
Bimantara tiba di kantor bersamaan dengan Emma. Wanita berparas cantik jelita dengan tubuh bagai gitar Spanyol telas resmi menjadi sekretaris dari sang CEO sekaligus anak dari pemilik perusahaan Danendra Grup. Bukan karena kecantikannya saja Emma diterima bekerja di perusahaan tetapi juga berkat kepintaran yang dimiliki wanita itu dia beruntung menggantikan posisi Yolanda yang resign karena ingin fokus menjadi ibu rumah tangga, mengurusi suami dan bayinya yang baru berusia tiga bulan.
"Selamat pagi, Pak Bima," sapa beberapa karyawan kantor yang kebetulan saat itu sedang berdiri di lobi. Mereka membungkuk hormat kala sang CEO melangkah masuk ke dalam gedung pencakar langit tersebut.
"Ya, selamat pagi," sahut Bimantara datar. Terus melangkah dengan pandangan mata lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke arah para bawahannya.
"Selamat pagi, Bu Emma. Semakin hari saya perhatikan, Bu Emma tampak terlihat semakin cantik sampai membuat saya susah tidur." Salah seorang karyawan kantor mengenakan kemeja biru navy memuji sekretaris Bimantara secara langsung. Tidak ada maksud lain hanya sekadar memuji saja sebab dia memang selalu bersikap begitu kepada para karyawan perempuan yang bekerja di lantai yang sama dengannya.
Emma tersenyum ramah kala dirinya disapa oleh teman sekantor. "Selamat pagi juga, Pak Tono. Aduh, saya jadi merasa tersanjung dipuji oleh Bapak. Tapi, terima kasih banyak atas pujian Bapak," balas wanita itu sambil terus mengulum senyum. Ia bersikap biasa saja saat ada rekan kerjanya yang memuji atau bahkan secara terang-terangan mengatakan menyimpan rasa kepada sang sekretaris. Tidak pernah sekalipun membalas perasaan mereka sebab di hatinya hanya Bimantara seorang.
Saat Bimantara hendak masuk ke dalam lift, ia menoleh ke samping namun tak menemukan keberadaan wanita yang tak lain adalah kekasih gelap sekaligus sekretarisnya. Detik itu juga ia merasa seluruh tubuhnya terasa panas bagaikam dibakar api hidup-hidup. Dada kembang kempis dengan wajah mulai memerah.
Dengan suara lantang Bimantara berseru, "Nona Emma Veronika, apakah kamu tidak ada kerjaan lain selain bergosip dengan rekan kerjanmu? Apa kamu sudah bosan bekerja di sini?" Melirik sinis ke arah sang kekasih. Kemudian ia menghunuskan tatapan tajam kepada Tono serta beberapa karyawan lain. "Kalian juga sebaiknya mulai bekerja jika tidak mau saya pecat!"
Sontak semua karyawan yang ada di lobi tunggang langgang saat mendengar ancaman mematikan dari penerus perusahaan Danendra Grup. Bimantara merupakan sosok pemimpin tegas dan tak pernah main-main dengan ucapannya. Jadi jangan heran kalau Tono serta pekerja yang lain lari terbirit-birit menuju tempat masing-masing usai mendapat ancaman dari anak semata wayang Irawan Danendra.
Kotak persegi terbuat dari besi membawa tubuh Emma dan Bimantara menuju ruang CEO yang ada di lantai delapan. Suasana hening mengambang di udara selama beberapa saat. Bimantara masih sedikit kesal karena di depan mata kepalanya sendiri melihat bagaimana para bawahannya menatap sang kekasih dengan tatapan lapar, bagai seekor binatang buas yang ingin menerkam mangsanya.
"Sayang, kamu marah karena tadi Tono secara terang-terangan memujiku di depan umum ya?" tebak Emma seraya melingkarkan tangan di lengan Bimantara. Hanya dengan cara itu bisa meredam emosi dalam diri Bimantara.
__ADS_1
Bimantara mendengkus kesal. "Ck! Sudah tahu masih nanya! Memangnya kamu pikir aku tidak marah saat di depan mata kepalaku sendiri seseorang yang kucintai digoda lelaki lain. Kamu berharap aku diam saja dan melupakan kejadian tadi lalu pura-pura melupakan semua itu begitu saja. Begitu?" Tangan kekar dengan otot bisep menepis kasar jemari lembut Emma begitu saja. "Tidak, Emma! Sampai kapan pun aku tidak akan tinggal diam saat melihat sesuatu yang menjadi milikku digoda oleh orang lain. Tidak akan pernah, Emma!"
Cukup terkejut mendapat perlakuan kasar dari Bimantara. Sepasang mata Emma melebar sempurna karena tidak menduga dia akan diperlakukan seperti itu oleh sang kekasih. Namun, ia mencoba memahami kenapa kekasihnya itu bisa berubah menjadi lebih menyeramkan jika dibandingkan dengan lima tahun yang lalu.
Menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. Kesabaran Emma sedang diuji saat menghadapi Bimantara yang tengah dilanda rasa cemburu. "Iya, aku mengaku salah tidak seharusnya meladeni perkataan Tono. Aku janji deh lain kali tidak akan melakukan hal yang sama seperti tadi. Sudah ya, jangan marah-marah lagi! Nanti ketampananmu pudar loh."
Bimantara mencibir seraya memutar bola mata dengan malas. "Kalau ketampananku pudar, kamu akan mencari lelaki lain. Benar begitu?"
Alih-alih marah mendengar perkataan Bimantar, Emma malah tertawa terbahak hingga suara wanita itu terdengar nyaring di dalam lift. "Tentu saja tidak. Kamu ini aneh sekali sih, Bim, mana mungkin aku mencari yang lain sedangkan cintaku cuma sama kamu seorang."
Emma melangkah maju ke depan, lalu berdiri di hadapan Bimantara. Jemari tangan terulur, menyentuh tangan kekasih tercinta. "Seharusnya kamu tahu siapa lelaki yang sangat kucintai di dunia ini. Tidak ada cinta yang lain selain kamu seorang, Bimantara Danendra. Sejak dulu hingga sekarang, hati dan cintaku hanya untukmu seorang. Tidak peduli dengan ketampananmu yang memudar akibat terlalu sering marah-marah. Aku akan tetap menyayangi dan mencintaimu setulus hati."
Dipandanginya bola mata bulat seperti bola pingpong dengan tatapan penuh cinta. "Begitu pun denganku, Sayang. Aku akan selalu mencintaimu meski seisi dunia menyangsikan cinta kita. Selamanya hanya kamu yang ada di hatiku, Emma. Tidak ada yang lain. Jadi, please, jangan tinggalkan aku." Sorot mata penuh permohonan terpancar jelas di netra pria itu. Bimantara bersungguh-sungguh saat mengucapkan kalimat terakhir.
Emma mengulum senyum di wajah. Cukup terharu mendengar ucapan manis yang terucap di bibir menggoda itu. Semakin memajukan langkah hingga tak ada jarak sejengkal pun memisahkan mereka.
"I will never leave you, Sayang." Lantas, ia daratkan sebuah kecupan penuh cinta di bibir Bimantara.
Mendapat serangan dadakan dari Emma, bola mata Bimantara terbelalak sempurna. Bibir wanita itu terasa hangat sekaligus lembut menyentuh permukaan bibirnya. Tubuh pria itu menegang kala jemari lentik sang kekasih dengan nakalnya mengusap dadanya yang bidang. Sentuhan lembut itu menimbulkan sensasi dan gelenyar aneh yang membangkitkan sesuatu di bawah sana.
__ADS_1
Tidak ingin kalah dari Emma, Bimantara mencoba mengambil alih permainan. Ia mengulurkan tangan ke depan, menarik pinggang kekasihnya hingga tubuh wanita itu semakin menempel di tubuhnya.
"Sayang." Emma mendesaah kala lidah Bimantara bermain indah di mulutnya. Perlahan, ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh dengan hawa napsu. Suara erangan tipis meluncur begitu saja di sela kegiatan panas mereka.
Akan tetapi, ciuman itu harus terhenti kala lift yang membawa mereka telah sampai di lantai delapan.
"Kita lanjutkan saja di dalam. Aku mau pagi ini kamu melayaniku, Emma," bisik Bimantara dengan tatapan mata yang dipenuhi kabut gairah.
"Tentu saja, Sayang. Aku akan memuaskanmu hari ini," berkata dengan nada sesensual mungkin.
.
.
.
Halo semua, aku mempromosikan karya punya temenku nih. Ceritanya menarik sekali. Dijamin deh kalian nggak akan nyesel. Yuk buruan dikepoin di aplikasi kesayangan kalian semua.
__ADS_1