Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Memangnya Kalau Janda, Kenapa?


__ADS_3

Sementara itu di tempat Yudhistira, ternyata selama tidak bekerja di rumah sakit pria itu sibuk merawat Latifah. Mamanya sudah diprediksi tidak bisa hidup lebih lama lagi. Tentu saja Yudhistira sangat sedih dan memanfaatkan waktu bersama sang mama di rumahnya. Setiap hari, Yudhistira merawat mamanya dengan penuh kasih sayang.


Namun, meskipun dia merawat mamanya, hati dan pikirannya pun berada di tempat lain.


“Tsamara, aku kangen banget sama kamu. Tapi, gimana lagi, aku nggak ada waktu untuk hubungi kamu.” Yudhistira bermonolog.


Pagi ini, Yudhistira pun menjalankan rutinitasnya selama satu bulan ini. Dia menyiapkan sarapan untuk mamanya dan membawa ke kamarnya. Yudhistira membuka pintu kamar sang Mama. Latifah yang sedang duduk di dekat jendela kamarnya, merenungi nasibnya pun menoleh.


“Selamat pagi, Ma. Cantik sekali hari ini,” Yudhistira tersenyum sambil melangkah menuju meja yang ada di kamar sang mama.


Latifah yang sedang duduk di kursi roda di dekat jendela pun hanya tersenyum melihat anaknya yang begitu perhatian dan peduli padanya. Latifah hendak menjalankan kursi rodanya, tetapi Yudhistira segera menghampiri sang mama setelah meletakkan sarapannya.


“Sini biar Yudhis yang dorong kursi roda Mama.” Yudhistira pun mendorong kursi roda mamanya menuju meja yang ada di samping ranjang Latifah.


“Makasih, Yudhis kamu udah mau ngerawat Mama dengan telaten. Mama ngerasa bersalah padamu,” ucap Latifah.


“Mama nggak usah ngucapin terima kasih, memang sudah sewajarnya Yudhis ngerawat Mama.” Yudhistira pun tersenyum.


Yudhistira selalu berusaha terlihat ceria di depan Latifah meskipun hatinya begitu sedih. Yudhistira sedih karena dia begitu merindukan Tsamara. Setelah lama tidak bisa bertemu dan berkomunikasi dengan Tsamara, pria itu semakin yakin kalau dia memang sangat mencintai wanita bermata almond itu. Namun, Yudhistira tidak boleh menampakkan kemurungannya di depan sang mama.


Setelah Latifah sudah ada di depan meja makan yang ada di kamarnya, Yudhistira pun mengambilkan makan sang mama. Setelah itu, dengan sangat telaten, Yudhistira menyuapi Latifah, padahal Latifah menolak untuk disuap. Namun, Yudhistira tetap kekeuh menyuapi sang mama sampai habis.


Latifah terus menatap Yudhistira, dia merasa anaknya itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Walaupun dia terlihat begitu ceria, tetapi sebagai seorang ibu, Latifah bisa melihat ada yang berbeda dari anaknya. Selama ini, Latifah hanya diam, tetapi semakin ke sini, Yudhistira kian terlihat murung. Matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Akhirnya, Latifah pun bertanya pada anaknya tentang perubahan sikapnya itu.


“Yudhis, Mama perhatikan akhir-akhir ini kamu berbeda. Kamu sedikit berubah.” Latifah menatap sang anak dengan dalam.


Yudhistira pun kaget mendengar pertanyaan sang mama. Padahal dia sudah berusaha menyembunyikan kemurungannya, tetapi Latifah masih bisa mengetahuinya. Yudhistira masih membeku, dia tidak tahu harus menjawab apa.


“Yudhis, ada apa? Kenapa, kok, malah diam?” tanya Latifah lagi.


Yudhistira menghela napas panjang. Dia menaruh piring yang ada di tangannya karena Latifah sudah selesai sarapan. Kemudian, dia tersenyum menatap Latifah.

__ADS_1


“Yudhis nggak apa-apa, kok, Ma. Nggak ada masalah,” jawab Yudhistira sambil tersenyum.


“Mama nggak percaya, kamu beda Yudhis. Kamu kelihatan murung, apalagi setelah hampir satu bulan kamu menemani dan merawat Mama. Pasti ada yang kamu sembunyikan.” Latifah terus mendesak Yudhistira untuk cerita perihal masalahnya.


Yudhistira pun menarik napas dalam. Kemudian, pandangannya menatap lurus ke depan. Dia terbayang wajah cantik Tsamara. Haruskah aku cerita pada Mama jika aku mencintai Tsamara? Yudhistira bertanya dalam hati. Sementara Latifah terus menunggu jawaban dari Yudhistira sebab, dia merasa khawatir terhadap anak angkatnya itu.


“Yudhis,” panggil Latifah karena melihat Yudhistira melamun.


“Iya, Ma,” sahut Yudhistira.


“Kok, malah melamun. Ayo cerita,” ucap Latifah lagi.


“Hmmm, sebenarnya memang Yudhis sedang memikirkan seorang wanita, Ma.” Yudhistira menjawab sambil menatap sang mama.


“Maksudnya?” tanya Latifah sambil mengernyitkan dahinya.


“Yudhistira sebenarnya mencintai seorang wanita, Ma. Dia ... teman Yudhistira di IGD. Kami sering bersama, kerja selalu bareng-bareng hingga akhirnya benih-benih cinta tumbuh di hati Yudhis,” sahut Yudhistira.


Tiba-tiba bayangan Tsamara berkelebat di depan mata. Yudhistira memang sangat merindukan Tsamara, wanita yang begitu memesona menurut Yudhistira.


“Yudhistira nggak tahu wanita itu mencintai Yudhis juga atau tidak. Yudhistira ragu untuk menyatakannya, Ma.” Yudhistira menarik napasnya dengan panjang dan mengembuskannya perlahan.


“Kalau kamu nggak mengungkapkan rasa cintamu, gimana kamu bisa tahu perasaan dia padamu, Yudhis.” Latifah tersenyum menatap Yudhistira.


“Yudhis takut, Ma, Yudhis takut kecewa.” Akhirnya, itu yang keluar dari mulut Yudhistira.


“Kenapa harus takut? Cinta harus diungkapkan Yudhis, jangan sampai kamu menyesal nantinya. Cinta jangan hanya dipendam, tapi harus diungkapkan. Perjuangkan cintamu, Mama akan mendukungmu.” Latifah menepuk pundak Yudhistira sambil tersenyum.


“Siapa nama wanita yang sudah menarik hati anak Mama ini?” lanjut Latifah.


“Tsamara, Ma. Dia wanita yang baik, memiliki mata yang begitu indah.” Yudhistira menjawab sambil tersenyum. Namun, senyumnya tiba-tiba menghilang mengingat status Tsamara.

__ADS_1


“Kenapa murung lagi? Udah perjuangkan cinta kamu, kamu harus yakin jika cintamu akan berbalas.” Latifah memberi semangat pada Yudhistira.


“Tapi, Ma ... apa Mama akan menyetujui hubungan kami nantinya?” tanya Yudhistira ragu-ragu.


“Memangnya kenapa Mama tidak menyetujuinya? Jelas Mama akan sangat setuju, apalagi umur Mama tidak lama lagi, jadi sebelum Mama meninggal akan bisa melihat kamu menikah dengan wanita yang kamu cintai.” Latifah tersenyum.


“Ma, jangan ngomong seperti itu, Yudhis nggak suka,” ucap Yudhistira dengan sendu.


“Faktanya memang seperti itu, kan, Yudhis?” tanya Latifah.


“Nggak, Ma, itu hanya prediksi dokter. Mama akan sembuh, Yudhis yakin sekali.” Yudhistira memberi semangat pada Latifah agar mamanya memiliki semangat untuk sembuh.


“Udah lupakan keadaan Mama. Sekarang kamu harus fokus dengan wanita yang kamu cinta itu.” Latifah mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Yudhistira kembali bersedih.


“Apa pun status Tsamara, Mama akan merestui?” tanya Yudhistira.


“Tentu saja, Yudhis,” sahut Latifah dengan yakin.


“Sekalipun dia janda?” Yudhistira bertanya lagi.


Mata Latifah membulat sempurna ketika mendengar pertanyaan Yudhistira, tetapi sedetik kemudian kembali normal.


“Memangnya Tsamara janda?” tanya Latifah.


“Iya, Ma,” jawab Yudhistira dengan perasaan was-was. Dia khawatir Latifah akan meminta Yudhistira melupakan Tsamara.


“Lalu, apa yang salah dengan janda? Nggak ada wanita di dunia ini yang menginginkan menjadi seorang janda.” Latifah tersenyum pada Yudhistira.


Yudhistira bernapas lega setelah mendengar jawaban Latifah. Satu jalan sudah terlewati. Restu dari Latifah sudah didapat. Selanjutnya dia harus berjuang untuk mendapatkan hati Tsamara.


“Terima kasih, Ma. Mama memang terbaik.” Yudhistira langsung memeluk Latifah dengan erat.

__ADS_1


“Kebahagiaan kamu yang paling utama, Yudhis.” Latifah mengusap-usap punggung Yudhistira.


Yudhistira mengurai pelukan, lalu mencium kedua pipi Latifah bergantian saking bahagianya. Latifah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Yudhistira.


__ADS_2