
Seorang gadis berpakaian serba merah tiba-tiba saja muncul di samping Wuxian. Dia muncul entah dari mana sembari menyahut perkataan Wuxian.
“Iblis dari mana lagi ini? Apa Alam Iblis ini tidak melindungi privasi orang lain, apa? Cepat pergi dari sini selagi aku bersikap baik,” usirnya terhadap gadis berpakaian serba merah itu.
“Iblis? Apa aku terlihat seperti iblis?” tanyanya balik.
“Aku tidak perduli. Pintu keluar ada di sana. Jangan sampai aku sendiri yang menghempasmu ke pintu,” ancam Wuxian sembari menatap wajah gadis itu dengan tatapan tegasnya. Namun, gadis yang duduk di samping Wuxian hanya menunjukkan ekspresi datar tatkala mendapat ancaman dari Wuxian.
“Aku bukan iblis dan kau juga tidak bisa mengusirku dari sini. Karena aku adalah dia, dan dia adalah aku,” ujarnya sembari menunjuk Pedang Samsara yang terletak di samping ranjang.
Wuxian reflek menoleh ke sampingnya dan mendapati Pedang Samsara yang tergeletak di samping ranjang. Setelah sekilas menatapnya, dia kembali menatap gadis yang duduk di sampingnya dan berkata, “Apa maksudmu? Lebih baik kau pergi daripada mengatakan semua omong kosong itu. Jika aku yang mengantarmu, aku akan mengantarmu sampai ke gerbang neraka,” cetus Wuxian.
“Hekh!” Gadis itu menyeringai angkuh tatkala mendengar ancaman dari Wuxian. “Omong kosong? Sedikit pun yang kukatakan bukanlah omong kosong. Tidak masalah jika kau tidak percaya dengan ucapanku, yang pasti adalah bukti,” balasnya.
Gadis berpakaian serba merah itu tiba-tiba menghilang dari hadapan Wuxian. Awalnya, Wuxian sempat mencari keberadaannya, tetapi Wuxian tersadar bahwa ia tidak harus melakukannya. Hal baik bahwa gadis itu menghilang tanpa dia bergerak turun tangan untuk mengusirnya. Akan tetapi, selang beberapa waktu, Pedang Samsara tiba-tiba bereaksi, bergerak-gerak sendiri, lalu melayang di hadapan Wuxian.
Sesaat kemudian, Pedang Samsara yang melayang itu kembali tergeletak di atas lantai. . Seteleh itu, Pedang Samsara menghilang dan gadis berpakaian serba merah itu muncul kembali.
__ADS_1
“Lihat! Apa sekarang kau sudah percaya?” tanya gadis itu.
Wuxian tercengang tatkala melihatnya. Dia tidak tahu ke mana menghilangnya Pedang Samsara miliknya dan malah seorang gadis yang tidak tahu asal-usulnya itu muncul kembali.
“Siapa kau? Apa yang kau lakukan dengan pedangku? Kau ke manakan?!” sentak Wuxian.
“Aku? Sudah kukatakan sebelumnya, pedang itu adalah aku. Dan … aku adalah pedang itu. Mungkin kau belum tahu apa pun tentangnya, karena itu aku memberitahumu. Pedang Samsara, nama pedang itu adalah Pedang Samsara, dan juga aku. Aku adalah Yixiao Qiaofeng, nama itu diberikan oleh tuanku terdahulu. Aku adalah roh pedang yang mendapatkan wujud manusia. Aku bisa meninggalkan rumahku (terpisah dari pedang) dan juga dapat bersatu dengan rumahku. Pedang Samsara adalah wujud selestialku, dan wujud manusia kudapatkan setelah berkultivasi selama ribuan tahun. Karena sekarang kau adalah pemilik sah pedang ini, maka sekarang kau juga adalah tuanku,” jelasnya panjang kali lebar.
Semua yang dikatakan oleh Yixiao Qiaofeng sangat sulit dicerna oleh Wuxian yang kurang pengetahuan. Ia tidak tahu jika benda pun bisa mendapatkan wujud manusia setelah lama berkultivasi. Sementara gadis berbaju merah itu ternyata adalah Pedang Samsara, dan Pedang Samsara adalah dirinya.
“Omong kosong apa yang kau bicarakan? Jangan harap kau bisa menipuku. Kau pasti iblis yang diutus Raja Iblis untuk menipuku,” tuduhnya. Setelah semua yang dia alami, Wuxian tidak mudah mempercayai siapa pun lagi selain dirinya sendiri.
“Hei, jaga bicaramu? Siapa yang kau bilang bodoh? Jika kau adalah roh pedang, berarti aku adalah tuanmu. Seharusnya kau menghormati tuanmu sendiri!” protes Wuxian.
“Sudahlah, lupakan saja. Berhubung kau adalah tuan keduaku, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tidak tahu juga kenapa orang sepertimu yang harus terpilih,” gumamnya.
“Apa yang kau gumamkan?” tanya Wuxian karena tak mendengar ucapan Qiaofeng yang terdengar sangat pelan.
__ADS_1
“Tidak ada. Kita telah terikat dengan kontrak darah. Karena kau adalah tuanku, maka aku akan memperlakukanmu seperti tuanku terdahulu. Aku akan menjadi pedang tajam yang membunuh semua musuh yang melawanmu,” cetus Qiaofeng seraya berlutut di hadapan Wuxian. Dia menundukkan kepalanya dengan telapak tangan yang dilipat di bahunya sebagai tanda penghormatannya.
Sementara Wuxian yang menyaksikan hal itu hanya memalingkan pandangannya. Ia benar-benar tidak tahu dengan segala sesuatu yang tengah terjadi karena dia tidak ingin perduli.
“Tunggu! Jika kau adalah roh pedang, itu artinya selama ini kau yang selalu menggangguku! Kau menghasut dan mengganggu kedamaianku hingga aku menjadi seperti ini. Kau yang telah menyesatkanku menjadi iblis!” Wuxian meninggikan nada bicaranya dan menunjuk Qiaofeng dengan jari telunjuknya.
Qiaofeng pun mengangkat kepalanya kala mendengar perkataan dari Wuxian. Dia menatap Wuxian dengan tatapan dinginnya yang tak menunjukkan emosi apa pun.
“Memang benar aku adalah roh pedang. Pedang itu adalah aku dan aku adalah pedang itu. Namun, aku tidak ingin mengakui jasa-jasa yang tidak kulakukan. Tentang menghasutmu, sepertinya kau salah menuduh,” kata Qiafong.
“Salah? Jika bukan kau, siapa lagi? Jelas-jelas kau adalah roh pedang yang membuatku seperti ini!” timpal Wuxian.
“Huffttt … .” Qiaofeng menghela nafasnya karena terlalu malas untuk menjelaskan segala sesuatu kepada Wuxian. Penjelasannya terlalu panjang jika dia harus menjelaskannya dari awal. “Itu semua adalah roh yang terperangkap di dalam pedang. Aku memang roh pedang, tetapi juga dapat menangkap roh-roh makhluk lain. Semua roh yang terperangkap itu adalah roh para makhluk yang mati karenaku, entah itu siluman, iblis, manusia, atau bahkan dewa sekali pun. Ketika mereka mati karenaku, maka roh mereka akan terperangkap. Roh yang terperangkap lama akan berubah menjadi roh jahat. Sedangkan energi roh jahat yang mereka hasilkan itu dapat memperkuat kekuatanku. Semakin banyak makhluk yang mati karenaku, semakin banyak roh yang terperangkap dan menjadi roh jahat, semakin kuatlah kekuatanku,” jelas Qiaofeng panjang kali lebar.
“Hekh! Terserah bagaimana penjelasanmu, bagiku semuanya hanyalah alasan. Kenyataan bahwa kalian menjadikanku seperti tidak akan berubah,” gumam Wuxian.
“Berhenti mengeluh dan terima saja takdirmu. Lelaki sejati memang bisa mengeluh, tapi tidak akan melakukannya. Kau berbanding jauh dengan tuanku sebelumnya. Suatu hari nanti kau juga akan mengerti kenapa kau yang terpilih. Aku memilihmu bukan tanpa alasan. Jika saat ini kau menyesal, suatu hari nanti kau pasti akan berterimakasih,” balas Qiaofeng.
__ADS_1
“Jangan harap! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan penghinaan ini. Tidak akan! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah berterimakasih … apa yang kau lakukan padaku? Lepaskan!”