Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Petuah Bijak Dokter Fatma


__ADS_3

"Jangan bercanda kamu, Bima! M-mana mungkin Pak Irawan mengambil kembali jabatan yang telah diberikannya kepadamu?" kata Emma dengan kepala menggeleng ke kanan kiri. Sungguh, ia tidak menduga kalau Bimantara yang notabene merupakan penerus tunggal Danendra Grup ikut didepak dari perusahaan tersebut. Padahal, hanya lelaki itu saja yang berhak meneruskan tongkat estafet kepemimpinan.


Bimantara menatap sendu ke arah Emma. "Untuk masalah ini mana mungkin aku bercanda, Emma. Demi Tuhan, aku enggak bohong sama kamu. Aku dipecat oleh Pak Irawan Danendra, sosok lelaki yang tak lain adalah pemilik perusahaan ini sekaligus papa kandungku sendiri."


Lemas sudah tubuh Emma. Detik itu juga tubuh wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang hingga mentok di dinding. Dunia dan segala seisinya terasa runtuh, menimpa dirinya hidup-hidup tatkala Bimantara mengatakan jika saat ini dia tidak lagi menjabat sebagai CEO perusahaan.


Bagaimana Emma melanjutkan hidup jika satu-satunya harapan wanita itu untuk bersandar ternyata mengalami kesialan yang sama dengannya? Akankah ada perusahaan besar yang mau menerima dirinya bekerja jika seandainya mereka tahu bahwa saat ini sang sekretaris tengah hamil di luar nikah? Jika tidak ada, lalu bagaimana mereka menjalani kehidupan ini sedangkan ada kehidupan baru di dalam rahimnya saat ini?


Banyak pertanyaan menari indah dalam benak Emma saat ini. Kepala wanita itu terasa pening dan rasanya mau meledak detik ini juga. Wajah cantik itu memucat, matanya terasa berkunang-kunang.


Semakin lama, kunang-kunang itu semakin memenuhi pandangan Emma. Tubuh wanita itu terasa lemas dan akhirnya roboh tak berdaya.


"Emma!" Bimantara dengan sigap menopang tubuh lunglai sang kekasih. Mata wanita itu terpejam tak sadarkan diri.


Emma jatuh pingsan karena semua kemalangan yang menimpa dirinya datang bertubi-tubi. Dia belum bisa menerima semua kenyataan ini, sebuah kenyataan bahwa dirinya dan Bimantara menjadi pengangguran.


***


Emma menyenderkan punggung di headboard tempat tidur, dia baru saja sampai di unit apartemen yang disewakan oleh sang kekasih selama satu tahun ke depan.


"Kamu ingat 'kan, pesan dokter apa sebelum pulang ke sini. Kamu harus banyak istirahat dan hindari stress. Aku enggak mau kejadian ini terulang lagi kepadamu," tutur Bimantara mengingatkan sang kekasih.


Emma melirik tajam ke arah Bimantara, kemudian mendengkus kesal. "Bagaimana enggak stress kamu aja akhir-akhir ini menghindari aku," kata wanita itu seraya memalingkan wajah ke arah lain. "Aku ini sedang hamil anak kamu, tapi kamu sama sekali enggak perhatian sama aku. Kamu menghilang begitu saja bagai ditelan bumi. Mau ketemu susahnya minta ampun."


Bimantara duduk di tepian ranjang Emma, kemudian menyentuh tangan wanita itu dan mencium punggung tangan sang kekasih. "Bukannya ingin menghindar, tapi aku butuh waktu untuk menata kembali hidupku setelah bercerai dari Tsamara. Belum lagi berita di luaran sana semakin hari semakin panas. Bagaimana kalau misalkan kita bertemu, kemudian ada paparazi memergoki kita tengah berduaan maka berita yang mengatakan bahwa aku bercerai dari Tsamara karena kehadiran orang ketika terbukti benar. Mereka pasti memburu kamu juga."

__ADS_1


"Emma, Sayang. Saat ini kamu tengah mengandung anakku dan itu membuatku was-was. Aku ... takut terjadi hal buruk menimpa anak kita. Mengerti?" imbuh Bimantara dengan nada lembut. Secara perlahan memberi pengertian kepada Emma agar wanita itu tidak lagi berpikiran negatif.


Masih dengan wajah cemberut, Emma menjawab, "Alasan! Bilang saja kalau mau lari dari tanggung jawab."


Bimantara menghela napas kasar. Sumpah demi apa pun, dia tidak ada niatan sama sekali untuk lari dari tanggung jawab. Dia akan menikahi Emma, tetapi tidak sekarang. Menunggu sampai waktunya tiba di mana dia meresmikan hubungan mereka ke jenjang lebih serius lagi.


Mantan CEO Danendra Grup tidak mau menikahi Emma secara siri, karena itulah dia menunggu waktu yang tepat untuk mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA.


"Sudahlah, jangan banyak berpikir negatif! Sebaiknya kamu istirahat sekarang. Malam ini aku akan tidur di sini, menjaga dan merawatku sampai kamu benar-benar pulih."


Tangan kekar itu membantu merebahkan tubuh Emma di atas pembaringan. Menarik selimut hingga menutupi kaki dan bagian dada kekasih tercinta. "Tidur yang nyenyak. Aku akan berada di sisimu selalu." Bimantara mencium kening kekasihnya dengan penuh perasaan. Setidaknya ada Emma dan calon anak mereka menjadi penghibur di saat segala musibah datang melanda.


***


Sementara itu, Tsamara baru saja menyelesaikan tugasnya siang hari itu. Sejak tadi pagi hingga pukul sebelas siang, banyak pasien datang silih berganti. Mulai dari pasien dengan diagnosa serangan jantung sampai korban kebakaran secara bergantian masuk ke ruang IGD. Beruntungnya saat itu dia tak seorang diri, ada Yudhistira serta dokter Fatma berjaga pagi hari itu.


Sebagai dokter penanggung jawab di IGD, apabila ada salah satu rekan sejawatnya tertimpa musibah tentu saja dia harus berempati. Terlebih Tsamara merupakan salah satu dokter muda berprestasi di rumah sakit tersebut sehingga dokter Fatma ingin memberikan support kepada rekan sejawatnya itu.


Tsamara tersenyum getir, mencoba menahan buliran air mata agar tak membasahi pipi. Hati gadis itu masih terluka akan pengkhianatan yang dilakukan Bimantara di belakangnya jadi tidak heran kalau saat ini dia menjadi lebih sensitif dari biasanya.


"Terima kasih, Dokter Fatma. Do'akan saya semoga sabar menjalani semua ujian ini," kata Tsamara. Pandangan mata gadis itu mulai kabur. Buliran kristal itu semakin lama semakin menumpuk di kelopak mata.


Sebagai sesama wanita yang pernah mengalami kegagalan berumah tangga, sudah pasti dokter Fatma mengerti bagaimana rasanya berpisah dengan seseorang yang dicintai terlebih perpisahan itu disebabkan oleh kehadiran orang ketiga tentu saja memberikan luka teramat besar di dalam hati dan entah apakah luka itu akan cepat sembuh atau bahkan membekas untuk selamanya.


Dokter Fatma beringsut mendekati kursi Tsamara, kemudian dia memeluk anak sulung dari pebisnis hebat di tanah air. "Jika kamu ingin menangis, menangislah. Jangan ditahan-tahan!" kata wanita paruh baya itu. "Siapa tahu dengan menangis dapat meringankan sedikit penderitaanmu."

__ADS_1


Mendengar perkataan itu membuat Tsamara tidak tahan, dia menangis tergugu dalam pelukan dokter Fatma. Gadis cantik bermata almond mencurahkan keluh kesahnya lewat tangisan. Beruntungnya saat itu di ruangan khusus dokter hanya ada mereka berdua hingga Tsamara tidak perlu malu saat menangisi nasib malang yang menimpa dirinya.


Cukup lama Tsamara menangis dalam pelukan dokter Fatma hingga akhirnya gadis itu merasa sedikit lega karena bisa mencurahkan isi hati yang terdalam lewat tangisan. "Dokter Fatma, terima kasih karena sudah bersedia menjadi tempat keluh kesah saya. Maaf kalau sampai membuat pakaian Dokter basah akibat air mata saya." Sepasang mata almond cukup terkejut saat melihat bagian belakang snelli putih yang dikenakan basah oleh air matanya.


Dokter Fatma terkekeh pelan melihat ekspresi Tsamara. Tingkah gadis itu terlihat begitu menggemaskan. Pantas saja Dokter Yudhis menyimpan rasa pada gadis ini, ternyata dia memang tampak menggemaskan saat sedang panik begini.


"Tidak perlu merasa bersalah begitu, Dokter Tsamara. Itu merupakan hal wajar bagi seseorang jika dia sedang menangis. Lagi pula, ini hanya pakaian nanti juga kering sendiri," imbuh Dokter Fatma lembut.


"Sebagai wanita yang pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga, saya cuma bisa memberikan sedikit nasihat yang siapa tahu dapat berguna bagimu. Sakit hati dan kecewa wajar dialami oleh seorang wanita pasca bercerai dari suaminya. Dulu, saya pun mengalami hal serupa denganmu, tapi kejadian itu tak berlangsung lama sebab saya sadar ada banyak hal di dunia ini yang perlu kita pikirkan selain meratapi musibah dari Tuhan."


"Akan terasa sia-sia jika terus terpuruk dalam kubangan yang sama sedangkan kita tidak pernah tahu apakah mantan suamimu menyesali perpisahan kalian atau tidak. Daripada waktumu terbuang sia-sia lebih baik gunakan waktumu untuk kegiatan lainnya seperti berlibur ke suatu tempat atau mengunjungi yayasan panti asuhan untuk berbagi dengan orang membutuhkan. Itu jauh lebih baik ketimbang menangisi lelaki berengsek tukang selingkuh seperti suamimu."


Dokter Fatma menyodorkan selembar tisu ke hadapan Tsamara. "Segala sesuatu yang menimpa dirimu, yakin dan percayalah jika suatu saat nanti akan masa di mana kamu mendapat kebahagiaan, buah dari kesabaranmu selama ini. Dan jika kebahagiaan itu datang menghampiri dalam bentuk apa pun, jangan pernah kamu lepaskan."


Usai mengucapkan kalimat terakhir, dokter Fatma keluar dari ruangan khusus bagi para dokter beristirahat. Rupanya, sejak tadi mereka berbincang ada sepasang mata melihat dan menguping pembicaraan antara kedua wanita itu.


Mengetahui dirinya sedang diperhatikan oleh seseorang, dokter Fatma berkata, "Jika dulu saya melarangmu mendekati Dokter Tsamara karena statusnya telah menjadi istri orang, kali ini saya mendukung penuh keputusanmu untuk mendekati gadis itu. Gunakan caramu untuk mengobati luka di hatinya."


"Dokter Tsamara adalah gadis baik jadi saya harap kamu bisa membahagiakannya," sambung Dokter Fatma sembari berlalu meninggalkan sosok lelaki yang tengah bersembunyi di balik tiang penyangga ruangan.


.


.


.

__ADS_1


Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya. 👇



__ADS_2