Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Menjemputmu di Rumah


__ADS_3

Seketika Tsamara tersedak saat netranya membaca sebuah pesan yang dikirimkan oleh seseorang. Ia terbatuk kencang hingga membuat sang mama segera menuangkan air minum ke dalam gelas, lalu menyodorkannya ke hadapan anak tercinta.


"Hati-hati kalau makan, Nak." Sekar menepuk pelan punggung Tsamara. "Lagipula, kenapa kamu bisa tersedak begini sih? Memangnya pesan dari siapa hingga membuatmu terbatuk kencang."


Tsamara masih terbatuk kencang, bola matanya yang indah memerah dan berair sebab rasanya sakit saat ada sesuatu masuk, tapi bukan ke dalam tenggorokan melainkan ke kerongkongan.


Ya Tuhan, kenapa bisa-bisanya dia datang ke rumah ini? Bagaimana jika Papa dan Mama tahu, bisa berabe urusannya? keluh Tsamara dalam hati.


Setelah dirasa membaik dan tak ada satu butir nasi bersemayam di kerongkongan, barulah Tsamara berkata, "Maaf, Ma, Pa, tadi aku tidak hati-hati saat makan hingga menyebabkan kalian terganggu."


Fahmi memicingkan mata tajam kepada sang anak, sedikit curiga melihat gelagah aneh Tsamara. Apa yang sebenarnya tengah disembunyikan anakku? Kenapa aku merasa pesan masuk yang baru saja dibaca Tsamara merupakan dari seseorang. Mungkinkah anakku ...?


Aku tidak boleh berburuk sangka dulu kepada Tsamara sebelum ada bukti kuat. Kalaupun ternyata ada seorang pria mendekati putirku, tak kan kubiarkan lelaki itu dengan mudah mendapatkan berlian tak bernilai macam anakku tercinta, batin Fahmi.


Lantas Fahmi berkata, "Makanya lain kali hati-hati. Jangan karena sebuah pesan membuatmu hampir mati akibat kecerobohanmu, Tsa!"


Entah kenapa perkataan itu membuat bulu kudu Tania merinding seketika. Tatapan mata tajam bagaikan seekor binatang buas yang siap menerkam mangsanya. Nada suara dingin dengan wajah datar, tanpa ekspresi.


Apakah Papa mencurigaiku? tanya Tsamara dalam hati. Akan tetapi, ia segera mengenyahkan prasangka buruk itu.

__ADS_1


"Papa, jangan bicara begitu! Anak sedang kesusahan malah diomelin!" Sekar menegur suami tercinta karena ucapan lelaki itu terkesan tak enak didengar oleh telinga. Sebagai wanita yang mengandung dan melahirkan Tsamara ke dunia ini dengan mempertaruhkan nyawa, tentu saja ia tak terima ada orang lain membahas soal kematian terlebih orang itu adalah suaminya sendiri.


Tsamara melirik Sekar dan Fahmi secara bergantian. Tak ingin terjadi perang ketiga di rumah megah nan mewah yang melibatkan kedua orang tuanya, gadis itu bangkit dari kursi setelah menghabiskan setengah gelas air putih untuk membasahi tenggorokannya.


"Pa, Ma, aku sudah kenyang. Oh ya, aku baru ingat jika pagi ini ada janji bertemu Dokter Fatma. Kalau begitu, aku berangkat duluan." Tsamara berjalan mendekati kursi kedua orang tuanya, ia mencium punggung tangan serta pipi Fahmi dan Sekar. "Assalamu a'laikum."


Tanpa banyak cakap, Tsamara bergegas meninggalkan kedua orang tuanya sebelum mendengar mereka membalas salam darinya. Entahlah, ia sangat takut sekali Fahmi akan tahu jika di depan gerbang sana sudah ada sosok lelaki menunggu putri tunggal Gibran dengan perasaan campur aduk seperti permen nano nano.


...***...


Dengan sangat tergesa-gesa, Tsamara berjalan setengah berlari menuju gerbang. Ia bahkan mengacuhkan beberapa asisten rumah tangga serta para tukang kebun yang saat itu ditugaskan Sekar mengurusi tanaman di rumah tersebut atau lebih tepatnya istana mewah bagi keluarga Gibran.


Tsamara semakin mempercepat langkahnya saat melihat satu unit mobil terparkir tak jauh dari pintu gerbang kediaman keluarga Gibran.


Menengok ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada Fahmi maupun orang suruhan sang papa membuntuti dari belakang. Setelah dirasa aman, barulah ia masuk ke dalam mobil tersebut. "Kenapa menjemputku di rumah? Kalau ketahuan Papa, bagaimana? Kamu enggak takut dihajar sampai babak belur oleh orang tuaku?" sungut Tsamara sambil meletakkan sling bag, jas dokter serta satu buah map file ke kursi belakang. Tatapan mata gadis itu menunjukan ketidaksukaannya akan sikap sembarangan lelaki di sebelahnya.


Alih-alih merasa bersalah, pria berwajah oriental malah menyeringai seperti orang idiot. "Malah bagus jika Papamu tahu, itu artinya aku bisa dengan leluasan mendekati putri pertamanya yang cantik ini."


Tsamara mengatur napasnya yang tersengal akibat berjalan maraton seperti dikejar setan. "Jangan sembarangan bicara, Dokter Yudhis! Nanti alam semesta mendengar perkataan dan mengabulkan ucapanmu, bagaimana?" timpal gadis itu dengan berapi-api.

__ADS_1


Senyuman di wajah Yudhistira semakin lebar, membuat Tsamara berpikir bahwa kepala pria itu terbentur dan menyebabkan rekan sejawatnya seperti orang sinting. Dalam situasi genting begini, bisa-bisanya lelaki yang selama tiga bulan belakangan selalu menemaninya di saat suka maupun duka dan selalu menghibur di saat mengingat kembali pengkhianatan yang dilakukan oleh sang mantan suami.


"No problem! Biarkan saja alam semesta mengabulkan do'aku hingga aku dapat bertemu Papamu yang terkenal killer dan tegas," jawab Yudhistira seraya menyalakan mesin kendaraannya miliknya. Ia menginjak pedal gas dan melajukan mobil tersebut meninggalkan perumahan elit di kawasan Jakarta Pusat.


"Mas, kamu kenapa melamun di sini? Memangnya tidak ke kantor?" Sekar menepuk bahu Fahmi yang tengah berdiri membelakangi pintu masuk ke balkon. Tangan pria itu menyentuh pagar balkon sambil menatap lurus ke depan.


Fahmi menoleh ke sumber suara. Seorang wanita paruh baya yang selama dua puluh empat tahun setia menemaninya di saat susah tengah menatap ke arahnya dengan penuh tanda tanya.


"Hari ini aku bekerja di rumah saja, Ma. Melimpahkan segala urusan pekerjaan kepada Hans. Aku sedang ingin istirahat bersamamu."


Sekar tersenyum manis sambil mengikuti ke mana arah pandang sang suami. "Ya udah, kalau gitu sebaiknya kamu masuk ke dalam. Terlalu lama berdiri di sini, aku takut kamu masuk angin."


Fahmi mengangguk lemah, menuruti perkataan istri tercinta. Kenapa rasanya tadi aku seperti melihat Tsamara masuk ke dalam mobil itu? Namun, jika seandainya saja benar, dia pergi dengan siapa? Kenapa terkesan tengah menyembunyikan sesuatu kepadaku, batin pemilik hotel bintang lima yang tersebar hampir di seluruh Nusantara.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2