PELET DESAH BIDADARI

PELET DESAH BIDADARI
DALAM BAHAYA


__ADS_3

Elena, Natasha dan Malee begitu panik saat seekor macan kumbang didepannya seolah siap menerkam mereka.


Namun macan kumbang hitam itu seketika menghentikan langkahnya, hewan buas ini terdiam setelah menatap bola mata Elena yang menyorot tajam kearahnya.


Ada keajaiban terjadi di mata Elena, tiba - tiba hewan itu diam kemudian duduk merunduk didepan Elena yang masih menatap kearah sang macan kumbang itu.


Hewan buas ini ternyata bisa tunduk kepada Elena, sorot tatapan matanya menjadi lembut isyarat hewan ini telah jinak dan patuh pada sang gadis cantik ini.


Elena menghampirinya dan mengelus kepala sang macan, bak terkena hipnotis macan itu diam dan menatap Elena sambil mengaum dengan pelan.


"Amazing, keren banget kak...!"


Natasha bersorak girang kagum dengan sang kakak yang ternyata kini kekuatannya seketika bisa berfungsi.


"Elena, kekuatanmu sudah kembali.!"


Sahut Malee yang berada disamping Natasha.


"Iya, padahal kemarin aku mencoba untuk hal lainnya tidak bisa. Tapi sekarang koq bisa aku menundukkan hewan ini.!"


Ujar Elena sangat bersyukur ternyata dirinya mampu menjinakkan sang macan kumbang hewan buas yang memiliki tubuh besar ini.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan kepada hewan ini, apa membiarkannya untuk pergi.?"


Ujar Malee sedikit ketakutan meskipun sang macan ini sudah tunduk kepada Elena.


"Aku akan membawanya untuk menemani kita menjelajahi pulau ini.!"


Sahut Elena dengan mantap.


"Are you sure...?"


Tanya Malee sedikit ragu.


"Iya, tentu saja. Aku akan membawanya dan akan menjadi sahabatku disini.!"


Tegas Elena meyakinkan.


"Yess, its verry good...!"


Timpal Natasha mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.


"Don't worry, Malee... Dia sudah jinak, koq.!"


"Iya, Elena. Aku percayakan sama kamu."


"Ya, ampun...! Aku baru sadar dan perhatikan kamu Malee. Baju kamu sampai robek - robek begini dan kakimu berdarah Malee... "


Seru Elena sambil menepuk keningnya, lalu mendekati Malee dan memeriksa luka di kaki gadis itu.


"Aduh, sakit...!"


Malee meringis saat kakinya diperiksa oleh Elena, terdapat memar dibagian lututnya dan robekan luka kecil di bagian pahanya.


Elena dan Natasha menuntun Malee untuk duduk bersandar dibawah salah satu pohon besar.


Elena mencari dedaunan yang sekiranya bisa dijadikan obat untuk meringankan luka juga rasa nyeri di kaki Malee.


"Kita istirahat dulu disini, sambil menunggu kaki Malee sedikit membaik.!"

__ADS_1


Ujar Elena setelah dia memberikan obat dari daun yang ditumbuk memakai batu kemudian membolehkannya pada bagian memar serta luka Malee yang mengucurkan darah.


Mereka duduk bersandar, melepaskan penat serta lelahnya dibawah naungan pohon besar yang dijaga oleh si kumbang, si macan hitam yang sudah jinak dan tunduk serta mengikuti perintah Elena...


***


( DALAM TAWANAN )


Saat terbangun dan tersadar, mereka sudah berada didalam sebuah kamar asing.


Angel, Metta dan Jane saling pandang satu sama lainnya.


Lalu mereka memperhatikan keadaan ruang kamar tersebut .


"Kita dimana, apa yang terjadi.?"


Ujar Metta sambil memegang kepalanya yang terasa masih sedikit pusing akibat pengaruh obat bius.


"Kita disekap dikamar ini, pasti ini suruhan Ki Bondan agar menangkap kita.!"


Sahut Angel merasa yakin kalau mereka itu di culik dan dibawa ke suatu tempat.


Karena mereka masih ingat kejadian itu, saat mereka hendak pergi, tiba - tiba sekawanan orang yang tak dikenal datang melumpuhkan mereka dengan obat bius.


Dan saat mereka tersadar, mereka sudah ada didalam sebuah kamar dan sepertinya rumah besar itu nampak sepi.


Jane menghampiri pintu kamar yang terkunci itu dan menggedor - gedornya dengan keras sambil berteriak.


"Hai... Lepaskan kami...!!! Please... Hai... !!!"


"Sabar, Jane... Percuma kita minta tolong, gak akan ada yang peduli sama kita. Karena kita berada ditempat mereka.!"


Dengan langkah lunglai, Jane kembali duduk ditepi ranjang samping Angel.


"Aku takut, Aku ingin keluar dari sini.!"


Ucap Jane dengan sesenggukan, tangisnya memecah keheningan dikamar itu.


Dia merangkul Angel dan membenamkan wajah cantiknya yang murung.


"Kita harus tenang, apapun yang terjadi kita hadapi sama - sama. Aku yakin kita pasti bisa keluar dari tempat ini.!"


Ucap Angel sembari mengusap - usap punggung sahabatnya itu.


Sepertinya rumah kosong itu sedang ditinggal oleh Doni, hanya ada beberapa anak buahnya saja menjaga didepan rumah tersebut.


Meskipun terdengar teriakan Jane didalam kamar, mereka pun tidak memperdulikannya.


Mereka tidak berani untuk membuka kamar itu, kecuali atas ijin Bos nya.


"Saya sudah mendapatkan mereka, keadaan mereka aman dan saya tempatkan dirumah bekas itu, Ki... !"


"Bagus. Ingat, jangan sampai mereka kabur. Jaga dengan baik dan jangan sampai berani menyentuh mereka, beritahu anak buahmu.!"


"Baik, Ki.. Siap laksanakan.!"


"Upah pekerjaanmu sudah aku transfer.!"


"Iya, Ki... Terimakasih.!"

__ADS_1


Bondan lalu menutup sambungan teleponnya, dan dia sangat senang mendapat kabar dari Doni, dia murid sekaligus juga anak buahnya yang telah berhasil dalam menjalankan tugas darinya.


***


( DALAM KEPANIKAN )


Sudah beberapa jam berlalu, Malik menunggu para gadis itu namun tidak muncul juga.


Dia telah mengirimkan pesan dan menelpon berulang kali tapi tidak ada jawaban.


"Kemana mereka,? Perasaanku tidak enak. Sebaiknya aku susul saja mereka kesana.!"


Malik jadi khawatir, dia lalu memerintahkan sopirnya untuk mengantarkan ke Villa.


Malik berangkat dengan beberapa bodyguard serta anak buah kepercayaannya.


Iringan 3 mobil mewah itu pun lalu meluncur menuju ke Villa Malik Muneer, guna untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


Setibanya di Villa itu, Malik kemudian masuk dan memeriksa keadaan sekitar ruangan Villa tersebut yang ditemani oleh bodyguardnya.


"Saya sudah menyisir semuanya, Tuan. Kami tidak menemukan mereka, kecuali ini.!"


Salah satu anak buah Malik menyerahkan 3 ponsel yang mereka temukan didalam kamar Elena dan Natasha.


"Natasha, Elena... ??? Kemana mereka, ada apa ini...?"


Malik seketika cemas sambil memeriksa 3 ponsel milik Natasha, Elena dan Malee itu.


"Sepertinya sudah terjadi sesuatu disini, Tuan. Sebaiknya kita melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib supaya kasusnya bisa diselidiki. Maaf, Tuan.!"


Ujar sang anak buahnya yang memberikan ponsel itu kepadanya.


"Kami juga menemukan bercak darah, Tuan.


Saat menemukan ponsel yang tergeletak itu."


Mereka kemudian mengantarkan kekamar yang mereka temui bercak darah tersebut.


Malik Muneer masuk dan memperhatikan keadaan sekitar kamar itu, namun dia tidak menemukan tanda adanya perampokan dan kamar itu masih sangat rapih.


Dia mengamati beberapa bercak darah yang sudah mengering dilantai kamar itu.


"Maaf Tuan, ini sepertinya kasus penculikan."


Ujar salah seorang bodyguardnya yang ikut memeriksa keadaan kamar itu.


Dugaan itu disepakati dan di yakini mereka, kalau ditempat itu telah terjadi penculikan.


Malik Muneer memerintahkan pengawalnya untuk menghubungi kepolisian setempat.


Tidak berapa lama team kepolisian datang dan memeriksa Villa tersebut dan menerima laporan dari Malik Muneer.


Kasusnya akan segera di urus setelah mereka menemukan bukti kuat dugaan tersebut.


Team penyidik bergerak cepat untuk segera memberikan laporan terkait hilangnya ke 6 gadis yang berada di Villa tersebut.


Tidak ada saksi seorangpun dalam kasus itu, karena memang Villa itu kebetulan sedang kosong, karena penjaga yang merawat Villa tengah pulang kampung saat si kembar dan teman - temannya mengisi Villa tersebut.


*****

__ADS_1


( BERSAMBUNG )


__ADS_2