
Pada jam pada jam 02.00 pagi jonathan kembali kambuh.Karena dia masih di bawah kendali obat bius,dia hanya bergerak gerakan dan menggigil di ranjang tunggal nya.
Mama Jhonatan yang terkejut mendengar suara keras dari ranjang putra nya Itu, terbangun lagi.Begitu juga dengan papa Jhonathan.
Belum pernah jonathan mengalami masalah seperti ini biasanya jika dia sedang kambuh hanya sekali serangan saja. Benarlah yang dikatakan oleh dokter khans kemarin, kali ini Jhonathan memang mengalami serangan terburuk yang pernah terjadi.
Sampai disini tentu saja pasangan suami istri ini merasakan kebimbangan yang sangat besar. Mereka hanya bisa memeluk jonathan seraya menangisi penyakit yang sangat membingungkan ini.
"Anak ku . Hiks.. jhonatan sayang bertahan lah untuk Mama nak,Mama mohon huwaaa..." situasinya makin menjadi jadi karena tangisan mama Jhonathan.Papa pula sedang mengingat kan sang putra kepada yang mahakuasa.
"Jhonatan,sadar nak sadar, istighfar nak, astaghfirullah hal azim.., astaghfirullah hal azim.. nyebut ya nak nyebut, Allah hua Akbar " kata papa Jhonathan yang mengingat dia kepada Allah.Meminta pertolongan hanya kepada nya.
Jonathan baru saja menerima suntikan kurang dari dua jam tidak bisa lagi diberikan suntikan obat penenang yang jalan satu satunya hanya membantu n6a untuk tenang secara manual.
Namun tidak ada yang bisa di lakukan , pasangan ini semakin khawatir saja.Sulit bagi mereka untuk menenangkan Jhonathan juka dia sudah dalam kondisi ini.
Ada penyesalan yang datang tiba-tiba.Jika saja Jhonatan di rawat di rumah sakit ada dokter yang akan membantu nya saat ini.
Jika bukan karena saran dari dokter khans mereka tidak akan datang ke viila ini.Kata dokter dia perlu suasana sunyi untuk rehabilitasi awal.Jiwanya perlu di tenang kan terlebih dahulu.Tapi sekarang...
Dalam beberapa menit gerakan Jhonathan makin intens dan sangat menghawatirkan sekali.Papa langsung menelpon dokter khans lagi, menanyakan situasinya.Apa boleh memberikan satu dosis tambahan lagi.
Jawaban nya sama seperti yang sudah di duga, tidak bisa sama sekali.Tinggu beberapa jam lagi untuk memberi kan dosis ke dua.
Satpam dan supir juga datang dengan cepat.Malam ini mereka di takdir kan tidak bisa tidur.Jadi keduanya duduk di teras belakang seraya ngopi bareng.
Belum selesai minum satu gelas ,ada keributan lain di kamar utama.Mereak tau penyakit Jhonatan dan ikut prihatin karenanya.Jhonatan pria yang masih sopan pada pembantu di rumah. Jadi penyakit Jhonathan juga menjadi kebimbangan tersendiri untuk mereka.
"Ton siap kan mobil dulu untuk jaga jaga" kata satpam.
"Jangan tunggu di suruh, siapa tau nanti butuh ke rumah sakit"sambung nya lagi.Supir itu mengerti apa yang di katakan satpam tadi.
Toni sang supir segera berlari ke garasi ,dia langsung mengeluarkan mobil dan bersiap siap memanas kan mobil. Setelah mengeluarkan mobil dia kembali ke ruang utama.Menunggu waktu untuk eksekusi selanjutnya.
Di kamar lain Yana yang baru saja ingin menutup matanya tiba-tiba mendengar suara berisik di kamar sebelah.
Timbul lah rasa penasaran tentang apa yang terjadi di sana.Yana bangun mengambil kardigan nya lalu pergi ke kamar sebelah.
Yana berjalan pelan, melihat para pembantu rumah ini yang duduk di tempat terpisah namun dengan raut wajah khawatir.Di depannya ada kamar yang di yakini kamar tempat suara berisik itu berasal.
Kamar mereka tidak di tutup, beberapa pembantu duduk di ruang tamu menunggu pergerakan di dalam sana.Suasana tiba tiba menjadi menyeramkan.
Di kamar papa dan mama sudah Kewalahan memegang Jhonatan.Dokter menyarankan untuk mengikat nya dulu.Tidak bisa memberi suntikan tambahan.
Satpam sedang keluar mencari sesuatu untuk mengikat Jhonatan.
"Pah..., yang kuat pah"kata mama berusaha untuk tegar.
"Ya mah,,akhh...
Jhonatan tidak sadar tapi dia masih menggaruk dan mengigit .Papa memegang tangan nya agar tidak melukai diri sendiri namun dia tidak bisa menghentikan gigi Jhonathan yang menggiling nya.
Mama Jhonathan pula menegang kaki putra nya itu yang terus-menerus bergerak gerakan.
Suasana makin mencengkam apa lagi mama Jhonathan masih menangis dan mengutuk di tengah tengah kejadian.
Pasangan ini seperti nya kelelahan namun para pembantu juga tidak bisa membantu jika tidak di panggil ke dalam.
Yana melihat mereka perlu bantuan,dia sedikit ragu tapi akhirnya masuk juga.Dia baru tiba tapi bersikap santai masuk ke kamar orang.Tapi bukan kah dia di bayar mahal hanya untuk ini.
Dua ratus milyar bukan uang kecil.
Melihat papa Jhonathan yang kesakitan, Yana berinisiatif membantu nya .Ambil alih tangan Jhonathan yang satunya lagi.
Tak...
__ADS_1
Tangan Jhonathan tiba-tiba berhenti bergerak begitu di pegang oleh Yana.Malah cenderung melemah sedikit.
Papa yang di posisi ini, merasakan perubahan Itu.Dia sedikit terkejut karena nya.Putra nya berhenti dan sedikit tenang juga.Dia langsung menatap Yana dengan pandangan heran.
Namun Yana yang di pandang sedemikian rupa, merasa gugup .Dia secara spontan melepaskan tangannya nya lagi.Siapa tau si bapak nya marah putra nya di pegang oleh Yana yang kotor dan hina ini.
"Maaf.."kata Yana malu, tidak semua orang tua mau menerima latarbelakang dia sebagai penari telanjang.Dia tau itu.
Dua detik saja Yana melepaskan tangannya, Jhonathan kembali mengigil.Kali ini mulut nya mulai mengigit lidah nya.
"Pah..yoo.cepat yo,pah hati hati pah.Cari sesuatu pah" pekik mama Jhonathan.Biasanya kalau sudah begini papa lebih memilih merelakan tangan nya atau mencari benda seperti sendok makan untuk dia gigit .
Namun papa seperti tidak sadar, dia tidak melakukan sesuatu tentang ini.Jadi mama berteriak kencang yang membuat suara bergema.
Papa Jhonathan tersadarkan mendengar teriakan istrinya itu.Dia langsung menarik lagi tangan Yana seolah-olah meminta nya untuk memegang Jhonathan lagi.
Yana sempat terkejut tapi tidak menolak nya.Alhasil, Jhonathan lebih tenang dari sebelumnya.Dia malah menarik lengan Yana lebih keras.Menyimpan tangan sehalus giok itu di pelukan nya.
Yana tidak tau apa yang terjadi,dia pikir Jhonathan memang seperti ini setiap kali dia kambuh.
Dengan adanya Yana, tubuh Jhonathan semakin tenang seperti sedang di bius obat penenang.Gerakan di kaki juga tidak ada lagi.Mama Jhonathan yang berada di kaki akhirnya menyadari juga.
Yana adalah pemicu nya.
Satpam yang datang kemudian dengan tali,tiba tiba merasa sudah tidak diperlukan lagi.Tuan Jhonathan sudah di jinak kan.
Papa dan Mama Jhonatan akhirnya bisa duduk di ranjang.Meninggal kan Yana yang berdiri di ranjang tunggal Jhonathan dalam kondisi lengannya di peluk Jhonathan.
Papa dan mama saling pandang satu sama yang lain.Baju yang mereka pakai sangat basah kerena gerakan tadi.
"Pa seperti nya dokter khans benar pa.Mungkin ini akan berhasil" Kata mama pelan.Papa mengaguk setuju.Mengenai masalah besok,akan di pikir kan nanti.Yang jelas Jhonathan belum bisa di pisahkan dari gadis ini.Jadi dia memutuskan satu hal yang bertentangan dengan hati nurani nya sendiri.
"Yo bantu pindah kan Jhonathan di kasur kami,dan kau Yana Jangan lepas kan tangan mu itu.Nanti tidur di sini " kata papa Jhonathan.
"Ahh tuan aldelis,ini..."Tentu saja Yana bingung dengan perintah ini.Sedikit pun Yana tidak menyangka orang tua Reno aldelis ini berpikiran terbuka.Sangat jarang bertemu dengan orang tua seperti ini.
"Nggak apa apa,dia sedang sakit pasti nggak nakan neko-neko" kata Mama Jhonathan.
Satpam tidak tau tapi segera membantu papa Jhonathan , untuk memindahkan nya ke ranjang besar.
Jhonathan bertubuh besar dua lelaki tidak bisa mengatasi nya.Untung ada supir yang menunggu di depan kamar.Dia di panggil sebagai bantuan tambahan.
Dengan susah payah , akhir nya Jhonatan berhasil pindah ranjang.Dalam proses ini Yana sedikit pun tidak melepaskan tangan nya.
Setelah pindah tentu saja posisi Yana dan Jhonatan sedikit ambigu.Di lihat orang tua, Yana merasa tidak enak.
Pelan pelan dia ingin menarik lengannya lagi tapi...
"Jangan lepaskan,mama, mari ke kamar lain.Yana tetap di sini.Jika ada apa apa panggil kami"kata papa tegas.
Yana tidak menjawab, sepanjang karir dia di jalan dunia malam. Baru kali ini Yana merasakan apa itu rasanya malu.
Wajah putih nya berubah merah.
Satu persatu semua orang keluar dari kamar utama. Meninggalkan Yana dan Jhonathan berdua saja.
Papa dan mama Jhonathan adalah orang terakhir keluar dari kamar.
Ketika pintu kamar ditutup barulah Yana merasa sedikit lega dan nyaman.
Yana memandang Jhonathan yang sedang tidur seperti anak kecil. Jika sedang tidur begini,dia memiliki wajah polos tanpa dosa.Masih dengan memeluk lengannya seperti memegang sesuatu yang berharga.
"Jhonathan,tidur lah"kata Yana pelan.Sebagai ganti nya dia berbaring di sisi Jhonathan membiarkan pria itu memeluk nya seperti bantal guling.
Mungkin karena lelah,Yana akhirnya tertidur tidak akan kemudian.
__ADS_1
Akhirnya Jhonathan tenang sepanjang malam.Berbeda dengan malam malam sebelum malam di mana dia mulai kambuh lagi.
Saat itu Jhonatan sedang tidur, tapi dia mengalami mimpi buruk.
Dia sedang berada di sebuah ruangan tertutup penuh dengan bau darah di mana mana .Bunyi pisau beradu yang sangat menakutkan sekali.Sesekali pisau pisau itu terdengar seperti suara daging di potong dan erangan kesakitan yang teredam.Sangat mengerikan sekali.
Ada juga suara pisau sedang di asah, membuat Jhonathan berkeringat dingin.
Ingin rasanya Jhonathan menjerit tapi hatinya berkata ,jika itu tidak baik . Seseorang akan datang jika dia bersuara lebih banyak.Orang yang aan datang bukan orang baik . Jadi tutup mulut mu jangan biarkan dia datang mendekat.
Lama sekali Jhonatan di kamar gelap itu,dia tidak bisa tertidur sedikit pun.Rasa takut lebih mendominasi dari pada rasa kantuknya saat ini .
Dia pikir jika dia tertidur sebentar saja,seseorang akan datang dan dia tentu tidak punya waktu untuk kabur.
Entah berapa lama dia menunggu suara pisau itu berhenti . Tiba tiba ada tangan tidak kasat mata yang menekan Jhonatan dengan keras.Sesuatu itu meminta nya untuk memejamkan mata.
Di bawah ancaman seperti ini Jhonatan berhasil tertidur tapi tidak lama.Dia kembali terbangun dan berjaga jaga lagi agar orang yang di luar tidak bisa masuk.
Jhonatan menunggu dan menunggu untuk beberapa waktu lagi.Di sini dia menangis sedih.Tidak ada rasa malu sama sekali.Dia menangis dengan pelan.
Tiba-tiba ada suara yang akrab, suara itu mengatakan banyak hal.Suara mama dan papa yang meminta dia untuk kembali.Ada tangisan juga di sana.Tapi otak Jhonathan tidak bisa menangkap apa maksud suara suara Itu.
Tapi satu kali dia mendengar lagi beberapa kata.Dia mendengar tapi Yang dia tangkap hanya satu kata saja
Yana..
Jhonatan menjadi bersemangat mendengar nya,dia bangkit menuju pintu dan mencoba mengintip apa yang terjadi di balik pintu tertutup itu.Apakah sosok itu ada di seseorang yang dia tunggu sejak lama sekali.
Tidak ada yang bisa dia lihat di sana, semua nya hanya kegelapan yang tidak berujung.Namun suara pisau beradu masih terdengar begitu keras.
Jhonathan hanya bisa bergumam pelan.
"Yana... Yana..di mana kau "
Tidak ada jawaban atau pergerakan lain di balik pintu.Dia kesal sekaligus marah dan takut.Jhonathan menangis lagi dan menyusut ke sudut seperti bola.
Lama di posisi ini Jhonathan merasa makin emosi saja,dia sendirian di sisi.Di mana yang lainnya.Merasa prustasi Jhonathan bolak balik dari pintu ke sudut dinding.
Sesekali dia meninju dinding terdekat.Tidak puas sekali dia melakukan nya lagi dan lagi.
Buk..buk..buk..
Selagi dia meninju dinding,ada tangan seputih giok yang menyentuh nya .
Sentuhan yang familiar bagi Jhonathan.Hanya tangan saja tidak ada anggota tubuh yang lain tapi Jhonathan merasa nyaman dengan ini .
Hanya sesaat, tangan itu hilang tiba tiba. Jhonatan tersesat lagi.Dia mencari nya kemana mana.
Berbicara sendiri seperti orang hilang akal.Siapa yang menyembunyikan tangan tadi
"Kembali kan dia ,mana dia, siapa yang mengambil nya dari ku,kembali kan lagi untuk ku"Pekik Jhonatan ,dia sepenuh nya lupa dengan seseorang di balik pintu.Lalu tiba tiba tangan itu datang lagi.Kali ini dia tidak nakan membiarkan nya pergi seperti tadi.
Jhonathan menarik nya untuk di peluk dengan erat.Ini adalah tangan yang paling nyaman yang pernah dia rasakan.
Rasa marah dan kesal seketika hilang entah kemana.Berganti dengan rasa aman dan damai.Tidak dingin atau panas, sungguh nyaman.
Beberapa waktu kemudian tangan itu hilang lagi,meski baru sedetik Jhonatan kembali takut.
Namun dia tidak menyangka tangan itu kembali lagi.Bukan hanya tangan tapi ada sosok nya di sana.Sosos itu memeluk Jhonathan dan berkata lembut.
"Jhonatan, tidur lah, ayo tidur"kata suara itu.
Suara yang hangat , pelukan yang hangat.Entah kenapa Jhonatan akhirnya merasa tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi.Dia berkata dengan pelan.
"Oke ayo tidur"Jhonatan tertidur kali ini meskipun tidak ada paksaan seperti tadi. Tidur yang paling nyenyak sejak bertahun-tahun.
__ADS_1