
Bram menghubungi Jane dan juga Angel, tapi tidak satupun telpon itu tersambung.
"Kemana Jane sama Angel, ya...??"
Ujarnya sambil celingukan didepan rumah, ia tidak bisa masuk karena gerbang rumah itu terkunci dan memang Jane tidak memiliki satupun pelayan dirumahnya.
Jelas saja ponsel Jane dan Angel tidak bisa dihubungi, karena mereka sedang berkumpul dirumah Malee dan mengikuti acara meditasi bersama Elena dan Natasha.
Mereka sengaja mematikan ponselnya agar mereka bisa lebih fokus dan berkonsentrasi tanpa ada gangguan dari siapapun.
Setelah mendapatkan petunjuk dengan daya batinnya, Elena dan Natasha segera memberi tahukan bahwa Bram ternyata ada disekitar rumah Jane. Dia sedang kebingungan untuk pulang kerumah Jane.
"Bram ternyata ada didepan rumahmu, Jane. Aku sempat melihat dengan teropong ghoib bahwa dia habis ada urusan diluar, tetapi aku tidak tahu urusan apa itu,yang jelas dia sudah pulang ke rumahmu dan menunggu diluar."
Para gadis yang berkumpul disana semua tertawa mendengar penjelasan Elena, mereka mentertawakan Bram dan membayangkannya ketika sosok pria itu lagi termenung sendirian disana.
"Berarti Bram tidak mengetahui apa - apa. Dia tidak tahu apa yang akan kita rencanakan.?"
Ujar Jane sambil menatap kearah Elena.
"Sepertinya dia tidak tahu, Jane...!"
Sahut Elena memastikan.
"Bagus dech, kalau begitu.!"
Jane merasa lega mendengar jawaban Elena dan mereka semuanya juga merasa tenang kalau Bram tidak mengetahui tentang mereka.
"Secepatnya kita harus menjalankan misi ini, sebelum makhluk yang menghuni cincin itu mengetahui dan memberitahukannya kepada Bram.!"
Ujar Metta dengan semangat.
"Benar... ini kesempatan kita. Kalau begitu kita harus pulang sekarang.!"
Sahut Jane sambil meraih ponselnya lalu dia menyalakannya.
Terlihat notifikasi panggilan tak terjawab dari Bram beberapa kali dilayar ponselnya.
Begitu juga dengan Angel, mendapat pesan dari Bram.
"Angel, Kalian lagi dimana.?"
Pesan whatsapp yang dibaca Angel ketika itu.
"Aku lagi dirumah teman, sebentar lagi kami pulang. Kamu tunggu, ya... Nggak lama koq.
Sorry ya... Bram.!"
Balas Angel di pesan whatsapp nya.
"Okay,"
Jawab Bram dipesannya.
Angel dan Jane pamit untuk pulang malam itu, karena Bram menunggu mereka.
"Hati - hati ya, kalian. Nanti kabari kalau ada apa - apa. Ingat, manfaatkan kesempatan ini jika kalian bisa, usahakan untuk mendapatkan cincin itu.!"
Ujar Elena mengingatkan pada mereka.
"Tentu, Kita akan usahakan secepatnya dan kita pamit pulang dulu ya.!"
"Okay, see you..."
Sahut Jane, kemudian mereka berlalu pergi meninggalkan rumah Malee bersama Metta dan Angel.
__ADS_1
"See you, be careful...!"
Balas Malee, Elena dan Natasha sambil melambaikan tangan.
Angel yang membawa mobil, segera tancap gas untuk segera meluncur kerumah Jane.
***
Tak lama kemudian mereka sampai didepan rumah, Angel turun dari mobil lalu membuka gerbang rumah tersebut.
"Sorry, ya Bram... Sudah bikin kamu nunggu kelamaan disini.?"
Ucap Jane sambil membuka kunci gembok.
Bram yang sedari tadi duduk didepan gerbang lalu dia beranjak dan segera membantu untuk membukakan gerbang.
Mobil sedan yang dikemudikan Angel pun lalu masuk dan menuju garasinya.
"Bram, kenalkan ini teman aku. Metta...!"
Ujar Jane setelah mereka masuk dan duduk diruang tamu.
"Hai... Kenalkan saya, Bram..."
Sapa Bram memperkenalkan diri.
"Metta...!"
Metta menyambut uluran tangan Bram dan mereka kemudian duduk kembali di sofanya.
"Metta mau menginap disini, Bram.!"
Sahut Jane.
"Ohh, begitu. Baguslah jadi tambah rame dan seru... !"
Bram memperhatikan wajah gadis berambut pirang ini, menurutnya Metta cukup cantik dan memiliki tubuh yang bagus dan seksi.
Otak mesumnya mulai travelling memandang bulatan kembar Metta yang membusung itu.
Tonjolan payudara itu nampak sangat jelas sekali dibalik kaos ketat berwarna putih itu.
"Boleh juga nich... cewek.!"
Gumamnya dalam hati sambil mencuri tatap kearah Metta.
Metta sudah tahu karakter Bram seperti apa, dan rupanya Metta sengaja membiarkan pria dewasa itu puas untuk menatap dirinya. Bahkan dia dengan sengaja memperlihatkan paha putih mulusnya yang sedikit tersingkap dibalik rok mini sebatas paha itu.
"Sebentar ya, aku mau ganti pakaian dulu.!"
Ujar Jane yang bangkit dari duduknya, lalu dia melangkah menuju kamarnya dan diikuti oleh Angel yang akan membuatkan kopi untuk mereka.
Tinggallah Bram dan Metta berdua, Mereka lalu saling mengakrabkan diri dengan cerita basa basi diantara keduanya.
Metta bergeser dari duduknya dan mendekat disamping Bram yang memang sengaja dia lakukan untuk memancing Bram.
Metta sudah diberikan arahan dan juga sudah tahu apa yang harus dia lakukan jika dirinya bertemu dan dekat dengan Bram.
Jane sengaja menyuruh Metta agar gadis itu mendekati Bram, dan sesuai rencana mereka siap menjalankan misinya.
Bram nampak sudah mulai salah tingkah oleh sikap Metta, jantungnya berdetak hebat saat gadis itu begitu sangat dekat dengan dirinya.
Sementara Metta terus menggodanya dengan memepetkan tubuhnya kepada Bram.
"Sepertinya kamu pria yang hebat, mau donk aku dimanjain..."
__ADS_1
Ucap Metta dengan tatapan nakalnya, tangan kanannya mengelus paha Bram membuat pria itu sedikit geragapan.
"Dimanjain gimana maksudnya,?"
Tanya Bram pura-pura tidak mengerti maksud perkataan Metta.
"Dimanjain layaknya wanita dewasa donk.. masa nggak ngerti.!"
Jawab Metta sambil meraba-raba paha Bram.
Bram tentu saja merasa terpancing dengan ucapan gadis disampingnya itu, apalagi Metta seakan terus membuat Bram menelan saliva dan menarik nafas berkali - kali.
"Mau dimanjain dimana,?"
Tanya Bram memancing jawaban Metta.
"Diatas kasur... "
Bisik Metta sambil mendekatkan bibirnya di wajah Bram.
Seerrrr.... tubuh Bram berdesir dan jantungnya semakin berdetak kencang.
Bram seakan mendapat ikan segar yang siap disantap, tentu saja Bram tidak akan menolak mendapatkan tawaran seperti itu.
Namun baru saja Bram ingin mendekatkan bibirnya dan mencium bibir mungil Metta, tiba - tiba Angel muncul membawa nampan berisi kopi yang dibuatnya.
Sontak mereka sedikit kaget sambil bergeser dan membenahi posisi duduknya.
Namun Angel pura-pura tidak memperhatikan mereka berdua.
"Bram, minum kopi dulu... Biar Fresh.!"
Ujar Angel sambil meletakan nampan diatas meja dan menyodorkan kopinya pada Bram.
"Oh, Iy...ya ...Siap. Tankyou Angel...!"
Ucap Bram sambil meraih secangkir kopinya.
"Aku tinggal dulu ya, Bram, Metta, mau ganti baju. Kalian santai aja dulu, sebentar ya..."
Ujar Angel langsung berbalik badan kembali kebelakang dan menuju kamarnya.
Bram dan Metta mengangguk tanda mereka tidak keberatan untuk ditinggal berdua.
Metta sudah faham, Jane dan Angel sengaja memberikan kesempatan pada Metta untuk mendekati Bram agar rencana mereka untuk menjebak pria itu berjalan lancar dan berhasil tanpa ada kecurigaan dalam diri Bram.
Bahkan Bram sedikitpun tidak menyadarinya kalau didalam cangkir kopi yang dibuat untuk dirinya, telah dicampuri serbuk obat tidur.
Jane dan Metta sudah mempersiapkan obat itu sebelumnya dan saat Jane masuk kamar untuk berganti pakaian, ia memberikan obat tidur tersebut pada Angel dan kemudian dia campurkan ke cangkir kopi untuk Bram.
Bram hampir saja menyeruput kopi yang telah berada ditangannya itu, namun ia meletakkan kembali cangkir kopi tersebut karena Bram penasaran dengan adegan yang tadi sempat tertunda saat Angel datang membawa kopi.
Bram kembali mendekati Metta, kemudian dia ******* bibir mungil itu tanpa ijin lagi.
Bram sangat bernafsu, dia menciumi gadis itu hingga gelagapan.
Metta berusaha melepaskan bibirnya secara halus dan perlahan.
"Sabar ya, nggak enak nanti kalau Angel dan Jane datang dan melihat kita..."
Ucap Metta dengan lembut sambil meraih secangkir kopi untuk Bram dan menyodorkan kopi tersebut pada Bram.
Bram menarik nafas panjang menahan gairah nafsunya yang mulai terbakar.
Dia meraih cangkir kopi yang disodorkan oleh Metta, gadis itu menyunggingkan senyumnya sambil menganggukkan kepalanya menatap kearah Bram tanda isyarat bahwa gadis cantik itu menyuruh Bram untuk meminum kopinya..
__ADS_1
*****
( BERSAMBUNG )