
Gua air terjun sudah dikepung oleh pasukan ghoib suruhan Nyai Kala Geni.
Mereka datang untuk menghabisi Mayang Kencana beserta putri angkatnya.
Sedangkan Elena dan Malee masih keadaan terluka, mereka belum tersadar dari pingsan menunggu ramuan bunga misterius yang kini sedang dicari oleh Gondo.
Bunga berwujud seperti teratai ini memiliki keajaiban sebagai obat yang mampu untuk memulihkan kesehatan Elena dan Malee.
Gondo berhasil mendapatkan bunga tersebut setelah sebelumnya dia mengalahkan sosok penunggu di rawa itu.
Dia secepatnya kembali dengan membawa bunga ajaib itu untuk dijadikan ramuan obat bagi Elena dan Malee yang masih tergeletak tak berdaya karena luka dalam tersebut.
Sesampainya di gua air terjun, Gondo terkejut karena banyak bangsa lelembut yang sudah mengepung tempat tersebut.
Nampak terlihat didekat air terjun itu, Mayang Kencana tengah sibuk meladeni serangan sosok makhluk yang sangat banyak itu.
Gondo langsung melompat ketengah area pertarungan itu membantu Mayang Kencana
yang kewalahan karena saking banyaknya.
Gondo kembali berperan aktif menjaga serta melindungi tuannya.
Dengan segala kekuatan dan kesaktiannya, satu persatu bangsa lelembut suruhan Nyai Kala Geni ini dibuat mundur.
Gondo dan Mayang Kencana terus berusaha untuk melumpuhkan semua makhluk bangsa lelembut dan jin ini.
Hingga pada akhirnya semuanya mundur dan lenyap tidak tersisa.
"Terimakasih, Gondo. Oh,ya bagaimana apa kamu sudah mendapatkan bunga itu.??"
Tanya Mayang Kencana.
"Sudah bunda ratu,!"
Jawab Gondo, bunga ajaib itu lalu diserahkan kepada Mayang Kencana.
Setelah dibuat ramuan, kemudian sang ratu meminumkannya kepada Elena dan Malee.
Sungguh ajaib, seketika Elena terbangun dan begitu juga dengan Malee.
Mereka tersadar dari pingsannya tanpa bekas luka sedikitpun, bahkan mereka nampak lebih segar dan bugar.
Bunga mirip teratai yang memiliki cahaya itu telah memberikan kekuatan kepada mereka dalam waktu sekejap.
"Terimakasih, Gondo.. Berkat keberhasilan mu mendapatkan bunga ini, putri-putriku sudah pulih kembali."
"Iya bunda ratu, selama aku disini... Aku akan siap menjaga dan membantu kalian."
__ADS_1
"Bagus, Gondo. Tapi kita harus tetap waspada kemungkinan mereka akan kembali lagi untuk menyerang kita.!"
"Iya, benar.. Tapi bunda ratu tidak perlu cemas aku siap menghadapi mereka semua. Gondo siap mengabdi dan menjalankan perintah...!"
Ucapnya dengan merunduk hormat.
"Terimakasih, Gondo.!"
Ucap Elena yang sudah pulih dari sakitnya.
Mereka berkumpul diruangan gua yang sudah dibuat senyaman mungkin oleh Mayang dan mereka dapat menikmati makanan lezat serta minuman yang dibawa oleh Gondo dari pulau tersebut...
***
Sementara para makhluk itu kembali dengan kegagalannya, mendengar laporan dari para bangsa ghoib suruhannya ini tentu saja Nyai Kala Geni sangat geram dan marah besar.
Ternyata suruhannya tidak mampu melawan musuhnya, hingga dia berencana akan datang kembali menyerang dengan dirinya yang akan turun tangan langsung memimpin pasukan ghoib tersebut.
"Kalian kembali besok bersamaku, aku akan habisi mereka.!"
Ucap Nyai Kala Geni yang terlihat emosi.
Seluruh pasukan ghoib itu kemudian lenyap dari pandangan Nyai Kala Geni dan Sasmita yang masih berada di makam keramat itu.
"Aku masih menginginkannya, Sasmita. Ayo kita lakukan lagi, berikan aku kepuasan untuk memberikan kekuatan padaku.!"
"Baik, Nyai...!"
Nyai Kala Geni yang berwujud wanita cantik ini nampak sangat agresif dalam melakukan permainan panas itu, hingga mereka berdua kelelahan dalam kenikmatan tersebut.
Sementara dirumah gubuk milik Sasmita, hal yang sama tengah dilakukan oleh Bondan dan Doni yang asyik menikmati tubuh para wanita cantik yang kini hanya bisa pasrah tanpa bisa melawan diperlakukan seperti itu.
Hidup Angel dan Jane sudah hancur terkoyak oleh perbuatan keji mereka, bahkan tak luput giliran Metta yang kini dijamah oleh Bondan sang dukun ilmu hitam tersebut.
Tak puas jika hanya menikmati tubuh Angel saja, Bondan menggasak Metta dengan buas menikmati kemolekan dari tubuh gadis itu.
Hingga mereka bertiga sampai tidak berdaya dan merasakan sakit karena permainan yang mereka lakukan begitu kasar.
Angel, Jane, dan Metta sudah tidak memiliki lagi harapan, bahkan rasanya ingin mati saja dengan kondisi keadaan mereka seperti itu.
Hanya air mata yang menemani mereka yang terus meleleh di sudut netranya, dengan rasa sedih yang amat sangat dalam.
"Kita kabur saja darisini saat mereka lengah, kita harus bisa menyelamatkan diri, Angel, Metta...!"
Ujar Jane yang masih memiliki semangat untuk bisa keluar dari tempat itu.
"Gimana kita bisa kabur, Jane... Anak buahnya mereka banyak, kita nggak mungkin bisa lari darisini...!"
__ADS_1
Sahut Metta yang tertunduk lemas, hari itu mereka berkumpul satu kamar dan berbicara saling berbisik.
Bondan dan Doni sedang tertidur pulas, sang dukun dan anak buahnya itu nampak terlihat lelah setelah semalaman mengeksekusi ketiga gadis tawanannya.
Namun diluaran sana, para anak buah Doni selalu stay dengan setia menjaga tempat itu.
Tidak ada kesempatan sedikitpun bagi ketiga gadis cantik itu bisa melarikan diri meskipun berusaha kabur pasti mereka akan tertangkap juga akhirnya.
"Lalu bagaimana, apa kita hanya pasrah saja seperti ini dan kita terus menjadi budak nafsu mereka..??"
Ujar Jane yang geram dengan keadaan saat itu, dirinya tidak mau menyerah begitu saja.
Pasti ada cara untuk bisa kabur dari tempat itu, begitu pikir dalam benaknya.
Angel dan Metta hanya terdiam mendengar ucapan Jane, mereka hanya tertunduk tanpa bisa menjawab sedikitpun.
"Aku harus cari cara agar bisa keluar dari sini, aku tidak mau terus terpuruk dan larut dalam kesedihan menerima kenyataan ini, apalagi aku harus dijadikan pemuas nafsu mereka, aku tidak mau...!!!"
Gumam Jane dalam hatinya, sambil berpikir bagaimana agar dia secepatnya bisa kabur meninggalkan tempat laknat itu.
"Kita harus bersatu, Angel, Metta kalian harus semangat untuk keluar darisini... Apakah mau terus begini, dan jadi pemuas nafsu mereka.?
Kita harus keluar... !"
Jane bersikukuh dengan tekad dan niatnya, dia mulai merencanakan sesuatu agar bisa menjebak Bondan beserta komplotannya.
Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras dari luar kamar tersebut.
Angel, Metta dan Jane dibuat terkejut oleh bentakan dari salah seorang lelaki berkumis tebal anak buah Doni itu.
"Apa yang kalian bicarakan...???!"
Tanya lelaki itu sambil membuka pintu yang terbuat dari papan kayu itu.
"Ti..Ti...Tidak...!!!"
Jawab Angel terbata - bata, karena dia takut ditatap tajam oleh lelaki tersebut.
"Awas..! Kalian jangan macam - macam atau aku laporkan kalian kepada bos. Mengerti...?"
"Iy..Iyaa... Kami tidak berbuat apa - apa, hanya ngobrol saja.!"
Jawab Metta memberanikan diri menjawab.
Lelaki anak buah Doni ini sepertinya curiga saat mendengar pembicaraan yang terdengar saling berbisik itu...
Namun sepertinya, Jane kembali dengan apa yang akan direncanakannya, dia mengajak Angel dan Metta agar bisa saling membantu rencana tersebut agar mereka bisa keluar dengan selamat...
__ADS_1
*****
( BERSAMBUNG )