Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Pisah Rumah


__ADS_3

"Aakh ...." Bimantara meringis kesakitan ketika tangan lentik Tsamara mengompres luka lebam di wajah menggunakan es batu yang dibungkus kain.


Tsamara begitu telaten mengobati luka Bimantara akibat dihajar oleh sang papa. "Minumlah obat pereda nyeri bila lukamu masih terasa sakit dan semakin membengkak. Untuk luka robek di bagian sudut bibirmu sudah aku obati. Kemudian, selang dua hari mintalah asisten rumah tangga menyiapkan handuk hangat untuk mengompres bagian wajahmu agar aliran darah meningkat dan warna memar pada wajahmu semakin memudar."


"Kenapa harus meminta asisten rumah tangga, bukankah ada kamu yang akan merawatku, Tsa." Bimantara memicingkan mata, menatap tajam akan sosok gadis cantik di hadapannya. Jarak di antara mereka hanya sekitar satu jengkal hingga sang CEO dapat merasakan embusan napas menerpa wajahnya. Aroma parfum gadis itu serta harumnya helaian rambut istri yang sebentar lagi berubah status menjadi mantan istri begitu harum, menggelitik indera penciuman.


Tsamara meletakkan kembali kain pembungkus es batu ke dalam sebuah wadah, kemudian ia membalas tatapan mata Bimantara. "Karena sebentar lagi kita akan bercerai. Oleh karena itu, mulai malam ini kita tinggal terpisah. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku, sedangkan kamu kembali ke apartemen. Lagipula, aku tidak mau Emma salah paham kalau sampai dia tahu kita masih tinggal satu atap."


Seketika Bimantara terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Tsamara. Raut wajah pria itu berubah suram saat membayangkan mereka akan hidup secara terpisah. Seharusnya ia merasa bahagia karena bisa terbebas dari belenggu cinta Tsamara. Namun, nyatanya ia pun terluka atas luka yang ditorehkan kepada Tsamara.


"Aku mau ke dapur, meminta asisten menyiapkan makan siang untukmu. Kamu istirahatlah di sini. Aku segera kembali." Tsamara bangkit berdiri dan hendah meninggalkan Bimantara. Akan tetapi, ....


"Tsa, apa tekadmu sudah bulat berpisah dariku? Tidak bisakah kita hidup bersama seperti dulu lagi?" tanya Bimantara dengan suara lirih namun mengandung sarat penuh permohonan.


Perkataan Bimantara berhasil menghentikan langkah Tsamara. Memaksakan diri untuk tersenyum meski sejujurnya ia lelah bila terus berpura-pura tegar padahal hatinya teramat sakit.


"Tanpa perlu aku memberitahu, Kakak pasti sudah tahu jawabannya apa. Kita--"


Belum selesai Tsamara berbicara, suara lengkingan seseorang terdengar menggema ke penjuru ruangan.


"Bimantara! Bima, keluar kamu!" teriak seseorang membuat Tsamara dan Bimantara yang ada di kamar terkesiap beberapa saat. Sepasang suami istri itu saling menatap satu sama lain selama beberapa detik.


Sementara itu, Fahmi yang sedang merenungi nasib buruk menimpa anak tercinta terhentak ke belakang hingga tubuhnya terasa kaku saat mendengar suara menggelegar bagaikan gemuruh petir di siang bolong.

__ADS_1


"Berengsek! Siapa yang berani berteriak di rumahku!" umpat Fahmi kesal. "Akan kuhabisi orang itu karena telah membuat onar di istanaku!" gusarnya seraya bangkit dari kursi. Berjalan setengah berlari menuruni anak tangga satu persatu.


Ketika tiba di ruang keluarga, pria berusia hampir setengah abad berkata, "Siapa yang memberimu izin berteriak di rumahku, heh?" sembur Fahmi. Akan tetapi, senyuman sinis terlukis di wajah kala melihat sepasang suami istri paruh baya berdiri di seberang sana. "Oh ... ternyata sahabat terbaikku yang datang rupanya. Mari, silakan duduk. Kalian mau minum teh, kopi atau langsung bertemu dengan anak kalian yang berengsek itu!"


"Fahmi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa di telepon asisten rumah tanggamu berkata kalau Bimantara telah melakukan kesalahan. Memangnya kesalahan apa yang diperbuat anakku?" Hasna melepaskan lingkaran tangan di lengan sang suami. Wanita itu menghampiri sahabat sekaligus besannya.


Sedari tadi ia terus bertanya-tanya ada masalah apa yang menimpa rumah tangga anak serta menantu kesayangannya. Ingin mengajukan pertanyaan pada Irawan, tetapi raut wajah pria itu terlihat sangat kesal hingga membuatnya mengurungkan niatnya itu.


Tersenyum smirk seraya melipat kedua tangan di depan dada. "Kamu bersungguh-sungguh ingin mengetahui apa yang terjadi pada rumah tangga kedua anak kita?"


"Tentu saja! Cepat katakan apa yang terjadi pada mereka," jawab Hasna antusias.


Melirik sekilas kepada Hasna yang menatapnya dengan wajah memelas. Berjalan menjauhi istri dari sang sahabat dan malah mendekati Irawan. "Apa kalian tahu kalau anak semata wayang kalian tengah berselingkuh di belakang putriku?"


"Tapi itulah kenyataannya, Hasna. Anakmu telah menduakan putriku." Fahmi menjawab ketus diikuti senyuman sinis.


"Aku tidak percaya semua ucapanmu, Fahmi! Kamu ... pasti berbohong kepadaku. Iya, 'kan? Katakan padaku kalau kamu cuma sedang bergurau." Hasna menguncangkan pundak Fahmi, berharap semua yang dikatakan lelaki di hadapannya merupakan sebuah kebohongan.


"Aku pun berharap demikian. Namun, inilah kenyataan yang harus kita terima. Anak yang kamu banggakan rupanya seorang lelaki berengsek dan bajingan yang telah melukai hati putriku." Berkata lirih, bola mata mulai berkaca-kaca saat membayangkan betapa hancurnya perasaan Tsamara saat mengetahui suami tercinta telah menduakannya.


"Tidak! Itu tidak mungkin!" jerit Hasna meledakan tangisan. "Anakku tidak mungkin tega melakukan itu."


"Aku memang lelaki berengsek dan bajingan, Ma. Aku selingkuh dengan wanita lain." Suara lantang menggema memenuhi penjuru ruangan. Bimantara dan Tsamara memutuskan keluar dari kamar tamu yang terletak di lantai satu, mencari tahu apa yang sedang terjadi di ruang keluarga. Dan ... alangkah terkejutnya mereka saat mendapati Hasna tengah berteriak seperti orang kehilangan akal sehat di hadapan Irawan dan Fahmi.

__ADS_1


"Ma ... maaf karena aku tidak bisa menjadi anak yang Mama harapkan," ucap Bimantara lirih. Berlutut dan memegang erat tangan Hasna. Merasa bersalah telah mencoreng nama baik keluarga di hadapan keluarga Gibran.


Hasna mendelik ke arah Bimantara. "Katakan kepada Mama, sudah sejauh mana hubunganmu dengan wanita itu."


Menundukan pandangan, tak mampu menatap sepasang mata teduh yang mulai berkaca-kaca. "Kami ... telah melakukan hubungan yang selayaknya dilakukan oleh sepasang suami istri."


"Anak sialan! Memangnya Papa pernah mengajarkanmu menjadi lelaki berengsek?" sembur Irawan. Memandang penuh kecewa pada anak semata wayang. Ia terlihat sangat geram hingga harus mengepalkan telapak tangan dengan begitu erat.


"Bima ... k-kamu ...." Tubuh Hasna bergetar hingga Irawan segera maju dan menangkap istrinya sebelum terjatuh ke atas lantai. Ia sudah sangat syok mendengar Bimantara telah melakukan hubungan intim dengan wanita yang bukan pasangannya. Napas tersengal, wajah semakin memucat. Bibirnya ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak bisa.


"Ma ... Mama ...." teriak Irawan memanggil sang istri.


"Mama, maafkan aku. Aku mengaku salah." Bimantara hendak menyentuh tubuh Hasna, namun dihentikan oleh Irawan.


"Jangan pernah sentuh tubuh istriku dengan tangan kotormu itu, Bima!"


.


.


.


Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇

__ADS_1



__ADS_2