
Emma terduduk lemas di pinggir trotoar sambil memeluk lututnya yang sudah terasa lemas karena terlalu banyak berjalan. Hidupnya begitu menderita setelah berpisah dengan Bimantara. Emma menangis tersedu-sedu melihat sepotong roti yang ia dapatkan dengan susah payah setelah mengemis dari suatu tempat ke tempat yang lain. Hidup lontang-lantung tanpa tujuan yang jelas. Baginya kini, bisa makan saja ia sudah sangat bersyukur walau makanan itu bekas orang lain.
“Heh, gelandangan. Jangan duduk di sini! Bikin kotor, ngerusak pemandangan!” seru seorang wanita yang memiliki toko di depan trotoar tempat Emma duduk.
“Cepat pergi! Bisa-bisa pelangganku enggan datang karena risih melihatmu ada di situ!” sentak wanita itu sambil menendang tubuh Emma.
Dengan air mata yang terus mengalir, Emma pun bergegas pergi dari tempat tersebut dan kembali berjalan dengan langkah terseret sambil memakan sedikit demi sedikit roti di tangannya.
Disaat-saat seperti inilah ingatannya kembali berputar pada kehidupan hangat yang pernah ia miliki bersama Bimantara. Ia menyadari sepenuhnya bahwa apa yang telah diperbuat selama ini sangatlah jahat. Andai waktu bisa diputar kembali, ia akan kembali ke masa di mana hidupnya baik-baik saja bersama Bimantara.
Emma terus menyeret kakinya melangkah berjalan lebih jauh. Ia berharap menemukan tempat teduh yang jauh dari pemukiman agar bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus khawatir akan diusir orang.
Kaki Emma berhenti melangkah saat ia melihat Tsamara keluar dari salah satu kafe yang baru saja dilewati. Penampilan Tsamara semakin terlihat glowing, wajahnya pun semringah seakan tidak ada beban menghampiri. Sangat jauh berbeda dengan Emma saat ini.
Apa aku harus meminta maaf pada Tsamata? Bagaimana jika Tsamara enggan memaafkanku dan justru menghina serta mencaci maki aku? batin Emma. Ia tengah menimbang apakah ia harus menemui wanita itu atau tidak. Tapi jika aku tidak meminta maaf pada Tsamara, aku akan terus dihantui oleh rasa bersalah seumur hidup.
Emma menggeleng lemah. Di satu sisi, ia merasa malu dan merasa tidak pantas menemui wanita itu. Kondisinya yang benar-benar berantakan membuatnya ingin berlari sejauh mungkin menghindari Tsamara. Akan tetapi, di sisi lain Emma merasa harus meminta maaf pada wanita yang suaminya telah ia rebut.
“Tsamara,” panggil Emma pada akhirnya.
Tsamara yang sedang membuka pintu mobil, langsung menoleh ke arah Emma yang hanya berdiri di dekat trotoar. Tsamara cukup terkejut melihat kondisi Emma yang dekil tak terurus, benar-benar berantakan.
"Tsa, siapa dia?" tanya Yudhistira sembari memandangi Emma.
"Dia Emma, istri kedua Kak Bima." Tsamara berbisik kepada suaminya.
Mendengar nama Bimantara, Yudhistira langsung memasang wajah masam. "Mau apa lagi sih dia? Enggak puaskah menghancurkan hidupmu selama ini?" Kedua tangan pria itu mengepal sempurna hingga memperlihatkan buku-buku kuku.
Tsamara menggedikan bahu. "Enggak tahu. Aku akan menemui dia dulu. Kamu tunggu aja di sini."
Tsamara hendak melangkah, tapi tangannya dicekal sang suami. "Gimana kalau dia berbuat jahat padamu? Semisal mendorong kamu lalu terjadi hal buruk menimpa calon anak kita, gimana?" Yudhistira amat mencemaskan kondisi istri dan janin berusia delapan minggu.
Tsamara menangkup wajah suaminya dan berkata, "Jangan khawatir, aku bisa jaga diri! Ehm ... atau gini aja, misalkan kamu melihat gelagat tak beres segera hampiri aku dan bawa aku pergi. Gimana?" Wanita itu menawarkan kesepakatan sebelum mereka berpisah.
Tampak Yudhistira berpikir sejenak hingga akhirnya dia menganggukan kepala sebagai jawaban. Lantas, Tsamara pun berjalan perlahan karena tidak mau berbuat sembrono dan justru merugikan diri sendiri. Terlebih saat ini usia kandungan masih sangat muda dan ia tidak mau buah cintanya bersama Yudhistira menanggung akibat kecerobohannya.
“Emma?” panggil Tsamara lirih. Ia pandangi wanita di hadapannya dengan seksama. Penampilan cukup jauh berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.
__ADS_1
Jika dulu penampilan Emma begitu glamour dan berkelas, kini hanya ada Emma dengan daster lusuh dan rambut yang tak tertata rapih. Tubuh kurus kering berbalut tulang.
"Kamu kok bisa jadi kayak gini? Apa yang terjadi padamu selama ini, Emma?” tanya Tsamara kebingungan.
Emma hanya tersenyum getir, mengerti makna dari tatapan Tsamara. “Panjang ceritanya, Tsa. Namun yang pasti, saat ini aku udah memetik buah atas perbuatanku di masa lalu. Kejahatanku karena udah merebut Bima, telah dibalas Tuhan."
"Aku cuma mau minta maaf atas semua kesalahan yang pernah kuperbuat kepadamu. Namun, jika seandainya kamu enggak bisa maafin aku, aku mengerti kok karena memang kejahatanku enggak bisa dimaafkan."
Tsamara hanya terdiam karena masih tidak bisa percaya dengan apa yang terjadi. Pertama, Emma tiba-tiba muncul dalam keadaan seburuk ini, dan wanita itu meminta maaf padanya?
"Sekali lagi, aku minta maaf, Tsa." Emma membalikan badan dan berlari begitu saja. Ia meninggalkan Tsamara yang masih mematung di tempat.
Emma terus berlari secepat dan sejauh mungkin yang ia bisa. Rasa malunya sudah tak bisa terbendung lagi. Tsamara adalah orang baik, tapi dia tega menyakiti perasaan wanita itu. Walau rasa penyesalan masih menyelimuti, tapi setidaknya ia sudah memberanikan diri untuk meminta maaf pada istri pertama Bimantara.
***
Karena masih merasa ada yang mengganjal di hati, Emma pun menuju ke rumah Bimantara. Selama ini nama Bimantara kembali bersinar seperti dulu lagi. Oleh karena itu, tidak sulit bagi Emma untuk mengetahui di mana kediaman kedua orang tua Bimantara.
Saat ini Emma berdiri di depan gerbang sebuah rumah mewah nan megah. Ia tidak berani masuk ke dalam. Untuk itulah ia menunggu sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
Mantan suami Emma menghentikan mobilnya lalu membuka pintu mobil dan meminta Emma untuk masuk ke dalam.
“Emma,” gumam Bimantara tak percaya begitu melihat kondisi mantan istrinya itu.
Siapa yang bisa mempercayai bahwa seorang Emma bisa menjadi gelandangan seperti itu?
“Hai,” sapa Emma sambil terengah-engah.
“Kamu kenapa jadi gini?” tanya Bimantara kaget.
“Hidup itu keras dan aku menjalani nasib burukku. Kamu apa kabar?” tanya Emma pelan.
Bimantara menggelengkan kepalanya pelan.
Ia tahu hidup di kota besar seperti ini tidaklah mudah. Tapi bagaimana ceritanya Emma bisa jadi gelandangan?
“Aku baik,” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Bimantara.
__ADS_1
“Bima ... aku mau minta maaf sama kamu. Begitu banyak dosaku sama kamu. Aku tahu harusnya aku tidak menunjukkan mukaku lagi di hadapan kamu, tapi rasa bersalah ini serasa mencekikku. Aku tadi bertemu dengan Tsamara dan meminta maaf juga padanya, sekarang aku harus meminta maaf ke kamu,” ucap Emma sambil menunduk. Ia tak berani mendongakkan matanya untuk menatap Bimantara.
“Emma, it’s okay. Aku maafin kamu, semua orang pernah berbuat kesalahan,” ucap Bimantara pelan.
Emma pun tersenyum lega mendengar jawaban dari Bimantara. Ia pikir Bimantara pasti sangat membencinya. Bukan perkara mudah memaafkan dan melupakan apa yang pernah dirinya perbuat.
“Aku tahu, aku tidak pantas mengatakan ini, tapi ….” Emma menggantung kalimatnya.
Ia tengah berpikir apakah ia harus melanjutkan kata-katanya atau tidak.
“Tapi apa?” tanya Bimantara bingung.
“Maukah kamu menerimaku kembali? Aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kita pernah sangat bahagia dulu,” pinta Emma dengan sangat hati-hati.
Bimantara terdiam, ia lalu mengalihkan pandangannya ke jalanan yang ada di depannya. Pria itu lalu mengambil napas dalam-dalam.
Dengan tatapan lembut, ia lalu menoleh ke arah Emma yang tengah menunggu jawabannya.
“Maaf, aku enggak bisa.” Susah payah Bimantara mengatakan itu.
“Kenapa? Apa karena aku terlihat sangat buruk? Aku yakin aku pasti bisa kembali cantik setelah mandi dan merawat diriku lagi,” sahut Emma dengan cepat.
Bimantara menggeleng lemah, ia lalu menatap dalam-dalam manik mata Emma. “Bukan karena itu, aku ingin memulai hidupku dengan cara yang baru. Aku ingin memulai semua dari awal dan mencari kebahagiaan. Emma, aku enggak bisa kembali sama kamu. Aku udah gagal dua kali dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Jadi, sebelum aku menikah kembali, aku ingin berubah menjadi pria yang jauh lebih baik dan juga mapan. Aku harap kamu mengerti, ya.”
Mendengar penolakan dari Bimantara, Emma pun menunduk dan susah payah menahan air mata agar tak semakin deras mengalir. Hatinya sakit akibat penolakan ini. Namun, ia pun sadar bahwa semua yang terjadi merupakan suratan takdir dari Sang Pencipta.
"Baiklah, aku mengerti. Aku harap semoga kamu selalu bahagia. Sekali lagi, maafin aku." Emma hendak beranjak pergi, tapi Bimantara menahannya.
“Ini enggak seberapa, tapi kamu bisa gunakan ini,” ucap Bimantara sambil memberikan semua uang cash yang ia punya.
Awalnya Emma menolaknya, bagaimana pun juga ia memiliki harga diri. Tapi, Bimantara tidak melepaskan mantan istrinya itu sebelum menerima uang darinya. Dengan terpaksa, Emma pun menerima uang itu dan bergegas turun dari mobil Bimantara.
Sejujurnya, Bimantara tidak tega melepas Emma dengan cara seperti itu. Akan tetapi, ia tak punya pilihan lain. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan masa lalunya. Seperti yang dikatakan pada Emma, ia ingin menjalani kehidupan yang baru dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.
"Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri walau tidak bersamaku." Bimantara masih memandangi Emma dengan tatapan nanar.
...***...
__ADS_1