Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Terbongkar


__ADS_3

Dengan telaten Emma menyuapi Bimantara hingga bekal makanan yang dibawa habis tak bersisa. "Bima, aku akan kembali ke mejaku. Masih banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan," ucap wanita itu seraya membereskan kotak makanan.


Bimantara mendecak kesal sambil mengerucutkan bibir ke depan. "Kenapa tidak temani saja aku di sini. Bawa semua pekerjaanmu, lalu kita menyelesaikan pekerjaan bersama-sama."


Jemari tangan Emma yang sedang sibuk memasukan kotak makan ke dalam tote bag, segera terhenti detik itu juga. Menatap lekat iris coklat milik sang kekasih. "Aku pun sebenarnya ingin seperti itu, Bima, ada di sisimu selalu. Namun, apa yang akan dipikirkan orang lain jika mereka melihat kedekatan kita lebih dari antara atasan dan bawahan. Bagaimana kalau mereka curiga kemudian melaporkannya kepada Papamu? Memangnya kamu siap melepas jabatan ini begitu saja?"


Seketika Bimantara bungkam, tak lagi menjawab perkataan Emma. Lidah pria itu kelu dan tidak sangup berkata. Dalam hati membenarkan semua perkataan sang kekasih. Terlebih jabatan sebagai CEO merupakan cita-citanya sejak dulu.


Emma tersenyum lebar. Ia melangkah menghampiri Bimantara yang sedang duduk di kursi kebanggaannya. "Menjadi pemimpin perusahaan ini adalah impianmu sejak dahulu kala, 'kan? Hingga tidak heran setiap ada kesempatan kamu selalu pergi ke perpusatakaan hanya sekadar untuk mengulang kembali materi yang disampaikan oleh dosen. Bahkan, saat kita hang out dan menunggu makanan, kamu sempatkan membaca buku agar wawasanmu seputar bisnis terus bertambah."


"Semua yang kamu lakukan tidak lain ingin menunjukan kepada Papamu kalau dirimu memang pantas menggantikan beliau memimpin perusahaan ini. Lalu, setelah kamu mendapatkan semua ini dengan susah payah apa kamu mau melepaskannya begitu saja? Tentu jawabannya tidak. Oleh karena itu, bersikaplah profesional selagi berada di kantor. Jangan campur adukan urusan pribadi dengan pekerjaan," tutur Emma menjelaskan panjang lebar alasannya tidak ingin berlama-lama di ruangan Bimantara.


Emma mendudukan bokongnya di atas pangkuan Bimantara. Kedua tangan ia kalungkan di pundak sang kekasih. "Hanya tersisa empat jam lagi, kita bebas melakukan apa pun. Sementara itu, fokuslah bekerja dan jangan memikirkan apa-apa."


Keduanya bertatapan, saling melempar senyum satu sama lain, menahan gejolak di dalam dada. Detik selanjutnya, pasangan kekasih itu sudah saling memangut, mencecap manisnya bibir satu sama lain. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat hasrat mereka melonjak cepat. Napas mereka memburu dan suhu tubuh memanas seketika.


"I want you, Sayang. Aku janji hanya sebentar saja. Setelah itu kita melakukan pekerjaan masing-masing," bisik Bimantara kemudian menggendong tubuh Emma menuju kamar di sebelah ruangannya. Sang sekretaris tersenyum, mengalungkan lengan di leher Bimantara seraya menyenderkan kepala di dada bidang kekasihnya hingga dapat mendengar jelas irama jantung yang berdetak semakin kencang.


***

__ADS_1


Saat ini Tsamara telah berdiri di depan gedung pencakar langit milik ayah mertuanya. Tak ingin membuang waktu, gadis itu langsung masuk ke dalam perusahaan yang disambut hangat oleh para karyawan. Setelah bertegur sapa sebentar dengan mereka, gadis itu masuk ke dalam lift yang akan membawa tubuhnya menuju lantai delapan tempat sang suami bekerja.


Senyum mengembang di wajah Tsamara ketika menatap pantulan diri di sekeliling kotak persegi terbuat dari besi. "Aku yakin, Kak Bima tidak akan berkedip sedikit pun saat melihatku mengenakan dress ini. Dia pasti memuji kecantikanku karena hari ini aku tampil berbeda dari biasanya."


"Adrian, apakah Kak Bima, ada di dalam ruangan?" tanya Tsamara kepada asisten pribadi Bimantara. Ia ingin memastikan terlebih dulu kalau sang suami ada di ruang CEO.


Sang asisten yang tak mengetahui kalau Emma dan Bimantara sedang sibuk memadu kasih menganggukan kepala. "Ada, Nyonya. Kalau Anda ingin menemui Pak Bima silakan." Pria itu mempersilakan istri bos-nya masuk ke dalam ruangan tanpa pernah berpikir kalau atasan dengan rekan kerjanya sedang mantap-mantap di kamar sang CEO.


"Oke. Kalau begitu aku masuk dulu. Selamat siang, Adrian." Tsamara tersenyum ramah sebelum meninggalkan meja kerja Adrian.


Diulurkannya tangan ke depan hendak mengetuk pintu ruangan, alis Tasmara mengerut melihat daun pintu sedikit terbuka. Gadis itu pun memilih mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar. Namun, sayangnya saat ia sudah ada di dalam tak menemukan keberadaan suami tercinta.


Saat Tsamara tengah sibuk memindai isi ruangan, tak sengaja matanya melihat kotak makan tergeletak di atas meja. "Loh, kotak makan siapa itu? Kenapa bisa ada di sini?" Ia mengangkat kotak makan warna hijau muda ke udara. "Perasaan aku tidak pernah melihat kotak makan ini. Apa mungkin aku yang lupa ya? Aah ... sudahlah. Jangan memikirkan hal yang tidak penting." Kembali meletakan kotak makan itu ke atas meja.


"Kak Bima? Kak?" panggil Tsamara tapi tidak ada respon sama sekali. Ruangan itu sepi seperti kuburan.


"Kenapa tidak ada? Ehm ... mungkin Adrian lupa kalau suamiku masih keluar." Tsamara mendesaah kecewa karena harapannya makan siang bersama suami tercinta sirna. Namun, saat ia hendak meninggalkan ruangan itu sayup-sayup terdengar suara erangan serta desahaan saling bersahutan di kamar sebelah. Sebuah kamar yang biasa digunakan Bimantara beristirahat saat sedang kelelahan bekerja.


"Lebih cepat lagi! Aku hampir sampai!" Suara itu menyerupai bisikan tertahan. Entah bagaimana membuat bulu kudu Tsamara meremang seketika. Suara lirih tetapi begitu familiar.

__ADS_1


Siapa yang ada di dalam? Apakah mungkin Kak Bima? Jika iya, sedang apa dia di sana? batin Tsamara sambil membuka handle pintu secara perlahan.


Tubuh Tsamara menegang melihat sosok pria yang begitu dikenali tengah berada di bawah seorang wanita. Lebih menyaktikan lagi, dua sosok di depan sana tengah bergumul panas tanpa mengenakan sehelai benang pun hingga dokter cantik dapat melihat dengan jelas seluruh tubuh suaminya dipenuhi jejak cinta yang diberikan oleh seseorang.


"Emma, aku ... aah ...." teriak Bimantara saat merasakan sebuah gelombang besar menghampiri. Lava panas miliknya telah membasahi rahim sang sekretaris.


"Kak Bima?" ucap Tsamara lirih. Jantung gadis itu nyaris berhenti berdetak. Andai saja ia tak berpegangan pada tembokan di sebelahnya mungkin saat ini istri Bimantara tersungkur kala menyaksikan pergulatan panas antara suami dan seorang wanita yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu.


Mendengar suara seseorang di ambang pintu, membuat dua insan yang masih berpelukan tanpa mengenakan pakaian menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati Tsamara sedang menatap luruh ke arah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Kelopak mata gadis itu mulai berkaca-kaca.


"Tsamara?" ucap Bimantara dan Emma hampir bersamaan.


.


.


.


Halo semua, author mau mempromosikan karya temen author nih. Judul dan nama penanya ada di bawah sini. 👇

__ADS_1



__ADS_2