
Mayang Kencana menjaga dirinya dengan lapisan ghoib halimun ketika Kala Geni saat itu mengeluarkan cambuk api yang sangat panas dan membakar apapun yang ada disekitarnya...
"Kau tidak akan mampu menghindar dari ilmu cambuk api ku... Mayang,!"
Seru Kala Geni dengan jumawa nya, dia lantas mengibaskan cambuk yang menyala merah itu dengan sangat kuat, hingga menimbulkan deru angin kencang merontokkan dedaunan dan ranting yang seketika ikut terbakar...
"Tidak usah sombong kau Kala Geni... !"
Balas Mayang Kencana yang mengeluarkan selendang saktinya, dia bersiap mengimbangi kekuatan cambuk api tersebut.
Memang cambuk api Kala Geni begitu sangat ditakuti oleh para makhluk ghoib.
Bahkan Mayang Kencana pernah lari karena hampir terkena serangan cambuk itu ketika mereka bertarung di masa lalu.
Sekarang dia kembali menghadapi serangan cambuk itu, tapi kini Mayang sedikit tenang dengan tetap waspada dari segala serangan dari Kala Geni.
"Aku tidak boleh takut lagi dengan senjata itu, aku harus bisa mengalahkannya.!"
Gumam Mayang Kencana sambil melepas selendang saktinya kearah Kala Geni.
Hanya dengan sekali cambukan selendang itu kembali ke pemiliknya.
Selendang itu tidak mampu mengikat cambuk milik Kala Geni.
Kini cambuk api itu berkelebat dan berputar - putar diatas kepala Nyai Kala Geni yang siap memecut kearah tubuh Mayang Kencana. Namun ratu penguasa ghoib itu sudah tahu akan hal itu, dia menghindar kemudian loncat sejauh mungkin.
Hingga cambuk itu mengenai bumi dengan memercikkan api yang panas membakar.
Jantung Mayang Kencana berdetak kencang, wajahnya pucat seketika setelah Kala Geni mengejar dan menyerang kedua kalinya.
Hampir saja Mayang Kencana terkena oleh sabetan cambuk itu, jika dirinya tidak melesat keatas menghindari senjata Kala Geni yang terus menyambar - nyambar dengan cepat itu.
"Hahaha... Kau masih ketakutan menghadapi cambuk sakti pamungkas ku, Mayang...!!!"
Seru Kala Geni dengan tertawa lebar melihat musuhnya yang nampak sedikit gusar.
Tanpa memperdulikan ucapan Kala Geni, dia kembali mengerahkan ajiannya untuk serang balik musuhnya.
Mayang Kencana mengerahkan segala energi kekuatannya untuk melumpuhkan ajian ilmu cambuk api tersebut.
Tubuh Mayang Kencana dilapisi oleh cahaya biru menyala, sinar itu sangat tebal menutupi tubuh sang ratu penguasa ghoib laut itu.
__ADS_1
Secepat kilat sinar biru itu langsung mencuat dan menggulung cambuk api Kala Geni yang seketika itu tengah menyambar - nyambar.
Dua kekuatan saling menyatu dan membelit diantara keduanya hingga saling mendorong, lalu dua kekuatan itu terus mengangkat tinggi keatas langit dan saat itu pula terjadi ledakan dahsyat hingga menggetarkan bumi.
Cahaya biru itu lenyap bersama cambuk api, dan kedua ratu berbeda ras ini saling ambruk dan tersungkur dengan lelehan darah segar disudut bibirnya masing-masing.
Mereka sama-sama terluka, akibat dari saling beradunya dua kekuatan tenaga dalam yang mereka salurkan.
Mayang Kencana bangkit dengan menahan rasa sakit di bagian dadanya, namun sosok siluman ular itu sepertinya tidak merasakan sakit apapun.
Terlihat saat Kala Geni bangkit dengan tegap berdiri, dia terlihat lebih santai sambil tertawa dan kembali menyerang dengan pukulannya.
Siluman ular itu melesat cepat dengan tangan kepalannya lurus kedepan menghantam dada Mayang Kencana, seketika pukulan dari sinar merah itu tidak dapat lagi dihindari hingga dia kembali ambruk dan tersungkur diatas tanah tepat jatuh dibawah kaki Kala Geni.
Mayang Kencana langsung tak sadarkan diri, tubuhnya lemas tidak berdaya saat diangkat oleh Kala Geni.
Kala Geni menendang serta menginjak tubuh Mayang Kencana dengan sangat bengis.
Sosok siluman ular berwujud manusia cantik itu ternyata belum puas melihat musuh nya meskipun dalam keadaan sudah tak berdaya.
Sang ratu penguasa ghoib itu dijambak, lalu dia diseret dan di injak - injak dengan sangat kasar dan kejam oleh Kala Geni yang tertawa puas menyiksa musuhnya sesuka hati.
"Ini akibatnya bila kau menantang dan selalu mencampuri urusanku... Aku tahu kau sudah menyuruh gadis itu menghancurkan istanaku dan membinasakan semua pengawalku.!"
Kala Geni terus menyiksanya dengan sangat bengis dan membabi buta, mengoyak tubuh Mayang Kencana hingga pakaian ratu serta mahkotanya sudah tidak lagi beraturan.
"Kau tidak pantas menjadi ratu penguasa laut, Mayang...! Hahahaha... Tak akan ada satupun yang menolongmu sekarang,!"
Ucap Kala Geni dengan geram, lalu siluman ular itu mengangkat wajah Mayang Kencana kemudian dia menamparnya habis-habisan.
Sementara Mayang Kencana tidak sedikitpun bergerak diperlakukan kejam seperti itu.
Dia tetap menutup matanya, dalam keadaan yang masih tidak berdaya...
***
Elena yang menunggu ditempat itu semakin merasa gelisah, karena sang ratu penguasa ghoib itu belum juga muncul.
Dirinya memiliki firasat sangat kuat, ada rasa cemas membayangi dirinya ketika itu.
"Aku merasakan sesuatu yang entah kenapa aku merasa sangat gelisah sekali..."
__ADS_1
Ujar Elena memandangi Natasha dan Malee dengan tatapan penuh rasa kekhawatiran...
"Dimana bunda sekarang, kenapa kita harus menunggu disini, dan tidak membantunya...?"
Tanya Natasha yang tidak sabar ingin segera bertemu dengan ibu angkat ghoibnya.
"Kakak disuruh bunda untuk menunggu disini bila kakak berhasil membebaskan kalian. Dan pesan beliau jangan pernah menghampirinya saat beliau berduel dengan siluman ular itu, kata bunda sosok siluman ular itu bukanlah tandingan kita... Em, mungkin bunda tidak mau ada yang terluka diantara kita...!"
"Iya, tapi... Kita sudah lama menunggu disini, bagaimana jika terjadi sesuatu sama bunda.?"
Natasha menjadi khawatir setelah dia lama menunggu ditempat itu, sedangkan sang ratu penguasa laut itu belum muncul juga.
"Jangan seperti itu Natasha, bunda memiliki kesaktian, tidak mungkin dia kalah oleh sosok siluman jahat itu.!"
"Tapi, Elena... Natasha benar. Kita ini khawatir juga, bukan untuk meragukan kesaktiannya.!"
Timpal Malee yang setuju dengan apa yang di katakan Natasha.
Sebenarnya Elena juga merasakan demikian, tapi dia bingung antara tetap menunggu dan atau dia menemui ibunda ratunya yang kini sedang berduel melawan Nyai Kala Geni.
"Kita pergi dari sini, kita susul ibunda ratu.!"
Seru Natasha sambil berdiri dari duduknya.
"Elena, kita harus mengetahui keadaan bunda. Kita lihat saja dari kejauhan, kita tidak perlu turun tangan kalau memang bunda Mayang masih berduel dengan sosok siluman itu.!"
Sahut Malee yang ikut berdiri dan mengajak Elena untuk segera memberitahukan dimana tempat tersebut.
Karena memang hanya Elena yang tahu lokasi pertarungan Mayang Kencana dan Kala Geni..
"Baiklah, ayo kita berangkat.... !"
Elena akhirnya mau mengikuti saran serta ajakan dari Natasha dan Malee...
Kemudian mereka bertiga pun pergi ditemani si kumbang menuju tempat pertempuran itu.
Mereka berjalan dengan perasaan yang saling membaur oleh bayang kecemasan serta rasa penasaran, apa yang terjadi setelah mereka tiba dan melihat keadaan disana...
Mereka berdoa dan berharap semoga ibunda ratu Mayang Kencana dalam keadaan baik - baik saja, dan mampu mengalahkan siluman ular itu agar mereka secepatnya segera pergi meninggalkan pulau misterius yang sangat menyeramkan itu...
*****
__ADS_1
( BERSAMBUNG )