
"Emma, apa kamu udah bangun?" panggil Bimantara setelah matahari kembali terbit dan bersinar menerangi bumi. "Emma?" Pria itu masih memanggil nama sang istri meski Emma tak merespon ucapannya.
Bimantara menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Bimantara tahu kalau sebenarnya Emma sudah bangun sejak tadi, tapi wanita itu seakan menulikan telinga dan pura-pura tak mendengar ucapannya.
Tak ingin terus berlarut-larut dalam pikirannya sendiri, Bimantara memutuskan mengayunkan kaki menuju lemari dan mengambil pakaiannya yang telah disetrika oleh Emma sebelumnya. Ia membawa kemeja, celana bahan serta pakaian dalam untuk dikenakan sehabis mandi nanti. Setelah itu kembali melangkah keluar kamar.
Akan tetapi, langkah kaki Bimantara terhenti ketika melihat bahu Emma yang bergetar samar dalam balutan selimut tebal. Timbul rasa penyesalan dalam diri sebab ia telah dengan lancang menampar wajah istrinya sendiri. Terpaku dan membeku beberapa saat, mencoba mencari kalimat untuk meminta maaf kepada wanita itu.
Duduk di tepian ranjang, mengusap lembut puncak kepala Emma. "Emma, aku minta maaf karena tak sengaja menamparmu. Namun, sungguh, aku enggak bermaksud untuk melukaimu. Semalam aku lepas kendali hingga tanpa sadar telah melukaimu. Maafin aku, ya?"
Emma menepis tangan Bimantara dan berkata, "Tentu saja lepas kendali toh kamu menyimpan rasa pada mantan istrimu itu. Kalau enggak, mana mungkin tega menamparku. Kamu--"
Mantan sekretaris Bimantara kembali terisak, ia tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Dada terasa sesak bagai dihimpit oleh bongkahan batu besar. Seumur hidup baru kali ini ia merasakan bagaimana rasanya telapak tangan seseorang mendarat sempurna di pipi, itu ... terasa sangat menyakitkan. Menyakitkan bagi dirinya sendiri juga melukai perasaannya sebagai seorang istri.
"Tapi Emma, aku--"
"Cukup! Aku mau tidur." Tanpa berkata-kata, Emma segera menarik selimut terbal hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Bima ... Bima ... kamu benar-benar bodoh. Bagaimana bisa lepas kendali dan malah menampar istrimu sendiri. Sudah tahu istrimu mudah tersinggung akhir-akhir ini, tapi kamu malah tak dapat mengendalikan diri dan terpancing emosi, kata Bimantara merutuki dirinya sendiri.
Bimantara tahu, meski ia meminta maaf jutaan kali, luka yang telah ditorehkan kepada Emma tidak mungkin hilang begitu saja. Seharusnya ia sudah terbiasa menghadapi sikap Emma yang sering-sering berubah bukan malah terbakar emosi hingga tanpa sadar menampar wanita yang tengah mengandung darah dagingnya.
"Istirahatlah. Aku akan pergi mandi, setelah itu menyiapkan sarapan sebelum pergi mencari pekerjaan," ujar Bimantara sembari mengusap puncak kepala Emma.
Emma tidak menjawab apa pun, ia hanya membisu seribu bahasa. Wanita itu lebih memilih memejamkan mata lagi meski sebenarnya ia bosan terus berada di atas ranjang sejak tadi malam.
__ADS_1
Tepat pukul delapan pagi, setelah semua urusan pekerjaan rumah selesai dilakukan, Bimantara masuk kembali ke kamar. Ia masih melihat Emma bergelung di bawah selimut tebal. "Emma, semua pekerjaan sudah aku selesaikan. Sarapan untukmu pun telah kusiapkan di atas meja, nanti kamu tinggal menghangatkan saja jika ingin makan. Oh ya, jangan lupa minum susu ibu hamil agar bayi kita tidak kekurangan nutrisi."
"Aku enggak bisa menemani kamu makan sebab hari ini aku hendak pergi mencari pekerjaan. Siapa tahu mantan klien Papa bersedia memberiku pekerjaan," sambung Bimantara sebelum ia pergi meninggalkan rumah.
Bimantara berjalan cepat menuju teras rumah. Ia mulai menyalakan mesin motor miliknya, kemudian melajukan kendaraan roda dua tersebut menuju sebuah gedung pencakar langit di kawasan Jakarta Selatan.
***
Sementara itu, di kediaman Gibran, tampak Sekar sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan anak tercinta. Wanita paruh baya itu meletakkan piring berisi lima potong roti selai marmalade ke atas meja. Aromanya sungguh menggiurkan. Tiga gelas susu putih mengepul, menguarkan aroma tak kalah menggiurkan dari roti selai tersebut.
"Bu Sekar, buah-buahan ini mau ditaruh di mana?" ujar salah satu asisten rumah tangga.
Sekar menoleh sekilas, kemudian menjawab, "Untuk buah-buahan yang sudah dicuci bersih dan dikupas, tolong letakkan saja di atas meja makan, sisanya kamu masukan saja ke dalam lemari es."
"Baik, Bu!" Lantas, asisten rumah tangga itu bergegas menjalankan perintah ratu di istana tersebut.
Wajah sumringah, mata berbinar bahagia saat melihat sosok perempuan cantik yang tak lain adalah buah cintanya bersama sang suami. "Morning, Sayang. Tumben jam segini kamu baru bangun. Apa semalam kamu mimpi indah sampai tak sadar bahwa matahari telah kembali bersinar menerangi bumi?"
Bibir lembut Tsamara mendarat di pipi sang mama. Gadis itu terkekeh pelan dan berkata, "Semalam aku begadang, menyusun laporan pekerjaan yang hendak aku berikan kepada Dokter Fatma sampai jam dua malam. Saat alarm berdering, aku hanya mematikan saja tanpa membuka kelopak mataku."
Tampak Sekar hanya menganggukan kepalanya saja sebagai jawaban.
"Oh iya, Papa ke mana? Kok sejak tadi aku tak melihat kehadiran Papa. Biasanya kalau ada Mama maka sudah bisa dipastikan ada Papa pula di samping Mama," kata Tsamara setelah duduk di kursi makan.
"Papa ada--"
__ADS_1
Belum selesai Sekar berkata, tiba-tiba saja derap langkah sepatu seseorang menggema memenuhi penjuru ruangan. Sontak kedua wanita cantik itu menoleh ke belekang.
"Ada apa mencari Papa, hem?" Fahmi melingkarkan tangan di pinggang seorang wanita yang telah menemaninya selama dua puluh empat tahun. Lalu mengecup puncak kepala Sekar dengan penuh cinta.
Tsamara terkesiap beberapa saat menyaksikan bagaimana sikap Fahmi terhadap Sekar, meski usai sudah tak lagi muda, tetapi mereka tetap saja romantis layaknya pasangan pengantin baru. Dulu ia pernah berharap akan dapat hidup bahagia bersama orang tercinta, tapi ternyata takdir berkehendak lain. Kendati begitu, ia mencoba ikhlas dan menerima semua surata takdir yang Tuhan berikan kepadanya.
Mencoba tersenyum di hadapan kedua orang tuanya meski luka di dalam hati belum juga sembuh. "Enggak ada perlu apa-apa sih, Pa, aku cuma penasaran aja kenapa Papa enggak ada di samping Mama. Biasanya, 'kan kalian selalu bersama seperti perangko."
"Ooh ... Papa pikir ada hal penting yang ingin dibicarakan," jawab Fahmi.
Sekar duduk di seberang Tsamara. "Semua makanan telah siap, bagaimana kalau kita makan sekarang? Kamu juga harus berangkat kerja, 'kan, Tsa?" Tsamara menganggu sebagai jawabannya.
"Baiklah, kalau gitu kita mulai saja sarapannya." Lantas Fahmi memimpin do'a sebelum makan.
Suasana hening tercipta hanya terdengar bunyi dentingan alat makan beradu dengan piring, semua orang tampak begitu menikmati makanan yang dimasak oleh Sekar. Akan tetapi, keheningan itu harus terganggu saat dering ponsel Tsamara berbunyi.
Tangan Tsamara meraih benda pipih tersebut, membaca pesan masuk yang dikirimkan oleh seseorang.
["Aku menunggumu di depan gerbang."]
.
.
.
__ADS_1
Halo semua, sambil nunggu update-an karya ini, yuk mampir dulu ke karya author. Karya ini menceritakan tentang orang tua Zahira yang ada di karya Pengantin Pengganti Sahabatku. Jadi, bagi Kakak yang penasaran, yuk buruan merapat!