
Dengan rencana yang sangat rapi dan tanpa ada sedikitpun curiga dari Bram, Metta telah berhasil memancing Bram dengan rayuannya.
Beberapa menit kemudian setelah meminum kopi yang dibuat oleh Angel, Bram merasakan pusing dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Dia terkena pengaruh serbuk obat tidur yang dimasukan dalam minuman kopi tersebut.
Dia tidak sadar sama sekali saat itu, tubuhnya bersandar di sofa dan seketika terlelap.
setelah mengetahui keadaan Bram tertidur lalu Metta memberitahu Jane dan Angel.
Mereka kemudian keluar dari kamarnya dan menghampiri Metta yang sedang menjaga Bram...
Jane dan Angel memeriksa jari tangan Bram, disana terdapat sebuah cincin mustika antik berwarna hitam mengkilat...
Cincin sakti itu terikat dijari manisnya Bram, tanpa tunggu lama Jane melepaskan cincin tersebut, dan setelah mengambil cincinnya mereka segera menyiapkan tali dan mengikat tubuh Bram yang masih dalam pengaruh obat tidur...
"Selesai... Sekarang kita aman, Bram sudah kita ikat dan cincin sudah berada ditangan kita.. "
Ujar Metta dengan perasaan senang, karena dengan mudahnya dapat mengelabui Bram hanya dengan siasat yang mereka buat.
"Iya, kita harus gerak cepat dan kita hubungi Malee untuk langkah selanjutnya.!"
Ujar Jane yang segera menghubungi Malee melalui sambungan telponnya.
"Kita sudah berhasil mendapatkan cincinnya, dan Bram sudah keadaan terikat sesuai apa yang kita rencanakan. Sekarang bagaimana untuk langkah kita mengatasi Bram.?"
Tanya Jane saat menelpon Malee.
"Bawa Bram kesini malam ini juga, sebelum dia tersadar dari pengaruh obat tersebut.!"
Saran Malee yang diperintah oleh Elena agar mereka segera membawa Bram kerumahnya.
"Okay,!"
Jane kemudian menutup teleponnya, dengan susah payah mereka mengangkat tubuh Bram kedalam mobil, lalu mereka meluncur menuju rumah Malee Lawana malam itu juga...
***
Sesampainya dirumah Malee, mereka segera membawa Bram dan mengurungnya disalah satu kamar kosong untuk menjadi tawanan mereka yang kemudian nanti akan menjadi urusan Elena dan Natasha.
"Good Job...! Kita berhasil, terimakasih atas kerjasama kalian semuanya. Akhirnya kita dapatkan Bram dan juga cincinnya...!"
Ujar Elena merasa senang dan puas atas apa yang mereka usahakan dalam menjalankan misi tersebut telah berhasil dengan baik.
__ADS_1
Sekarang tinggal bagaimana si kembar cantik mengurus Bram untuk langkah selanjutnya.
"Ini sisa bayaran sesuai kontrak kerjasama kita, aku berikan sisanya sekaligus juga uang bonus tambahan dari aku.!"
Elena lalu menyerahkan uang sisa bayaran kontrak untuk mereka setelah dia menerima cincin sakti itu dari tangan Jane.
Tugas mereka pun selesai, namun Jane, dan Metta akan membantu mengurus semuanya hingga Bram dibawa ke Indonesia.
Bahkan Angel ikut berpartisipasi dalam peran ini, dia akan mendukung penuh kepada kedua gadis kembar itu untuk menjebloskan Bram ke penjara nanti.
***
Malik Muneer merasa senang dan bahagia setelah mengetahui kabar dari Natasha dan Elena, bahwa Bram berhasil mereka tangkap.
Dia mengabarkan berita gembira ini kepada istrinya dan juga kedua orang tua si kembar.
Zeno dan Carissa sangat bersyukur, mereka sangat bangga kepada kedua putrinya.
Malik menghubungi beberapa anak buahnya dan juga bodyguard pilihannya untuk segera menyiapkan pesawat pribadi miliknya dari Singapore untuk menjemput Bram di Thailand yang kini dalam tawanan Elena dan Natasha.
Kabar gembira itu pun tembus ke telinga sang rekan bisnisnya yang baru bergabung dengan Malik Muneer di cabang perusahaannya yang berada di Singapore.
Robby dan Rico, mereka akan berkunjung dan akan segera transit ke Indonesia.
Mereka akan datang atas ijin Malik Muneer, karena sang president direktur itu akan mulai mengadakan meeting dan segera membuka cabangnya kembali disana.
Dan Malik Muneer sudah menunjuk manager baru untuk menggantikan posisi Bram, yaitu Zeno Feodora ayah Elena dan Natasha yang selama ini telah banyak membantu bisnisnya.
***
Meskipun Bram sudah berhasil ditawan oleh si kembar, namun pria itu tidaklah sendirian.
Dia memiliki guru yang selama ini menjaga dan membantunya.
Bondan sang dukun hitam yang memiliki ilmu kesaktian dan mampu meneropong keadaan meski sangatlah jauh.
Dengan kemampuannya itu, Bondan mampu merasakan kalau cincin miliknya yang dipakai Bram itu kini berada ditangan orang lain.
Getaran itu mengantarkan sang dukun sakti tersebut untuk mendeteksi dan meneropong keadaan Bram yang akhirnya dia menjadi tahu kalau Bram dalam bahaya.
Malam itu Bondan melepas sukmanya untuk memastikan bahwa Bram benar - benar dalam keadaan bahaya atau tidak.
Dengan kesaktian ghoibnya, Bondan melesat dengan sukmanya menuju lintas negara dan menyebrang lautan dengan kekuatan aji raga sukma tingkat tinggi.
__ADS_1
Dalam sekejap saja Bondan telah sampai dan sukmanya kini sudah berada tepat didepan rumah Malee Lawana.
Sinyal energi ghoib dari cincin miliknya telah menjadi petunjuk dan menghantarkan dirinya kesana, namun sukma Bondan tidak mampu menembus rumah Malee Lawana.
Rumah itu sudah dilapisi oleh kekuatan pagar ghoib yang sangat kuat sekali oleh Elena dan Natasha.
Mereka memasang kekuatan pagar tersebut karena untuk menjaga keamanan mereka dari tamu ghoib yang tidak di undang.
Elena dan Natasha sudah memikirkannya dari sebelum rencana mereka dibuat.
Sehingga dengan begitu mereka pun menjadi aman sampai urusan mereka selesai tanpa ada perlawanan dari manapun.
Dan ternyata perhitungan mereka benar, pasti Bondan datang untuk membantu Bram.
Malam itu, Elena dan Natasha mengetahui kalau ada sosok tamu tidak diundang sedang berada didepan rumah temannya itu.
Kedua gadis kembar cantik itu bersiap siaga dalam menjaga keadaan dan kondisi seperti saat itu yang pasti sewaktu - waktu mereka akan berhadapan dengan musuhnya.
"Aku tidak mampu menembus lapisan pagar ghoib ini, bagaimana aku bisa membantu si Bram dan mengambil cincinku.!"
Sukma Bondan kebingungan dan dia menjadi gelisah karena tidak bisa masuk kedalam rumah tersebut, bahkan untuk menembus pandang saja matanya tak sanggup melihat keadaan Bram yang saat itu di tawan dalam sebuah kamar dalam keadaan terikat.
Namun Bondan tidak putus asa, dia mencoba mengerahkan kesaktiannya untuk menjebol lapisan energi ghoib tersebut.
Alhasil sukmanya malah terpental dan seolah terkena sengatan listrik yang memiliki voltase tegangan tinggi.
Bondan terpekik, sukmanya jatuh tersungkur merasakan hawa panas yang ditimbulkan dari sengatan energi ghoib pagaran tersebut.
Sukmanya saja seolah terasa bagai terbakar, apalagi kalau dia datang kesana dengan raga kasarnya dengan wujud utuh pasti akan lebih parah lagi merasakan gesekan lapisan energi ghoib dari si kembar Elena dan Natasha.
Beberapa kali dia mengerahkan kekuatan dan kesaktiannya, namun semakin dia berusaha untuk melipat gandakan ilmunya untuk bisa menjebol pagaran ghoib tersebut semakin dia lemas seakan tidak berdaya.
Bondan tidak mampu menandingi kekuatan si kembar yang kini semakin luar biasa dalam mengasah ilmu dan kemampuannya tersebut.
Melihat keadaan itu, Elena dan Natasha lalu keluar dengan cara melepas sukma.
Mereka menghampiri Bondan yang terkapar lemah karena telah kehabisan tenaga.
Kedua sukma sang gadis cantik itu kemudian menarik sukma Bondan dan melemparkannya hingga melayang jauh di udara.
Tentu saja bukan seperti melempar dengan cara fisik nyata, melainkan dengan kekuatan ilmunya mereka yang mengakibatkan sukma Bondan seperti itu.
Mereka saling pandang lalu tersenyum manis sekali, Kakak beradik itu sangat puas dengan apa yang mereka lakukan terhadap musuhnya yang kini lenyap seketika dan dipastikan akan terluka hingga sukma itu sampai kembali ke raga badannya...
__ADS_1
*****
( BERSAMBUNG )