
“Wah, aku merasa … perkataanmu ada benarnya juga. Ternyata, selama ini aku hanya mengkhawatirkan sesuatu yang tidak berguna,” kata Liu Wei. “Hei, apa kau butuh bantuan?” Liu Wei menawarkan bantuannya kepada Wuxian.
“Tidak, aku bisa melakukannya sendiri,” sahut Wuxian.
“Baiklah jika kau tidak butuh bantuan dariku. Aku tidak akan memaksa,” ujar Liu Wei. “Setelah itu, akan kau ke manakan semua pakaian itu?” tanya Liu Wei penasaran.
Wuxian terhening sejenak ketika mendapat pertanyaan dari Liu Wei. Benar juga, Wuxian tidak tahu harus mencuci semua pakaian itu di mana. Ia tidak tahu apa pun tentang sekte Qing Long. Ia tidak yakin harus menemukan mata air di daerah yang di mana-mana hanya terdapat bongkahan es yang dingin.
“Aku tahu kau murid baru sekte ini. Tampaknya, kau tidak tahu apa pun tentang sekte. Kau juga pasti tidak tahu tempat kami mengambil air,” ucap Liu Wei.
Liu Wei pada akhirnya perlahan menuruni satu persatu tangga tebing itu untuk menghampiri Wuxian. Wuxian reflek mendongakkan kepalanya, menatap Liu Wei yang tengah berjalan menghampirinya dengan tatapan kosong.
Ketika telah berada di bawah, tanpa banyak berkata, Liu Wei menarik kerah baju belakang Wuxian seraya menunjukkan jalan kepadanya. Perlakuan dari Liu Wei membuat Wuxian merasa tidak nyaman karena ia harus berjalan mundur. Kemudian, ia pun melepaskan cengkraman Liu Wei secara pakasa.
“Hei, lepaskan!” perintah Wuxian sembari melepaskan cengkraman Liu Wei. Mau tidak mau, Liu Wei pun harus menghentikan langkahnya tanpa berkata apa pun. “Kau bisa menunjukkan jalan, tapi tidak harus menyeretku juga,” protes Wuxian.
“Baiklah, baiklah. Aku minta maaf. Soalnya, tadi aku terburu-buru,” kata Liu Wei memberi pembelaan atas dirinya sendiri.
“Buru-buru kenapa? Memangnya ada anjing yang akan mengejar kita?” sindir Wuxian.
__ADS_1
“Tidak, maksudku kita harus cepat ke sana. Kita harus cepat ke tempat air sebelum tutup,” ujar Liu Wei.
“Tutup?” Wuxian mengernyitkan alisnya karena tak mengerti dengan maksud perkataan Liu Wei. “Apa ada seseorang yang menjaga mata air? Sampai batas jam berapa mata air akan dibuka lagi?” tanya Wuxian dengan polosnya.
“Tutup yang kumaksud bukan seperti yang kau pikirkan. Coba kau pikirkan, di tempat bersalju seperti ini, menurutku kenapa masih ada tempat mata air yang dapat mengalir? Itu karena mata air itu bukan mata air sembarangan. Mata air itu adalah mata air spiritual milik sekte Qing Long. Ketika malam tiba, mata air itu akan membeku. Lalu ketika siang, air kembali mengalir dengan normal seperti suhu air sungai. Ini sudah malam. Takutnya, mata air sebentar lagi akan membeku,” jelas Liu Wei.
“Kalau begitu, cepat tunjukkan jalannya!” desak Wuxian histeris.
Keduanya akhirnya beranjak dari tempatnya. Mereka berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju mata air sebelum mata air itu membeku layaknya bongkahan es lainnya.
Akhirnya, Wuxian dan Liu Wei pun sampai ke tempat di mana mata air yang dimaksud. Untung saja, mereka belum terlambat. Mata air itu masih mengalir dengan suhu air yang normal seperti air sungai. Menyadari hal itu, Wuxian tak ingin menunda lebih lama lagi. Dia dikejar oleh waktu, karena siapa yang tahu jika sebentar lagi mata air itu akan membeku.
Dia tidak perduli lagi dengan hal lain selain membersihkan semua pakaian milik para senior itu. Sayangnya, ternyata ia tetap terlambat selangkah. Kala Wuxian mencelupkan pakaian-pakaian milik senior di kolam mata air, kolam itu membeku hanya dalam hitungan detik saja.
Pakaian-pakaian itu membeku bersama kolam mata air yang benar-benar telah membeku. Bukan hanya Wuxian saja yang panik, tetapi Liu Wei pun tertegun tatkala melihat hal itu.
“Hei, lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Liu Wei sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“Apa lagi? Tidak ada cara lain selain menunggu hingga kolam mata air ini mencair kembali,” jawab Wuxian santai.
__ADS_1
“Kau gila! Jika kau ingin menunggunya, tunggu saja sendirian di sini sampai besok siang. Aku akan kembali,” cetus Liu Wei. Ketika Liu Wei berjalan beberapa langkah, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik. “Aisshh … anak ini benar-benar. Hei, ambil ini!” Liu Wei melemparkan korek api kepada Wuxian.
Wuxian dengan sigap menangkapnya dan memeriksa barang pemberian dari Liu Wei.
“Ini … .” Wuxian sengaja menggantung ucapannya.
“Jika kau ingin menunggu kolam ini semalaman, buatlah api unggun untuk menghangatkanmu. Keras kepala boleh, tapi jangan bodoh. Siapa lagi yang lebih berharga daripada diri sendiri? Kau perlu menghangatkan dirimu,” ucap Liu Wei sebelum ia berlalu meninggalkan Wuxian sendirian di sana.
Memang Liu Wei tidak tahu jika sebenarnya kulit Wuxian saat ini tak bisa lagi merasakan hawa dingin. Namun, Wuxian sengaja tak mengatakannya karena perihal itu bukanlah sesuatu yang harus dia beritahukan kepada orang lain, apalagi kepada Liu Wei yang baru dikenalnya. Menceritakan kondisinya kepada orang lain adalah sesuatu yang tidak berguna bagi Wuxian.
Wuxian hanya menatap korek api yang berada di genggamannya. Sejenak terlintas dalam benar Wuxian tentang keanehan yang ia alami saat ini. Dia berencana untuk bereksperimen atau menguji suhu api kepada kulitnya.
“Jika kulitku tidak bisa merasakan sakit dan dingin, apa mungkin aku juga tidak bisa merasakan panas?” pikir Wuxian.
Untuk menghalau rasa penasarannya, akhirnya Wuxian bertekad untuk menguji cobanya sendiri. Dia mulai membuka tutup korek api dan meniupkannya hingga korek itu menyala. Kemudian, Wuxian membakar lengan kirinya tanpa ragu. Hasilnya, sesuai dengan dugaan. Kulit Wuxian benar-benar mati rasa. Dia tak bisa merasakan sakit, dingin, ataupun panas. Kulitnya telah kebal terhadap peka rasa itu.
Sayangnya, semua itu tak membuat Wuxian merasa hebat. Justru dia khawatir tentang fenomena unik yang terjadi kepada dirinya. Jika ia tak bisa lagi merasakan semua hal itu, ia pasti akan sering terluka tanpa menyadarinya.
Alasan kenapa manusia diberi rasa sakit dan semacam yaitu agar kita tidak mudah hancur ketika terluka. Jika tergores dan merasakan sakit, maka kita akan tahu jika kita terluka. Oleh sebab itu, kita harus lebih berhat-hati. Bila tak bisa merasakan rasa sakit, maka kita akan mudah hancur karena berulang kali terluka tanpa tahu rasa sakit sehingga mudah hancur tanpa terasa.
__ADS_1
Satu hal yang masih bisa Wuxian syukuri tentang indera perbanya adalah, dia masih tetap dapat merasakan rangsangan ketik tersentuh atau menyentuh sesuatu.
“Mungkin jika hal ini terjadi kepada orang lain, mereka pasti akan merasa hebat karena kebal terhadap rasa sakit. Tapi bagiku, ini adalah bencana. Entahlah, semuanya sudah takdir. Mungkin kehilangan rasa sakit akan membuatku semakin kuat!”