
“Wuxian … Wuxian … datanglah padaku.”
“Siapa?”
“Wuxian … Wuxian … datanglah padaku. Aku akan membantumu. Aku akan membantu membalaskan dendammu. Datanglah padaku, maka aku akan mewujudkan keinginanmu.”
“Siapa itu? Keluar!”
“Hahahaha! Wuxian, datanglah padaku ….”
“Siapa kau? Kalau berani, tunjukkan dirimu!”
Wuxian dikejutkan oleh pemandangan asing yang tak pernah dilihatnya. Tempat ia berpijak saat ini begitu misterius. Dia berada di ruangan gelap nan hampa, tak ada satu pun makhluk dan benda di sana. Yang dilihatnya hanyalah ruangan kosong yang gelap, dan asap merah tebal mengepul yang menghalangi pandangannya.
Samar-samar ia melihat seberkas cahaya berwarna biru. Saat cahaya berwarna biru itu mulai terlihat jelas, sekali lagi ia terhenyak dan ketakutan tatkala menyadari wujud cahaya biru yang dia lihat. Cahaya biru itu berwujud tengkorak manusia, tengkorak manusia yang bercahaya dan melayang-layang di udara. Bagian yang paling menakutkan yakni, tengkorak-tengkorak yang beterbangan itu tertawa dan menangis, membuat Wuxian ketakutan dan hampir menggila karena semakin lama, suara tangisan, tawa, dan jerit penderitaan mereka semakin kencang.
“Enyahlah! Enyah dariku! Jangan dekati aku!” Wuxian memberi peringatan dengan jiwa gentar yang ketakutan.
“Wuxian, tolong aku! Bantu aku membalaskan dendamku. Wuxian, tolong aku. Jika kau menolongku, aku pasti akan mewujudkan segala keinginanmu. Tolong aku …,” lirihnya terdengar putus asa.
“Pergi! Jangan ganggu aku! Menghilanglah dari hadapanku!” perintah Wuxian.
“Hahaha! Hihihi!!! Wuxian, datanglah padaku. Genggam dan menyatulah dengan kami. Wuxian, Wuxian, Wuxian, Wuxian, Wuxian ... .” Rayuan-rayuan itu tak henti mempengaruhi pikiran Wuxian.
Sementara Wuxian berusaha menolak kenyataan dan berharap ia cepat tersadar. Ia berharap semua yang ia alami saat ini hanyalah mimpi. Namun, mimpi macam apa yang terasa sangat nyata? Semuanya terasa sangat nyata.
__ADS_1
Suara jeritan roh-roh itu sangat mengganggu Wuxian. Mendengar jeritan bising dari mereka, membuat Wuxian tak bisa mengendalikan diri. Suara berisik itu membuat kepalanya kesakitan, seperti akan pecah.
“Pergi! Jangan ganggu aku! Pergi!” perintah Wuxian.
“Wuxian …,” panggilan lain yang terdengar lebih lembut.
Seketika jeritan dan tawa mengerikan itu menghilang tatkala suara lembut seorang wanita, terdengar di telinga Wuxian. Wuxian membuka matanya perlahan, lalu mendapati sesosok wanita yang tak asing untuk dikenalinya.
“Wuxian …,” panggilnya sekali lagi.
“Ibu?” gumam Wuxian sembari bertanya-tanya tentang sosok yang ia lihat di hadapannya saat ini.
Perlahan-lahan, pemandangan yang ia lihat sebelumnya, berubah menjadi desa tempat tinggalnya dulu. Dia melihat sosok ibunya yang tengah menanam sayuran, juga orang-orang desa yang ramah pun menyapanya sembari berlalu-lalang mengerjakan pekerjaan keseharian mereka.
“Wuxian.” Ibunya usai menanam sayuran, lalu memanggil Wuxian dengan perkataan lembut.
“Kenapa kau diam saja? Cepat kemari dan bantu Ibu memetik lobak di sana. Hari ini, kita akan memasak sup lobak. Ayahmu sangat menyukai sup lobak buatan Ibu. Sebentar lagi, ayahmu akan pulang. Dia pasti akan membawa banyak ikan hasil tangkapannya. Kemarin kau bilang, ingin memakan ikan bakar. Tunggu saja, ayahmu pasti akan mendapatkan banyak ikan. Cepat kemari dan bantu Ibu, sambil menunggu ayahmu pulang,” himbaunya dengan tutur kata lembut.
Wuxian tersadar dari lamunannya, lalu segera menghampiri ibunya memetik sayuran. Tanpa curiga sedikit pun, ia mengukir momentum bahagia bersama dengan ibunya.
“Sayang, aku sudah pulang!” seru seorang pria paruh baya sembari memperlihatkan ikan hasil tangkapannya dengan bangga.
“Lihat, Ibu benar, kan? Ayahmu menangkap banyak ikan,” ucapnya berbahagia seraya menampilkan senyum semringahnya.
Kemudian, Wuxian bersama keluarganya melakukan banyak hal yang membahagiakan. Membakar ikan, memasak, dan makan bersama di meja makan. Sayangnya, semua yang ia alami saat ini hanyalah ilusi. Hingga pada akhirnya, Wuxian menyadari ilusi yang saat ini tengah ia alami.
__ADS_1
“Tidak benar. Sejak kapan kami makan di meja yang sama?” gumam Wuxian.
Wuxian akhirnya teringat akan masa lalunya. Selama ia tinggal bersama keluarganya, mereka tak pernah berkumpul layaknya keluarga. Ibunya ahkan tak pernah sekali pun menyebut nama Wuxian dengan tutur kata lembutnya.
Ibunya tak pernah menyebut nama Wuxian dengan lembut. Yang ada, ibunya selalu menyebut Wuxian dengan sebutan ‘anak sialan, tidak berguna, pembawa sial, dan sebagainya.’ Tak pernah sekali pun Wuxian mendengar ibunya menyebutkan namanya secara langsung. Bahkan ayahnya, profesinya memanglah seorang nelayan. Akan tetapi, ia hanya mencari nafkah untuk dirinya sendiri.
Wuxian hanya beberapa kali bertemu dengan ayahnya secara tidak sengaja. Namun, ayahnya sendiri tak mengakui bahwa Wuxian adalah anaknya. Ayahnya tidak pernah pulang ke rumah dan membuat ibunya selalu kesepian. Mungkin, itulah alasan ibunya selalu melampiaskan kemarahannya kepada Wuxian. Ayahnya tak pantas disebut seorang Ayah, karena ia adalah orang egois yang lebih mementingkan diri sendiri, suka hidup bersenang-senang, mabuk-mabukan, bahkan sesekali datang ke Kota hanya untuk mampir ke rumah bordil semata untuk melampiaskan nafsunya pada gadis-gadis muda di sana.
“Semua ini ilusi. Ini tidak nyata. Kalian tidak nyata, kalian bukanlah orangtuaku! Siapa kalian?!” Wuxian akhirnya tersadar bahwa segala sesuatu yang tengah ia alami saat ini hanyalah ilusi.
“Wuxian, ada apa?” tanya ibunya dengan nada lembut.
“Kau bukan ibuku! Ibuku tidak pernah sekali pun menyebutkan namaku. Jangan harap bisa menipuku!” cetus Wuxian. Kemudian, ia menunjukkan telunjuknya ke arah sosok ayahnya yang tengah duduk santai di meja makan. “Dan kau … aku tidak pernah punya seorang Ayah! Kalian semua palsu! Enyahlah dari hadapanku!” sentaknya dengan suara lantang.
Seketika, kedua sosok itu lenyap menjadi abu. Sedangkan pemandangan yang menggambarkan desa tempatnya tinggal, perlahan-lahan menghilang dan kembali menjadi ruangan gelap sunyi senyap.
“Hahahaha! Kau lihat semua itu? Sudah kubilang, aku bisa mewujudkan apa pun yang kau inginkan. Aku bisa memberimu sesuatu yang tidak pernah kau miliki. Jika kau membantuku, aku pastikan bahwa kau akan mendapatkan segala sesuatu lebih daripada itu.” Suara rayuan kembali terdengar di telinga Wuxian.
“Enyah kau! Jangan harap kau bisa menipuku. Sekali pun terasa nyata, semuanya hanyalah ilusi. Aku tidak butuh apa pun. Sekali pun seisi dunia adalah milikku, aku tidak akan terbawa ambisi jika hanya bermodalkan ilusi! Semua itu hanya palsu!” tolak Wuxian secara mentah-mentah.
“Hahahaha! Jadi, kau menginginkan yang asli? Jika kau tidak menginginkan ilusi, aku bisa membantumu mewujudkan kenyataan,” ujarnya.
“Kau iblis! Aku tidak akan terhasut oleh rayuan menyesatkan!” cetus Wuxian.
“Rayuan menyesatkan? Jika kau ingin, aku bisa membantumu mewujudkannya menjadi kenyataan. Semua tergantung bagaimana usahamu mewujudkannya. Apa kau tidak ingin mencari tahu siapa pelaku yang telah melenyapkan keluargamu? Apa kau tidak ingin membalaskan dendam? Apa kau tidak ingin membalas perbuatan mereka yang menindasmu? Aku bisa membantumu. Ayo, datang padaku dan menyatulah denganku.”
__ADS_1
“Balas dendam … .”