Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Omlet VS Beef Teriyaki


__ADS_3

Tepat pukul enam pagi, Bimantara terbangun dari tidurnya yang panjang. Seperti kebanyakan orang pada umumnya mencari telepon genggam saat bangun tidur, pria itu pun melakukan hal yang sama. Ia mengulurkan tangan ke samping kanan, meraih benda pipih berukuran 6.5 inci dari atas nakas.


Mengulum senyum lebar saat melihat sebuah pesan singkat dari seseorang.


[Halo, Sayang. Selamat pagi.]


Oh ya, Sayang. Siang ini aku berencana membuatkan makanan kesukaanmu. Jadi, kamu tidak perlu membawa bekal makan siang yang dibuatkan oleh Tsamara sebab aku akan masak makanan spesial yang dibuat dengan penuh cinta. Mengerti?]


"Emma memang selalu mengerti keadaanku. Andai saja dulu aku memperjuangkan dia mungkin saja saat ini kami hidup bahagia bersama anak-anak. Dia memenuhi semua kriteria sebagai istri dan ibu bagi anak-anakku," gumam Bimantara. "Aah ... sudahlah. Tidak usah disesali lagi. Terpenting saat ini bagaimana caranya aku menyampaikan keinginanku untuk berpisah dengan Tsamara. Toh pernikahan kami selama dua bulan ini jalan di tempat, tidak ada kemajuan sama sekali."


Bimantara menyingkap selimut, kemudian melakukan peregangan singkat sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur menuju pembaringan.


Sementara itu, Tsamara tampak sedang sibuk membantu bik Erna menyiapkan sarapan. Selama dua bulan belakangan ini gadis bermata almond mulai belajar memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya untuk berjaga-jaga jika suatu hari asisten rumah tangga berhalangan. Walaupun seumur hidup terbiasa dilayani oleh asisten rumah tangga tapi semenjak menikah dengan Bimantara, dia mulai mencoba jadi istri terbaik bagi sang suami.


"Selamat pagi, Kak Bima. Tumben sekali kamu sudah bangun," sapa Tsamara saat ia mendengar derit kursi makan yang ditarik ke belakang.


"Ehm ... selamat pagi juga," sahut Bimantara singkat.


Gadis itu bergegas memindahkan omlet ke dalam piring sedangkan Bimantara duduk manis di kursi sambil memperhatikan gerak gerik sang istri. Tanpa sadar, pria itu tersenyum samar kala melihat bagaimana tekunnya sang istri ketika belajar memasak. Di mata Bimantara, Tsamara terlihat menggemaskan mengenakan celemek warna merah jambu dengan rambut cempol ala wanita Korea.


Tsamara tersenyum lebar, menatap omletnya yang hampir gosong. "Maaf ya, Kak, penampilan makanan ini kurang begitu sedap dipandang. Tadi aku tinggal sebentar untuk mengangkat panggilan telepon dari rumah sakit. Terlalu fokus mendengarkan apa kata Asisten Dokter senior membuatku kelupaan kalau sedang memasak. Beruntungnya ada Bi Erna yang mengingatkan sehingga makanan ini tidak gosong."


Senyuman di wajah Bimantara berganti dengan rasa kesal usai mendengar alasan di balik gosongnya omlet yang ada di depannya. "Ck! Nyaris saja kamu membakar dapur apartemen ini, Tsa. Lain kali, aku tidak mau mendengar hal serupa. Jika kamu teledor lagi maka bersiaplah tinggal di kolong jembatan akibat unit apartemen ini habis terbakar akibat kebodohanmu."


Seksinya bibir Bimantara tidak luput dari pandangan Bimantara. Diam-diam, gadis itu membayangkan bagaimana hangatnya bibir sang suami ketika menyentuh permukaan kulit pipinya. Pasti detik itu juga ia tak akan sadarkan diri sebab untuk pertama kalinya sosok lelaki tampak yang berstatuskan suami menyentuh dirinya setelah dua bulan menikah. Hati wanita mana yang tidak bahagia bila mendapat kecupan hangat dari suami tercinta.

__ADS_1


Perlahan, sudut bibir Tsamara tertarik ke atas. Rasanya pasti bahagia sekali seakan dia baru saja mendapatkan hadiah undian jalan-jalan keliling dunia selama setahun.


Apa yang ingin disampaikan Bimantara telah diungkapkan di hadapan Tsamara. Lantas, ia melirik ke arah sang istri sedikit terpana melihat gadis itu sedang menatapnya dengan tatapan kosong sambil menyeringai seperti orang bodoh.


"Dasar aneh! Dinasihati malah tersenyum seperti idiot!" gerutu Bimantara.


Akan tetapi, Tsamara sama sekali tidak tersinggung. Ia semakin tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakan. Selagi bisa hidup bersamamu, aku rela menjadi orang idiot atau menjadi apa pun asalkan selamanya kita hidup berdua.


***


"Dokter Tsamara, pulang mau naik apa? Kalau tidak keberatan, biarkan aku mengantarmu pulang. Kebetulan, rumahku dengan apartemenmu searah. Jadi, biar sekalian," tawar Yudhistira sambil melepaskan snelli kemudian memasukannya ke dalam loker.


"Terima kasih atas tawaran Anda. Namun, saya bisa pulang sendiri, Dok. Kebetulan dari sini saya mau ke kantor suami dulu ingin mengajaknya makan siang di luar." Tsamara menolak ajakan Yudhistira dengan sopan tanpa membuat pria itu sakit hati. Akan tetapi, kalimat terakhir yang diucapkan oleh gadis itu berhasil membuat sekujur tubuh sang dokter memanas. Mulai dari daun telinga kemudian menjalar hingga ke seluruh tubuh. Rasa cemburu, kesal dan sedih membaur menjadi satu.


Dengan wajah yang masih ditekuk, Yudhistira menatap kesal ke arah Tsamara. "Ya sudah, kalau begitu aku duluan. Selamat siang Dokter Tsamara." Sang dokter tampan berwajah oriental bergegas menyantolkan tas ransel dan berlalu begitu saja.


Tsamara menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. "Aneh sekali, kenapa sikap Dokter Yudhistira tiba-tiba berubah. Baru saja tersenyum ramah, eh detik berikutnya wajah pria itu berubah masam. Ada-ada saja."


"Aah ... bodo amat deh dengan Dokter Yudhistira. Sebaiknya aku pulang sekarang dan memberikan kejutan untuk suamiku tercinta." Tanpa membuang waktu, Tsamara meninggalkan ruang istirahat khusus untuk para dokter menuju pintu masuk utama rumah sakit.


Sementara itu, di gedung Danendra Grup, tampak sepasang kekasih sedang sibuk menikmati hidangan lezat di ruangan CEO. Siang itu Emma membawakan bekal makan siang untuk kekasih tercinta.


"Sayang, aku mau kamu ambilkan lagi beef teriyaki itu untukku," pinta Bimantara seraya menunjuk kotak makan di atas meja kaca.

__ADS_1


Emma mengulum senyum di wajah tatkala mendengar suara Bimantara yang dibuat menyerupai anak kecil.


Tanpa melakukan aksi protes, Emma bergegas mengambil salah satu makanan kesukaan Bimantara kemudian menyodorkannya ke depan mulut sang kekasih. "Ayo, buka dulu mulutmu!" ucap wanita itu lembut.


Bimantara membuka mulut lebar lalu mengunyah makanan itu hingga menjadi lumaat. Wajah pria itu sumringah setelah sekian lama akhirnya dapat menikmati kembali masakan kekasih tercinta. "Masakanmu memang selalu enak, Sayang. Kalau begini terus lama-lama badanku bisa berisi karena setiap hari menyantap masakanmu."


Emma terkekeh pelan sambil terus menyuapi Bimantara. "Ya bagus dong kalau badanmu berisi. Jadi semakin nyaman saat dipeluk."


Bimantara memutar bola mata dengan malas. "Memangnya selama ini kamu merasa tidak nyaman dipeluk oleh pria kekar dan berotot sepertiku?"


Emma tersenyum. "Dih, kamu sensitif sekali sih, Bima. Aku hanya bercanda loh. Jangan dianggap serius! Sudah ah, aku malas bertengkar denganmu. Sebaiknya cepat habiskan makanan ini, lalu kita kembali fokus bekerja agar proyek peluncuran produk tahun depan bisa berjalan lancar."


Bimantara menghela napas dalam dan menatap Emma. "Baiklah ... aku akan habiskan makanan ini segera."


Sang sekretaris mengangguk, menggigit bawah, menahan senyum. Wajah Bimantara saat sedang kesal tampak begitu menggemaskan. "Good, boy!"


.


.


.


Halo semua. Selagi nungguin karya ini update, yuk mampir ke karya temen author di aplikasi kesayangan kalian.


__ADS_1


__ADS_2