PELET DESAH BIDADARI

PELET DESAH BIDADARI
CINCIN MUSTIKA GENDERUWO


__ADS_3

Malam itu mereka bertiga mabuk berat, tapi Angel lebih dulu tepar dan tertidur pulas.


Bram dan Jane saling mendekat dan saling melampiaskan hasratnya, karena Jane pun memang menginginkannya.


Entah efek minuman atau efek energi pelet pada cincin yang dipakai Bram, yang jelas Jane nampak terlihat agresif kepada Bram.


Gairah mereka meluap dan saling memberi rangsangan disamping Angel yang tertidur pulas.


Jane menyambut permainan luar biasa itu dengan penuh kenikmatan dan membalas dengan permainan yang membuat Bram seperti melayang ke puncak alam nirwana.


"Jane milikmu nikmat sekali,"


Ucap Bram penuh dengan pujian.


"Kamu juga sungguh luar biasa, Bram... Aku sangat menyukainya."


Balas Jane sambil menikmati permainan itu.


Kemudian mereka menuju puncak pelepasan kenikmatan itu bersama - sama.


Bram terkulai lemas disamping Jane, mereka saling berpelukan hangat dalam kemesraan...


***


Angel terbangun siang hari, sementara Bram sedang menikmati secangkir kopi diruangan depan rumah Jane.


" Eh, sudah terbangun rupanya.!"


"Iya, kepalaku pusing banget semalam. Sorry ya... Eh, Jane kemana, Bram.?


"Jane tadi keluar sebentar, ada urusan katanya.!"


"Oohh, Oke dech. Aku mau mandi dulu, ya..."


"Okay... "


Bram kembali menikmati kopinya, sementara Angel melangkah menuju kamar mandi.


"Aman, Dia tidak tahu apa yang aku lakukan sama Jane. Tengah hari begini si Angel baru terbangun... Tapi, bagus dech terpenting aku bebas tanpa harus menjadi pertanyaan dia."


Bisik Bram dengan senyum tersungging...


Tidak lama kemudian sebuah mobil sedan membelok dan parkir dihalaman rumah.


Sosok wanita cantik tinggi semampai keluar dari mobilnya, tidak lain dia Jane Saeng do.


"Hii....!"


Sapa Jane sambil berjalan kearah Bram yang sedari tadi duduk dikursi depan rumah.


"Hii, Jane.."


Balas Bram sambil mengulas senyum.


"Angel sudah bangun...Bram.?"


"Sudah, dia sedang mandi.!"


"Ooh,, Okay... Aku tinggal dulu ya, mau ganti baju... Sebentar ya, Bram.?"


"Okay, Silahkan...!"


Jane kemudian masuk menuju kamarnya.


Sementara Bram masih duduk tak bergeming dari kursinya sambil menatap kearah depan.


Pikirannya sedang berputar dan berkecamuk memikirkan langkah untuk rencana dirinya.

__ADS_1


Meskipun ia merasa aman dan tenang, tetapi rasa takut dalam hatinya masih bergelayut.


Tiba - tiba saja tubuh Bram bergetar hebat, dalam hitungan detik muncul sosok makhluk berbadan tinggi besar dengan wajah sangat mengerikan dengan dipenuhi bulu di sekujur tubuhnya.


Sontak saja Bram terkejut bukan kepalang.


Ia hampir saja loncat dan melarikan diri, tapi kemudian makhluk yang berwujud hitam ini menarik tangan Bram.


"Hahahaha.... Tenang Bram, kamu tidak perlu takut. Aku penghuni cincin yang kamu pakai.!"


"Benarkah...??"


Ujar Bram sambil menghela nafas, dia sedikit tenang setelah mendengar pernyataan sosok makhluk tersebut.


"Iya, aku adalah sosok makhluk yang berdiam didalam batu cincinmu. Aku golongan bangsa Jin berjenis Genderuwo..."


"Tapi,,, kenapa kamu bisa menampakkan diri di siang hari. Apakah memang bisa seperti ini jika menampakkan wujud..?"


"Aku bisa menampakkan diri kapanpun aku mau, dan merubah wujud sesuai keinginanku.


Dan hanya orang yang aku tuju saja, mereka bisa melihat wujudku.!"


"Kau tidak usah khawatir Bram, selama aku ada dan mendampingi dirimu. Tidak ada yang dapat menyentuh dirimu, aku akan membantu dan melindungi mu. Dengan satu syarat kau harus selalu memberikan aku wanita cantik atau gadis yang aku inginkan untuk bergumul memuaskan hasrat birahiku.!"


"Bagaimana caranya..??"


Tanya Bram yang masih bingung dan belum mengerti.


Karena saat memberikan cincin kepadanya, Bondan belum memberitahukan tentang hal ini.


"Nanti kau akan tahu sendiri, Bram. Aku akan kembali nanti malam.!"


Belum sempat Bram untuk bertanya lagi,


seketika makhluk itu lenyap secara tiba - tiba.


Seru Bram sambil celingukan memperhatikan keadaan disekitarnya.


"Kenapa, Bram.?"


Tiba - tiba Bram dikejutkan dengan suara dari belakangnya, dia kemudian menoleh disana nampak Jane dan Angel sudah berdiri dengan mimik wajah yang keheranan.


"Eh, Em... Tidak. Tidak apa - apa.!"


Jawab Bram sedikit gugup dan gagal fokus.


"Wajah kamu koq tegang begitu. Bram... Ada apa...?"


Tanya Jane penuh selidik dan rasa penasaran melihat teman lelakinya itu.


"Tidak. Sudah tidak perlu dibahas, aku cuma sedang memikirkan masalah pekerjaan saja."


"Bram lagi ada masalah bisnis di indo, kesini karena aku mengajak liburan sekaligus untuk mendinginkan keadaan disana., Jane. Nanti biar Bram yang menjelaskan ke kamu.!"


Timpal Angel yang ikut mengomentari.


"Oh, Begitu.? Ya sudah masuk yukk. Sambil makan siang, kamu cerita sama aku, Bram... Biar aku tahu masalah mu.!"


Ucap Jane, kemudian dia mengajak Bram dan Angel untuk makan siang bersama...


"Berarti mereka tidak melihat sosok makhluk mengerikan itu, dan mereka tidak mendengar apa yang aku bicarakan sama sosok makhluk penghuni cincin ku ini.!"


Bisik dalam hati Bram sambil berjalan menuju kearah dapur menyusul Jane dan Angel.


***


( TIBA DI INDONESIA )

__ADS_1


Sementara keadaan di pulau dewata tersebut, rombongan keluarga Malik Muneer kini sudah tiba dan mereka semua langsung menuju ke kantor sekaligus mengecek keadaan disana.


Beberapa staff, karyawan dan juga security menyambut kedatangan Malik Muneer, Bos pemilik perusahaan yang dikawal bodyguard tersebut saat memasuki ruangan kantornya.


Diantara mereka menjelaskan kepada Malik saat itu bahwa Bram sang Manager sudah pergi meninggalkan ruang kerjanya tanpa pamit dan pesan apapun kepada yang lain.


Mereka tidak menaruh curiga apapun kepada Bram, saat sang Manager itu hendak keluar.


Mereka dapat informasi setelah ada laporan dari sang pemilik perusahaan tersebut saat beberapa staff dan bodyguard memberitahu untuk menangkap Bram.


"Saya minta maaf, Pak. Kami semua belum sempat mendapat informasi saat pak Bram meninggalkan kantor. Dan rupanya Pak Bram sudah mengambil aset perusahaan dan juga data perusahaan ini.!"


Ucap salah seorang staff administrasi kantor yang di anggukkan oleh beberapa karyawan lainnya.


Suara dering panggilan dari smartphone nya berbunyi, Malik lalu mengangkat sambungan telpon dari salah seorang bodyguardnya yang ditugaskan olehnya untuk melacak keadaan dimana Bram berada.


"Maaf Tuan, kami sudah melacak beberapa tempat dan juga melalui jaringan dan semua koneksi terkait. Tetapi kami belum juga bisa menemukan jejak keberadaan Bram, Tuan.!"


"Baiklah, sekarang kalian pulang dan segera menghadap saya.!"


"Baik, Tuan. Laksanakan...!"


Malik Muneer kemudian menutup telponnya, lalu ia menuju ruangan kerjanya.


Sang istri dan juga Zeno sekeluarga berjalan mengikuti langkahnya dari arah belakang.


Mereka duduk di sofa ruangan tersebut dan tidak ada salah satupun dari mereka yang berani membuka suara saat itu.


Malik Muneer duduk di kursi kerjanya sambil menyandarkan punggungnya untuk melepas kelelahan.


Terdengar hembusan dari tarikan nafasnya yang panjang, seolah ia melepaskan semua beban berat yang ada namun berusaha untuk tetap tenang dan kontrol emosi.


"Pah... Are you okay...?"


Tanya Emma dengan suara lembut saat dia menghampiri suaminya.


"Yeah... I'm Fine...Honey.! Papah hanya butuh tenang saja."


"Okay, I'm understand. Sebaiknya kita pulang dulu ke Apartement ya, kasihan mereka pasti sangat lelah juga."


"Yeah... Baiklah. Papah juga ingin istirahat.!"


Ucap Malik, kemudian ia bangkit dari kursinya dan mengajak mereka semua untuk pulang.


"Kita pulang, Kalian pasti capek dan tentunya butuh istirahat. Nanti kita berkumpul semua di Apartement saya, setelah kalian rileks.!"


"Baik, Tuan... !"


Ucap Zeno mengangguk, kemudian mereka keluar dari ruangan tersebut lalu bergegas pulang menuju ke Apartement Malik Muneer.


Sebelum pulang, sang president direktur itu menyuruh seluruh karyawan dan anak buah nya untuk menutup kantor dan diperkenankan untuk pulang semuanya...


"Kantor akan kita tutup dulu untuk sementara waktu, dan kalian boleh pulang.! Dan kalian tidak perlu khawatir, saya akan memberikan tunjangan libur kerja kepada kalian semua selama belum bekerja kembali.!"


"Baik, Pak. Terimakasih.!"


Ucap seluruh karyawan dan juga semua staff dengan serempak dan mengangguk hormat.


Mereka semua di jamin kesejahteraan oleh Malik Muneer meskipun kantornya tutup dan tidak memperkerjakan mereka semua.


Kepribadian serta sikap sang pimpinan yang seperti Malik Muneer inilah menjadi sorotan tauladan yang sangat di hargai dan di hormati oleh semua karyawan bahkan semua orang.


Dalam keadaan perusahaan yang mangalami kerugian besar, tetapi sang pengusaha itu masih memikirkan nasib semua karyawannya bahkan berani untuk menjamin gaji tunjangan libur kerja untuk mereka.


*****


( BERSAMBUNG )

__ADS_1


__ADS_2