Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Wahana Permainan


__ADS_3

Setelah meluapkan keluh kesah serta kesedihannya lewat tangisan, Tsamara mengikuti ajakan Yudhistira. Entah akan mengajak pergi ke mana tapi pria itu berjanji tidak akan berbuat macam-macam yang malah membuat mereka menyesal seumur hidup.


Tsamara tersenyum lebar kala melihat pemandangan indah di luar sana. Kedai makanan, toko baju dan souvenir serta tanaman hijau di sepanjang jalan memberikan kesejukan bagi netra siapa saja yang melihatnya. Saat ia tengah menikmati pemandangan indah di depan sana, tiba-tiba saja dokter cantik menoleh ke arah Yudhistira dan menatap lekat pria itu.


"Ada apa?" tanya Yudhistira saat menyadari ada sepasang mata tengah menatapnya dengan tatapan penuh selidik.


"Jangan bilang ... kalau Dokter Yudhis mau mengajak saya bermain di taman hiburan." Pemilik mata almond dengan iris bermata coklat memicing, menatap curiga kepada pria di sebelahnya.


Tatapan mata Yudhistira masih menatap lurus ke depan. Dengan santai dia menjawab, "Memangnya kalau iya, kenapa? Ada larangan bagiku mengajakmu pergi ke taman hiburan? Tidak ada, 'kan? Maka dari itu, selagi tidak ada larangan aku ingin mengajakmu pergi bermain. Siapa tahu dengan begitu kamu dapat melupakan sejenak rasa sakit hatimu."


"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi! Sebaiknya kamu duduk manis dan nikmati waktu rehatmu selagi kita berada di sini," sambung Yudhistira. Pria itu memelankan laju kendaraannya, kemudian memutar stir untuk masuk ke dalam taman hiburan yang terletak di kota B.


Yudhistira memarkirkan mobil di parkiran khusus mobil yang lokasinya tidak begitu jauh dari pintu masuk. Ia turun lalu membukakan pintu untuk Tsamara. "Ayo, kita main sepuasnya. Hari ini, aku akan mentraktirmu bermain sampai kamu lupa waktu."


Tsamara tersenyum lebar dan meraih uluran tangan Yudhistira yang mengambang di udara. "Saya tidak akan segan, Dok. Bersiaplah, kantong Anda akan jebol karena telah mentraktir gadis idiot ini." Terkekeh pelan kala mengingat kembali bagaimana Bimantara mengatainya dengan sebutan 'idiot'. Ia akui, dirinya memang bodoh dan idiot karena mencintai lelaki yang sama sekali tidak pernah mencintainya.


Keduanya berjalan memasuki area taman bermain. Namun, sebelum itu mereka terlebih dulu mampir ke salah satu toko yang menjual souvenir dan aneka ragam makanan khas kota setempat.


"Gunakan ini agar kamu lebih leluasa bermain. Jangan sampai orang-orang menyadari keberadaanmu," kata Yudhistira seraya memasangkan topi pantai serta kacamata hitam kepada Tsamara.


Anak sulung dari keluarga Gibran membeku saat permukaan tangan mereka tanpa sengaja saling bersentuhan. Dengan sedikit kikuk, ia mendongakan kepala dan mendapati wajah Yudhistira yang tampak begitu telaten mengaitkan sebuah karet penyangga di bawah dagu agar topi tersebut tidak terbang saat tertiup angin.


Cahaya matahari menerpa langsung sisi wajah Yudhistira dari sebelah kanan. Fitur wajah pria itu tidak buruk, tidak kalah dari Bimantara. Alisnya tebal, melengkung indah di atas sepasang mata sipit. Hidung mancung, tampak serasi dengan bibir sensual. Saat sedang serius, pesona pria itu semakin meningkat dua kali lipat.


"Selesai! Ayo, kita jalan sekarang!"

__ADS_1


Perkataan itu membuat Tsamara berkedip cepat dan mengerjapkan mata beberapa kali. Menggelengkan kepala lemah, mencoba mengusir pikiran kotor yang sempat hadir dalam benaknya.


Astaga, Tsa! Apa yang kamu pikirkan barusan. Kenapa bisa-bisanya kamu mengagumi ketampanan Dokter Yudhistira, hem? batin Tsamara merutuki kebodohannya karena tanpa disadari, ia mengagumi sosok pria di sebelahnya.


"Wahana pertama kita coba naik roller coster dulu. Kamu tidak takut ketinggian, 'kan?" ucap Yudhistira memastikan terlebih dulu sebelum membeli tiket masuk.


Tsamara menganggukan kepala sebagai jawabannya. Tanpa membuang waktu, mereka segera melangkah menuju tempat pembelian karcis.


Yudhistira menepati janjinya, mentraktir Tsamara bermain seupasnya di taman bermain tersebut. Tak mengapa jika uangnya di dompet ludes hanya untuk membelikan karcis bagi Tsamara. Terpenting baginya adalah bagaimana caranya agar gadis itu kembali tersenyum seperti sedia kala. Toh dia masih bisa kerja sampingan untuk menggantikan uang yang habis digunakan untuk membuat Tsamara bahagia.


Setelah menunggu sebentar, Yudhistira dan Tsamara segera berjalan menuju kereta yang baru saja berhenti di depan mereka. Lagi dan lagi, sang dokter tampan memberikan perhatian kepada gadis di sebelahnya. Ia membantu Tsamara duduk dan memastikan gadis itu duduk aman dan nyaman, lalu pria itu naik dan memasang sabuk pengaman.


"Masih bisa mundur kalau kamu takut, Tsa," ucap Yudhistira saat menyadari wajah Tsamara yang mulai memucat.


Istri Bimantara memang tidak takut ketinggian. Akan tetapi, naik roller coster merupakan pengalaman pertama baginya. Jadi jangan heran kalau saat ini wajah gadis itu memucat diiringi detak jantung yang memompa lebih cepat.


"Aaw! Sakit!" seru Tsamara seraya mengusap keningnya.


"Jangan sembarangan bicara! Kamu tidak akan meninggal." Tangan Yudhistira merengkuh jemari lentik milik Tsamara kemudian menggenggamnya dengan erat. "Percayalah kepadaku. Kita berdua masih bisa menyaksikan betapa indahnya kekuasaan Tuhan."


Tak berselang lama, kereta luncur itu mulai bergerak, menanjak lalu berhenti di puncak.


"Aah ...." teriak Tsamara dan Yudhistira hampir bersamaan kala kereta mulai meluncur turun.


Semua orang yang menaiki kereta itu menjerit sekuat tenaga ketika roller coster itu menukik menukik tajam lalu melambung ke atas dengan sangat kencang.

__ADS_1


Tidak seburuk seperti yang kubayangkan, ucap Tsamara dalam hati. Gadis itu mengangkat tangan ke udara tapi tangan sebelahnya masih mencengkram erat tangan Yudhistira.


Usai menaiki roller coster, Yudhistira mengajak Tsamara menaiki wahana lain yang ada di taman bermain tersebut. Mengajak gadis itu mencicipi aneka ragam jajanan yang dijajakan oleh para pedagang serta membeli kaos dengan motif sama namun berbeda warna.


Yudhistira melihat arloji di pergelangan tangan. Waktu menunjukan pukul lima lebih tiga puluh menit. Sinar mentari mulai kembali ke peraduan. Semburat jingga membentang luas di atas langit.


"Sebelum makan malam, kita naik bianglala terlebih dulu. Dari atas sana kita bisa menyaksikan pemandangan indah di sekitar sini. Ayo, ikut denganku!" ajak pria itu sambil membawakan kantong belanjaan Tsamara.


"Woah ... pemandangan di sini memang indah sekali!" puji Tsamara sambil menatap ke luar. Ia begitu antusias dan seolah melupakan promatika yanv tengah menghampirinya.


"Memang indah. Apalagi ada kamu di sini," gumam Yudhistira. Tanpa sadar kalimat itu meluncur begitu saja.


Tsamara yang sedang duduk menyamping ke kanan segera membenarkan posisi duduk hingga kini menghadap Yudhistira. "Dokter bilang apa barusan?"


Yudhistira menyunggingkan senyuman samar di wajahnya. "Aku hanya bilang, pemandangan di sini memang sangat indah. Tidak sia-sia kita datang ke sini."


Gadis di sebelah Yudhistira kembali membenarkan posisi duduknya. Helaan napas panjang terdengar dari hidungnya. "Kupikir Dokter ada bilang sesuatu yang penting. Ternyata hanya bilang itu toh."


Kuharap, kita bisa datang ke sini lagi di kemudian hari, Tsa.


.


.


.

__ADS_1


Halo semua, sambil nunggu author update karya ini, yuk mampir dulu ke karya punya temen author. Ceritanya bagus nih.



__ADS_2