PELET DESAH BIDADARI

PELET DESAH BIDADARI
MERASA CEMAS


__ADS_3

Malik Muneer benar - benar dibuat bingung dan cemas setelah mengetahui kejadian itu.


Dirinya sangat khawatir akan keselamatan kedua putrinya dan teman - temannya.


Apalagi beberapa hari lalu dia mendapatkan kabar bahwa pihak kepolisian melaporkan pidana bernama Bram telah menghilang dari dalam sel tahanan.


Namun sang pengusaha itu tidak bisa untuk memprediksi kasus ini, kejadian yang telah menimpa putri dan teman - temannya apakah ada keterkaitan dengan lepasnya Bram dari penjara.?


"Ada apa dengan semua ini, apakah ada orang yang sengaja ingin mencelakai putriku dan teman - temannya. Ataukah mereka menculik untuk meminta tebusan.?"


Malik masih bertanya - tanya dalam hatinya, dirinya masih tidak mengerti ada motif apa dibalik semua ini.


Pihak kepolisian sudah menyimpulkan kalau kasus itu diduga kuat adalah penculikan, tapi team penyidik belum menemukan jejak para penjahat itu, bahkan kini kasus Bram masih ditangani dan seolah kehilangan jejak.


Zeno, Carissa dan Emma sangat cemas dan khawatir karena sampai saat itu belum ada kabar baik tentang kedua putrinya.


Berita ini pun sampai ke telinga rekan Malik yaitu Robby dan Rico yang turut prihatin atas kejadian tersebut.


Putra tunggal dari Robby ini tentu merasakan kecemasan pula dihatinya dan dia berusaha mencari informasi serta mengunjungi tempat yang ada dikota tersebut.


Beberapa lokasi hingga tempat hiburan dia datangi, namun usaha dalam pencariannya itu belum membuahkan hasil sama sekali.


Rico tidak putus asa dan pantang menyerah, dia terus berusaha untuk membantu mencari si kembar dan teman - temannya.


Apalagi dia begitu mencintai Natasha si gadis yang sudah membuat perasaannya menjadi tidak tenang dan selalu ada dalam pikirannya.


***


( MENEMUKAN SUMBER MATA AIR )


"Kumbang, kamu tahu kemana arah jalan agar kami bisa keluar dari hutan ini dan kami bisa menemukan pesisiran pantai di pulau ini.?"


Tanya Elena kepada macan hitam yang kini di panggil dengan sebutan si kumbang.


Gadis itu begitu lembut memperlakukannya sampai mengelus wajah si kumbang sambil mengulas senyumnya.


Seolah memahami perkataan Elena, macan hitam ini mengaum pelan sambil menggerak - gerakan kepalanya.


"Tunjukkan kumbang, kita sudah menjadi sahabat. Bantu aku, ya...?!"


"Aum... Grr... Grr... Aaom...!


Macan itu benar - benar bertekuk lutut dan sangat patuh mengikuti perintah Elena.

__ADS_1


Si kumbang lalu berjalan didepan yang diikuti oleh ketiga gadis cantik dibelakangnya.


Mereka melewati hutan rimba yang penuh dengan akar dan pohon besar disekitarnya.


Si kumbang terus melangkah dengan gesit memasuki kawasan hutan itu dan mengajak mereka semakin masuk kedalam tengah - tengah hutan tersebut.


"Kumbang, kita mau kemana kenapa kamu mengajak masuk kesini, ini kan tengah hutan bukan keluar dari hutan.!"


Seru Natasha yang sedikit khawatir dengan jalan yang mereka lalui.


"Ikuti saja kemana dia pergi, aku yakin dia akan membawa ke suatu tempat yang lebih baik untuk kita.!"


Ujar Elena sambil terus berjalan mengikuti arah langkah si kumbang.


Setelah berapa lama melewati hutan tersebut, akhirnya mereka tiba disebuah tempat yang membuat mereka terkejut sekaligus bersorak kegirangan karena didepan mereka kini telah nampak sebuah air terjun dan pemandangan yang begitu indah.


Air terjun dengan danau kecil yang dihiasi oleh bebatuan disekitarnya serta beberapa tanaman bunga dan pohon yang sangat indah nampak sejuk dan asri.


Elena langsung memeluk dan menciumi si kumbang dengan perasaan riang gembira.


"Waw... Hebat kamu kumbang. Terimakasih.!"


Ucap Elena merasakan kebahagiaan yang sangat dalam karena setelah berhari - hari kini akhirnya bisa menemukan sumber air.


Tanpa menunggu lama lagi, ketiga gadis itu langsung memburu kearah air terjun.


Si kumbang duduk sikep, dia memperhatikan dari kejauhan seolah sedang mengawasi para gadis cantik yang sedang asyik membasahi tubuh mereka masing-masing hingga pakaian mereka yang basah mencetak lekuk tubuhnya yang sangat indah dan seksi.


***


Setelah puas menikmati sejuknya air terjun yang telah melepaskan rasa dahaga mereka dengan mandi dan minum disana, kembali tubuh mereka kini sangat segar dan bugar.


Setelah kering, mereka lalu mengenakan pakaiannya yang mereka jemur diatas batu besar didekat air terjun tersebut.


Mereka beristirahat disana, mencari tempat yang cocok dan aman untuk diam sementara waktu sambil berpikir bagaimana mereka bisa keluar dari pulau itu.


Waktu terus bergulir, siang berganti malam keadaan pun tidak ada yang berubah.


Entah sudah berapa hari mereka melewati waktu berada di pulau itu.


Namun mereka sedikit aman dan nyaman karena merasa terjaga dengan kehadirannya si kumbang macan hitam yang selalu setia mengikuti kemana mereka pergi.


Berapa kali Elena meminta si kumbang untuk menunjukan jalan keluar menuju laut ataupun pantai, namun sepertinya macan hitam ini tak bisa memberikan arah jalan sesuai apa yang di maksud Elena.

__ADS_1


"Si kumbang juga sepertinya tidak tahu ujung pulau ini...??"


Ujar Elena yang menghela nafasnya begitu dalam setelah dia kembali ke lokasi air terjun.


"Apa yang harus kita lakukan.? Kita nggak mungkin tinggal diam di pulau ini terus...?!"


Natasha merasa lelah dan dia tidak tahu apa yang harus di lakukannya.


"Sabar, sayang. Kita semua sama ingin segera keluar dari pulau ini. Mungkin belum saatnya kita bisa keluar dari sini, percayalah semua ini pasti ada akhirnya. Tidak mungkin kita disini terus... !"


Ungkap Elena yang selalu optimis dan selalu semangat meskipun dalam hatinya dipenuhi keresahan dan kegelisahan.


Pasalnya, mereka sangat yakin setelah Elena mampu menaklukkan si kumbang dan pasti mereka mampu menggunakan kekuatannya.


Namun ternyata untuk hal lain, kekuatannya tidak berlaku dan tidak sedikitpun berfungsi.


Disitulah mental Natasha dan Malee kembali down seakan tidak punya harapan, Namun Elena selalu mensupport nya supaya mereka jangan lemah dan menyerah dengan keadaan yang sedang mereka jalani saat ini.


Meskipun dalam benaknya, Elena mengalami hal yang sama, namun dia tidak mau melihat Natasha dan Malee semakin down.


"Aku lapar sekali kak, dari kemarin hanya bisa minum air saja sebagai pengganjal perut.!"


Elena memeluk sang adik tersayangnya, dia merasa kasihan kepada Natasha yang masih sangat manja sekali, berbeda dengan dirinya yang lebih dewasa dalam hal apapun.


"Kamu sama Malee tunggu disini ya, ingat... jangan kemana - mana sebelum kakak dan si kumbang kembali. Kakak sama si kumbang akan berusaha mencari buah yang bisa kita makan...!"


Ucap Elena sambil melepaskan pelukannya.


"Malee, tolong jaga Natasha ya... ingat, kalian jangan kemana - mana. Tempat ini aman bagi kalian dari pada tempat lainnya.!"


Malee pun mengangguk, dia akan menjaga pesan dari kakak Natasha ini.


"Be Careful... Semoga kamu bisa menemukan makanan untuk kita.!"


Seru Malee sambil memberi semangat.


"Okay, Malee.. Wait for me to come back.!"


Balas Elena sambil mengerlingkan matanya yang indah.


"Ayo, Kumbang... Let's go..."


Elena kemudian pergi mengajak si kumbang memasuki tengah hutan untuk mencari apa saja yang sekiranya bisa menjadi makanan buat mereka...

__ADS_1


*****


( BERSAMBUNG )


__ADS_2