
Setelah mendapat restu dan dukungan dari Latifah, Yudhistira pun semakin optimis. Lalu, Yudhistira berpamitan pada Latifah untuk kembali ke Jakarta menemui Tsamara.
“Mama nggak apa-apa Yudhis tinggal?” tanya Yudhistira pada Latifah.
“Nggak apa-apa, Yudhis, di sini ada yang ngerawat Mama. Mama nggak sendirian,” ucap Latifah.
Yudhistira pun akhirnya pergi untuk menemui Tsamara. Pria itu sengaja tidak memberi kabar pada Tsamara. Sebab, ingin memberi kejutan pada Tsamara. Yudhistira ingin tahu bagaimana reaksi Tsamara dengan kedatangannya yang mendadak.
Dalam perjalanan Yudhistira deg-degan. Dia ingin secepatnya bertemu dengan Tsamara.
“Sabar Yudhis, tenangkan dirimu, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Tsamara.” Yudhistira bermonolog.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Yudhistira sampai di Jakarta tepat pukul 19.00 wib. Dia kembali ke kota metropolitan, di mana hatinya tertinggal. Sebenarnya, jika Yudhistira mau dia bisa saja menemui Tsamara di IGD, tetapi dia tak mau mengganggu waktu kerja Tsamara. Apalagi Yudhistira tidak tahu hari ini Tsamara kerja shif berapa. Yudhistira pun pergi menuju tempat tinggalnya dulu.
Setelah dia sampai di tempat tinggalnya, dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Tsamara. Dia ingin secepatnya menemui Tsamara.
“Halo, Tsamara, apa kabar?” tanya Yudhistira setelah teleponnya tersambung.
“Yudhis? Kirain udah lupa sama aku karena udah satu bulan nggak ada kabar sama sekali,” sahut Tsamara.
Hati Yudhistira begitu bahagia mendengar suara Tsamara.
“Kamu di IGD apa di rumah?” tanya Yudhistira.
“Masih di IGD, ini mau siap-siap pulang, nunggu yang shif malam datang,” sahut Yudhistira.
“Kita ketemu di tempat biasa, bisa?” tanya Yudhistira.
“Emm, emangnya kamu udah di Jakarta?” tanya Tsamara balik.
“Udah, makanya aku hubungi kamu,” sahut Yudhistira sambil terkekeh. “Gimana kamu bisa nggak ketemu aku?” lanjut Yudhistira.
“Iya bisa. Ini teman yang shif malam udah datang, aku langsung OTW.” Suara Tsamara terdengar begitu ceria.
Mendengar Yudhistira sudah di Jakarta, tentu saja Tsamara begitu bahagia. Akhirnya, rindunya bisa terobati.
Setelah mendengar jawaban dari Tsamara, Yudhistira mengakhiri panggilannya. Dia segera bersiap-siap untuk bertemu Tsamara di tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama ketika sudah pulang dari IGD.
Sesudah bersiap-siap dan memakai baju yang menurutnya keren, Yudhistira segera mengendarai mobilnya. Tak perlu waktu lama, Yudhistira sampai di tempat mereka janjian.
Tak perlu waktu lama, Tsamara pun datang. Wajahnya begitu ceria, sama halnya dengan Yudhistira. Tsamara terlihat begitu cantik di mata Yudhistira malam ini, meskipun wajahnya menunjukkan kelelahan.
“Hai,” sapa Tsamara malu-malu.
“Hai, juga,” sapa Yudhistira balik sambil berusaha menetralkan degup jantungnya yang tidak beraturan.
__ADS_1
Entah kenapa, setelah lama tidak pernah bertemu dengan Tsamara, Yudhistira merasa canggung.
“Apa kabar, Tsamara?” tanya Yudhistira basa-basi.
“Emm, baik, sih. Kalau kamu?” Tsamara menatap Yudhistira.
“Kurang baik.” Yudhistira menatap Tsamara.
“Kenapa kurang baik?” Tsamara mengernyitkan dahinya.
“Karena hatiku tertinggal di sini,” sahut Yudhistira.
“Maksudnya?” Tsamara terlihat heran mendengar pernyataan Yudhistira.
“Ah, nggak lupakan.” Yudhistira terkekeh. “Emmm, hati kamu udah sembuh?” tanya Yudhistira.
Tsamara menghela napas dalam.
“Harus sembuh dong. Aku udah bisa move on dari Bimantara. Laki-laki tukang selingkuh ngapain dipikirin. Dia aja nggak mikirin perasaanku,” ucap Tsamara dengan mantap.
“Baguslah kalau gitu.” Yudhistira tersenyum.
Yudhistira semakin percaya diri untuk mengutarakan isi dalam hatinya pada Tsamara. Apalagi setelah melihat Tsamara sudah bisa tersenyum lagi. Sepertinya Tsamara sudah tidak bersedih lagi akibat perceraiannya dengan Bimantara.
“Kamu kenapa lama nggak ada kabar?” tanya Tsamara.
Tsamara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia merasa bersalah karena berpikir macam-macam tentang Yudhistira.
“Semoga prediksi dokter salah, ya,” ucap Tsamara.
“Aamiin, terima kasih Tsamara,” sahut Yudhistira.
Kemudian, suasana hening, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Tsamara kehabisan kata-kata, dia merasa canggung.
“Tsamara, kalau misal ada pria yang berniat menjalin hubungan denganmu gimana?” tanya Yudhistira.
Tsamara kaget mendengar pertanyaan Yudhistira. Mungkinkah Yudhistira berniat menjalin hubungan dengannya? Tsamara bertanya dalam hati.
“Emm, entah Yudhis, aku belum bisa berpikir sampai ke sana. Aku masih takut,” sahut Tsamara.
“Meskipun pria itu ... aku?” Yudhistira akhirnya berkata dengan jujur.
Sontak Tsamara terbatuk karena mendengar penuturan Yudhistira.
“Ka-kamu serius Yudhis?” Tsamara sungguh tak menyangka dengan semua yang diucapkan Yudhistira.
__ADS_1
Yudhistira tersenyum dan mengangguk. Tsamara mencoba mencari kebohongan di mata Yudhistira, tetapi wanita itu tak menemukannya. Tak dipungkiri Tsamara bahagia mendengar pernyataan cinta dari Yudhistira, tetapi Tsamara tidak langsung serta merta menjawab iya.
“Gimana Tsamara? Lagipula masa tunggu pasca perceraian kamu sudah cukup, kan? Kamu boleh menjalin hubungan dengan pria lain, kan?” Yudhistira membingkai Tsamara dengan tatapan yang begitu dalam.
“Kalau kamu serius ke aku, kamu bisa langsung menemui orang tuaku, Yudhis,” ucap Tsamara.
“Tentu, tanpa diminta pun aku akan menemui kedua orang tuamu. Sekarang pun aku mau.” Tegas dan lugas terucap dari mulut Yudhistira.
Tsamara tersenyum dengan kesungguhan Yudhistira. Tsamara berharap Yudhistira tidak seperti Bimantara yang akan mengkhianati cintanya. Akhirnya, karena waktu sudah cukup malam, mereka pun memutuskan untuk berpisah, sebenarnya Yudhistira ingin mengantar Tsamara sekalian bertemu dengan orang tuanya, tetapi Tsamara menolak. Yudhistira pun mengalah, dia bisa menemui orang tua Tsamara lain waktu.
Keesokan harinya, tepat pukul 19.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), Yudhistira bertamu ke rumah Tsamara sebab Tsamara tidak ada shif malam. Di ruang tamu rumah Tsamara, berkumpul Fahmi dan istrinya, Tsamara, juga Yudhistira.
Suasana tampak tegang, perasaan Yudhistira deg-degan. Pria itu takut kedua orang tua Tsamara menolaknya. Yudhistira pun menarik napas dalam untuk menetralisir detak jantungnya.
“Om, Tante, sebelumnya saya minta maaf kalau kedatangan saya tidak diharapkan.” Yudhistira memulai pembicaraan. Baru kali ini dia begitu was-was ketika berbicara dengan orang.
Fahmi dan istrinya, serta Tsamara pun hanya diam menanti kelanjutan pembicaraan Yudhistira.
“Kedatangan saya ke sini ingin meminta izin kepada Om dan Tante untuk menjalin hubungan dengan Tsamara, putri sulung keluarga ini.” Yudhistira berkata dengan sangat hati-hati karena takut salah bicara.
Tsamara yang duduk di samping Yudhistira hanya diam. Wanita itu harap-harap cemas menunggu jawaban dari Fahmi.
“Kamu serius mencintai anak saya?” tanya Fahmi sambil menatap Yudhistira dengan tajam.
“Iya, Om, saya sangat menyayangi dan mencintai Tsamara,” jawab Yudhistira dengan mantap.
“Kamu tahu, kan, apa yang sudah dialami Tsamara?” tanya Fahmi lagi.
“Saya tahu, Om.” Yudhistira menjawab sambil menunduk, dia tak berani menatap mata Fahmi.
“Lalu, apa kamu bisa menjamin kalau kamu tidak akan menyakiti anak saya seperti mantan suaminya?” Fahmi mengintimidasi Yudhistira.
Yudhistira mendongak, memberanikan diri menatap Fahmi.
“Saya janji Om tidak akan membuat Tsamara sakit hati dan akan berusaha membahagiakan Tsamara semampu saya,” sahut Yudhistira.
“Sayangnya saya tidak bisa percaya ucapan kamu,” ucap Fahmi dengan ekspresi datar.
“Saya nggak mau Tsamara menderita untuk kedua kalinya,” lanjut Fahmi.
Mendengar jawaban Fahmi, Yudhistira pun kaget. Dia tak menyangka akan mendapat penolakan dari Fahmi.
“Tapi, Om saya benar-benar tulus mencintai Tsamara.” Yudhistira berusaha meyakinkan Fahmi.
“Kalau gitu tunjukkan, jangan hanya di mulut saja.” Setelah berkata seperti itu, Fahmi pun berdiri dan pergi meninggalkan Yudhistira yang masih kaget dengan penolakan Fahmi.
__ADS_1
...***...