
Wuxian mengernyitkan kedua alisnya. Dan… akhirnya ia teringat dengan tujuan utama mereka. mereka berdua datang ke Kota Yi untuk menukarkan barang milik Huang Chao dengan beberapa perak yang bisa ditukarkan lagi untuk membeli beberapa pakaian hangat.
“Aku ingat. Lupakan saja. Kita bisa membeli beberapa, dan sisanya kau bisa menyimpannya jika kita memerlukan sesuatu. Kita tidak boleh boros hanya untuk membeli beberapa barang yang tidak berguna,” ucap Wuxian.
“Bagaimana bisa lampion tidak berguna? Apa kau tidak ingin mendoakan kedamaian keluargamu? Aku juga berniat membeli satu untuk mendoakan aruah keluargaku dan kebahagiaanku sendiri. Kau juga bisa mendoakan kebahagiaanmu,” tutur Huang Chao.
Wuxian terhenyak tatkala Huang Chao tiba-tiba menyinggung tentang keluarga. Ia terdiam, termenung memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Huang Chao.
“Hei, kenapa kau diam saja? Ayo!” Tanpa persetujuan Wuxian, Huang Chao meraih lengan Wuxian dan menyeretnya berlari.
Wuxian tak bisa berkutik. Ia hanya mengikuti Huang Chao yang menggenggam erat tangannya sembari membawanya berlarian. Wuxian hanya bisa menatap punggung Huang Chao di belakangnya, hingga akhirnya Huang Chao menghentikan langkahnya.
“Paman, aku ingin menukar ini,” ucap Huang Chao kepada penjaga toko pegadaian, sembari menyerahkan gantungan giok kepada penjaga toko.
Penjaga toko itu terbelalak tatkala melihat benda yang diserahkan oleh Huang Chao kepadanya. Ia memeriksanya dengan benar dan membolak-balikkannya, hingga menggunakan kaca cembung untuk memeriksanya.
“Ini… dari mana kau mendapatkannya? Apa ini asli?” tanya Penjaga toko itu.
“Tentu saja itu asli. Dan barang itu memang milikku,” jawab Huang Chao.
“Kau yakin tidak mencurinya di suatu tempat?” tanyanya seakan menginterogasi Huang Chao.
Raut wajah Huang Chao berubah dingin tatkala mendapat pertanyaan semacam itu dari si Penjaga toko.
“Jika kau tidak menginginkannya, aku bisa menjualnya ke tempat lain.” Huang Chao berusaha meraih barang miliknya dari tangan si Penjaga toko. Namun, Penjaga toko tidak mengizinkan Huang Chao mendapatkannya kembali.
“Baik, baik. Aku akan membayar untuk ini,” ujarnya.
Huang Chao memiringkan bibirnya ketika mendengar perkataan si Penjaga toko. Selang beberapa saat kemudian, Penjaga toko memberikan kantung penuh kepada Huang Chao yang langsung menyambutnya.
Huang Chao pun segera memeriksa isi kantung tersebut. Ketika melihat isinya, Huang Chao sekilas melirik si Penjaga toko.
__ADS_1
“Baik. Segini cukup,” ucap Huang Chao tanpa berbasa-basi dan langsung mengajak Wuxian pergi dari sana, “Ayo!” ajaknya.
Huang Chao meraih lengan Wuxian dan mengajaknya pergi ke suatu toko lain.
“Kau coba ini. Bagaimana? Apa kau menyukainya?” tanya Huang Chao kepada Huang Chao sembari mencocokkan selembar pakaian ke tubuh Wuxian.
“Aku akan menerima apa saja yang kau belikan,” ujar Wuxian.
Ekspresi wajah Huang Chao pun berubah sekali lagi, ketika mendengar jawaban menyebalkan dari Wuxian.
“Kau ini ya… sangat membosankan. Jika kau memintaku memilihkan apa pun, aku akan membelikan semua yang ada di toko ini,” celetuk Huang Chao.
“Tidak! Kau tidak perlu melakukannya. Baik, baik, aku akan memilih satu. Bagaimana dengan yang ini?” tanya Wuxian sembari menunjukkan salah satu pakaian yang kepada Huang Chao.
Huang Chao menyubit dagunya sembari menyipitkan matanya, melihat kecocokan pakaian yang dipilih oleh Wuxian. “Tidak bagus. Terlihat seperti nanas,” ucapnya berterus terang.
“Kalau begitu, bagaimana dengan ini?” Wuxian memilih pakaian lainnya.
“Kalau ini?”
“Jeruk.”
“Yang ini?”
“Terong.”
Wuxian pun akhirnya lelah dan kesal. Ia pun berhenti memilih pakaian.
“Sudahlah. Apa pun yang kupilih, kau pasti akan menyamakannya dengan buah-buahan dan sayuran. Aku berhenti memilih,” celetuk Wuxian.
“Baik, baik. Kau bisa memilihnya sesukamu. Aku tidak akan berkomentar lagi. Lagian, selera berpakaianmu memang payah,” ucapnya terus terang.
__ADS_1
“Tentu saja kau akan berpikir seperti ini. Dari lahir, kita sudah berbeda. Kau terlahir dengan sendok emas atau perak di mulutmu. Sedangkan aku lahir di tumpukan jerami (anak desa). Aku juga tidak terlalu memikirkan bagaimana caraku berpakaian. Jika menurutku nyaman, maka aku akan memakainya, begitu saja. Di samping itu, tujuan kita bukan untuk memamerkan pakaian kita, tapi berguru ke suatu sekte di bagian Utara,” cetus Wuxian.
“Aku tahu. Tentang tujuan utama kita, kau tidak perlu mengingatkanku. Baiklah, aku akan memilihkanmu beberapa pakaian. Jika kau tidak ingin memilih lagi, tunggu aku di luar,” balas Huang Chao.
Tanpa basa-basi, Wuxian pun keluar dari toko penjual pakaian. Sementara Huang Chao yang telah memilih beberapa pakaian pun akhirnya keluar dari toko.
“TOLONG!”
Brushhh!!! Wosh… wosh….
Kelompok orang asing memakai pakaian serba hitam dan penutup wajah tiba-tiba muncul dan membuat keributan besar pada saat itu. Mereka menghancurkan segala sesuatu yang ada di sana dengan ilmu beladiri mereka yang terlihat cukup tinggi.
Karena perbuatan mereka, lampion-lampion yang awalnya menghiasi Kota Yi malam itu, menjadi bencana bagi mereka semua. Api dari lampion-lampion itu melahap segala sesuatu yang menyentuhnya secara perlahan. Api yang awalnya kecil itu, lama kelamaan menjalar menjadi sangat besar dan membakar bangunan-bangunan yang ada di Kota itu.
“Wuxian!” panggil Huang Chao.
Wuxian reflek menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
“Apa yang kau lakukan? Kita harus segera pergi dari sini!” himbau Huang Chao seraya mencengkram erat lengan Wuxian. Akan tetapi, Wuxian malah menghempaskan lengan Huang Chao ang mencengkramnya.
“Anak itu membutuhkan pertolongan. Dia terjebak di dalam!” cetus Wuxian.
Wuxian berniat ingin memasuki sebuah bangunan yang pintunya telah tertutup oleh nyalanya api. Di dalamnya, terdapat seorang anak kecil yang menangis keras untuk meminta pertolongan.
Wuxian memaksa agar bisa masuk dan menyelamatkan anak itu. Akan tetapi, Huang Chao tidak akan membiarkan Wuxian melakukan tindakan bodoh yang mmebahayakan dirinya sendiri. Huang Chao mencoba menahan tubuh Wuxian sebisa mungkin.
“Wuxian! Sebelum menyelamatkan orang lain, selamatkan dirimu sendiri dulu. Kau tidak akan bisa menyelamatkannya, karena kita harus segera keluar dari Kota ini, sebelum api semakin besar dan mengelilingi jalan keluar!” paksa Huang Chao dengan nada bicara yang lebih ia tinggikan.
“Untuk apa menyelamatkan diri sendiri, jika tidak bisa menyelamatkan orang lain! Lepaskan! Jangan hentikan aku untuk menyelamatkannya!” Wuxian tak henti-hentinya memberontak dari Huang Chao yang sebisa mungkin menahan tubuhnya.
Wuxian benar-benar keras kepala. Dia meyakini apa yang ia yakini, meskipun ia tidak memiliki kemampuan untuk meyakini hal itu. Yang terpenting baginya adalah, usaha dari tindakan yang harus dia lakukan. Ia tak perduli dengan konsekuensi macam apa yang akan dia tanggung nantinya. Berbeda dengan Huang Chao yang lebih memikirkan sebab-akibat atas segala tindakan yang akan dilakukan.
__ADS_1
“Jangan bodoh! Hanya orang bodoh yang bertindak tanpa berpikir. Hei! Kita harus segera keluar dari sini. Apa kau ingin mati di sini?!” sentak Huang Chao.