Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Restu


__ADS_3

“Ternyata Yudhistira secinta itu pada Tsamara. Aku tidak menyangka jika lelaki itu lebih mengutamakan Tsamara dibandingkan dirinya." Fahmi yang sedang mengintip dari balik jendela terus bergumam sendiri. Pria itu terus memperhatikan putrinya dan laki-laki di samping putrinya itu. Seketika Fahmi merenung dengan duduk di salah satu sofa yang ada di sana. “Mungkinkah ini saatnya untukku merestui hubungan mereka?"


***


“Apa kamu sudah sarapan?” Di tengah-tengah perjalanan mereka menuju rumah sakit, Yudhistira menanyai Tsamara yang sedang membenarkan riasannya. Wanita itu mengangguk untuk membalas pertanyaan yang dilontarkan Yudhistira.


“Kalau kamu?” tanya balik Tsamara penasaran.


“Belum. Aku langsung pergi jemput kamu tadi. Jadi, belum sempat sarapan.”


“Kok belum? Sarapan dulu, ya? Kita turun di belokan sana. Di sana ada kedai bubur ayam, rasanya enak sekali. Aku tunggu kamu sarapan dulu.” Tsamara terlihat mengkhawatirkan Yudhistira yang belum sarapan. Wanita itu meminta Yudhistira untuk menurunkannya, tetapi sepertinya pria itu ragu karena takut membuat Tsamara telat pergi ke rumah sakit.


“Enggak apa-apa emangnya? Aku takut kamu telat masuk shif, Tsa.”


“Ya enggak masalah dong. Enggak bakal lama kan pastinya, paling juga cuma 15 menit. Udah, turun aja dulu, sarapan dulu. Sarapan itu penting tahu.” Yudhistira tersenyum dengan perhatian yang diberikan Tsamara. Pria itu bersyukur bisa bertemu dengan wanita sebaik Tsamara.


“Kamu enggak mau makan? Enak loh.” Yudhistira mengangkat sendok yang sedang digunakannya dan menyodorkannya ke dekat mulut Tsamara.


Tsamara yang sudah kenyang langsung menggeleng dan membiarkan Yudhistira untuk melanjutkan sarapannya. “Enggak. Aku kan udah sarapannya. Kamu aja.”


“Bener?” tanya Yudhistira memastikan. Pria itu sambil sesekali menggoda Tsamara seolah-olah makanan yang dimakannya sangat enak. Ya … meskipun memang enak sih.


“Iya. Udah, kamu habisin aja.”


“Ya udah. Aku lanjutin, ya.”


“Hm,” angguk Tsamara membiarkan Yudhistira melanjutkan sarapannya.


Sekarang ini Yudhistira mengangkat satu tangannya dan mengusap lembut rambut wanita yang duduk di sampingnya. Seketika fokusnya teralihkan saat tidak sengaja menoleh dan menyadari betapa cantiknya Tsamara.


“Tsamara.”


“Hm?” Tsamara menolehkan wajahnya saat Yudhistira memanggil namanya. Wanita itu pikir pria di sampingnya itu akan mengajaknya untuk pergi karena sudah selesai. Ternyata ada hal lain yang ingin pria itu bicarakan.


“Tentang Papa kamu, kapan dia restuin kita, ya?” Yudhistira melihat ke langit-langit sambil membayangkan kapan Fahmi merestui hubungan dirinya dengan Tsamara. Jujur saja, Yudhistira sangat mencintai Tsamara. Pria itu tidak ingin kehilangan Tsamara. Sebagai seorang pria dewasa, sudah seharusnya meresmikan hubungan mereka dengan ikatan pernikahan. Namun, kalau belum mendapat restu, mau bagaimana lagi.

__ADS_1


“Kita jalani dulu saja ini. Aku yakin, perlahan Papa akan merestui kita. Kamu tenang aja.”


“Iya, Tsa. Ya udah, kita lanjutkan perjalanan lagi, aku udah selesai sarapannya.”


“Yuk!”


Setelah selesai membayar Tsamara dan Yudhistira kembali memasuki mobil untuk melanjutkan perjalanan. Yudhistira fokus ke jalan, Tsamara fokus ke ponsel yang adai tangannya. Wanita itu tiba-tiba saja mendapat sebuah panggilan telepon dari papanya.


“Halo, Pa. Ada apa?” tanya Tsamara setelah papanya bersuara di seberang sana.


Kamu lagi sama Yudhistira sekarang?


“Iya. Kami lagi di perjalanan mau ke rumah sakit. Ada apa?”


Papa mau ngomong sama kalian berdua. Aktifin pengeras suaranya!


“Oh, bentar, Pa.”


Sesuai yang diminta sang papa, Tsamara mengaktifkan pengeras suara di ponselnya. Sekarang ini tidak hanya dirinya, tetapi Yudhistira juga bisa mendengar suara Fahmi di seberang sama.


“Papa restuin hubungan kalian”


“A—apa? Om bilang apa tadi?” Yudhistira yang sedang fokus menyetir tiba-tiba saja menginjak pedal rem. Hal itu membuat mobil yang dinaikinya dan juga Tsamara seketika berenti. Beruntung di belakang mobil mereka tidak ada mobil lain. Jadi, mobil yang mereka tumpangi tidak ditabrak dari belakang. Namun, apa yang dikatakan Fahmi itu cukup membuat kedua orang itu terkejut, terkhusus Yudhistira. Pria itu menatap lekat wanita yang ada di sampingnya.


“Pa, Papa enggak bohong ‘kan? Apa yang tadi Papa bilang—”


“Papa enggak bohong, Tsamara. Sebenarnya Papa sering perhatikan Yudhistira yang selalu antar jemput kamu, padahal kalian berada di shif yang berbeda. Cara dia memperhatikan kamu juga membuat Papa yakin kalau Yudhistira adalah pria yang baik dan dia pantas untuk kamu.”


Mendengar penjelasan sang papa membuat Tsamara seketika terharu. Tidak hanya wanita itu, Yudhistira yang mendengarnya pun ikut terharu. Mereka saling menatap satu sama lain dengan perasaan yang dalam.


“Terima kasih, Om. Aku pasti akan jaga Tsamara sebaik mungkin. Enggak akan biarkan dia sampai tersakiti. Om bisa percayakan Tsamara pada saya.”


“Iya. Om percaya sama kamu.”


Sebuah senyuman haru terukir di kedua sudur bibir Tsamara dan Yudhistira. Yudhistira yang masih kesenangan dengan segera mengangkat tangannya dan kembali mengusap lembut rambut wanita yang ada di hadapannya ini.

__ADS_1


***


Setelah mendapat restu, Yudhistira berencana ingin mempertemukan Tsamara dengan Latifah dan Erina. Lelaki itu pun sudah meminta izin pada Fahmi dan Sekar untuk membawa putri sulung mereka ke Yogyakarta. Beruntungnya kedua orang tua Tsamara memberikan izin dengan catatan putri mereka menginap di hotel, tidak satu atap dengan Yudhistira.


Pulang shift, Yudhistira menjemput Tsamara dan keduanya berangkat menuju kota kelahiran sang lelaki. Menenteng dua paper bag, mereka berjalan beriringan memasuki burung besi yang siap mengantarkan para penumpang menuju kota tujuan.


Ini pertama kalinya Tsamara akan bertemu dengan Latifah. Jadi, wanita itu harus bersiap-siap agar kesannya baik di mata Latifah.


“Tsamara, Yudhistira, karena kalian sudah bersama seperti ini, bagaimana kalau kalian melangsungkan pernikahan saja. Sebelum Mama—”


“Ma, jangan gitu dong.” Yudhistira merajuk saat Latifah mengatakan hal yang sangat tidak ia senang untuk didengar. Akhirnya Tsamara menenangkan keduanya dengan mengiyakan permintaan Latifah.


“Aku mau kok, Tante. Papa juga udah setuju sama hubungan kita. Jadi ... kita bisa melangsungkan pernikahan.”


“Tsamara, kamu serius?” Mendengar Tsamara mengatakan hal itu membuat Yudhistira seketika mengembangkan senyumannya. Pria itu menggenggam kedua tangan wanita yang sedang duduk di sampingnya itu dengan tatapan tidak percaya.


“Iya, Yudhis. Lama-lama juga untuk apa? Kita kan udah sama-sama dewasa. Kamu juga selama ini baik banget sama aku. Kamu dewasa, setia, dan aku yakin perasaan kamu juga tulus. Sama seperti perasaan aku ke kamu, tulus.”


Yudhistira yang mendengar itu kembali mengusap lembut rambut Tsamara. Pria itu sangat senang saat mendengarnya. “Ya sudah kalau begitu. Kita siapkan pernikahannya dari sekarang.”


“Boleh.” Tsamara mengangguk lalu setelahnya menggenggam kedua tangan Latifah bersamaan dengan Yudhistira.


Latifah sangat menantikan hari itu tiba. Bagaimanapun dirinya tahu kalau hidupnya tidak lama. Jadi, melangsungkan pernikahan dengan cepat juga tidak ada salahnya. Dia melihat Tsamara cocok dengan sang putra. Latifah sangat senang dengan Tsamara.


“Kalian akan melangsungkan pernikahan kapan?” tanya Latifah memastikan.


“Satu bulan lagi, Ma. Bagaimana, Tsamara? Tidak terlalu terburu-buru ‘kan?” Yudhistira takut sang mama tidak bisa melihat pernikahannya nanti. Jadi, dia memilih waktu yang dekat. Namun, pria itu tetap tidak bisa melangsungkan pernikahan kalau calon istrinya tidak setuju.


“Aku rasa tidak. Satu bulan cukup.”


“Bagus. Terima kasih, Tsamara.”


“Sama-sama, Yudhistira.”


...***...

__ADS_1


__ADS_2