Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Keputusan Tsamara


__ADS_3

Dada Tsamara sesak luar biasa. Mati-matian ia menahan air matanya agar tidak tumpah. Namun, butiran kristal itu meluncur begitu saja di sudut matanya. Dengan suara lirih dan bibir gemetar, gadis itu berkata, "K-kalian ...." Akan tetapi, suara dokter cantik bermata almond menggantung di udara. Ia sudah tidak tahan lagi melihat pemandangan yang menyesakan dada di depan sana. Berlari sekuat tenaga meninggalkan kamar Bimantara. Kepergian gadis itu sontak membuat Bimantara dan Emma terkejut detik itu juga.


"Tsamara, tunggu! Dengarkan penjelasanku dulu!" Bimantara berseru seraya menyambar celana yang tergeletak di atas nakas. Sementara Emma hanya terdiam sambil menatap kosong ke arah ambang pintu.


Sepanjang jalan, Tsamara terus menangis meluapkan kesedihannya. Hati gadis itu seakan sedang ditusuk sebilah pisau hingga nyaris membunuhnya. Ia semakin mempercepat langkahnya kala mendengar derap langkah seseorang dari arah belakang.


"Tsamara, tunggu!" Akan tetapi, Tsamara tak mengindahkan seruan sang suami. Ia terus mengayunkan kakinya yang jenjang, melewati beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya.


Di saat Tsamara semakin mempercepat langkahnya, di saat itu pulalah Bimantara menaikan kecepatan langkah kakinya bahkan kini ia berjalan setengah berlari. "Tsa, beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya," ucap sang CEO setelah berhasil mencekal lengan Tsamara.


Dengan cepat Tsamara menepis tangan itu hingga Bimantara tersentak untuk beberapa saat.


"Apa lagi yang mau kamu jelaskan kepadaku, Kak? Bukankah semuanya sudah jelas kalau kamu dan dia mempunyai hubungan spesial. Sebuah hubungan yang tidak hanya sebatas teman kuliah saja," ucap Tsamara disertai suara isak tangis. Derai air mata gadis itu tak mau berhenti.


"Tapi semua yang kamu lihat tidak semuanya benar. Aku ...."


Belum selesai Bimantara berbicara, suara lembut Tsamara kembali terdengar.


"Jadi ini alasannya kenapa sejak dulu hingga sekarang kamu menolakku? Karena cinta dan hatimu sudah milik wanita itu, iya?" skak Tsamara, memandang nanar akan sosok lelaki yang begitu dicintainya.


Bimantara terdiam dengan wajah yang penuh rasa bersalah. Entahlah kenapa hati pria itu sakit bagai ditusuk oleh ribuan jarum kala melihat wajah sendu sang istri. Sepasang mata indah nan jernih memerah dengan butiran kristal yang terus membasahi pipi.

__ADS_1


"Maafkan, aku, Tsa. Aku tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu darimu," ucap Bimantara lirih bagaikan desau angin di musim gugur.


"Kenapa harus meminta maaf, Kak? Di sini, akulah yang salah karena terlalu memaksakan kehendakku sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu selama ini terhadapku. Aku memanfaatkan kedekatan keluarga kita untuk menjeratmu dalam sebuah hubungan yang rumit. Andai saja aku menolah rencana pernikahan kita mungkin saat ini kamu dan dia sudah bisa bersatu. Namun, aku malah hadir dan menghancurkan semua impian kalian hingga pada akhirnya Kakak dan dia bermain api di belakangku."


"Tsamara, aku--" Seketika, lidah Bimantara terasa kelu. Semua kata yang ingin disampaikan sirna begitu saja. Sang CEO tidak tahu harus berkata apa lagi untuk dapat membela diri di hadapan semua orang.


Tsamara mengusut kembali air matanya yang terus meluncur di kedua pipinya. "Dulu Kakak pernah bertanya kepadaku bagaimana kalau seandainya kamu ingin berpisah denganku. Saat itu aku menjawab tidak akan membiarkan Kakak pergi walau hanya sedetik saja. Namun, hari ini aku sadar bahwa sejatinya dirimu memang tidak pernah ingin hidup bersamaku. Oleh karena itu, aku akan melepaskanmu, Kak. Aku merelakan dirimu mencari kebahagiaanmu sendiri."


Dengan derai air mata yang berlinang deras, Tsamara meninggalkan Bimantara seorang diri di lorong lantai delapan. Namun, baru beberapa langkah ia kembali menghentikan langkahnya. Menoleh ke belakang sambil berkata, "Aku akan mengurus surat perceraian kita agar kamu bisa segera menikahi Emma secepatnya. Selamat tinggal, Kak Bima."


***


Tsamara memutuskan pulang ke apartemen dalam keadaan perut kosong. Niat hati memberikan kejutan untuk suami tercinta, ia malah mendapatkan kejutan dari pria yang berstatuskan sebagai suaminya.


Dada Tsamara sesak bagaikan dihimpit bongkahan batu besar dan hati gadis itu sakit luar biasa. Gadis itu kembali terisak kala membayangkan bagaimana suara Bimantara saat menyebutkan nama Emma saat mengalami pelepasan. Tidak menduga kalau Bimantara lebih memilih menebarkan benih di rahim wanita lain dibanding rahim istrinya sendiri.


"Nona, tujuan Anda mau ke mana?" tanya sang sopir yang duduk di balik kemudi. Sejak tadi terdiam sambil sesekali mencuri pandang ke arah belakang lewat kaca spion.


"Antarkan saja saya ke taman di Jln. Noveltoon, Pak," jawab Tsamara dengan tubuh yang masih gemetar hebat.


Tanpa banyak cakap, sopir taxi itu melajukan kendaraan roda empatnya menuju lokasi yang dituju. Pria itu tak ingin menggangu penumpangnya yang tengah menangis seorang diri di belakang sana.

__ADS_1


Setelah sampai di tujuan, Tsamara memilih bangku taman yang tempatnya cukup jauh dari pandangan semua orang. Sengaja memilih tempat itu sebab ia ingin menenangkan diri tanpa ingin diganggu oleh siapa pun.


Pandangan mata menatap lurus ke depan, memperhatikan ikan koi yang terus berenang ke sana kemari. Ia selalu menghabiskan waktu berjam-jam di taman bila suasana hatinya sedang sedih.


"Ini semua salahku. Andai saja aku tahu kalau ternyata Kak Bima mencintai Emma, aku sudah pasti tidak akan menyetujui rencana perjodohan ini. Maafkan aku, Kak Bima," isak Tsamara dengan tangis yang mulai mereda. Mata gadis itu sembab karena sejak tadi terus menangis. Tubuh gadis itu terasa lelah dan ingin sekali beristirahat. Hanya saja ia belum sanggup bila harus bertemu kembali dengan Bimantara.


"Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Anggap saja semua ini merupakan ujian dari Tuhan yang harus kamu lewati sebelum akhirnya dirimu menjadi lebih dewasa lagi," kata seorang pria berkemeja abu-abu panjang digulung hingga sebatas siku.


Pria itu duduk di sebelah Tsamara, kemudian menyerahkan sehelai sapu tangan dari saku celana kemudian menyerahkannya kepada dokter cantik. "Hapus air matamu dan jangan biarkan butiran kristal itu terus membasahi pipi!"


Buru-buru Tsamara mengusut air mata agar seseorang yang baru saja duduk di sebelahnya tak melihat cairan bening yang meleleh.


Tsamara mendongakan kepala. Alangkah terkejutnya dia saat mendapati sepasang mata sipit menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dokter Yudhis? Bagaimana Anda bisa ada di sini? Bukankah tadi Anda sudah pulang ke rumah, lalu kenapa Dokter malah ada di sini?"


"Kenapa? Memangnya saya tidak boleh ada di taman ini?" tanya Yudhistira dengan tatapan penuh selidik.


.


.


.

__ADS_1


Halo, selamat malam semua. Author mau mempromosikan karya milik temen author nih. Yuk langsung dikepoin di aplikasi kesayangan kita semua.



__ADS_2