Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Pertemuan Yudhistira dan Fengying


__ADS_3

"Bagaimana, apa kamu sudah menjalankan tugas yang saya berikan?" tanya Irawan kepada orang kepercayaannya. Saat ini pria paruh baya berperawakan tinggi sedang duduk santai di kediaman mewah miliknya.


Orang kepercayaan Irawan yang bernama Bayu mengangguk cepat. "Sudah, Pak. Semua klien, rekan kerja serta mantan rekan kerja kita telah menjalankan perintah yang Bapak katakan. Dari mereka tidak ada satu orang pun yang berani memperkerjakan Pak Bima meski skill yang dimiliki sesuai kriteria perusahaan. Mereka lebih memilih menolak Pak Bima dan mencari pekerja lain daripada harus berurusan dengan Pak Irawan," tuturnya. "Lalu, untuk urusan kartu kredit yang pernah Bapak berikan pun sudah dibekukan sejak pertama kali Pak Bima keluar dari perusahaan."


"Menurut informasi, selama tiga bulan belakangan ini Pak Bima banyak melakukan transaksi dalam jumlah yang cukup besar. Sebagian uang hasil penjualan digunakan untuk membeli rumah, sepeda motor serta kebutuhan sehari-hari," sambung Bayu. Pria itu memberikan semua informasi yang diketahuinya kepada Irawan. Tak ada satu informasi pun yang terlewatkan.


Tampak Irawan mangut-mangut, ia cukup puas dengan informasi yang disampaikan Bayu. "Baguslah jika hasil penjualan apartemen digunakan untuk membeli hunian baru. Kupikir, dia akan menghabiskan uangnya hanya untuk foya-foya bersama wanita murahan itu."


"Saya rasa Pak Bima bukan tipe lelaki seperti itu, Pak. Buktinya, dia sangat ketat dalam mengelola keuangan. Bahkan Pak Bima dan Bu Emma pernah kedapatan bertengkar hanya karena uang belanja yang dirasa terlalu kecil sedangkan harga kebutuhan pokok yang dijual melambung tinggi," sergah Bayu cepat.


Irawan yang saat itu tengah duduk santai, menyenderkan punggung di sofa dengan kedua kaki saling tumpang tindih segera terlonjak dari kursinya setelah mendengar penuturan Bayu. "Sungguh? Kamu tidak bohong, 'kan?" tanya pria itu dengan bola mata terbelalak sempurna.


Bayu menggelengkan kepala cepat. "Tidak, Pak. Saya mana berani berbohong kepada Bapak. Semua yang saya ucapkan adalah sebuah kebenaran."


Irawan terbahak hingga kepalanya mendongak. Ia tidak menyangka Bayu akan memberikan informasi sepenting ini kepadanya. Bagus juga. Dengan begitu Bimantara akan tahu siapa wanita yang telah dinikahinya itu.


"Saya rasa sudah cukup, sebaiknya kamu bekerja kembali. Berikan terus informasi terbaru tentang kehidupan anak durhaka itu. Jika ada informasi penting segera beritahuku," ujar Irawan sebelum Bayu undur diri meninggalkan ruangan tersebut.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Bayu menundukan kepalanya, pamit undur diri meninggalkan Irawan seorang diri. Lantas, ia pun bergegas menjalankan tugas yang diberikan Irawan kepadanya.

__ADS_1


Seringai licik terlukis di wajahnya yang rupawan. "Bima ... Bima ... seharusnya kamu sadar siapa wanita yang telah kamu nikahi itu. Baru menikah tiga bulan, kedok wanita itu sedikit demi sedikit mulai terbuka. Aku hanya berharap semoga kamu tidak menyesal karena telah salah pilih."


***


Usai pesawat jet pribadi milik Star Group mendarat sempurna di landasan pesawat terbang, Fengying ditemani Anming segera menaiki mobil sewaan dan langsung menuju alamat yang telah diberikan orang keperayaan.


"Kita sudah sampai, Tuan Fengying," ujar Anming dari kursi di samping kemudi. Pria itu melirik sang bos yang tampak begitu gelisah duduk di kursi belakang.


Sepanjang perjalanan, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Fengying terus memperhatikan sang majikan dari kaca spion di depan sana. Tangan sebelah kanan sang bos tertangkap basah tengah mengetuk-ngetukan jendela kaca guna mengendalikan rasa gugup di dalam dada.


Jantung Fengying berdebar tak beraturan. Telapak tangan terasa dingin. "Anming, bagaimana jika puteraku tidak mau mengakuiku sebagai ayahnya? Apa yang harus kulakukan?" tanya pria itu, mengutarakan kegelisahan yang dirasakan olehnya selama berada dalam perjalanan.


Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Fengying meresapi setiap kalimat yang diucapkan oleh Anming--asisten sekaligus orang kepercayaannya.


"Baiklah, kalau begitu kita turun sekarang!" ucap Fengying mantap. Lantas, ia serta asistennya turun dari mobil menuju teras rumah tersebut.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya orang yang dinantikan pun datang. Pendar bahagia dibalut kerinduan yang mendalam membuat Fengying mematung dan membisu saat sosok lelaki tampan menatap keheranan ke arahnya.


Bagaimana tidak, Fengying yang terkenal sebagai pebisnis sukses di bidang kesehatan begitu terpaku saat ekor mata memandang penuh kerinduan kepada Yudhistira. Wajah itu begitu mirip dengan Annchi saat masih muda. Hidungnya yang mancung serta lesung pipi itu mengingatkannya pada wanita cantik yang pernah ia sakiti.

__ADS_1


"Tuan, kalian berdua ada keperluan apa datang ke sini?" Yudhistira kembali bertanya sebab sedari tadi baik Fengying ataupun Anming bergeming hingga membuat dokter tampan terpaksa membuka suara untuk kedua kali. Yudhistira tak menyadari siapa lelaki berkacamata hitam yang berdiri di depannya.


Kesadaran Fengying muncul ke permukaan tatkala mendengar suara bariton Yudhistira. Berdehem kencang mencoba menyingkirkan bongkahan kaktus besar yang seakan mengganjal di tenggorokan.


Sebelum menjawab Fengying lebih dulu menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Lelaki itu mencoba keberanian dalam dada untuk berbicara kepada anak lelakinya dari istri pertama. "Perkenalkan, nama saya Fengying. Saya adalah--"


Belum usai Fengying memperkenalkan diri di depan Yudhistira, dokter muda berwajah oriental telah lebih dulu menginterupsi lelaki paruh baya itu. Hanya mendengar namanya saja ia sudah ingat kembali jika lelaki itu adalah ayah kandungnya yang pernah tega menceraikan mendiang sang mama saat tengah berbadan dua.


"Tidak perlu mengatakan siapa Anda sebab saya sudah tahu jika kamu adalah lelaki yang pernah menyumbangkan bibit ke dalam rahim Mama saya," ucap Yudhistira ketus seraya menghujam tatapan tajam kepada Fengying. Ia jadi teringat tulisan di buku Annchi yang mengatakan betapa menderitanya wanita itu usai diceraikan sang mantan suami. Terlebih Annchi harus berlapang dada saat ibu kandung Fengying mengusir wanita itu dari rumah.


Sontak bola mata Fengying terbelalak sempurna. Dengan bibir gemetar dan suara tercekat, pria itu berkata, "Jadi ... kamu sudah tahu siapa aku? Kamu tahu kalau aku adalah--"


"Ya, saya tahu siapa Anda," sergah Yudhistira cepat. "Kamu adalah suami berengsek yang tega menceraikan istrinya agar dapat terus hidup mewah. Kamu adalah lelaki egois yang pernah saya temui."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2