
Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat. Kelopak mata Tsamara mengerjap dan secara perlahan bola mata indah nan jernih terbuka sempurna. Ingatan gadis itu saat pertama kali terbangun dari tidurnya adalah tatkala sang suami tercinta berhubungan intim dengan wanita lain di depan mata kepalanya sendiri.
Tsamara menghela napas dalam, berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kacau. Gadis itu mulai bangkit, kemudian melangkah menuju kamar mandi. Meski suasana hati sedang kacau, ia mencoba menjalankan rutinitas seperti sedia kala. Beruntungnya hari ini ia masuk siang jadi ada waktu untuk berdiskusi bersama Bimantara, membahas kelanjutan nasib rumah tangga mereka yang berada di ujung tanduk.
"Selamat pagi, Mbak Tsamara." Seorang asisten rumah tangga menyapa sang majikan dengan ramah.
"Bik, di mana Kak Bima?" tanya Tsamara lirih.
"Den Bima ada di ruang kerjanya, Mbak. Sejak semalam menunggu Mbak Tsamara pulang sampai tertidur di sofa," jawab asisten itu sopan.
Tsamara menganggukan kepala dan memaksakan diri untuk tetap tersenyum meski hatinya sedang tidak baik-baik saja. Lantas, ia mengayunkan kaki menuju sebuah ruangan yang berada tepat di samping pintu balkon.
Saat tiba di ambang pintu, Tsamara cukup terkejut melihat penampilan Bimantara yang tertidur meringkuk hanya mengenakan tangan sebagai ganjalan. Sebuah bingkai foto berukuran kecil berada dalam dekapan pria itu. Wajah tampak terlihat letih walau mata dalam keadaan terpejam.
Jemari tangan Tsamara terulur ke depan, meraih bingkai foto warna keemasan. Dalam sekejap, sepasang mata almond mulai berkaca-kaca kala melihat foto pernikahan mereka yang diambil dua bulan lalu. Saat itu, ia merasa paling bahagia karena setelah sekian lama menunggu akhirnya bisa bersanding dengan Bimantara--cinta pertama sekaligus lelaki pertama yang menghapus air matanya membahasahi pipi.
"Kak Bima, bangun. Hari sudah pagi." Tsamara menepuk bahu Bimantara seraya berkata lembut. "Kak Bima, bangunlah!"
Merasa ada seseorang yang menepuknya dengan lembut, Bimantara kembali terjaga dari tidurnya. Kelopak mata bergerak perlahan, kemudian terbuka sempurna. Tangan kanan berada di depan mata, menghalau sinar matahari yang sudah mulai menampakkan pesonanya.
__ADS_1
"Tsa, kamu sudah pulang? Jam berapa kamu pulang semalam? Aku menunggumu pulang hingga ketiduran di sini," ucap Bimantara dengan suara khas orang baru bangun tidur. Bangkit dari posisi terbaring ke posisi duduk. Kedua tangan mengusap wajah dengan lembut.
Tsamara duduk di sofa sebelah sang suami, lalu menjawab, "Pukul sebelas malam. Seharusnya kamu langsung saja tidur, tidak perlu menungguku pulang. Ada dan tidak adanya aku di rumah ini tidak akan berpengaruh apa pun terhadapmu, 'kan?"
Bagai mendapat sebuah tamparan keras, detik itu juga Bimantara bungkam seketika saat Tsamara menyindirnya secara halus menggunakan nada sinis. Hanya dalam hitungan jam, gadis polos yang selalu bersikap lemah lembut berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sosok berbeda. Bahkan, Bimantara seakan tidak mengenali siapakah gerangan gadis yang ada di hadapannya.
"Tapi ... aku sangat mencemaskanmu. Bagaimana kalau terjadi hal buruk menimpamu? Apa yang harus kukatakan kepada kedua orang tua kita? Papa Fahmi dan Mama Sekar pasti menyalahkanku bila sesuatu terjadi kepadamu," ucap Bimantara dengan tatapan mata penuh kekhawatiran.
Jika dulu Bimantara mengatakan bahwa dia mencemaskan Tsamara, gadis itu akan melompat kegirangan kemudian berhambur memeluk suami tercinta dan mendaratkan ciuman di pipi kanan kiri saking bahagianya. Namun, saat ini ia bersikap biasa saja seakan tak mendengar perkataan sang suami. Hati gadis itu masih terasa sakit. Luka yang ditorehkan teramat dalam hingga nyaris menembus kulit.
"Jangan dibahas lagi! Terpenting saat ini aku selamat dan baik-baik saja." Tsamara mengalihkan pandangan ke arah lain. Tidak sanggup bila harus bersitatap dengan seseorang yang telah mencuri hatinya. "Kedatanganku ke sini ingin membahas soal masa depan rumah tangga kita, Kak. Keputusanku sudah bulat untuk bercerai darimu."
Jantung Bimantara berdegup kencang seraya menatap Tsamara dengab tatapan yang tidak bisa dimengerti. "Tsa, tidak bisakah jangan membicarakan soal perceraian. Kita bisa--"
"Selamanya kita tidak akan pernah bisa bersama. Meskipun kamu mencoba menerimaku dan aku mencoba menjadi istri yang baik, patuh dan taat terhadap suami, hati dan cintamu telah dimiliki wanita lain. Aku tidak sanggup bila terus menjadi orang ketiga dalam hubungan asmaramu dengan Emma." Tsamara menghela napas kasar, kemudian kembali berkata, "Please, jangan halangi aku untuk menggugat cerai kamu, Kak! Ini semua kulakukan demi kebaikan kita bersama. Demi kamu, aku dan juga Emma."
"Kamu dan Emma sudah terlalu jauh melangkah. Kalian bahkan melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Apa kata orang lain kalau tahu kesucian Emma telah direnggut oleh pria beristri? Mereka pasti menggunjingkan kekasihmu itu. Apa ... kamu sanggup melihat wanita yang kamu cintai dihina dan dicaci maki oleh orang lain? Tentu jawabannya tidak, 'kan? Oleh karena itu, perceraian adalah jalan satu-satunya untuk kita semua terlepas dari rumitnya masalah ini."
"Setelah sarapan aku akan pergi ke rumah Mama dan menjelaskan semuanya kepada mereka. Kakak tenang saja, aku tidak akan menceritakan semua kejadian yang kulihat saat berada di perusahaan. Rahasia itu akan kukubur bersama dengan jasadku nanti." Tsamara bangkit berdiri dan melangkah melewati Bimantara begitu saja.
__ADS_1
Akan tetapi, tangan kekar mencekal pergelangan tangan Tsamara dengan cukup keras. "Tsamara, tidak bisakah kita bicarakan masalah ini baik-baik? Kita berdua duduk bersama dengan kepala dingin."
Entahlah, kenapa Bimantara keukeh sekali tidak ingin bercerai dari Tsamara. Sementara jelas-jelas orang yang dicintainya adalah Emma, bukan Tsamara. Namun, kenapa saat mereka membahas soal cerai, hati Bimantara seperti dihujam bambu runcing menembus hati dan nyaris menembus punggungnya. Sakit dan nyeri sekali.
Tsamara melepaskan cekalan tangan itu dengan lembut. Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan seraya memejamkan mata sejenak, menikmati oksigen yang masuk melalui paru-paru.
Kepala menggeleng lemah. "Keputusanku sudah bulat, Kak. Hatiku semakin yakin untuk berpisah denganmu setelah melihat bagaimana cintanya kamu kepada Emma saat kalian bergumul kemarin. Pancaran penuh cinta terlukis jelas di bola mata kalian berdua."
Bimantara membeku mendengar semua perkataan Tsamara. Ia dan Emma memang saling mencintai satu sama lain. Namun, membayangkan mereka bersatu dengan mengorbankan Tsamara, dada pria itu terasa sesak bagai dihimpit oleh sebongkah batu besar. Benar-benar sakit sekali!
.
.
.
Halo semua, apa kabar? Author balik lagi nih dengan cerita yang sama seputar kehidupan rumah tangga Tsamara dan Bimantara. Yuk, sambil nunggu karya ini update, kepoin dulu karya milik teman author yang dijamin ngak kalah seru.
__ADS_1