Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Sailendra Airlangga


__ADS_3

“Ayolah,” bujuk Fengying sekali lagi.


Yudhistira duduk bersandar pada sofa dengan kening berkerut. Ia sedang menimbang-nimbang tawaran dari papanya untuk mengurus salah satu cabang rumah sakit yang cukup besar dengan dirinya selaku pemegang saham terbanyak di sana. Dan bukan hanya itu saja, ia pun diminta menjadi direktur rumah sakit tersebut.


“Sepertinya saya tidak bisa, ini terlalu besar untuk ditangani. Lagipula, akan sangat merepotkan kalau harus mengurus segala kepindahan dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya,” ucap Yudhistira pada akhirnya.


“Yudhistira, Papa yakin kamu mampu mengurus rumah sakit itu dengan sangat baik. Papa tahu kemampuan kamu, Nak.” Fengying masih berusaha membujuk anaknya itu. Pria paruh baya itu ingin mewariskan sebagian harta kekayaannya kepada Yudhistira, selaku anak pertamanya. Terlebih Yudhistira adalah anak laki-laki dan dia lebih berhak mendapat warisan itu ketimbang Alice, anak tirinya.


“Anda pasti tahu jika mengurus rumah sakit itu bukan hal yang mudah, ada begitu banyak hal yang harus diurus. Saya tidak mau kalau rumah sakit itu tidak dapat berkembang di tangani oleh saya,” ucap Yudhistira menggunakan bahasa formal. Walaupun Yudhistira mau memaafkan dan menerima Fengying sebagai papanya, tapi ia belum terbiasa memanggil pria itu dengan sebutan 'papa'.


Fengying menghela napas panjang, ditatapnya Yudhistira dalam-dalam. “Kamu pikirkan sekali lagi, jangan buru-buru ambil keputusan." Setelah mengatakan itu, Fengying pun beranjak meninggalkan Yudhistira.


Saat Yudhistira menoleh ke samping, ia terkejut melihat tatapan aneh yang dilayangkan Tsamara padanya.


“Apa?” tanya Yudhistira bingung.


“Kamu terima aja tawaran Papa, Sayang. Kasihan loh, Papa udah jauh-jauh datang ke sini, berharap banyak kamu mau menerima tawaran itu, tapi ternyata kamu menolaknya.”


Yudhistira menghela napas panjang. “Sayang, mimpin rumah sakit enggak semudah itu, membalikan telapak tangan. Banyak yang diurus sama aku. Emangnya kamu mau kalau perhatianku sedikit berkurang setelah mengambil tanggung jawab itu?"


"Sesibuk apa sih, Sayang?" Tsamara bangkit dari duduknya, kemudian menangkup wajah sang suami. "Aku tuh yakin banget sama kamu loh, kalau kamu bisa menjalankan dua tanggung jawab sekaligus."


“Tapi ini tanggung jawab yang besar, enggak bisa terima gitu aja."


Tsamara berpikir sejenak sebelum menyahut ucapan Yudhistira. “Iya, aku ngerti. Namun, kalau bukan kamu, terus siapa lagi? Kamu pikir deh, menurutmu ada enggak yang lebih mampu ambil alih rumah sakit itu selain kamu. Kita semua tahu kalau ngurus rumah sakit itu bukan hal yang mudah dan apa kamu yakin mau serahin tanggung jawab itu ke orang lain? Kamu mau orang itu justru menipu Papamu?" tanya Tsamara dengan hati-hati.


Mendengar pertanyaan Tsamara, Yudhistira pun berpikir dengan sangat keras. Benar apa yang dikatakan oleh Tsamara, jika bukan dirinya, lalu siapa lagi?


“Coba kamu tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kamu emang rela membiarkan hasil jerih payah Papamu hancur di tangan orang tak bertanggung jawab?” kata Tsamara pelan. Ia tatapan iris coklat suami tercinta dengan lekat.


Lagi-lagi Yudhistira menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan menerima tawaran dari Tuan Fengying."


***


Setelah menerima tawaran dari Fengying, Yudhistira dan Tsamara pun akhirnya pindah ke rumah sakit itu berdiri. Fengying menghadiahkan satu unit rumah mewah lengkap dengan segala isinya di dekat rumah sakit tersebut sebagai hadiah karena sebentar lagi Tsamara akan memberikan calon penerus untuk keluarganya yang diprediksi berjenis kelamin laki-laki.


Tsamara mendapat limpahan perhatian, cinta dan kasih sayang dari Latifah dan juga sang mama, Sekar. Kedua wanita itu sering menghubungi si dokter cantik guna menanyakan kabar Tsamara dan calon cucu mereka.


Kehidupan pahit yang pernah Tsamara alami saat menikah dengan Bimantara, kini diganti dengan berjuta kali lipat. Balasan atas perbuatan jahat di masa lalu, telah Emma dan Bimantara tuai. Emma kini hidup terlunta lunta semenjak ditipu habis-habisan oleh kekasih barunya yang mengaku adalah seorang pebisnis sukses di bidang properti sedangkan Bimantara telah kembali ke rumah orang tua dan fokus menjalankan usaha papa dan mamanya.


“Sayang, muka kamu kok pucat banget. Kamu enggak enak badan?” tanya Yudhistira khawatir.


Tsamara yang sedang rebahan di sofa sambil mengelus-elus perut besarnya, hanya menoleh sekilas ke arah Yudhistira.


“Enggak tahu nih, dari tadi mual sama muntah terus, lidah juga rasanya pahit banget. Kayaknya enak kali ya kalau makan yang pedes-pedes,” sahut Tsamara dengan santainya.


“Kan orang hamil enggak boleh makan yang pedes-pedes. Udah deh, jangan aneh-aneh!” sahut Yudhistira cepat.

__ADS_1


Saat ini Yudhistira tengah sibuk memeriksa laporan bulanan rumah sakit milik sang papa. Kini pria itu menjabat sebagai direktur rumah sakit yang menjalin kerjasama dengan rumah sakit tempatnya dulu bekerja.


Tsamata mengerucutkan bibjr ke depan. “Siapa sih yang bikin teori kayak gitu? Boleh kok makan pedes!” sergah Tsamara. Yudhistira hanya menghela napas panjang melihat kelakuan istri tercinta.


“Sayang, aku mau makan bakso. Boleh, ya?" rengek Tsamara dengan mata berbinar-binar. Membujuk suaminya berharap diizinkan.


Yudhistira menutup laptop di depannya, lalu menatap tajam ke arah sang istri. “Pokoknya enggak boleh! Jangankan orang hamil, orang yang enggak hamil pun atau orang yang bener-bener sehat aja enggak boleh makan secara berlebihan. Apa pun itu! Mau pedes, asin ataupun manis segala sesuatu yang berlebihan itu enggak baik buat kesehatan!” jelas Yudhistira dengan hati-hati.


Tsamara merengut. Ia sedang ngidam, tapi suaminya itu malah mengomel. Benar-benar sangat menyebalkan!


Akan tetapi, bukan Tsamara namanya kalau ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan.


“Tapi aku kepengen banget, Sayang. Gimana kalau anak kita ileran karena Papanya enggak ngasih izin makan bakso?" Tsamara merajuk.


“Itu sih bukan kemauan anaknya, kemauan ibunya!” ketus Yudhistira.


Mendengar nada ketus suaminya, Tsamara pun menangis sejadi-jadinya hingga membuat Yudhistira mau tidak mau menuruti kemauan istrinya dengan mengajak ke warung bakso yang berada tak jauh dari rumah mereka. Pria itu hanya bisa terdiam sambil mengelus dada melihat Tsamara memberikan banyak cabai di mangkuknya.


Setelah memakan semua bakso dan menghabiskan semua kuahnya, Tsamara tersenyum begitu lebar ke arah Yudhistira. Namun, tiba-tiba senyum itu menghilang saat Tsamara merasakan perutnya terasa sakit sekali.


"Aduh!" keluh Tsamara sembari menyentuh perutnya.


Yudhistira beringsut mendekati sang istri. “Kamu kenapa?” tanya Yudhistira panik.


“Perutku sakit."


“Enggak tahu pokoknya sakit.” Tanpa pikir panjang, Yudhistira segera membawa Tsamara ke rumah sakit dan meminta rekannya--Yasinta untuk memeriksa Tsamara.


“Gimana?” tanya Yudhistira panik karena sakit Tsamara tak kunjung hilang.


“Ini Tsamara udah pembukaan tiga, istri kamu ini mau melahirkan,” sahut Yasinta setelah memeriksa Tsamara.


Bola mata Yudhistira melebar sempurna. “Hah? Kok bisa? Bukannya asam lambung karena makan kepedesan?” tanya pria itu keheranan. Pasalnya sedari tadi Tsamara tampak biasa-biasa saja, tidak ada gejala akan melahirkan.


Yasinta menghela napas kesal.


Bukankah Yudhistira juga seorang dokter? Bagaimana mungkin ia tidak bisa membedakan antara asam lambung dan kontraksi?


“Jangan buat aku menjelaskan perbedaan antara kontraksi dan asam lambung! Daripada menggangguku, sebaiknya kamu keluar saja, siapkan keperluan istrimu," geram Yasinta.


“Jangan! Biar dia di sini menemaniku! Aku nggak mau ditinggal!” pekik Tsamara cepat. Ia tidak mau saat melahirkan tidak ada suami tercinta di sampingnya.


Yasinta tersenyum tipis. Sepertinya ia akan menyaksikan drama yang sangat seru. Jarang sekali melihat direktur rumah sakit menjadi bahan samsak istrinya.


Setelah perawat menyiapkan tempat bersalin dan semua peralatan, mereka memindahkan Tsamara ke dalam kamar bersalin.


“Okay, Papanya silakan mengambil posisi disamping Mamanya. Dan Mama, silakan ikuti instruksi saya dengan baik ya,” ucap Yasinta sambil tersenyum smirk.

__ADS_1


“Boleh pegangan sama suami enggak, Dok?” tanya Tsamara sebelum persalinan dimulai.


“Oh, tentu boleh. Mau pegangan, jambak, atau apa pun itu, sangat diperbolehkan,” sahut Yasinta santai.


Yudhistira langsung melongo mendengar ucapan Yasinta. Apa dia bercanda?


“Jangan bercanda dong!” seru Yudhistira cepat. Yasinta hanya tersenyum penuh arti.


“Ini saatnya mengeluarkan semua kekesalan yang terpendam selama ini,” bisik Yasinta pada Tsamara.


Setelahnya drama pun dimulai. Bukan teriakan Tsamara yang terdengar dari kamar bersalin tersebut, melainkan suara Yudhistira. Yudhistira pun hanya mampu menerima dengan pasrah, demi memberi semangat Tsamara untuk mengeluarkan buah hati mereka.


Ketika suara tangis sang buah hati terdengar, Yudhistira langsung menangis haru sementara Tsamara rebahan sambil mengumpulkan kembali tenaga yang telah ia keluarkan.


Alhamdulillah, terima kasih Tuhan, atas karunia yang Kau berikan. Yudhistira bersyukur dalam hati karena istri dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah menjalani perawatan pasca melahirkan, Tsamara pun akhirnya diperbolehkan menggendong sang bayi. Yudhistira duduk di samping Tsamara yang tengah menggendong si buah hati.


“Kamu sudah mengabari Mama dan Papa?” tanya Tsamara pelan.


Yudhistira menggelengkan kepala cepat. "Belum," sahut Yudhistira cepat.


Tsamara langsung melotot tajam. “Lihat aja, jika sampai mereka dengar dari Dokter Yasinta kalau aku sudah melahirkan, mereka pasti akan langsung memarahi kamu. Aku tinggal pura-pura lemes aja, biar mereka enggak marahin aku. Tapi kamu ... habislah riwayatmu.” Tsamara memandang penuh arti pada Yudhistira. Sudah dapat membayangkan apa yang akan dilakukan Fahmi tatkala pria itu sedang emosi.


Mendadak Yudhistira langsung berkeringat. Keringat dingin langsung membasahi kening pria itu saat mengingat wajah menyeramkan papa mertuanya.


“Sayang, kalau aku pura-pura lemes juga bakalan berhasil enggak ya?” tanya Yudhistira dengan bodohnya.


“Enggak akan berhasil!” sahut Tsamara.


“Tadi kan aku panik, terus langsung nemenin kamu lahiran, enggak sempet ngabarin mereka."


“Mereka enggak akan mau denger alasan kamu.” Yudhistira pun segera meraih telepon genggam yang ada di atas nakas kemudian menghubungi mertua dan Latifah, mama angkatnya.


Yudhistira duduk di tepian ranjang, memandangi Tsamara yang sedang memberi ASI kepada putera mereka. “Kita kasih nama siapa ya si tampan ini?” tanyanya pelan, tidak ingin membangunkan si jagoan.


Keduanya pun berpikir dalam diam. Ada berbagai macam nama yang kini berputar-putar di kepala Tsamara. Jauh sebelum melahirkan, ia sudah membuat daftar nama anak laki-laki yang penuh arti dan tentu saja indah untuk anak mereka. Akan tetapi, sampai sekarang, ia masih belum bisa memutuskan mana nama terbaik.


“Aku bingung, namanya bagus semua," sahut Tsamara sembari menatap lembut putra tampan yang ada di dekapannya itu.


“Kalau begitu, pakai nama yang kupilih aja?” usul Yudhistira.


“Tergantung. Kalau bagus, kita pakai, kalau kurang bagus, aku enggak mau pakai. Anakku harus dapat yang terbaik,” sahut Tsamara.


Yudhistira tersenyum lebar, ia yakin Tsamara akan menyukai nama ini. “Sailendra Airlangga. Gimana?” tanya Yudhistira dengan penuh harap.


Tsamara berpikir sejenak, senyuman hangat lalu terbit di wajah wanita itu. “Aku suka, namanya bagus." Jemari tangan wanita itu mengusap pipi lembut putera mereka. "Halo Sailendra, welcome to the world, Sayang."

__ADS_1


...~TAMAT~...


__ADS_2