


.


.


Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya.

__ADS_1



__ADS_2