Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Naluri Seorang Istri


__ADS_3

Tsamara melirik jam digital berbentuk kotak persegi yang berada di atas nakas. Waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam. Sejak dia masuk ke kamar utama kemudian merebahkan tubuh di atas kasur, kelopak matanya tak bisa terpejam sedikit pun.


Bagaimana Tsamara bisa terlelap, sejak tiga jam lalu gadis itu menunggu Bimantara di kamar utama tapi pria itu tak kunjung masuk ke dalam kamar padahal dokter cantik sudah berdandan secantik mungkin, mengenakan lingerie seksi dengan tali spageti di kedua pundak serta menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya. Akan tetapi, sang suami tak jua menampakkan batang hidungnya membuat gadis itu bertanya-tanya di manakah suaminya berada?


"Sebaiknya aku memeriksa Kak Bima di ruang kerja. Siapa tahu dia memang ketiduran di sana," gumam Tsamara.


Lantas, Tsamara menyingkap selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Gadis itu turun dari ranjang kemudian meraih jubah tidur berbahan sutera lembut warna merah menyala warna senada dengan lingerie yang dikenakan. Keluar dari kamar menuju ruang tamu, ingin memastikan apakah Bimantara memang benar tertidur di ruang kerja atau tidak. Jika benar maka dia akan membangunkan pria itu agar segera tidur di kamar.


Pintu ruang kerja Bimantara terbuka, lampu di ruangan itu pun menyala. Dugaan Tsamara semakin yakin bahwa sang suami memang ada di sana. Mengayunkan kaki, menghampiri suami tercinta dan meminta pria itu istirahat sebab hari sudah semakin larut.


Akan tetapi, Langkah kaki terhenti kala mendengar suara lirih seseorang sedang berbicara di balkon apartemen. Meskipun lirih tapi cukup terdengar jelas sebab suasana hening sehingga indera pendengaran gadis itu bisa menangkap jelas gelombang suara di luar sana.


Tsamara semakin dibuat penasaran, dengan siapakah suaminya berbicara. Jantung berdegup lebih kencang seirama dengan deru napas memburu. Lagi dan lagi, sebuah firasat tak enak kembali hadir menyelinap ke relung hati.


Berdiri sekitar satu meter dari pintu kaca yang menghubungkan ruangan utama dengan balkon, Tsamara menajamkan indera pendengaran. Sayup mendengar namanya disebut dalam percakapan Bimantara dengan seseorang di seberang sana.


"Kenapa Kak Bima menerima panggilan telepon di saat semua orang tengah tertidur? Apakah ada suatu hal penting hingga tak bisa ditunda sampai besok pagi? Lalu, kenapa namaku disebut?" Kembali bergumam lirih sambil terus memperhatikan punggung Bimantara dari jarak satu meter. Mata memicing sambil menghunuskan tatapan tajam ke arah suami tercinta.


Di saat Tsamara sedang fokus menatap tajam ke arah Bimantara, sang CEO memutuskan kembali ke ruangan sebelum ada orang yang memergokinya. Menutup pintu kaca geser dengan sangat pelan hingga tak menimbulkan suara gaduh sedikit pun. Namun, baru saja kaki melangkah dia menangkap seseorang tengah berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Tsamara?" gumam Bimantara pelan. Raut wajah pria itu pucat seperti baru saja melihat hantu. Seandainya saja Tsamara mengenakan jubah tidur berwarna putih dan mengenakan masker wajah sudah pasti Bimantara mengira bahwa di seberang sana bukanlah manusia melainkan sosok makhluk halus yang biasa disebut miss kunti.


"Kakak menelepon siapa malam-malam begini? Lalu, kenapa tadi aku dengar namaku disebut." Tsamara mencecar berbagai pertanyaan pada Bimantara. Entahlah, kenapa dia berubah menjadi sosok gadis yang serba ingin tahu semenjak menyandang status nyonya Bimantara. Padahal dulu dia terkesan cuek dan tak pernah ingin tahu urusan Bimantara. Namun, setelah menikah nalurinya sebagai seorang istri tergerak untuk menanyakan suatu hal yang mungkin saja memancing keributan.


Bimantara mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Tsamara. "Kenapa kamu jadi banyak bicara begini sih! Bukankah sudah kubilang, jangan campuri urusan pribadiku!" semburnya dengan kilatan emosi di sorot mata.


"Aku sudah pernah coba memperingatkanmu, jangan pernah ikut campur! Tapi kamu terus saja bertanya hal yang tak masuk akal. Benar-benar gila!" sambung Bimantara seraya berjalan menuju dapur. Tenggorokan terasa kering setelah satu jam lamanya bercakap-cakap dengan Emma lewat sambungan telepon.


"Wajar saja aku bertanya kepadamu, Kak. Aku ini istrimu bukan teman apalagi sahabat. Kita berdua sudah menikah. Kakak lupa itu?"


Bimantara mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin, kemudian meneguknya hingga menyisakan setengahnya. Segarnya air dingin yang mengisi kerongkongan seakan mampu menghilangkan dahaga.


"Kak Bima, tunggu! Percakapan kita belum selesai. Jangan pergi dulu!" ujar Tsamara sembari berusaha menyamakan langkah kakinya dengan sang suami. Tangan terulur ke depan untuk mencekal lengan sang suami.


Bimantara menepis tangan Tsamara dengan kasar. Kilatan emosi terlihat jelas di sorot mata pria itu. Kemarahan dalam diri telah berada di ubun-ubun hingga dia cukup yakin ada asap yang mengepul di atas kepalanya.


"Apa lagi yang mau dibicarakan? Kamu mau menuduhku bermain apa dengan seseorang, begitu?" tuduh Bimantara melotot.


Tsamara terkesiap beberapa saat. "Aku cuma mau ...." Suara Tsamara terhenti di udara. Tak tahu harus berkata apa sebab dia tak memungkiri bahwa dirinya memang sedikit curiga dengan tingkah laku Bimantara semenjak mereka berada di Maldives. Ehm ... mungkin lebih tepatnya setelah mereka bertemu dengan Emma, teman kuliah Bimantara.

__ADS_1


Bimantara menghunuskan tatapan tajam ke arah Tsamara. "Mau apa? Mau mengorek informasi saat ini aku sedang dekat dengan siapa. Begitu, 'kan?"


Tsamara terdiam dan wajah semakin pucat. Harus bagaimana lagi sekarang? Harus mengakui bahwa saat ini dokter cantik tengah mencurigai suaminya sendiri? Lalu, bagaimana reaksi Bimantara? Pria itu pasti semakin marah dan malah menjauhinya.


"Sudahlah, jangan diteruskan lagi! Aku benar-benar capek dan ingin tidur! Selamat malam," pungkas Bimantara kemudian meninggalkan sang istri begitu saja.


Sosok Bimantara meninggalkan ruangan dan Tsamara hanya memandangi punggung datar sang suami dengan tatapan nanar. Kembali terngiang dengan percakapan Bimantara yang mengatakan bahwa pernikahan ini terjadi bukan atas kehendak pria itu.


"Tanpa kamu jelaskan, aku pun tahu hingga detik ini kamu masih belum menerimaku sebagai istrimu. Belum bisa menerima kenyataan bahwa di antara kita telah terjalin sebuah ikatana pernikahan. Namun, tidakkah kamu ingin mencoba menjalani biduk rumah tangga bersamaku? Siapa tahu, hubungan yang berawal dari sebuah perjodohan akan berakhir bahagia seperti kisah di dalam dongeng," isak Tsamara meratapi sendiri.


.


.


.


Halo semua, yuk kepoin karya temen otor yang ngak kalah seru dari kisah ini. Buruan dikepoin ya! ☺️


__ADS_1


__ADS_2