Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Mengunjungi Makam Annchi


__ADS_3

Sebuah pemakaman indah di pinggiran kota Yogyakarta. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan pepohonan rimbun di sekitar pemakaman tersebut. Suara hening hanya terdengar suara cicit burung gereja yang bertengger di dahan pohon.


Yudhistira melangkah, menuju sebuah lokasi yang sudah beberapa bulan ini tak ia kunjungi sebab dirinya terlalu sibuk bekerja hingga tak mempunyai waktu luang untuk menziarahi salah satu makam seseorang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Sebuah puasara seorang wanita cantik yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri.


"Halo, Ma," sapa Yudhsitira. Setelah mengetahui bahwa sosok wanita dalam foto yang pernah diberikan oleh Latifah kepadanya adalah ibu kandungnya, dia memutuskan memanggil Annchi dengan sebutan'mama' sama seperti panggilannya kepada Latifah.


Menyingkirkan dedaunan kering serta rumput liar yang mulai memanjang. "Aku sudah tahu jati diriku yang sebenarnya. Mama Latifah sudah menceritakan semuanya kepadaku."


Bibir gemetar hebat saat mengingat kembali bagaimana penderitaan Annchi saat mengandungnya. "Maafkan aku karena belum bisa berbakti kepadamu. Aku menyesal karena selama ini tak pernah mencaritahu ada hubungan apa Mama dengan keluarga Papa Erlan." Yudhistira menjeda sejenak kalimatnya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya guna mengisi pasokan udara di dalam paru. "Andai saja aku tahu kebenaran ini mungkin sudah sejak dulu melakukan tugasku sebagai seorang anak, mendo'akan Mama semoga Tuhan menempatkan Mama di tempat yang layak di sisi-Nya."


Yudhistira terdiam, lalu mengusut bulir air mata yang mulai membasahi pipi. "Meskipun terlambat, kuharap Mama masih mau menerima tanda baktiku sebagai seorang anak." Lantas, ia menengadahkan tangan ke atas kemudian mulai memanjatkan do'a kepada Sang Pencipta, memohon ampunan atas semua dosa yang diperbuat oleh Annchi selama hidupnya. Yudhistira pula mendo'akan semoga Tuhan menempatkan wanita yang telah mempertaruhkan nyawanya agar ia dapat hadir ke dunia fana.


Mengusap nisan, menyingkirkan debu halus yang menempel di sana. "Ma, terima kasih karena telah melahirkanku ke dunia ini. Walaupun pada akhirnya Mama enggak bisa merawatku dan membesarkanku, tapi pengorbananmu tak akan pernah kulupakan. Seumur hidup akan kukenang selalu sampai akhir hayat."

__ADS_1


Berhenti berucap untuk beberapa saat. Memandangi batu nisan itu dengan tatapan nanar. Napas tersengal, dada kembang kempis dan hidung pun terasa masam. Susah payah menahan air mata untuk tidak terus mengalir membahasi pipi.


"Mama tahu jika saat ini penyakit Mama Latifah tak bisa diobati? Kata dokter, kita tidak dapat melakukan apa pun selain menunggu dan mencoba mempersiapkan diri untuk menerima takdir dari Sang Pencipta."


"Mendengar kabar itu membuatku merasa seperti orang tak berguna sebab tidak bisa berbuat apa-apa padahal pekerjaanku adalah seorang dokter, tapi buktinya ketika Mama Latifah sakit, aku tidak dapat menolongnya. Rasanya percuma saja aku menjadi dokter bila menyembuhkan orang tuaku saja tidak mampu."


"Aku telah kehilangan Mama dan sebentar lagi akan kehilangan sosok wanita yang kuanggap seperti Mamaku sendiri. Kalian berdua begitu berarti dalam hidupku, tapi kenapa pergi meninggalkanku sendirian di muka bumi ini? Apakah aku pernah melakukan kesalahan hingga harus hidup dalam kesendirian?" isak Yudhistira begitu pilu. Seiring angin kencang berembus menusuk kulit, demikian pula kalimat-kalimat curahan hati lelaki itu dikeluarkan. Ia mencoba tegar, tapi saat dihadapkan akan sebuah kenyataan yang kelak merenggut seseorang yang dicintai kekuatan itu seakan sirna menghilang begitu saja.


"Maaf aku menjadi lelaki lemah begini. Tapi, aku tidak tahu harus dengan cara apa lagi untuk mencurahkan isi hatiku yang terdalam. Selama ini aku mencoba tersenyum, bersikap selengean dan terkesan tak berwibawa, itu semua kulakukan hanya untuk menutupi perasaanku saja. Perasaan sedih dan takut akan kehilangan seseorang untuk selamanya."


Setelah merasa puas, meluapkan isi hatinya di hadapan pusara sang mama, Yudhistira menarik napas panjang. Perasaannya sudah jauh lebih tenang seperti sedia kala.


Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa lelaki tidak seharusnya menangis dan terkesan lemah, mudah ditindas dan tidak gentle. Kalau memang begitu, lalu untuk apa air mata diciptakan jika seorang lelaki tidak boleh menangis? Bukankah segala sesuatu yang diciptakan Tuhan mempunyai manfaat tersendiri bagi makhluk ciptaan-Nya?

__ADS_1


"Aku akan kembali ke rumah sakit. Kasihan Erina sendirian ditinggal di sana. Lain kali aku akan datang ke sini lagi membawakan bunga marigold khusus untuk Mama." Yudhsitira mencium nisan tersebut dengan penuh cinta. "Beristirahatlah dengan tenang, Mamaku tersayang."


Yudhistira bangkit. Kemudian kembali menatap nisan itu sebelum meninggalkan pemakanan. "Sampai jumpa, Mama."


Yudhistira berjalan menyusuri jalan setapak yang dibuat khusus bagi peziarah. Embusan angin di siang hari menerbangkan helaian rambut lelaki itu. Suasana sepi khas pemakaman pada umumnya. Kendati begitu ia sama sekali tidak merasa takut berada di antara banyaknya orang-orang yang terbaring tak bernyawa.


Tak beberapa lama, Yudhistira telah kembali ke rumah mama angkatnya. Sepeda motor warna putih ia parkirkan di pekarangan rumah sederhana satu lantai. Melepas helm yang terpasang di kepala guna melindunginya dari benturan apabila terjadi kecelakaan.


"Siapa mereka? Lalu sedang apa di sini?" gumam Yudhistira lirih. Kedua alis saling tertaut petanda bingung. Kendati begitu ia tetap mengayunkan kaki menuju teras rumahnya.


"Maaf, kalian siapa? Dan ... ada keperluan apa datang ke rumahku?" tanya Yudhistira sopan. Walaupun tidak mengenali sosok di depannya, tetapi ia tetap bersikap sopan, ramah dan mencoba tetap berpikir positif meski kepalanya dipenuhi berjuta pertanyaan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2