Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Hari ini Bimantara akan bertemu dengan teman sekolahnya dulu sewaktu mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas). Ia meminta Leo datang ke sebuah café guna membahas rencana kerjasama mereka terkait usaha yang hendak dibuka oleh mantan CEO Danendra Group.


"Semua pekerjaan rumah udah aku kerjakan. Makan siang untukmu pun udah aku siapkan di meja makan. Jadi, kalau mau makan tinggal kamu angetin aja," ujar Bimantara sembari mengenakan jaket guna menghalau angin yang akan masuk ke tubuh saat berkendara.


Emma yang saat itu sedang memotong kuku tangannya di sofa panjang melirik sekilas. Kedua alis mengerut disertai sorot mata penuh tanda tanya. "Kamu mau ke mana kok rapih banget? Pasti mau ketemuan sama mantan istrimu yang bodoh itu, 'kan?" cecar wanita itu dengan nada bicara sinis. Sorot matanya pun menghujam tajam pada sosok di depannya.


Seketika emosi dalam diri Bimantara bergejolak mendengar perkataan Emma. Deru napas lelaki itu memburu disertai rahang yang menonjol ke luar. Mantan CEO perusahaan terkenal di tanah air tidak terima apabila seseorang yang pernah menjadi teman hidupnya dihina di depan mata.


Bimantara mengepalkan telapak tangannya dengan kuat. Mengatur napasnya meredakan emosi yang terbendung dalam diri. Ingin rasanya membentak sang istri untuk menghentikan ucapan yang terkesan memojokan Tsamara, tapi lagi dan lagi kehadiran bayi dalam kandungan Emma membuat lelaki itu bungkam dan menelan kekecewaan atas sikap istri tercinta.


"Jangan pernah berpikiran negatif terus, kasihan bayi dalam kandunganmu!" ujar Bimantara setelah dapat mengendalikan emosinya. "Hari ini aku ada janji dengan Leo, teman sekolahku dulu. Aku berencana mengajak dia kerjasama. Kebetulan dia pun sedang ingin membuka usaha. Jadi aku pikir kenapa kami enggak bekerjasama toh lagipula aku dan dia mempunyai tujuan yang sama."


Emma tampak manggut-manggut. "Kupikir mau ketemuan dengan mantan terindah," ucapnya santai tanpa memedulikan bagaimana perasaan Bimantara saat ini. "Ya udah, kalau mau berangkat, ya berangkat aja sekarang. Tapi ingat satu hal, kalau usahamu berhasil jangan lupa kembalikan uang tabungan anakku. Aku enggak mau saat bayiku lahir, kita kekurangan uang. Mengerti?" tandasnya seraya kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.


Bimantara mendesaah pelan. "Tanpa kamu ingatkan pun aku udah tahu, Emma." Lelaki itu merapikan tas kecil yang melingkar di pundak dan melirik jam dinding di ruangan. "Aku berangkat sekarang. Ingat untuk makan siang dan minum vitamin."


Bimantara melangkah pergi meninggalkan Emma yang tampak masih sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Ketika lelaki itu hampir mendekati ambang pintu, Emma berkata dengan nada ketus. "Dasar bawel! Udah kere masih aja banyak oceh!"

__ADS_1


Langkah kaki Bimantara terhenti dan telapak tangannya pun kembali mengeras hingga memperlihatkan otot-otot halus menonjol di punggung tangan. Kendalikan dirimu, Bima. Jangan sampai terpancing emosi!


Menahan napas panjang dan menahannya di dalam rongga dada sebelum mengembus kencang. "Aku pergi dulu."


Sampai di teras rumah, Bimantara menoleh ke belakang. Ia perhatikan Emma yang masih tampak sibuk dengan pekerjaannya, tak ada niatan sama sekali dari wanita itu untuk melepas kepergiannya. Jangankan mencium punggung tangan, mengucapkan selamat tinggal dan meminta lelaki itu pulang dengan selamat, tidak pernah Emma lakukan.


Dalam keadaan seperti ini entah kenapa Bimantara jadi teringat kenangan saat masih berumah tangga dengan Tsamara. Wanita berparas cantik jelita dan pemilik mata almond selalu mengantar kepergiannya setiap kali mantan CEO hendak berangkat ke kantor. Memberikan senyuman manis dan mencium punggung tangan selalu menjadi rutinitas wajib yang dikerjakan Tsamara. Namun, saat menikah dengan Emma, semuanya berubah seketika.


***


"Hai, Bro! Apa kabar?" Leo, salah satu teman sekolah Bimantara bangkit dari kursi, kemudian menyalami dan menepuk punggung Bimantara dengan pelan.


Bimantara pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Leo kepadanya. "Kabarku baik. Kamu sendiri, bagaimana?"


"Tumben sekali CEO perusahaan Danendra Group mengajakku ketemuan, ada apa nih?" tanya Leo sesaat setelah mereka duduk di kursi." Pria itu belum mengetahui jika Bimantara kini sudah tidak lagi menjabat sebagai CEO perusahaan. Ia pikir kehidupan Bimantara masih sama seperti dulu, hidup mewah bergelimang harta kekayaan dari kedua orang tuanya.


Usai mendapat izin dari Emma, mengambil sebagian uang tabungan untuk masa depan anak mereka, Bimantara segera mencari informasi mengenai Leo, salah satu temannya yang sejak dulu terkenal begitu ulet dalam dunia bisnis. Berkat keahliannya itu, Bimantara tertarik mengajak Leo bekerjasama membangun usaha mereka mulai dari nol. Ya siapa tahu usahanya sukses dan ia tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan di perusahaan.


"Begini, aku ada sedikit masalah dengan Papaku hingga membuatku harus keluar rumah dan melepaskan semua fasilitas yang diberikan orang tuaku. Selama tiga bulan ini aku mencari pekerjaan di perusahaan yang pernah bekerjasama dengan perusahaan Papa, tapi dari mereka tak ada satu pun yang mau menerimaku."

__ADS_1


"Kamu tahu sendiri, setiap hari kita pasti mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebanyak apa pun uang tabungan kita di bank, jika seandainya digunakan secara terus menerus tanpa ada pemasukan sama sekali maka lama kelamaan akan habis juga. Oleh karena itu, aku mengajakmu ketemuan. Kebetulan aku dengar dari teman-teman sekolah kalau dirimu juga sedang mencoba buka usaha. Makanya aku mengajakmu ketemuan, untuk membahas rencana kerjasama kita," tutur Bimantara panjang lebar, menjelaskan maksud dan tujuannya mengajak Leo ketemuan.


Leo menyesap kopi yang sebelumnya sudah ia pesan. "Ooh ... begitu. Memang benar aku sedang coba buka usaha baru. Namun, karena terkendala dana jadi sampai sekarang belum terealisasikan. Ide usaha serta konsepnya sih udah ada, tinggal tunggu donatur aja baru bisa jalan."


Lelaki berperawakan tinggi meletakan kembali cangkir kopi tersebut di atas piring, kemudian merubah posisi duduk menjadi tegam. "Jadi, kamu mau kerjasama denganku, Bim?" tanya Leo untuk memastikan kembali apa yang didengarnya barusan.


Bimantara mengangguk cepat. "Benar. Aku punya sedikit tabungan hasil menjual apartemenku. Lumayanlah untuk modal usaha."


Tanpa disadari Bimantara, seulas senyuman tipis terlukis di wajah Leo. "Wah ... kebetulan sekali. Kamu datang di waktu yang tepat," katanya dengan menyunggingkan senyuman lebar.


"Oke deh, kalau kamu maunya begitu. Aku bersedia kerjasama denganmu. Besok atau lusa kita ketemuan lagi, membahas jenis usaha, ide dan konsep yang akan kita bangun. Bagaimana?"


Dengan antusias Bimantara menjawab, "Oke. Kamu kabarin aja kapan dan di mana kita ketemuan."


Ibu jari Leo terangkat ke udara. "Oke, siap!"


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2