
"Pak Irawan? S-sedang apa Bapak di sini?" tanya Emma terbata. Tubuh wanita itu membeku di tempat saat netranya menangkap sosok pria paruh baya tengah duduk manis dengan kedua tangan diletakkan di atas meja seraya menopang dagu menggunakan kedua punggung tangan. Meskipun baru pertama kali bertemu dengan Irawan saat masih di London, tetapi wanita itu masih mengingat jelas wajah dari papa kandung sang kekasih.
Irawan tersenyum smirk. "Apa saya harus punya urusan dulu baru boleh datang ke sini, hem?"
Emma menggeleng kepala lemah. "T-tidak, Pak. Bapak punya kebebasan untuk datang sesuka hati ke perusahaan ini tanpa harus menunggu ada urusan terlebih dulu."
"Nah ... itu kamu tahu!" tutur Irawan. "Baguslah kalau kamu sadar jika saya adalah pemilik perusahaan ini. Tadinya saya hendak memberikan ceramah panjang lebar, memberitahuku jika Danendra Grup didirikan oleh kakek moyang saya terdahulu. Namun, karena Nona Emma tahu jadi saya langsung saja pada tujuan utama kenapa memanggilmu ke sini." Pria paruh baya tidak ingin berbasa basi terlalu lama. Udara di ruangan itu terasa pengap saat dia tinggal dalam satu ruangan dengan kekasih gelap Bimantara.
Kedua alis Emma saling tertaut satu sama lain, mencoba menebak apa yang hendak dikatakan oleh papa dari kekasih tercinta. "Memangnya kenapa Bapak memanggil saya? Apa Bapak butuh bantuan saya untuk melakukan sesuatu?" Masih belum menyadari bahwa akan ada badai besar menghadang setelah Irawan mengatakan maksud dan tujuannya meminta Emma ke ruangan CEO.
Irawan bangkit dari kursi kebanggannya yang selama puluhan tahun menjadi singgasananya saat menjalankan tugas sebagai CEO sekaligus pemilik perusahaan turun temurun dari keluarganya. "Saya tidak membutuhkan bantuanmu, Nona Emma. Meskipun saya membutuhkan bantuan seseorang, lebih baik saya meminta orang lain untuk mengerjakannya daripada meminta sekretaris plus-plus sepertimu." Perkataan itu begitu menohok bagi Emma.
Tangan Emma mengepal sempurna di samping kanan kiri. Rahang wanita itu mengeras mendengar perkataan bernada sindiran ditujukan kepadanya. Ternyata sikap Pak Irawan tidak pernah berubah sejak dulu. Di mata lelaki itu, aku tak pernah mempunyai kesan baik.
"Begini Nona Emma yang terhormat, maksud dan tujuan saya memanggilmu ke sini hanya ingin memberikan ini kepadamu." Irawan menyodorkan amplop putih ke hadapan Emma. "Itu adalah surat pemecatanmu. Mulai detik ini, kamu sudah tidak lagi bekerja di perusahaan ini. Kamu ... saya pecat!" sambung pria itu dengan suara lantang.
Bola mata Emma membulat lebar saat mendengar perkataan Irawan. Dengan tangan gemetaran, dia meraih amplop tersebut kemudian membaca isi suratnya. Tulisan dari surat tersebut begitu mencolok mata sang sekretaris.
__ADS_1
"K-kenapa saya dipecat, Pak? Apa saya melakukan suatu kesalahan?" tanya Emma mencoba menanyakan alasannya kenapa dia sampai dipecat dari perusahaan yang baru jalan tiga bulan menjadi tempatnya mengais rezeki. Seingatnya dia bekerja dengan baik tanpa melakukan kesalahan sedikit pun tapi kenapa Irawan memecatnya.
Irawan mendengkus kesal. "Masih pura-pura tidak mengerti. Saya memecat kamu karena tidak ingin perusahaan ini hancur gara-gara manusia tidak bermoral sepertimu. Kamu dan Bima melakukan hubungan terlarang di belakang Tsamara, menantu saya. Kalian menggunakan tempat ini sebagai tempat menyalurkan hasrat terlarang di antara dua manusia Iblis tukang zina."
"Kakek moyang saya mendirikan perusahaan ini dengan tujuan memberikan lapangan pekerjaan kepada orang-orang yang membutuhkan. Namun, kamu malah menggunakan perusahaan ini sebagai tempat bercocok tanam. Benar-benar gila!" sembur Irawan dengan berapi-api. Deru napas pria itu memburu disertai dada kembang kempis.
"Oleh karena itu, saya memecatmu karena tidak mau perusahaan yang dibangun susah payah oleh para leluhur hancur begitu saja," sambung Irawan. "Jadi, sebaiknya kamu tinggalkan kantor ini dan jangan pernah kembali lagi!"
"Tapi, Pak. Saya--"
"Cukup, Nona Emma! Saya tidak butuh penjelasan apa pun darimu," sergah Irawan dengan mengangkat kedua tangan ke udara. "Jika kamu memikirkan soal pesangon, maka tidak perlu khawatir karena saya tetap membayar jerih payahmu selama bekerja di sini. Saya bukanlah seorang pemimpin dzalim yang mempekerjakan orang lain tanpa memberinya upah atas kerja kerasnya selama ini. Akan ada bagian bendahara memberikan amplop berisi uang kepadamu. Dengan uang itu bisa kamu gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari."
"Sialan! Apes sekali sih hidupku. Kenapa aku dipecat dari perusahaan ini di saat diriku baru saja menikmati semua fasilitas yang diberikan perusahaan." Mengusap wajah secara kasar menggunakan telapak tangan. "Aargh, kalau begini mau tidak mau harus mengembalikan semua fasilitas kantor."
Emma kembali menghentakkan kaki di atas lantai, kemudian memutuskan kembali ke meja kerja. Uang pesangon yang dijanjikan Irawan sudah berada dalam genggaman. Kini saatnya dia merapikan semua barang miliknya.
Akan tetapi, saat Emma mengayunkan kaki menuju meja kerjanya, dia tanpa sengaja berpapasan dengan Bimantara. Wajah pria itu begitu kusut sekali.
__ADS_1
"Bima, kok kamu lesu begitu. Apa yang terjadi kepadamu?" kata Emma seraya memperhatikan wajah Bimantara dengan seksama. Jari telunjuk dan ibu jari menjepit ujung dagu sang kekasih. Digerakan ke kanan dan kiri sambil mengamati wajah tampan nan rupawan.
Alih-alih menjawab, Bimantara malah terdiam seribu bahasa. Kedua netra saling berpandangan satu sama lain.
"Bima, ceritakan kepadaku, apa yang terjadi denganmu?" Emma masih berusaha mencari tahu penyebab kemurungan wajah Bimantara. Dia semakin penasaran dibuatnya.
Bimantara menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Aku baru saja menghadiri rapat bersama para pemegang saham. Dalam pertemuan kali ini, Papaku ikut hadir dan beliau mengumumkan bahwa mulai saat ini ... aku bukan lagi CEO perusahaan. Jabatanku diambil kembali oleh Beliau."
"Apa?" seru Emma dengan ekor mata terbelalak sempurna bahkan nyaris copot dari tempatnya saking terkejutnya saat mendengar berita tak sedap yang disampaikan Bimantara.
.
.
.
Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya. 👇
__ADS_1