Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Ditipu?


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu, Leo menghubungi Bimantara, guna membahas konsep serta ide usaha yang tepat untuk dijalankan mereka bersama. Kemunculan café serta booth boba yang tengah menjamur membuat mantan teman sekolah Bimantara kepikiran membuka usaha tersebut. Kebetulan lokasi yang baru saja ia temukan cukup strategis, berada di dekat kampus dan di sana belum ada café maupun booth boba sehingga sangat yakin kelak usaha mereka akan berhasil.


Leo menjanjikan akan mengajak Bimantara survey tempat yang kelak menjadi tempat usaha mereka. Namun, sudah tiga hari ini mantan teman sekolahnya itu tak memberikan kabar sama sekali bahkan nomor teleponnya pun tidak aktif.


"Aneh sekali, kenapa nomor teleponnya enggak aktif? Apa mungkin dia sedang pulang kampung hingga tak ada sinyal di sana?" gumam Bimantara. Lelaki itu masih mencoba berpikir positif meski jauh di lubuk hatinya yang terdalam sempat ada rasa was-was karena dia sudah memberikan uang dalam jumlah yang cukup besar untuk membayar sewa tempat dan biaya renovasi bangunan yang kelak dijadikan tempat usaha mereka kepada Leo.


Bimantara kembali menekan nomor Leo, kemudian menempelkan benda pipih berukuran 6.5 inci di telinga dan menunggu hingga sambungan telepon terhubung. Namun, untuk kesekian kalinya nomor telepon Leo tak bisa dihubungi hanya suara operator saja yang terdengar.


Muncul perasaan khawatir dalam diri Bimantara dan berbagai pikiran negatif muncul di benak pria itu. Bagaimana jika seandainya Leo adalah seorang penipu? Lalu bagaimana dengan nasib sejumlah uang yang sudah ia berikan kepada mantan teman sekolahnya itu jika seandainya Leo memang adalah seorang penipu? Akankah uang itu kembali atau hilang begitu saja?


Menggelengkan kepala lemah. "Leo enggak mungkin nipu aku. Toh kita udah berteman lama sejak kami masih SMA dulu. Alamat rumah serta tempat kerjanya pun aku tahu. Jadi, mana mungkin dia menipuku." Bimantara mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ditakutkan tidak mungkin terjadi.


Di ruang tamu, Emma duduk bersandar dengan nyaman di atas sofa sambil memakan buah apel yang telah dikupas sebelumnya oleh Bimantara. Sesekali dia menatap layar televisi yang sedang menampilkan berita di tanah air.


"Ck! Zaman sekarang semua orang ingin menjadi kaya, tapi enggak mau usaha. Ujung-ujungnya nipu orang dengan modus investasi bodong. Dan parahnya lagi para korban mudah ditipu hanya karena diiming-imingi janji manis. Benar-benar bodoh!" cibir Emma sambil terus memasukan potongan buah apel segar ke dalam mulut.

__ADS_1


Walaupun Bimantara cukup ketat dalam mengelola uang namun lelaki itu tetap memperhatikan gizi Emma serta bayi dalam kandungan sang istri. Ia tidak mau calon anak mereka kekurangan nutrisi hanya karena mereka hidup hemat. Setidaknya makanan mengandung serat, susu hamil serta buah-buahan selalu tersedia di dapur.


Emma menoleh ke samping saat mendengar suara derit pintu dibuka lebar. Lalu tak lama kemudian munculah sosok Bimantara dengan memasang wajah cemberut.


"Kenapa muka kamu cemberut? Bikin mood-ku hancur aja lihat muka kamu yang jelek begitu," dengkus Emma kesal. Ia menghentakkan kakinya di lantai dengan kencang dan meletakkan mangkok di atas meja kaca hingga terdengar dua benda saling berbenturan. "Kalau punya masalah, jangan seret aku ke dalamnya. Aku udah cukup payah mengandung anakmu ini. Jadi jangan menambah bebanku!"


Bimantara menghempaskan bokongnya di sebuah sofa yang terpisah dari posisi Emma saat ini. Menghela napas kasar, kemudian menatap sendu ke arah sang istri. "Sudah tiga hari ini aku enggak bisa menghubungi Leo. Setiap kali aku telepon, hanya suara operator yang menjawab. Padahal dia janji akan mengajakku survey tempat usaha kami, tapi sampai sekarang enggak ada kabar berita."


Bola mata Emma melotot mendengar perkataan Bimantara. "Jadi, kamu belum ketemu lagi sama dia semenjak saat itu? Saat di mana kamu ngasih uang ke dia dalam jumlah yang cukup besar?"


Emma bangkit dari sofa kemudian menghunuskan tatapan tajam pada sosok lelaki yang duduk di seberang sana. Dengan meninggikan suara wanita itu berkata, "Suami bodoh! Bagaimana itu bisa terjadi? Emangnya kamu enggak coba datangin alamat rumah dan tempat kerjanya?" sembur wanita itu, tak kuasa menahan amarah yang semakin memuncak.


"Sebelum memberikan uang itu, seharusnya kamu selidiki dulu jangan sembarangan ngasih! Kalau ternyata dia nipu kamu, bagaimana? Uang tabungan untuk masa depan anakku hilang begitu aja dong!" sungut Emma berapi-api. Tampak jelas sorot mata penuh kemarahan di bola matanya yang indah.


Bimantara menarik napas dalam, kemudian mrngembuskan secara perlahan. Sangat memaklumi kenapa Emma bisa semarah itu kepadanya. Ia tak bisa menyalahkan wanita itu sebab dirinya memang terlalu gegabah dalam bertindak.

__ADS_1


"Sayang, kita enggak bisa menuduh Leo sembarangan sebelum ada bukti. Ya ... mungkin aja saat ini dia sedang mudik ke kampung halamannya dan di sana enggak ada sinyal jadi pesan yang kukirimkan enggak masuk dan panggilan telepon pun enggak tersambung. Udah ya, kamu enggak boleh marah-marah dulu. Besok aku coba datangin rumah dan tempat kerjanya," bujuk Bimantara, mencoba agar Emma tidak terbawa suasana dan menyebabkan hubungan rumah tangga mereka semakin renggang.


Jemari tangan mengusap lembut bahu Emma dengan pelan. "Jangan emosi, kasihan anak kita dalam kandungan. Dia bisa kaget mendengar kamu marah-marah terus."


Emma mencibir dan memutar bola mata dengan malas. "Iya, aku enggak akan ngomel-ngomel lagi. Tapi janji, besok kamu cari temanmu itu. Aku enggak mau uang tabungan anak kita dibawa kabur oleh dia. Mengerti?"


Bimantara menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. "Mengerti. Sebaiknya kamu duduk lagi dan nikmati potongan buah apel yang masih tersisa biar anak kita sehat dalam kandunganmu."


Tanpa membantah sedikit pun Emma menuruti perintah Bimantara. Wanita itu kembali duduk manis di tempat semula sambil menerima suapan dari sang suami. Tampak Bimantara begitu setia melayani istrinya yang kini tengah berbadan dua.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2